
"Kakak cantikkk"
Gerhana berlari dengan penuh semangat ketika melihat Gema dan Zelline memasuki rumah. Anak itu terlihat sangat senang karena kehadiran Zelline dan hal yang sama juga Zelline rasakan.
Diiringi dengan senyum manisnya gadis itu menunduk dan langsung memeluk adil perempuan Gema itu dengan sayang. Hanya sebentar karena Gerhana langsung melepaskan pelukannya dan menatap Zelline dengan matanya yang bulat.
Terlihat sangat lucu.
"Halo Hanaaa"
Gerhana tertawa senang. Anak itu mengganggam tangan Zelline dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Aku senang Abang bawa Kakak cantik kesini." Kata Gerhana.
"Kakak Zelline." Kata Gema membenarkan.
"Iya Kakak Zelline." Ulang Gerhana yang membuat Zelline tersenyum senang.
"Kakak Zelline mau minum apa? Abang ambilin Kakak Zelline minum cepatan." Titah adiknya.
Zelline tertawa pelan mendengarnya. Sedangkan Gema hanya bisa menghela nafasnya pelan lalu pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.
"Sebentar Kak biarin Abang ambilin minum dulu." Kata Gerhana lagi.
"Iya, kamu lucu banget aku gemes." Kata Zelline sambil mencubit pelan pipi Gerhana.
Anak itu menyengir lucu bukannya marah karena pipinya dicubit.
"Kakak Zelline rumahnya dimana?" Tanya Gerhana penasaran.
"Hm di perumahan Nirmala nanti kapan-kapan Kakak Zelline ajakin main ke rumah ya?" Kata Zelline.
Perkataan itu membuat Gerhana semakin bersemangat. Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat lalu memeluk Zelline tanpa izin.
Bukan marah Zelline malah tertawa dan membalas pelukan itu. Sampai Gema kembali dengan membawa dua gelas air putih.
"Abang makannya mana? Harusnya kalau ada tamu dikasih makan." Kata Gerhana lagi.
Gema memejamkan matanya dan berusaha menahan kesal.
"Eh enggak papa Hana nanti aja Kakak juga belum lapar, kita nanti keluar aja cari makan." Saran Zelline.
"Nah betul nanti kita cari makan aja." Kata Gema sambil duduk di samping Zelline.
Kali ini Gerhana mengangguk patuh. Anak itu menggeser tubuhnya dan semakin mendekat pada Zelline.
Hal itu membuat Gema tersenyum dan gemas sendiri melihatnya. Rasanya seperti melihat dua anak kecil disatukan.
Gemas.
"Kakak ini pacarnya Abang ya?" Tanya Gerhana sambil tersenyum lucu.
"Ehh bukan Kakak temennya Abang." Kata Zelline.
Gerhana mengangguk faham, "Jangan mau sama Abang soalnya Abang galak."
Perkataan itu membuat Zelline tertawa. Sedangkan Gema mendengus kesal dan langsung mencubit serta menarik pelan pipi adiknya.
"Siapa yang galak?" Tanya Gema.
"Ihh masih tanya ya Abang yang galak! Abang suka marahin aku kalo makan permen terus." Kata Gerhana sambil melotot.
"Nanti lo sakit gigi bocil! Kalo sakit siapa yang ribet?" Kata Gema kesal.
Zelline tertawa pelan mendengar perdebatan diantara kedua orang itu. Mungkin seperti ini dia di rumah bersama dengan Kakaknya.
"Kakak jangan mau sama Abang cari pacar yang enggak galak aja." Kata Gerhana sambil memeluk lengan Zelline.
Oh lihat anak itu sok manis sekali di hadapan Zelline.
"Yaudah biarin kalo Zelline enggak sama Abang dia enggak bakal kesini lagi." Kata Gema yang membuat Gerhana melotot.
"Enggakkk!!! Aku maunya main sama Kakak terus." Kata Gerhana sambil mengeratkan pelukannya pada Zelline.
Zelline tersenyum lalu mengusap-ngusap kepala Gerhana dengan sayang.
"Makanya harusnya kamu do'ain Abang sama Kak Zelline biar pacaran, jadi Abang bisa ajak Kak Zelline terus kesini." Kata Gema.
"Ehh"
Zelline langsung terkejut ketika mendengarnya.
"Iya nanti kan kita pacaran." Kata Gema sambil merangkul pundak gadis itu.
Tubuh Zelline tersentak mendapat sentuhan itu, tapi Gema terlihat santai saja.
Dan sekarang Zelline diapit oleh dua orang. Disebelah kanan ada Gema yang merangkulnya dan di sebelah kiri ada Gerhana yang memeluk lengannya.
Ini kenapa Zelline jadi seperti seorang ibu saja?!
••••
Di dalam kamar si kembar tengah duduk berhadapan sambil bertanya-tanya mengenai Zelline yang belum pulang karena pergi bersama dengan Gema.
Bukan takut, tapi mereka merasa kesal dan terus-terusan menghubungi Zelline yang sama sekali tidak mendapat jawaban.
