
Zelline berlari menghampiri Nazwa dan Zidan yang baru saja pulang dari luar kota. Anak itu memang sangat manja dengan Oma dan Opanya.
Lihat saja sekarang dia sudah bermanja dengan kedua orang tua Ziko. Layaknya seorang anak kecil Zelline memeluk manja Nazwa yang sekarang mengusap sayang rambut panjangnya.
Devina hanya bisa tersenyum melihatnya. Dia seperti melihat dirinya yang dulu bermanja-manja dengan orang tuanya.
Memang Zelline duplikatnya sekali.
"Oma lama banget pulangnya." Keluh Zelline.
Nazwa tertawa pelan mendengar protes itu.
"Iya kan urusannya belum selesai, jadi belum bisa pulang." Kata Nazwa.
Dengan lugu Zelline mengangguk. Gadis itu mendongak dan menatap Nazwa dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
"Mana Arthan sama Ardhan?" Tanya Zidan.
"Biasa lah Pa lagi keluar." Kata Ziko yang membuat Zidan mengangguk faham.
"Zelline udah dulu biarin Oma sama Opa ke kamar istirahat." Kata Devina.
Zelline cemberut, tapi dia menurut. Gadis itu melepaskan pelukannya dan mencium pipi Nazwa juga Zidan bergantian.
Kemudian keduanya segera pergi ke kamar untuk istirahat meninggalkan Zelline bersama kedua orang tuanya.
"Aduh makin dimanjain nih anak Papi ada Oma sama Opanya." Kata Ziko yang membuat anak perempuannya itu menyengir lucu.
Zelline merentangkan kedua tangannya yang membuat Ziko segera duduk lalu memeluk anak itu dengan sayang.
"Gemes banget sih anak Papi." Kata Ziko sambil mencubit pipi anaknya gemas.
"Kan kayak Mamiii." Kata Zelline yang membuat Devina tertawa pelan.
Dia ikut duduk di samping anak dan suaminya. Kemudian mengusap-ngusap sayang kepala Zelline.
Sama seperti Devina dulu Zelline pun sama manjanya. Anak itu terbiasa dimanja di manapun dia berada.
Di rumah ada Ziko dan kedua mertuanya yang sangat memanjakan. Kemudian di rumah orang tuanya ada Devano dan Adara juga kedua orang tuanya yang sangat memanjakan Zelline.
Dan sekarang jadilah Zelline duplikat Devina yang sangat manja dan tidak bisa kemana-mana sendirian. Tidak terlihat sebentar saja sudah di telpon satu kampung.
Yah intinya Zelline itu adalah Devina.
•••••
"Abang senyum-senyum terus nanti kesurupan"
Suara cempreng itu membuat Gema mengalihkan pandangannya lalu tertawa mendengar apa yang baru saja adiknya katakan.
Gerhana, nama adiknya Gerhana biasanya Gema memanggil anak itu dengan sebutan Hana.
Usianya baru enam tahun dan Gema sangat menyayangi adiknya yang menggemaskan itu. Wajahnya jauh berbeda dengan Gema yang menyeramkan karena Gerhana lebih mirip dengan Mamanya.
"Abang lagi inget pacar Abang makanya senyum terus." Kata Gema.
Hey siapa yang kamu sebut pacar Gema?
"Ihh Abang pacar-pacaran aku bilangin Mama." Kata Gerhana dengan mata memicing.
Gema tertawa mendengar perkataan itu.
"Namanya Zelline." Kata Gema pada adiknya.
"Cantik?"
Gema mengangguk sebagai jawaban, "Cantik terus lucu kayak Hana."
__ADS_1
Mendengar itu Gerhana langsung menyengir lucu. Dia suka setiap kali Kakaknya memuji dia cantik.
"Kenalin ke aku dong." Pinta Gerhana.
Perkataan adiknya itu malah membuat Gema tersenyum senang. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari lagi nomor Zelline.
Kemudian tanpa ragu menelpon gadis itu lagi.
Butuh waktu beberapa lama hingga Zelline mengangkat panggilan vidio yang Gema lakukan.
"Mana manaa liat?" Kata Gerhana heboh.
Gema tertawa lagi, dia mendudukkan Gerhana dipangkuannya lalu mengarahkan ponselnya ke wajah adiknya.
'Eh itu siapa Gema?'
"Adek gue." Kata Gema sambil mencium singkat kepala Gerhana.
Dari layar ponselnya Gema dapat melihat Zelline tersenyum dan menatap Gerhana juga Gema dengan antusias.
Meskipun Zelline seperti anak kecil, tapi dia juga suka dengan anak kecil.
"Halo emm siapa tadi namanya Bang?" Tanya Gerhana sambil mendongak dan menatap Gema.
Hal itu membuat Zelline tertawa melihatnya.
"Zelline"
Gerhana mengangguk dan kembali menatap ke layar handphonenya.
