Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 23


__ADS_3

Benturan kekuatan Kyra dan


Azada kembali terulang. Efeknya menghancurkan jalan di sekitar mereka. Orang-orang


telah berlarian mencari tempat persembunyian. Akhirnya Kyra tak perlu menahan


diri lagi.


Gadis api meleburkan


pedangnya. Ia memutuskan untuk melakukan pertarungan tangan kosong dengan


Azada. Lawannya terlihat bingung. Dia pikir Kyra merupakan seorang Pengembara


yang tergantung pada senjata.


“Apa kau mengganti


senjatamu?” Azada bertanya.


“Aku tak akan menggunakan


senjata melawanmu.” Bagi Kyra, senjata hanya akan menghambatnya. Kunci untuk melawan


musuh sejenis Azada yang agresif dalam serangan dekat adalah dengan


mengandalkan kecepatan serangan.


“Kau meremehkanku!” Azada


marah, mengira Kyra meledeknya.


“Azada, jangan lengah.”


Hun masih mencoba mengingatkan, tapi sayangnya Azada terlalu angkuh untuk


mendengarkan nasihat temannya.


Detik berikutnya, Azada


kembali mendekati Kyra. Air di sekitar tubuhnya menari-nari seperti sepasang


ular. Gerakan air itu tampak hidup, melingkari kepalan tinju Azada untuk


memperkuat efek serangannya.


Kyra memutar tubuhnya ke


samping menghindari tinju Azada. Di saat yang sama ia menggunakan punggung


tangannya untuk memukul pergelangan tangan pria itu. Ular air pecah, menyebar


menjadi gelembung air yang melayang-layang di sekitarnya.


Azada menyeringai. Dia


mungkin kesal serangannya berhasil dipotong, tapi serangan utamanya bukanlah


tinjuan. Saat Kyra sadar, gelembung air itu telah berpindah melingkari


tubuhnya. Tak peduli jika ia telah menjauh dari Azada, air itu masih terus


mengikutinya, perlahan makin mendekat menyatukan tiap tetes kecil menjadi


sebuah perangkap air raksasa.


“Kalau kau memakai


pedangmu, kau mungkin bisa memotong perangkap airku.” Tidak mungkin bisa. Kyra


tahu itu, Azada tengah mempermainkannya. Pria itu bisa menyerangnya dengan cara


lain, tapi ia lebih memilih cara ini. Dan alasannya hanya satu. Mereka tak


berniat membunuhnya, hanya ingin menangkapnya untuk menggali informasi.


Mungkin dia masih


diremehkan, Kyra punya kesempatan. Ia menutup matanya, menahan napas, mencoba


berkonsentrasi mengeluarkan api. Dari percikkan kecil berubah menjadi perisai


api yang membungkus tubuhnya. Panasnya api Kyra mulai mendidihkan air,


membuatnya menguap ke udara.


Hun terbelalak. Gadis


semuda itu mampu mengeluarkan sihir api lebih besar daripada Azada saat dia


berada di dalam air.


“Jangan main-main lagi


Azada! Cepat lumpuhkan dia!”


“Diam! Apinya akan segera


padam!” Sayangnya Azada tak bisa melihat apa yang rekannya lihat. Ia hanya


membesarkan kurungan yang membungkus Kyra dengan pemikiran bila gadis api akan


segera kehabisan udara untuk terus membakar api.


Nyatanya, saat api telah


membungkus tubuhnya ... Kyra sudah tidak berada dalam air. Apinya bisa


memberinya udara, kekuatan dan kesempatan untuk menyerang balik. Saat Azada


memalingkan wajah pada Hun, Kyra melontarkan kembali air mendidih itu pada sang

__ADS_1


Penyihir Air.


“Kau harus berhenti berpikir


terlalu arogan.” Namun sayang sekali, serangan Kyra ditepis oleh sejenis sulur


berwarna hitam yang berbentuk seperti selendang panjang tanpa ujung.


“Apa!?” Azada tercengang.


Ia tak mampu mengikuti keadaan. Yang ia pahami hanyalah entah bagaimana bisa


Kyra lolos dari kurungnya dan berhasil menyerang balik. Jika bukan karena


pertolongan Azada, pastilah tubuhnya telah melepuh oleh air mendidih itu.


“Katanya kau tak akan ikut


campur. Bertarung yang adil dong!” Kyra pura-pura merajuk bicara soal keadilan.


Kenyataan dia telah paham bahwa di dalam pertarungan hanya ada menang dan


kalah. Tak ada yang peduli pada jumlah lawan atau pun perbedaan kemampuan.


“Aku minta maaf. Rekanku


tidak berguna, jadi kutarik kata-kataku kembali. Kau layak untuk menghadapi


kami bersama,” ujar Hun.


“Siapa yang kaubilang tak


berguna!” Baik Kyra maupun Hun tidak mendengarkan Azada. Kedua orang itu tengah


waspada satu sama lainnya.


Bentuk sihir Azada adalah


kegelapan yang mengambil bentuk bayangan. Tak ada batasan dalam jarak jangkau


saat mereka dikelilingi oleh bayangan dari gedung-gedung padat di sekeliling


mereka.


Kyra tak yakin bisa


melawan Hun dengan tangan kosong atau pedang. Sisanya hanya ledakan dan cambuk


yang bisa ia kuasai saat ini. Kyra harap itu sudah cukup. Tanpa menunggu lawan


menyerang, Kyra lebih dulu menyerang. Ia memilih menjaga jarak, melemparkan


bola-bola api seukuran kepalan tangan ke arah Hun.


Pria misterius itu


berhasil mengelaki tiap lemparannya. Tak ada gerakan sia-sia dari lincah


Untungnya gerakan Kyra lebih cepat hingga bisa terus mengelakinya, tapi hanya


masalah waktu hingga staminanya menurun.


