
"MAURA LIHAT TUGASSSS!!"
Naura berlari memasuki kamar kembarannya dan melihat Muara yang tengah berbaring dengan telepon di telinganya.
Pasti lagi asik telponan sama Haikal.
"Tugassss."
Maura menunjuk bukunya yang ada di meja belajar dan membuat Naura tersenyum senang. Dia langsung berlari ke arah meja belajar saudara kembarnya itu.
Bukan pergi ke kamarnya Naura malah duduk di sana dan menyalin tugas di kamar Maura. Dia malas bolak-balik, nanti setelah selesai Naura harus mengembalikan lagi buku Maura ke kamarnya.
Jadi, lebih baik dia kerjakan sekalian saja disini.
Masalah Maura yang sedang berbicara di telpon dengan Haikal itu sama sekali tidak membuat Naura terganggu. Soalnya dia sudah biasa mendengar kedua orang itu berbicara di telepon.
Maura juga tidak masalah dengan kehadiran kembarannya itu. Dia tetap asik mengobrol dengan Haikal tanpa peduli kehadiran Naura.
Sekitar empat puluh lima menit Naura akhirnya selesai dan Maura juga ternyata sudah selesai berbicara dengan Haikal. Akhirnya Naura tidak langsung ke kamar dan malah menghampiri Maura dengan naik ke atas tempat tidur kembarannya itu.
"Maura."
"Hmm."
Maura bergumam pelan sebagai tanggapan karena dia sedang asik memainkan ponselnya.
"Ih Maura dengerin gue," kata Naura yang membuat kembarannya itu menghela nafasnya pelan.
Maura menaruh ponselnya lalu menatap Naura dengan alis bertaut.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Maura.
"Bantuin gue," kata Naura.
"Bantuin apa? Lo mau jalan ya sama Levi?" tebak Maura.
Naura langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Besok, tapi gimana izinnya? Maura bantuin kalau izin ke Papa gue masih berani, tapi ke Kak Nathan aaaa takut," rengek Naura.
Kedua gadis itu memang lebih takut dengan Kakak mereka. Soalnya kalau Devano itu masih bisa dibujuk, tapi kalau Nathan jangan harap deh.
Mau Naura sama Maura nangis juga kalau kata dia enggak berarti enggak.
"Lo pikir gue berani izin ke Kak Nathan?" kata Maura.
"Nau, lo pikir Kak Arthan sama Kak Ardhan bakal diem aja? Mereka berdua pasti langsung nelpon Kak Nathan nanti," kata Maura yang membuat Naura mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Atau kita izin aja ke rumah Vera deh nanti gue ke sana," kata Maura memberikan saran.
Perkataan kembarannya itu langsung membuat Naura tersenyum lebar. Dia mengangguk dengan penuh semangat dan membuat Maura tertawa pelan.
"Capek enggak sih Nau mau kemana-mana harus ngumpet dulu?" tanya Maura.
Naura memasang wajah cemberutnya sambil mengangguk setuju. Dia memeluk bantal milik kembarannya itu seraya menghela nafasnya pelan.
"Tapi, kalau Kak Nathan sama Papa enggak kayak gitu gue malah lebih takut," kata Naura.
"Bener, gue takut Kak Nathan sama Papa nanti enggak sayang kita lagi," ucap Maura menanggapi.
__ADS_1
Naura mengangguk setuju. Dia tersenyum tipis sambil menatap kembarannya itu.
"Enggak masalah Maura nanti Papa sama Kak Nathan pasti bakal kasih kita sedikit kebebasan," kata Naura sambil menepuk pelaj pundak kembarannya.
"Padahal kita juga enggak bakal aneh-aneh ya Nau?" kata Maura.
"Iya, tapi justru itu Maura. Mereka tuh pasti percaya dan yakin kita enggak bakal aneh-aneh di luar sana, tapi Papa sama Kak Nathan pasti takut kalau nanti kita enggak bisa bawa diri dan malah terjerumus ke pergaulan bebas," kata Naura dengan panjang lebar.
Baru saja akan memberikan tanggapan tiba-tiba pintu kamar Maura terbuka dan membuat keduanya menoleh. Ternyata ada Nathan di sana yang tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah kedua adiknya.
"Bener kata Naura tadi," kata Nathan.
"Ehh Kakak denger?" tanya Naura malu.
Nathan mengangguk. Dia langsung duduk di dekat kedua adiknya lalu mengusap kepala mereka secara bergantian.
"Enggak usah bohong, besok kalau mau pergi sama Levi pergi aja, tapi pulangnya jangan terlalu sore," kata Nathan.
Mata Naura langsung membulat. Dia terlihat sangat antusias hingga membuat Nathan tersenyum tipis.
"Untuk kali ini aja lain kali enggak."
••••
Hai haiii maaf baru sempat updateee hehehe
Nanti malam mau update bagian Zelline yang masih ngambek🤭
Ayo comment yang banyakkkk💗
__ADS_1