
Kanya segera melompat
mundur, menyembunyikan tubuhnya di dalam air. Dia tidak akan nekat melawan dua
monster sekaligus. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya adalah melakukan
serangan tipuan.
Kanya sengaja menyerang
siluman rubah dan iblis laba-laba itu dengan terpaan ombak. Saat mereka
menghindari serangannya, Kanya mengambil teman-temannya. Dia memasukkan mereka
ke dalam gelembung air, mengangkut semuanya pergi melarikan diri bersama
dengannya.
“Roh Air kurang ajar!
Beraninya kau menipuku!” Saat menyadarinya mangsa-mangsanya dibawa kabur,
siluman rubah mengamuk. Iblis laba-laba yang dipanggilnya mendatangkan ratusan
anak laba-laba berukuran kecil.
“Menyebar! Temukan
mereka!” Anak-anak iblis itu pun diperintahkan menjelajahi hutan untuk mencari
Kanya dan kawan-kawan. Dia belum sadar bila mereka tidak ada di dalam hutan.
Sebab Kanya pergi ke dasar sungai, berlindung dalam gelembung air buatannya.
Dia mengikuti arus sungai. Kebetulan menemukan sebuah gua tersembunyi.
Kini keempat rekannya
telah dia letakkan di dasar gua. Terbaring sejajar masih kehilangan kesadaran.
Kanya bisa merasakan bila pengaruh ilusi itu belum hilang. Mereka terlihat
seperti sedang tidur, tapi vitalitas mereka tersedot sedikit demi sedikit.
“Aku beruntung bisa lolos,
tapi bagaimana caranya menyadarkan mereka?” Bila Kanya tak bisa melakukannya,
maka percuma dia melarikan diri. Pada akhirnya siluman itu tetap akan memakan
hidup mereka dari kejauhan.
***
Bara berdiri sendirian,
terpaku menatap jalanan putih tertutup oleh salju. Pandangan matanya begitu
kosong, memantulkan sebuah pemandangan penuh tragedi. Pikirannya sadar bila
semua ini adalah ingatannya sendiri, tapi dia tetap tak bisa bergerak dari
posisinya saat ini.
Ratusan tahun telah
berlalu sejak hari itu. Badai salju yang mengamuk telah berhenti. Istana yang
indah telah hancur dan segala kehidupan berharga di dalamnya telah musnah.
“Pergilah! Hiduplah, Yang
Mulia!”
“Masa depan kami berada di
tangan Yang Mulia!”
“Pergi! Jangan menoleh ke
belakang!”
“Kami akan menunggumu,
__ADS_1
Pangeran Bara. Temukan Roh Salju, bangkit kembali jiwa bangsa kita.”
Suara-suara dari pasukan
dan keluarganya terus menggema dalam benak Bara. Masih begitu segar dan jelas
terdengar untuk bisa dilupakannya. Bara tahu bila harapannya telah musnah. Roh
Salju juga telah tiada dan bangsanya tak lagi bisa dihidupkan kembali.
Musuhnya – para Undead,
menyebar di seluruh dataran wilayah Elf Salju, menghancurkan segala kehidupan
yang ada. Meratakan gunung salju menjadi dataran rendah gersang. Dan dia malah
melarikan diri sendirian, meninggalkan bangsanya hancur dan bersembunyi dalam Kerajaan
Draco yang aman.
“Sudah berapa lama aku
melupakan semua ini?” Bara bertanya pada dirinya sendiri, berapa lama dia
menjadi Petualang dan melupakan kehidupan terdahulunya.
“Yang Mulia tidak boleh
melupakan kami. Kematian kami adalah dosamu. Kembalilah, selamatkan kami.”
Suara yang terdengar familier mengucapkan kata-kata yang tidak akan pernah
diucapkan oleh rakyatnya. Bara mengerti akan hal itu, dia tahu bahwa dirinya
terjebak dalam sesuatu yang menyeretkan ke dalam semua ini. Rasa bersalah
karena menjadi satu-satunya yang selamat membuatnya tidak ingin meninggalkan tempat
ini untuk kedua kalinya, tapi bila dia menyerah saat ini ... Bara hanya akan
kehilangan kehidupannya saat ini.