Awas saja Gema kalau bukan karena Mami mereka yang mengizinkan tidak mungkin sekarang Zelline bisa pergi.
__ADS_1
"Sumpah gue kesel banget sama Gema! Itu anak berani banget deketin Zelline." Kata Arthan geram.
"Lebih keselnya lagi Tan dia carper sama Papi! Ngapain coba ngechat Papi? Jangan sampe deh dia punya nomor Mami kalau sampe punya bisa-bisa Zelline pergi terus tiap akhir pekan." Kata Ardhan kesal.
Arthan berdecak kesal dan kembali berusaha menghubungi Zelline lalu karena tidak diangkat dia menelpon Gema juga.
Tapi, sama saja tetap tidak ada jawaban juga!!
"Gema mainnya pake orang dalem kurang ajar." Sungut Arthan.
"Lagian Mami tumben banget kasih izin." Kata Ardhan.
"Masalahnya itu Dan kemarin Papi bilangnya pas di meja makan, jadi Mami denger kan selama ini kita larang-larang tanpa sepengetahuan Mami." Kata Ardhan sambil menghela nafasnya pelan.
"Berarti salah Papi! Harusnya Papi enggak bilang di meja makan." Seru Arthan.
Baru saja membicarakan Ziko tiba-tiba saja pria itu menelpon dan dengan cepat Arthan langsung mengangkatnya.
'Gimana Zelline? Udah pulang belum?'
"BELUM! KESEL BANGET DIA ENGGAK ANGKAT TELPON." Seru Arthan.
"Tan itu Papi bodoh." Tegur Ardhan sambil memukul lengan kembarannya itu cukup kuat.
"Eh iya maaf Pi kebawa kesel." Kata Arthan dengan suara yang lebih pelan.
'Masa belum pulang?! Kan udah sejam'
"Ya enggak tau! Agh kesel banget Zelline enggak pulang-pulang pasti itu cowok modus Pi!" Kata Arthan kesal.
Pria itu tidak bisa berhenti mengomel sejak tadi bahkan sejak pagi.
"Kalau dia sentuh-sentuh Zelline gimana?!" Tanya Arthan panik.
'Kamu jangan buat panik dong! Nanti Papi coba hubungin Zelline juga pokoknya jam lima nanti Zelline udah pulang.'
"Awas ya kalau enggak." Kata Arthan tanpa dosa.
'Oh berani ngancem Papi?'
"Ehhh enggak gitu Papi maksudnya, yaudah nanti Arthan kabarin." Kata Arthan.
'Yaudah'
Dan panggilan itu terputus begitu saja.
Yah seperti itulah cara ketiga pria itu menjaga Zelline. Mungkin sedikit berlebihan, tapi memang begitu kenyataannya.
Untung Zelline sabar.
••••
Gema meraih tangan Zelline dan menggenggamnya. Saat ini mereka berada di salah satu kedai ice cream dan menemani Gerhana yang sekarang tengah memakan ice cream miliknya.
Di bawah meja Gema menggenggam tangan Zelline dan membuat gadis itu terkejut dengan jantung berdegup kencang. Tanpa sadar Zelline tersenyum dan Gema sendiri dapat melihat pipi merona gadis itu.
Lucu.
"Udah sana sambil makan, tangannya gue pinjem dulu." Kata Gema sambil mengangkat tangan Zelline yang dia genggam.
Zelline mengangguk malu dan mulai memakan ice cream strawberry kesukaannya. Sesekali dia memperhatikan Gerhana yang makan tanpa banyak bicara.
Anak itu terlihat fokus dengan ice cream coklatnya. Bahkan ada beberapa noda coklat di sekitaran bibirnya.
Yah namanya juga anak kecil.
"Zell kalau gue ajak jalan lagi mau? Tapi, tanpa Gerhana." Kata Gema.
Pertanyaan yang Gema ajukan membuat Zelline menoleh dan menatapnya.
"Mau, tapi Gema yang minta izin hehe aku enggak berani." Kata Zelline.
"Aman itu mah lo tenang aja." Kata Gema senang.
Dia mengusap-ngusap pelan tangan Zelline yang berada dalam genggamannya.
Agh Gema bisa gila kalau di dekat Zelline!!
"Zel"
Zelline menoleh lagi karena di panggil.
"Iya"
"Lo kan udah kasih izin gue untuk deketin lo ya? Nah sekarang kasih tau tipe cowok lo itu kayak gimana?" Tanya Gema sambil terus menatap wajah cantik itu.
"Em kayak Papi." Kata Zelline tanpa berpikir lama.
"Memang Papi lo gimana? Keliatannya sih galak." Kata Gema.
Zelline tertawa ketika mendengar kata galak.
"Papi itu lucu tau kalau aku perhatiin dia itu sayang banget sama Mami. Bukan cuman itu Papi juga selalu tau hal-hal kecil tentang Mami dan yang paling penting setiap hari Papi selalu peluk dan bilang sayang ke Mami." Kata Zelline bercerita.
