
"Zelll!! Parah ini parah banget Gema berantem sama Rendi di lapangan basket!!"
Mata Zelline melotot ketika mendengarnya. Dia baru saja selesai memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas karena bel pulang sekolah sudah berbunyi.
Dengan segera Zelline berlari keluar kelas dan meninggalkan tasnya diikuti dengan Kiara yang langsung berlari menyusulnya. Mereka pergi ke lapangan basket dan benar saja sudah ramai sekali di sana.
Entah keberanian dari mana Zelline menyusup masuk di antara kerumunan dan berseru memanggil Gema.
"Gemaa!!"
Suara Zelline bukan hanya berhasil mengalihkan fokus Gema, tapi juga membuat semua orang di lapangan menatap ke arahnya.
Baju Gema sudah kotor lalu rambut pria itu terlihat berantakan dan jangan lupakan luka juga lebam di wajah Gema. Kemudian ada Rendi yang sama berantakannya, wajah pria itu babak belur.
Zelline berlari menghampiri Gema lalu menarik lengannya secara paksa dan anehnya Gema hanya diam. Dia tidak marah karena Zelline melerai pertengkarannya.
Tidak ini bukan salah Gema, tapi salah Rendi sendiri. Salah dia karena membuat Zelline sampai pingsan ditambah lagi ketika Gema meminta pria itu untuk minta maaf dia malah tidak mau.
'Lagian tuh cewek lemah amat kayak gitu aja langsung pingsan, nyusahin'
Bukan salah Gema kan?
"Ih kamu ngapain berantem? Aduh Rendi kamu enggak papa?" Tanya Zelline panik.
Gadis itu membantu Rendi untuk bangun dan dia dapat melihat pria yang tadi tidak sengaja melempar bola basket ke arahnya itu mengusap sudut bibirnya yang terluka.
"Enggak papa Zel dan maaf juga untuk yang tadi." Kata Rendi sambil meringis pelan.
Gema tersenyum penuh kemenangan karena pria itu akhirnya mau meminta maaf juga.
"Enggak papa kamu kan enggak sengaja... aduh Gema." Zelline meringis pelan ketika Gema menarik lengannya.
"Udah sih ngapain nanyain dia?! Ayo ke UKS bantuin gue obatin luka." Kata Gema kesal.
Kesal karena Zelline nampak perhatian pada pria itu.
"Rendi kamu ke UKS juga aja biar aku bantu..."
"Gue hajar lagi dia sampe lo berani ngobatin dia." Ancam Gema yang membuat Zelline langsung diam.
Sebelum membawa Zelline pergi Gema melihat ke arah kerumunan yang cukup ramai.
"Ngapain lo semua?! Sana pada pulang mau tau banget urusan orang sampe harus nontonin segala!" Kata Gema galak.
Mereka semua refleks bubar kecuali Kiara dan kedua teman Gema yang masih berada di lapangan.
"Lo Rendi awas aja sampe sekali lagi lo buat Zelline celaka gue enggak bakal tinggal diam! Sekali lo berurusan sama Zelline berarti lo berurusan juga sama gue!" Kata Gema dengan penuh penekanan.
Zelline terlihat bingung dan menatap Rendi dengan kasihan. Dia jadi merasa bersalah pada pria itu karena Gema padahal tadi Rendi tidak sengaja.
Kini Zelline dengan terpaksa mengikuti Gema pergi ke UKS untuk mengobati beberapa luka di wajah pria itu.
"Gema kamu kenapa berantem sama Rendi? Karena aku ya?" Tanya Zelline sambil menatap pria itu.
"Bukan."
"Terus kenapa? Jangan berantem Gema kan kamu jadi luka." Kata Zelline dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Gema hanya bergumam pelan. Dia langsung duduk begitu sampai di UKS dan meminta Zelline segera mengobati lukanya.
Sekali lagi Zelline patuh dia langsung mengambil kotak p3k dan duduk disebelah Gema.
"Aku bersihin lukanya ya?" Kata Zelline.
Menggunakan kapas dan juga air Zelline membersihkan luka di sudut bibir Gema juga di dahinya.
"Gema jangan berantem terus nanti kalau orang tua kamu lihat terus dimarahin gimana?" Kata Zelline.
"Dia duluan." Kata Gema.
Zelline menghela nafasnya pelan dan memilih untuk diam. Tak lama suara langkah kaki terdengar Kiara bersama kedua teman Gema datang.
Kiara datang membawakan tas milik gadis itu begitu juga dengan kedua teman Gema.
"Zel biarin aja padahal enggak usah diobatin." Kata Laurent ketika masuk ke dalam.
"Bandel memang Zel anaknya marahin aja." Kata Justin ikutan.
Gema mendengus kesal mendengar perkataan dua temannya itu. Sedangkan Zelline terlihat fokus mengobati lukanya.
