
"Gema beneran udah enggak papa?"
Arthan menatap adik perempuannya yang terlihat begitu mencemaskan keadaan Gema. Adiknya itu datang bersama dengan Laurent karena dia memaksa ingin pergi ke rumah Gema.
Tak ada protes yang Arthan layangkan ketika sang adik menyentuh dahi Gema dan mengecek suhu tubuh pria itu.
"Enggak papa Zel sumpah gue cuman demam dikit, jangan deketan ah gue flu nanti lo ketularan," kata Gema pada Zelline.
"Tapi, kenapa enggak bilang kalau Gema sakit? Terus kenapa Gema cuman sendirian? Kalau enggak ada Kak Arthan pasti kamu masih belum makan atau minum obat," omel Zelline.
"Astaga ini gue bawa istirahat bentar juga..."
"Mana bisa kayak gitu?!" seru Zelline kesal.
Arthan tertawa pelan ketika Gema langsung diam setelah mendengar seruan adiknya.
"Ya bisa orang biasanya juga gitu," ujar Gema pelan.
"Ish sekarang enggak boleh! Kalau Gema sakit harus bilang sama aku nanti Kak Arthan pasti mau jagain kamu," kata Zelline yang membuat Arthan langsung melotot.
"MANA BISA.... Iya Gema lo enggak boleh gitu harus bilang kalau lagi sakit," kata Arthan yang mengurungkan niatnya untuk protes ketika sang adik menatapnya.
Melihat itu Gema terkekeh pelan, dia merasa lucu melihat Arthan yang takut pada Zelline. Sebenarnya bukan takut melainkan khawatir jika Zelline marah atau ngambek.
"Udah kan? Yuk Zell pulang nanti Papi nyariin," ajak Arthan.
"Ihh tapi, kita beli makan dulu untuk malam..."
__ADS_1
"Astaga Zell enggak perlu nanti gue beli sendiri aja ya? Lagian bisa pesen kok," potong Gema dengan cepat.
Dia jadi semakin merasa tidak enak karena sangat merepotkan padahal Gema memang terbiasa melakukan apapun sendiri bahkan ketika dia sedang sakit.
"Tapi, Gema harus makan ya? Sama Gerhana juga," kata Zelline yang membuat Gema tersenyum seraya mengangguk sebagai jawaban.
"Udah tuh yuk Zell," ajak Arthan lagi.
Bukan tidak betah, tapi ini sudah sore Arthan gerah dan ingin mandi.
"Gema aku pulang ya? Gerhana masih tidur, kamu nanti jangan terlalu malam tidurnya ya?" kata Zelline dengan wajah penuh peringatan.
Gema tak bisa menahan senyuman ketika melihatnya.
"Iya Zell," kata Gema menurut.
"Balik ya Gemgem," kata Arthan.
Arthan baru akan mengatakan sesuatu, tapi melihat Zelline dia tidak jadi mengatakannya dan hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Dadah Gema."
Satu tangan Zelline terangkat untuk melambai pada Gema yang membuat pria itu tersenyum padanya sambil melakukan hal yang sama.
Lalu Zelline pulang ke rumah bersama dengan sang kakak.
••••
__ADS_1
Arthan bergosip dengan Ziko. Pria itu masuk ke dalam ruang kerja ayahnya setelah mandi dan berganti pakaian.
Dia menceritakan soal Gema yang tadi sakit.
"Kamu serius?" tanya Ziko tidak percaya.
Ziko menopang dagunya dengan satu tangan dan menutup laptop miliknya untuk mendengarkan cerita sang anak.
"Bener Pi! Sumpah tadi tuh sempet ngobrol juga sama Gema, tapi dia cuman bilang orang tuanya kerja," kata Arthan.
"Tapi, mereka memang enggak cemas anaknya sakit begitu? Lalu Gerhana bagaimana? Astaga kasihan sekali anak itu masih kecil dan sangat butuh kasih sayang orang tua," ujar Ziko.
Arthan langsung mengangguk setuju. Hal itu juga yang sedari tadi dia pikirkan apalagi sebelum Zelline datang Arthan sempat bermain dengan anak itu.
Gerhana sangat lucu dan pintar. Kata anak itu dia biasa pergi ke rumah tetangga mereka untuk menunggu Gema pulang, tapi kalau malas Gerhana akan di rumah saja.
Mendengar itu Arthan jadi cemas, bagaimana bisa ada anak sekecil itu sendirian di dalam rumah?
"Pi menurut aku..."
Belum sempat Arthan selesai bicara pintu ruang kerja Ziko sudah dibuka dan ada Devina yang menatap aneh keduanya.
Bagaimana tidak?
Ziko menopang dagunya dengan satu tangan lalu Arthan yang duduk di hadapan ayahnya mendekatkan tubuhnya seperti ingin berbisik.
Mereka terlihat seperti sedang bergosip.
__ADS_1
••••
Haduh ayah dan anak🤦♀️🤦♀️