Gema mengangguk faham, jadi intinya Zelline suka pria yang penuh perhatian dan kasih sayang karena selama ini hal itu yang selalu dia lihat pada kedua orang tuanya.
"Abang sudah."
__ADS_1
Suara Gerhana mengalihkan pandangan Gema. Pria itu langsung menghela nafasnya ketika melihat betapa kotornya sekitaran bibir Gerhana karena ice cream coklat.
Untuk sesaat Gema melepaskan genggaman tangannya lalu beralih mengambil tissue dan membersihkan sekitaran bibir Gerhana dengan tissue.
"Ayok kalau udah kita anterin Kakak Zelline pulang." Kata Gema.
Adiknya itu langsung cemberut, "Yah baru sebentar mainnya Abang."
"Nanti kita main lagi ya?" Kata Zelline dengan penuh kelembutan.
Dengan lesu Gerhana menganggukkan kepalanya. Padahal dia belum puas bermain dengan Zelline.
Tapi, Gerhana tidak bisa memaksa.
Kalau gitu sampai bertemu lagi nanti Kakak Zelline.
••••
Tatapan sinis Arthan dan Ardhan berikan kepada Gema ketika pria itu mengantarkan adik mereka pulang. Berbeda dengan Devina yang terlihat ramah apalagi ketika melihat ada seorang anak kecil yang begitu lucu di samping anak perempuannya.
Ziko sendiri terlihat biasa saja. Tidak menatap sinis ke arah Gema seperti yang kedua anaknya lakukan.
"Oh ini adiknya Gema ya? Siapa namanya cantik?" Tanya Devina.
Gerhana mendongak dan menatap Gema yang mengangguk singkat padanya.
"Aku Gerhana biasanya Abang panggil aku Hana." Kata Gerhana.
"Halo Hana." Sapa Devina dengan ramah.
Gerhana tersenyum lucu dengan matanya yang menyipit.
"Carper banget bawa adeknya ke rumah." Bisik Arthan pada kembarannya.
"Iya dih carper." Timpal Ardhan.
"Makasih ya Tante udah bolehin ajak Zelline tadi." Kata Gema.
"Iya sama-sama." Kata Devina.
Ziko berdeham pelan dan menatap Gerhana yang sekarang menatap ke sekeliling rumahnya.
"Terima kasih juga sudah mengantar anak saya tepat waktu." Kata Ziko yang ditanggapi dengan anggukan singkat oleh Gema.
"Yaudah sana pulang." Kata Arthan.
"Iya sana." Kata Ardhan ikutan.
"Arthan Ardhan! Mami enggak pernah ajarin kayak gitu ya?" Tegur Devina.
Kedua anak itu langsung diam dan tidak bicara lagi.
"Tante cantik mirip Kakak Zelline." Kata Gerhana yang sejak tadi memperhatikan Devina.
Perkataan itu membuat Devina tersenyum dan Ziko juga tanpa sadar.
"Makasih Hana juga cantik." Kata Devina.
Gerhana tersenyum lagi.
"Ayo Hana kita pulang." Kata Gema pada adiknya.
Anak itu mengangguk lalu berdiri dan menggenggam tangan Kakaknya. Dengan sopan anak itu bersalaman pada kedua orang tua Devina dan juga pada kedua Kakak Zelline.
"Dadah Kakak ganteng." Kata Gerhana yang membuat Gema menepuk pelan dahinya.
"Makasih sekali lagi Tante dan Om kalau boleh nanti Gema mau ajak Zelline jalan-jalan lagi." Kata Gema sambil bercanda.
"Enggak!"
"Boleh."
Devina dan kedua anaknya serta Ziko menjawab secara bersamaan.
"Boleh kok Gema enggak usah dengerin anak-anak Tante ya? Asalkan perginya enggak jauh dan Zelline pulang sebelum jam lima pasti Tante kasih izin." Kata Devina.
Gema tersenyum senang mendengarnya. Pria itu berpamitan dan keluar rumah dengan diantar oleh Zelline, tapi diikuti juga oleh kedua Kakaknya.
Yang ketika sampai depan Zelline ingin mengucapkan hati-hati, tapi sudah keduluan oleh kedua Kakaknya.
"Lo enggak usah kesini lagi, tapi kalau dia boleh." Kata Arthan dengan nada juteknya seraya menunjuk Gerhana yang tersenyum lucu.
"Dadah Kakak Zelline." Kata anak itu.
Zelline tersenyum dan menunduk lalu memeluk juga mencium singkat pipi Gerhana yang tembam.
"Gue balik ya Zel makasih untuk hari ini." Kata Gema.
Zelline mengangguk singkat dan dia terkejut melihat keberanian Gema yang mengusap kepalanya di depan kedua Kakaknya yang sekarang melotot.
Oh habislah Zelline diceramahi habis ini!!!
••••
Maaf baru updateee huhuuuuu
Jangan lupa vote dan comment yaaaaa❣️
__ADS_1