“Kalian menjengkelkan


sekali! Jangan abaikan aku!” Di sisi lain, Azada yang kesal terus-menerus


melontarkan pusaran air panjang secara acak. Kyra jadi kesulitan, tapi Hun pun


demikian.


“Matamu ke mana, Azada!


Jangan malah menghalangiku!”


“Berisik! Kau selalu saja


sok mengguruiku! Sudah kubilang gadis itu bisa kutangani sendiri!”


Kyra tertawa kecil melihat


lawannya. Bukannya hanya tak serius, tapi juga terlihat tak akur. Rasanya dia


seperti sedang latihan daripada bertarung. Mungkin ini keberuntungannya. Kyra


biarkan saja mereka terus berdebat sendiri sambil mengejarnya, jadi ia bisa


sedikit mendekat ke arah pintu belakang benteng.


Akan tetapi, nenek peramal


palsu menghentikan Kyra. Gerakannya begitu cepat hingga tak ia sadari. “Kalian


berdua benar-benar mengecewakanku!” Bersama dengan teriakan yang terdengar,


sebuah kurungan kabut telah berhasil memerangkapnya. Kyra terjatuh ke atas tanah,


kebingungan di dalam kurungan asap berbentuk sangkar burung. Azada dan Hun langsung


bungkam, menunduk takut pada nenek itu.


“Maafkan kami, Guru,” ujar


Hun. Azada hanya menggaruk kepalanya tak mengatakan apa-apa.


Di bawah sana, Kyra


tertegun. Dilihat dari mana pun juga, Azada maupun Hun minimal berada di Rank A


dan gurunya pasti berada di atas mereka. Terlebih Azada dan Hun menggunakan


tipe sihir berbeda. Yang berarti, nenek ini mempunyai tipe air dan kegelapan.

__ADS_1


“Gadis ini hanya bertipe


api, tapi tak bisa kalian hadapi!” Untungnya nenek itu juga meremehkannya. Ia


sibuk memarahi muridnya tanpa menyadari upaya Kyra untuk lolos dari kurungan


itu.


“Apinya berbeda, Guru.


Seperti sihir api keabadian.” Sihir api sendiri memiliki banyak jenis dan yang


tertinggi adalah api keabadian. Suatu kekuatan yang nyaris tak bisa dikuasai


oleh manusia.


“Huh, Hun hanya cari


alasan. Api keabadian bukan milik manusia. Mana mungkin gadis kecil begini


menguasainya.”


“Kau yang tak bisa


menilai, itulah kenapa airmu bisa dibakar sampai menguap. Sihir api biasa tak


akan bisa membakar saat dibelenggu oleh tekanan air dalam jumlah besar.”


Sang guru diam mendengar


perdebatan kedua muridnya. Dia merasa tertarik pada Kyra setelah mengetahui hal


itu. Murid-muridnya memang bodoh. Tak ada yang mustahil di Mystisia. Semakin


tak masuk akal, maka semakin besar kekuatan yang dimiliki oleh orang tersebut.


Nenek itu mendekati


kurungan. Ia berjongkok, memasukkan tangannya seakan tangan itu merupakan


bagian dari kurungan. Kyra jadi merinding, mencoba mundur sejauh mungkin.


“Ahh!” Kemudian ia


menjerit kesakitan. Punggungnya yang menyentuh asap kurungan itu seperti dirobek


oleh taring binatang buas.


“Asapku mengandung asam


yang tinggi. Jika kau menyentuhnya, kulit dan dagingmu akan hancur.” Nenek itu


mengancam.


Kyra diam menelan ludah. Tubuhnya


sedikit gemetar saat tangan keriput itu menyentuh puncak kepalanya. Ia tak tahu


apa yang nenek tua itu lakukan, tapi rasanya sangat menyakitkan. Seperti


sesuatu mencoba masuk ke dalam pikirannya, berniat merampas kesadaran dirinya.


‘Kyra, jangan menyerah.


Bakar semangatmu. Usir dia dari pikiranmu. Jangan biarkan ia mencuri tubuhmu.’


Sisi terdalam kesadaran Kyra mulai bangkit, berbentuk suara familier yang


begitu hangat. Kyra pun memberontak, mengeluarkan api yang lebih besar dari


seluruh tubuhnya.


Merasakan luapan panas api


yang menakutkan, nenek itu menarik kembali tangannya. Ia menatap mata Kyra


penuh rasa kejut. Bola mata gadis api kini telah berubah merah keemasan. Kobaran


apinya pun berubah menjadi emas, memancarkan panas yang mampu membakar


kurungannya hingga lenyap tak bersisa.


“Api keabadian tingkat


tertinggi!” seru si nenek.


Kyra bangkit berdiri, berjalan


mendekati lawan-lawannya. Kesadarannya masih tertidur. Orang yang mengendalikan


tubuhnya adalah sang Phonex.


“Tubuh ini milikku. Berani


kau berniat mencurinya!” Suara yang keluar juga bukan suara bernada tinggi yang


terdengar bersemangat. Melainkan suara berat dipenuhi oleh ancaman.


“Mundur! Kita kabur!”


Azada dan Hun tidak diberi kesempatan untuk memahami keadaan. Tahu-tahu saja, gurunya


telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk membawa mereka lari dari gelombang


api menakutkan yang keluar dari mulut Kyra.


Pertarungan selesai. Kyra


pun terduduk lemas. Kepalanya sakit, tak paham apa yang baru saja terjadi. Tangannya


gemetaran, mengingatkan padanya seberapa besar kekuatan yang tertidur di dalam

__ADS_1


tubuhnya.


__ADS_2