"Halo Kakak Zelline"
Zelline tersenyum menatap Gema dan adik perempuannya itu.
'Halo Gerhana'
'Halo Hana'
Anak itu melambaikan tangannya di layar handphone Kakaknya.
"Kakak Zelline sini dong main sama aku." Kata Gerhana.
'Eh iya nanti aku main ke sana ya?'
Gema tersenyum melihatnya. Membayangkan Zelline akan bertemu dengan adiknya membuat dia senang sendiri.
Pasti akan sangat menyenangkan.
'Gema'
"Hm"
'Aku baru tau kalau kamu punya adik hehe adik kamu cantik terus lucu'
Gema tersenyum mendengar penuturan itu. Sekarang tanpa sadar Zelline sudah tidak merasa takut lagi padanya.
Ternyata seperti ini cara mendekati Zelline dengan mudah. Tidak perlu memaksa Zelline akan merasa nyaman dengannya.
"Dia memang lucu.. Kayak lo Zel." Kata Gema yang membuat Zelline terkejut lalu diam dengan pipi memerah.
Lucu sekali Zelline mudah merasa malu hingga pipi dan wajahnya memerah.
"Gue ganggu enggak?" Tanya Gema pada Zelline.
'Em enggak hehe aku lagi enggak ngapa-ngapain, tapi aku takut ketauan Kak Arthan sama Kak Ardhan nanti kena marah'
"Oh kalo gitu gue matiin ya?" Kata Gema tidak enak.
__ADS_1
'Eh nanti aja aku mah ngobrol sama Hana'
"Enggak mau sama gue?" Tanya Gema sambil menatap Zelline dengan menggoda.
Zelline berdecak kesal dengan pipi yang memerah.
Menyebalkan sekali Gema!!!
••••
"Licik licik licikkkkk"
Naura melempari Maura dengan bantal ketika kembarannya itu pulang ke rumah sambil senyum-senyum tidak jelas.
Sedangkan itu saudara kembarnya malah tertawa dan meledek Naura sambil memeletkan lidahnya. Hal itu membuat Naura kesal dan langsung berdiri.
Dia mengejar Maura yang sekarang berlari sambil tertawa.
"MAURA IHHHH"
Naura mengejar Maura hingga menuruni tangga. Dan gadis itu langsung berlindung di balik Devano yang membuat Papanya itu terkejut.
"Sini looo"
Devano kebingungan melihat kedua anak perempuannya itu tiba-tiba ribut, padahal biasanya jarang sekali.
"Ihhh nyebelinnn!!"
Naura menghentakkan kakinya karena kesal hingga kegaduhan itu membuat Devano juga kedua Kakaknya muncul.
"Naura, kenapa sayang? Kenapa kalian ribut?" Tanya Devano dengan penuh kelembutan.
Wajah Naura semakin kesal ketika menatap Maura.
"Papa licikkkk!!! Kenapa Maura boleh keluar?! Ihh gak adillll!" Kata Naura sebal.
"Naura, tadi teman Maura datang ke rumah sayang makanya sama Mama dibolehin pergi." Kata Adara dengan penuh kelembutan.
Adara berjalan mendekat dan langsung memeluk singkat tubuh anak perempuannya yang sedang merajuk itu.
"Ngambekan banget lo." Kata Nathan pada adik perempuannya.
"Nathan"
"Udah Naura sayanggg jangan ngambek nanti kamu jalan juga sama Levi yaaa?" Kata Nadhin sambil mendekat dan ikut memeluk Naura.
Sedangkan itu Maura masih setia di belakang Devano dan memeluk lengan Papanya itu.
Devano sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat situasi ini. Memang Naura itu mudah sekali merajuk dan iri pada saudara-saudaranya.
Di rumah ini yang sering ngambek itu Naura. Misalnya saja kalau Adara memasak makanan kesukaan Maura atau Nadhin nanti dia ngambek.
Kalau kata Kakak-kakaknya sih Naura ini lebih mirip dengan Devina dan Sahara yang manja.
Tapi, hal itu menjadi hal menyenangkan bagi keluarga Devano karena Kakak-kakaknya dan juga saudara kembarnya jadi sering mengganggu Naura.
Dan nanti Devano yang pusing melihat Naura merajuk bahkan pernah sampai menangis karena Nathan dan Nadhin juga Maura bekerja sama untuk mengganggunya.
Kalau sudah nangis nanti Naura akan mogok bicara dengan semua orang, kecuali dengan Daffa dan Fahisa.
Devano dan Adara benar-benar bersabar dalam menghadapi anak-anaknya.
•••••
Yeyeyeyeyeyye updateeeeeee❣️
Siapkan diri untuk menerima serangan update dari akuuuuuu🤣🤣🤣
__ADS_1
Ada tiga atau emm empat part yang bakal aku update hari iniiii😚