“Jangan berbicara lagi. Aku
dalam momentum utama istana. Pedang Sang Raja, harta pusaka yang dia tinggalkan
hancur bersama dengan istananya. Kini kembali ke tangannya, membuktikan bahkan
pemandangan menyakitkan di depan matanya kini adalah tipuan semata.
Dia menebas orang-orang
yang dikenalnya dengan pedang itu, mengistirahatkan kembali jiwa mereka yang
telah tiada. Kemudian semua yang ada di depan matanya menghilang, tergantikan
oleh tatapan cemas Kanya.
“Maaf, aku sempat
terhanyut di dalam sana,” ujar Bara.
Sang Elf bangun, duduk
bertopang pada sikunya. Pedang itu telah musnah dan memang tak ada sejak awal.
Dia sadar benar, bila semua yang dilihatnya tadi adalah sebuah sihir ilusi.
“Tak apa-apa, tapi mereka
bertiga tidak bangun-bangun. Apa yang harus kita lakukan?”
Kanya duduk di depan Bara,
terlihat lelah menjaga mereka. Bara bisa menebak apa yang terjadi hanya dengan
melihat sekelilingnya. Dinding gua yang lembab dikelilingi oleh suara air telah
menunjukkan lokasi mereka saat ini.
“Siluman rubah ekor
sembilan itu berumur puluhan ribu tahun. Aku tak bisa memecah sihir ilusinya,”
__ADS_1
terang Kanya.
Bara mengalihkan
pandangan. Menatap pada Meena, Kyra dan Soli yang masih tak sadarkan diri.
Sihir ilusi biasanya hancur sendiri bila mereka bisa melarikan diri cukup jauh
dari si pembuat sihir, tapi melihat kondisi mereka saat ini, sepertinya jenis
sihir yang digunakan oleh musuh mereka jauh lebih kuat daripada yang mereka
kira.
“Sama seperti kita, mereka
harus meloloskan diri sendiri.” Bila Kanya dan Bara bisa melawan dan bangun
dari pengaruh ilusi tersebut, maka harusnya ketiga temannya juga bisa.
“Tapi bagaimana kalau
tidak bisa! Badan Meena semakin mendingin!” Kondisi tubuh Soli dan Kyra
terlihat masih cukup baik, tetapi keadaan Meena sudah sangat buruk. Perbedaan
signifikan ini menunjukkan tanda-tanda sedalam apa jiwa mereka terjebak dalam
pengaruh ilusi tersebut.
“Ugh, kenapa kau
berteriak?” Soli bangun saat mendengar teriakan Kanya. Dia memegangi kepalanya,
masih linglung membedakan kenyataan dan mimpi. Dia telah terlatih melawan sihir
sejenis ini, tak sulit bagi Soli untuk meloloskan diri sendiri. Karena lawan
kali ini sangat kuat, dia jadi membutuhkan waktu lebih banyak untuk meloloskan
diri.
“Jadi kau juga sudah
kembali. Baguslah.” Bara menghela napas lega. Selama Soli sadar, mereka mungkin
masih ada harapan. Pria ini harusnya tahu cara membangunkan Kyra dan Meena. Pelatihannya
sebagai pengawal pribadi Raja mencakup lebih dari sekadar melatih kemampuan
bertarung.
“Jangan senang dulu. Jenis
sihir ilusi ini tak bisa kuhentikan. Satu-satunya yang bisa menghapus
pengaruhnya dengan paksa adalah api keabadian.” Mereka beruntung ada Kyra yang
menguasai api tersebut. Hanya saja bila Kyra tak bangun, maka tak ada artinya
sekalipun mereka tahu caranya.
“Nona Kyra harus bisa
bangun sendiri jika kita ingin menyelamatkan Nona Meena,” terang Soli,
memperjelas.
Logikanya, hanya itu
pilihan mereka saat ini. Dengan melihat kondisi tubuh Meena, mereka mengerti
jelas bila Meena terjebak sepenuhnya. Tak sadar dirinya dalam pengaruh ilusi.
Sebaliknya, kondisi Kyra menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Bila dia berjuang
lebih keras lagi, dia akan segera bisa melewatinya.
“Kyra, berjuanglah.” Bara
meremas tangan Kyra, mencoba mengajaknya berbicara dengan harapan suaranya sampai
ke hati Kyra. Karena semua harapan mereka ada di tangan gadis itu.
__ADS_1