
Benturan kekuatan Kyra dan
Azada kembali terulang. Efeknya menghancurkan jalan di sekitar mereka. Orang-orang
telah berlarian mencari tempat persembunyian. Akhirnya Kyra tak perlu menahan
diri lagi.
Gadis api meleburkan
pedangnya. Ia memutuskan untuk melakukan pertarungan tangan kosong dengan
Azada. Lawannya terlihat bingung. Dia pikir Kyra merupakan seorang Pengembara
yang tergantung pada senjata.
“Apa kau mengganti
senjatamu?” Azada bertanya.
“Aku tak akan menggunakan
senjata melawanmu.” Bagi Kyra, senjata hanya akan menghambatnya. Kunci untuk melawan
musuh sejenis Azada yang agresif dalam serangan dekat adalah dengan
mengandalkan kecepatan serangan.
“Kau meremehkanku!” Azada
marah, mengira Kyra meledeknya.
“Azada, jangan lengah.”
Hun masih mencoba mengingatkan, tapi sayangnya Azada terlalu angkuh untuk
mendengarkan nasihat temannya.
Detik berikutnya, Azada
kembali mendekati Kyra. Air di sekitar tubuhnya menari-nari seperti sepasang
ular. Gerakan air itu tampak hidup, melingkari kepalan tinju Azada untuk
memperkuat efek serangannya.
Kyra memutar tubuhnya ke
samping menghindari tinju Azada. Di saat yang sama ia menggunakan punggung
tangannya untuk memukul pergelangan tangan pria itu. Ular air pecah, menyebar
menjadi gelembung air yang melayang-layang di sekitarnya.
Azada menyeringai. Dia
mungkin kesal serangannya berhasil dipotong, tapi serangan utamanya bukanlah
tinjuan. Saat Kyra sadar, gelembung air itu telah berpindah melingkari
tubuhnya. Tak peduli jika ia telah menjauh dari Azada, air itu masih terus
mengikutinya, perlahan makin mendekat menyatukan tiap tetes kecil menjadi
sebuah perangkap air raksasa.
“Kalau kau memakai
pedangmu, kau mungkin bisa memotong perangkap airku.” Tidak mungkin bisa. Kyra
tahu itu, Azada tengah mempermainkannya. Pria itu bisa menyerangnya dengan cara
lain, tapi ia lebih memilih cara ini. Dan alasannya hanya satu. Mereka tak
berniat membunuhnya, hanya ingin menangkapnya untuk menggali informasi.
Mungkin dia masih
diremehkan, Kyra punya kesempatan. Ia menutup matanya, menahan napas, mencoba
berkonsentrasi mengeluarkan api. Dari percikkan kecil berubah menjadi perisai
api yang membungkus tubuhnya. Panasnya api Kyra mulai mendidihkan air,
membuatnya menguap ke udara.
Hun terbelalak. Gadis
semuda itu mampu mengeluarkan sihir api lebih besar daripada Azada saat dia
berada di dalam air.
“Jangan main-main lagi
Azada! Cepat lumpuhkan dia!”
“Diam! Apinya akan segera
padam!” Sayangnya Azada tak bisa melihat apa yang rekannya lihat. Ia hanya
membesarkan kurungan yang membungkus Kyra dengan pemikiran bila gadis api akan
segera kehabisan udara untuk terus membakar api.
Nyatanya, saat api telah
membungkus tubuhnya ... Kyra sudah tidak berada dalam air. Apinya bisa
memberinya udara, kekuatan dan kesempatan untuk menyerang balik. Saat Azada
memalingkan wajah pada Hun, Kyra melontarkan kembali air mendidih itu pada sang
__ADS_1
Penyihir Air.
“Kau harus berhenti berpikir
terlalu arogan.” Namun sayang sekali, serangan Kyra ditepis oleh sejenis sulur
berwarna hitam yang berbentuk seperti selendang panjang tanpa ujung.
“Apa!?” Azada tercengang.
Ia tak mampu mengikuti keadaan. Yang ia pahami hanyalah entah bagaimana bisa
Kyra lolos dari kurungnya dan berhasil menyerang balik. Jika bukan karena
pertolongan Azada, pastilah tubuhnya telah melepuh oleh air mendidih itu.
“Katanya kau tak akan ikut
campur. Bertarung yang adil dong!” Kyra pura-pura merajuk bicara soal keadilan.
Kenyataan dia telah paham bahwa di dalam pertarungan hanya ada menang dan
kalah. Tak ada yang peduli pada jumlah lawan atau pun perbedaan kemampuan.
“Aku minta maaf. Rekanku
tidak berguna, jadi kutarik kata-kataku kembali. Kau layak untuk menghadapi
kami bersama,” ujar Hun.
“Siapa yang kaubilang tak
berguna!” Baik Kyra maupun Hun tidak mendengarkan Azada. Kedua orang itu tengah
waspada satu sama lainnya.
Bentuk sihir Azada adalah
kegelapan yang mengambil bentuk bayangan. Tak ada batasan dalam jarak jangkau
saat mereka dikelilingi oleh bayangan dari gedung-gedung padat di sekeliling
mereka.
Kyra tak yakin bisa
melawan Hun dengan tangan kosong atau pedang. Sisanya hanya ledakan dan cambuk
yang bisa ia kuasai saat ini. Kyra harap itu sudah cukup. Tanpa menunggu lawan
menyerang, Kyra lebih dulu menyerang. Ia memilih menjaga jarak, melemparkan
bola-bola api seukuran kepalan tangan ke arah Hun.
Pria misterius itu
berhasil mengelaki tiap lemparannya. Tak ada gerakan sia-sia dari lincah
Untungnya gerakan Kyra lebih cepat hingga bisa terus mengelakinya, tapi hanya
masalah waktu hingga staminanya menurun.
