Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 31


__ADS_3

Kanya segera melompat


mundur, menyembunyikan tubuhnya di dalam air. Dia tidak akan nekat melawan dua


monster sekaligus. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya adalah melakukan


serangan tipuan.


Kanya sengaja menyerang


siluman rubah dan iblis laba-laba itu dengan terpaan ombak. Saat mereka


menghindari serangannya, Kanya mengambil teman-temannya. Dia memasukkan mereka


ke dalam gelembung air, mengangkut semuanya pergi melarikan diri bersama


dengannya.


“Roh Air kurang ajar!


Beraninya kau menipuku!” Saat menyadarinya mangsa-mangsanya dibawa kabur,


siluman rubah mengamuk. Iblis laba-laba yang dipanggilnya mendatangkan ratusan


anak laba-laba berukuran kecil.


“Menyebar! Temukan


mereka!” Anak-anak iblis itu pun diperintahkan menjelajahi hutan untuk mencari


Kanya dan kawan-kawan. Dia belum sadar bila mereka tidak ada di dalam hutan.


Sebab Kanya pergi ke dasar sungai, berlindung dalam gelembung air buatannya.


Dia mengikuti arus sungai. Kebetulan menemukan sebuah gua tersembunyi.


Kini keempat rekannya


telah dia letakkan di dasar gua. Terbaring sejajar masih kehilangan kesadaran.


Kanya bisa merasakan bila pengaruh ilusi itu belum hilang. Mereka terlihat


seperti sedang tidur, tapi vitalitas mereka tersedot sedikit demi sedikit.


“Aku beruntung bisa lolos,


tapi bagaimana caranya menyadarkan mereka?” Bila Kanya tak bisa melakukannya,


maka percuma dia melarikan diri. Pada akhirnya siluman itu tetap akan memakan


hidup mereka dari kejauhan.


***


Bara berdiri sendirian,


terpaku menatap jalanan putih tertutup oleh salju. Pandangan matanya begitu


kosong, memantulkan sebuah pemandangan penuh tragedi. Pikirannya sadar bila


semua ini adalah ingatannya sendiri, tapi dia tetap tak bisa bergerak dari


posisinya saat ini.


Ratusan tahun telah


berlalu sejak hari itu. Badai salju yang mengamuk telah berhenti. Istana yang


indah telah hancur dan segala kehidupan berharga di dalamnya telah musnah.


“Pergilah! Hiduplah, Yang


Mulia!”


“Masa depan kami berada di


tangan Yang Mulia!”


“Pergi! Jangan menoleh ke


belakang!”


“Kami akan menunggumu,

__ADS_1


Pangeran Bara. Temukan Roh Salju, bangkit kembali jiwa bangsa kita.”


Suara-suara dari pasukan


dan keluarganya terus menggema dalam benak Bara. Masih begitu segar dan jelas


terdengar untuk bisa dilupakannya. Bara tahu bila harapannya telah musnah. Roh


Salju juga telah tiada dan bangsanya tak lagi bisa dihidupkan kembali.


Musuhnya – para Undead,


menyebar di seluruh dataran wilayah Elf Salju, menghancurkan segala kehidupan


yang ada. Meratakan gunung salju menjadi dataran rendah gersang. Dan dia malah


melarikan diri sendirian, meninggalkan bangsanya hancur dan bersembunyi dalam Kerajaan


Draco yang aman.


“Sudah berapa lama aku


melupakan semua ini?” Bara bertanya pada dirinya sendiri, berapa lama dia


menjadi Petualang dan melupakan kehidupan terdahulunya.


“Yang Mulia tidak boleh


melupakan kami. Kematian kami adalah dosamu. Kembalilah, selamatkan kami.”


Suara yang terdengar familier mengucapkan kata-kata yang tidak akan pernah


diucapkan oleh rakyatnya. Bara mengerti akan hal itu, dia tahu bahwa dirinya


terjebak dalam sesuatu yang menyeretkan ke dalam semua ini. Rasa bersalah


karena menjadi satu-satunya yang selamat membuatnya tidak ingin meninggalkan tempat


ini untuk kedua kalinya, tapi bila dia menyerah saat ini ... Bara hanya akan


kehilangan kehidupannya saat ini.


