
"ZELL GEMA BERANTEMM!"
Saat waktu istirahat Zelline memang pergi ke kantin bersama dengan Kiara karena Gema memintanya untuk pergi lebih dahulu. Belum sempat makanannya datang Zelline malah mendengar teriakan itu.
Laurent, teman Gema itu berlari sambil berteriak dan mengatakan bahwa Gema tengah bertengkar.
"Zel sumpah lo harus ke lapangan sekarang dan pisahin Gema," kata Laurent panik.
"Heh Laurent lo gila ya? Mana bisa Zelline misahin mereka, kenapa enggak lo aja?" tanya Kiara marah.
Sedangkan Zelline masih terlihat kebingungan dengan wajah yang mulai menunjukkan kecemasan.
"Aduh Kia lo jangan banyak tanya, cepetan Zel bisa habis anak orang dia gebukin nanti," kata Laurent panik.
Tanpa menunggu tanggapan Laurent meraih tangan Zelline dan mengajaknya untuk pergi ke lapangan. Saat sampai di lapangan tempat itu sudah penuh oleh banyak siswa yang melihat pertengkaran di tengah lapangan itu.
Keduanya menerobos masuk di sela orang-orang yang menghalangi jalan dan benar saja di sana ada Gema yang tengah memukuli seseorang. Padahal orang itu sudah nyaris tak berdaya dengan wajah babak belur karena ulahnya, tapi dia belum berhenti.
"Duh Zel cepetan.."
"Tapi, gimana aku misahinnya?" tanya Zelline antar bingung dan takut.
"Panggil! Lo panggil aja Gema," kata Laurent.
Zelline masih terlihat kebingungan, tapi ketika dia melihat Gema yang sepertinya tidak ada keinginan untuk berhenti membuat dia akhirnya refleks memanggil pria itu.
"Gema!"
Suaranya tak terlalu kuat, tapi berhasil membuat Gema berhenti. Dari tempatnya berdiri Zelline dapat melihat nafas pria yang tak beraturan.
__ADS_1
Keadaan mendadak hening hingga suara teriakan yang berasal dari guru bk terdengar dan membuat orang-orang langsung menyingkir.
"GEMA!"
Zelline langsung menoleh ke belakang dan melihat pria paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Gema dan seorang siswa yang terbaring di lapangan.
Entah apa yang terjadi hingga membuat Gema kehilangan kendali dan membuat keributan, tapi yang jelas Zelline tidak suka itu.
Dia tidak suka pria yang suka main kekerasan.
••••
Gema memejamkan matanya sambil berbaring di ranjang UKS seorang diri. Lukanya masih belum dibersihkan dan sekarang pria itu enggan untuk masuk kelas hingga memilih beristirahat di sini.
Surat panggilan orang tua sudah kembali dikeluarkan untuk Gema dan entah sudah berapa kali dia mendapatkannya selama bersekolah.
Suara lembut itu membuat Gema membuka matanya dan menoleh pada Zelline yang berdiri di dekatnya.
"Kalau enggak dibersihin nanti infeksi terus bisa bahaya," omel gadis itu.
"Yaudah obatin," kata Gema yang membuat Zelline berdecak kesal.
"Gema bangun," kata Zelline sambil pergi mengambil kotak obat.
Gadis itu duduk di dekat Gema lalu mulai membersihkan luka yang ada di wajahnya dengan sangat hati-hati.
"Gema kenapa berantem?" tanya Zelline dengan penuh kelembutan.
"Tanya Rian coba dia abis ngapain sampai gue pukulin kayak gitu," jawab Gema.
__ADS_1
"Tapi, seharusnya meskipun Gema lagi marah Gema enggak boleh kayak gitu," kata Zelline mengingatkan.
"Boleh."
"Enggak!"
"Boleh."
"Ish enggak boleh Gema! Enggak baik kayak gitu," kata Zelline sambil memasang wajah galaknya.
Gema hanya tersenyum menanggapinya. Dia membiarkan Zelline membersihkan sedikit luka di wajahnya dan mengobatinya hingga selesai.
"Rian buat Gema marah ya?" tanya Zelline sambil merapihkan semua peralatan yang dia gunakan.
"Hmm."
"Emm Gema meskipun ada orang yang buat Gema marah dan kesal, tapi jangan sampai pakai kekerasan ya?" kata Zelline dengan penuh kelembutan.
Gema tak menanggapi dan malah menatap Zelline yang kini tersenyum padanya. Bahkan tiba-tiba saja wanita itu mengangkat satu tangannya dan mengusap pelan kepalanya.
"Gema makin ganteng kalau enggak suka pukul-pukul orang," kata Zelline.
Gadis itu menunjukkan cengiran lucu yang membuat Gema mengalihkan pandangannya sambil menahan senyum.
Astaga Zelline.
••••
Zelllll nanti Gema baperrr🤧
__ADS_1