Tak lama Zelline selesai dia langsung menatap Gema dengan mata teduhnya lalu berbicara dengan penuh kelembutan.
"Gema jangan berantem lagi ya? Kalau ada masalah diselesaikan baik-baik aja jangan berantem." Kata Zelline.
Sekali lagi Gema hanya bergumam pelan sebagai tanggapan dari apa yang Zelline ucapkan, tapi dalam hatinya dia sangat senang karena Zelline perhatian padanya.
Bahkan tanpa sadar pria itu menahan senyumnya dan kedua teman Gema yang menyadari hal itu langsung pura-pura terbatuk.
"Ekhem ekhem"
"Zell udah ayooo Kak Ardhan ada di depan." Kata Kiara.
Mendengar itu kedua mata Zelline langsung membulat dia segera bangun dan mengambil tasnya.
"Aku duluan ya?"
Setelah mengatakan itu Zelline berlari bersama dengan Kiara karena takut Ardhan menunggu terlalu lama.
"Gimana Ma? Seneng?" Tanya Justin sambil tertawa ketika Zelline sudah pergi.
Gema tersenyum dan mengangkat jempolnya sebagai jawaban.
Siapa yang tidak senang diperhatikan oleh orang yang kita sukai?
Besok-besok Gema berantem lagi kali ya?
••••
Di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari Universitas ada Arthan yang tengah duduk berhadapan dengan Nadhin karena ingin bercerita sedikit.
Mungkin terdengar aneh, tapi meskipun sering bertengkar Arthan sering bercerita dan curhat pada Nadhin begitu juga sebaliknya. Kedua orang itu malah jarang curhat dengan kembaran mereka masing-masing.
"Kenapa lagi sih? Tentang Tania? Udah deh Arthan gue bilang juga putusin." Kata Nadhin kesal.
Arthan menghela nafasnya pelan, "Belum juga ngomong gue udah kena semprot aja."
__ADS_1
"Ya gue tau lo kalau ngajak gue ketemuan pasti mau cerita tentang Tania." Kata Nadhin sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Gue itu masih..."
"Lo ngomong masih sayang gue bakal tampar lo sekarang." Ancam Nadhin.
Kali ini Arthan diam, tapi dia memang masih sayang. Maksudnya terlepas dari semua perlakuan Tania kepadanya semua perasaan yang Arthan punya itu tulus.
Sangat tulus.
"Arthan dengerin ya? Hubungan lo sama Tania itu udah toxic parah dan gue rasa lo juga sadar kan kalau hubungan lo sama dia itu enggak sehat? Disini yang berjuang tuh lo doang." Kata Nadhin dengan penuh keseriusan.
"I know Din." Kata Arthan pelan.
"Yaudah putusin! Lo pasti sakit awal-awal putus, tapi percaya sama gue nanti lo akan terbiasa Arthan." Kata Nadhin meyakinkan.
"Gue kurang apa Din?" Tanya Arthan sambil menatap Nadhin dengan mata sendunya.
"Lo terlalu baik Arthan disini Tania yang enggak bersyukur punya lo sebagai pacarnya." Kata Nadhin.
Arthan diam lagi tanpa banyak bicara. Pikirannya mulai tak menentu dengan segala pikiran buruk yang menghantuinya.
Dia tidak mengerti kenapa Tania bisa bersikap seperti ini padanya?
"Lo enggak usah berlagak sedih gitu deh gue jadi kasian! Nanti gue cariin cewek." Kata Nadhin.
"Bener ya?" Kata Arthan.
"Iye."
"Baik lo Din udah enggak mak lampir lagi." Kekeh Arthan.
Nadhin mendengus kesal ketika mendengarnya, tapi sesaat kemudian dia tersenyum kala mengingat pertengkarannya bersama dengan Arthan dulu.
Kalau diingat waktu cepat berlalu ya?
"Lo cariin gue cewek deh nanti kalau gue jadi gue bantuin lo sama Adnan." Kata Arthan.
"Serius?"
Arthan mengangguk pasti.
"Kalau gitu putusin Tania dulu lah baru gue cariin cewek." Kata Nadhin.
"Gampang nanti malem gue putusin." Kata Arthan asal.
"Gue enggak begitu percaya sih Tan." Kata Nadhin sambil tertawa.
Arthan tersenyum saja ketika mendengarnya, "Kalau gue udah putus gue kabarin."
"Sip"
Kini keduanya bertatapan lalu tersenyum satu sama lain. Terkadang akur, tapi kalau sudah datang ributnya udah deh susah banget diemnya.
Arthan dan Nadhin baru akur kalau keduanya sedang dalam keadaan yang tidak baik karena ketika itu mereka berdua sama-sama akan menjadi pundak untuk bersandar.
Tempat cerita ternyaman.
__ADS_1
••••