“Kalian menjengkelkan
sekali! Jangan abaikan aku!” Di sisi lain, Azada yang kesal terus-menerus
melontarkan pusaran air panjang secara acak. Kyra jadi kesulitan, tapi Hun pun
demikian.
“Matamu ke mana, Azada!
Jangan malah menghalangiku!”
“Berisik! Kau selalu saja
sok mengguruiku! Sudah kubilang gadis itu bisa kutangani sendiri!”
Kyra tertawa kecil melihat
lawannya. Bukannya hanya tak serius, tapi juga terlihat tak akur. Rasanya dia
seperti sedang latihan daripada bertarung. Mungkin ini keberuntungannya. Kyra
biarkan saja mereka terus berdebat sendiri sambil mengejarnya, jadi ia bisa
sedikit mendekat ke arah pintu belakang benteng.
Akan tetapi, nenek peramal
palsu menghentikan Kyra. Gerakannya begitu cepat hingga tak ia sadari. “Kalian
berdua benar-benar mengecewakanku!” Bersama dengan teriakan yang terdengar,
sebuah kurungan kabut telah berhasil memerangkapnya. Kyra terjatuh ke atas tanah,
kebingungan di dalam kurungan asap berbentuk sangkar burung. Azada dan Hun langsung
bungkam, menunduk takut pada nenek itu.
“Maafkan kami, Guru,” ujar
Hun. Azada hanya menggaruk kepalanya tak mengatakan apa-apa.
Di bawah sana, Kyra
tertegun. Dilihat dari mana pun juga, Azada maupun Hun minimal berada di Rank A
dan gurunya pasti berada di atas mereka. Terlebih Azada dan Hun menggunakan
tipe sihir berbeda. Yang berarti, nenek ini mempunyai tipe air dan kegelapan.
__ADS_1
“Gadis ini hanya bertipe
api, tapi tak bisa kalian hadapi!” Untungnya nenek itu juga meremehkannya. Ia
sibuk memarahi muridnya tanpa menyadari upaya Kyra untuk lolos dari kurungan
itu.
“Apinya berbeda, Guru.
Seperti sihir api keabadian.” Sihir api sendiri memiliki banyak jenis dan yang
tertinggi adalah api keabadian. Suatu kekuatan yang nyaris tak bisa dikuasai
oleh manusia.
“Huh, Hun hanya cari
alasan. Api keabadian bukan milik manusia. Mana mungkin gadis kecil begini
menguasainya.”
“Kau yang tak bisa
menilai, itulah kenapa airmu bisa dibakar sampai menguap. Sihir api biasa tak
akan bisa membakar saat dibelenggu oleh tekanan air dalam jumlah besar.”
Sang guru diam mendengar
perdebatan kedua muridnya. Dia merasa tertarik pada Kyra setelah mengetahui hal
itu. Murid-muridnya memang bodoh. Tak ada yang mustahil di Mystisia. Semakin
tak masuk akal, maka semakin besar kekuatan yang dimiliki oleh orang tersebut.
Nenek itu mendekati
kurungan. Ia berjongkok, memasukkan tangannya seakan tangan itu merupakan
bagian dari kurungan. Kyra jadi merinding, mencoba mundur sejauh mungkin.
“Ahh!” Kemudian ia
menjerit kesakitan. Punggungnya yang menyentuh asap kurungan itu seperti dirobek
oleh taring binatang buas.
“Asapku mengandung asam
yang tinggi. Jika kau menyentuhnya, kulit dan dagingmu akan hancur.” Nenek itu
mengancam.
Kyra diam menelan ludah. Tubuhnya
sedikit gemetar saat tangan keriput itu menyentuh puncak kepalanya. Ia tak tahu
apa yang nenek tua itu lakukan, tapi rasanya sangat menyakitkan. Seperti
sesuatu mencoba masuk ke dalam pikirannya, berniat merampas kesadaran dirinya.
‘Kyra, jangan menyerah.
Bakar semangatmu. Usir dia dari pikiranmu. Jangan biarkan ia mencuri tubuhmu.’
Sisi terdalam kesadaran Kyra mulai bangkit, berbentuk suara familier yang
begitu hangat. Kyra pun memberontak, mengeluarkan api yang lebih besar dari
seluruh tubuhnya.
Merasakan luapan panas api
yang menakutkan, nenek itu menarik kembali tangannya. Ia menatap mata Kyra
penuh rasa kejut. Bola mata gadis api kini telah berubah merah keemasan. Kobaran
apinya pun berubah menjadi emas, memancarkan panas yang mampu membakar
kurungannya hingga lenyap tak bersisa.
“Api keabadian tingkat
tertinggi!” seru si nenek.
Kyra bangkit berdiri, berjalan
mendekati lawan-lawannya. Kesadarannya masih tertidur. Orang yang mengendalikan
tubuhnya adalah sang Phonex.
“Tubuh ini milikku. Berani
kau berniat mencurinya!” Suara yang keluar juga bukan suara bernada tinggi yang
terdengar bersemangat. Melainkan suara berat dipenuhi oleh ancaman.
“Mundur! Kita kabur!”
Azada dan Hun tidak diberi kesempatan untuk memahami keadaan. Tahu-tahu saja, gurunya
telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk membawa mereka lari dari gelombang
api menakutkan yang keluar dari mulut Kyra.
Pertarungan selesai. Kyra
pun terduduk lemas. Kepalanya sakit, tak paham apa yang baru saja terjadi. Tangannya
gemetaran, mengingatkan padanya seberapa besar kekuatan yang tertidur di dalam
__ADS_1
tubuhnya.