“Jangan berbicara lagi. Aku


dalam momentum utama istana. Pedang Sang Raja, harta pusaka yang dia tinggalkan


hancur bersama dengan istananya. Kini kembali ke tangannya, membuktikan bahkan


pemandangan menyakitkan di depan matanya kini adalah tipuan semata.


Dia menebas orang-orang


yang dikenalnya dengan pedang itu, mengistirahatkan kembali jiwa mereka yang


telah tiada. Kemudian semua yang ada di depan matanya menghilang, tergantikan


oleh tatapan cemas Kanya.


“Maaf, aku sempat


terhanyut di dalam sana,” ujar Bara.


Sang Elf bangun, duduk


bertopang pada sikunya. Pedang itu telah musnah dan memang tak ada sejak awal.


Dia sadar benar, bila semua yang dilihatnya tadi adalah sebuah sihir ilusi.


“Tak apa-apa, tapi mereka


bertiga tidak bangun-bangun. Apa yang harus kita lakukan?”


Kanya duduk di depan Bara,


terlihat lelah menjaga mereka. Bara bisa menebak apa yang terjadi hanya dengan


melihat sekelilingnya. Dinding gua yang lembab dikelilingi oleh suara air telah


menunjukkan lokasi mereka saat ini.


“Siluman rubah ekor


sembilan itu berumur puluhan ribu tahun. Aku tak bisa memecah sihir ilusinya,”

__ADS_1


terang Kanya.


Bara mengalihkan


pandangan. Menatap pada Meena, Kyra dan Soli yang masih tak sadarkan diri.


Sihir ilusi biasanya hancur sendiri bila mereka bisa melarikan diri cukup jauh


dari si pembuat sihir, tapi melihat kondisi mereka saat ini, sepertinya jenis


sihir yang digunakan oleh musuh mereka jauh lebih kuat daripada yang mereka


kira.


“Sama seperti kita, mereka


harus meloloskan diri sendiri.” Bila Kanya dan Bara bisa melawan dan bangun


dari pengaruh ilusi tersebut, maka harusnya ketiga temannya juga bisa.


“Tapi bagaimana kalau


tidak bisa! Badan Meena semakin mendingin!” Kondisi tubuh Soli dan Kyra


terlihat masih cukup baik, tetapi keadaan Meena sudah sangat buruk. Perbedaan


signifikan ini menunjukkan tanda-tanda sedalam apa jiwa mereka terjebak dalam


pengaruh ilusi tersebut.


“Ugh, kenapa kau


berteriak?” Soli bangun saat mendengar teriakan Kanya. Dia memegangi kepalanya,


masih linglung membedakan kenyataan dan mimpi. Dia telah terlatih melawan sihir


sejenis ini, tak sulit bagi Soli untuk meloloskan diri sendiri. Karena lawan


kali ini sangat kuat, dia jadi membutuhkan waktu lebih banyak untuk meloloskan


diri.


“Jadi kau juga sudah


kembali. Baguslah.” Bara menghela napas lega. Selama Soli sadar, mereka mungkin


masih ada harapan. Pria ini harusnya tahu cara membangunkan Kyra dan Meena. Pelatihannya


sebagai pengawal pribadi Raja mencakup lebih dari sekadar melatih kemampuan


bertarung.


“Jangan senang dulu. Jenis


sihir ilusi ini tak bisa kuhentikan. Satu-satunya yang bisa menghapus


pengaruhnya dengan paksa adalah api keabadian.” Mereka beruntung ada Kyra yang


menguasai api tersebut. Hanya saja bila Kyra tak bangun, maka tak ada artinya


sekalipun mereka tahu caranya.


“Nona Kyra harus bisa


bangun sendiri jika kita ingin menyelamatkan Nona Meena,” terang Soli,


memperjelas.


Logikanya, hanya itu


pilihan mereka saat ini. Dengan melihat kondisi tubuh Meena, mereka mengerti


jelas bila Meena terjebak sepenuhnya. Tak sadar dirinya dalam pengaruh ilusi.


Sebaliknya, kondisi Kyra menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Bila dia berjuang


lebih keras lagi, dia akan segera bisa melewatinya.


“Kyra, berjuanglah.” Bara


meremas tangan Kyra, mencoba mengajaknya berbicara dengan harapan suaranya sampai


ke hati Kyra. Karena semua harapan mereka ada di tangan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2