
Gema sudah berangkat ke sekolah hari ini karena dia merasa sudah membaik. Setelah meminum obat yang kakaknya Zelline berikan demamnya sudah turun.
Kali ini Gema datang sedikit terlambat, tapi tidak sampai membuatnya dihukum karena dia datang sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Saat akan memasuki kelas Gema mendengar suara Zelline yang memanggil namanya.
Gema refleks menoleh dan benar saja ada Zelline yang kini berlari menghampirinya. Gadis itu menatap Gema lalu berjinjit untuk meletakkan satu tangannya di dahi Gema.
"Gue enggak papa Zel," kata Gema sambil tersenyum.
Zelline pun ikut tersenyum. Dia menarik lagi tangannya yang semula menyentuh dahi Gema.
"Tadi Gema sarapan dulu kan?" tanya Zelline memastikan.
"Iya Zel sama Hana juga tadi makan dulu," jawab Gema dengan jujur.
Senyum Zelline mengembang semakin lebar ketika mendengarnya. Hal itu membuat Gema berusaha menahan senyumnya, senang rasanya diperhatikan seperti ini.
"Makasih Ya Zel," kata Gema.
"Makasih untuk apa Gema?" tanya Zelline bingung.
"Karena udah perhatian sama gue," kata Gema dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Zelline ikut tersenyum ketika mendengarnya. Dia menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan lalu mengatakan pada Gema bahwa dia akan kembali ke kelasnya.
Setelah memastikan Zelline memasuki kelasnya Gema pun melakukan hal yang sama. Pria itu masuk ke dalam kelas dan pergi ke tempat duduknya yang berada di belakang.
"Udah sembuh nih?" tanya Laurent.
__ADS_1
Gema mengangguk singkat sebagai jawaban. Dia menaruh tasnya di atas meja dan duduk bersama dengan Laurent kalau Justin duduk di depan mereka.
"Kemaren beneran Kakaknya Zelline ke rumah lo?" tanya Justin penasaran.
"Eh iya sumpah gue kepo banget," kata Laurent juga.
"Iya, sumpah gue kaget tiba-tiba dia muncul terus dipesenin makan sama dikasih obat habis itu pas pulang sekolah Zelline ke rumah," ungkap Gema yang membuat kedua temannya itu terkejut.
"Pantes dia langsung sembuh orang dijengukin ceweknya," sindir Laurent.
Gema hanya tertawa pelan menanggapi ucapan temannya itu.
"Terus Kakaknya gimana?" tanya Justin yang masih penasaran.
"Ya gak gimana-gimana nemenin gue aja sampai sore, tapi sambil ngomel katanya kalo bukan karena Zelline mending dia jalan sama temennya," kata Gema.
"Padahal kalau mau pergi tinggal pergi enggak sih? Lo larang emang?" tanya Laurent.
"Buset Zelline ini kecil-kecil, tapi boss pada nurut soalnya," ujar Laurent.
Gema membenarkan ucapan temannya barusan karena kedua kakaknya memang selalu menuruti Zelline.
Kecuali untuk hal berpacaran.
"Iya gue jadi iri dikit apalagi Kak Arthan bilang kalau gue anak Mami Papinya pasti diomelin karena sakit enggak mau minum obat..."
Gema tersenyum tipis dan membuat kedua temannya itu saling pandang. Mereka merasa tidak enak karena membuat Gema kembali mengingat orang tuanya.
__ADS_1
"Kalau orang tua gue kayaknya gue mati juga enggak peduli," kata Gema sambil tertawa miris.
"Jangan gitu lah Ma ngomongnya," tegur Justin.
Belum sempat Gema memberikan tanggapan tiba-tiba saja seseorang muncul dari balik pintu kelas.
Itu Zelline.
"Gemaa."
Dia memanggil Gema dan membuat teman sekelasnya yang lain ikut menatap ke arah Gema. Mereka heboh sendiri dan membuat Gema berdecak kesal, tapi Gema bergegas menghampiri Zelline yang berdiri di depan pintu kelas.
Saat keduanya sudah berhadapan Zelline tersenyum lalu menyerahkan satu kotak susu padanya dan juga sebuah roti.
"Untuk apa astaga?" tanya Gema sambil menerima itu semua.
Zelline hanya tersenyum dan tidak memberikan jawaban.
"Gue bisa beli sendiri padahal, tapi makasih ya Zel," kata Gema sambil tersenyum tulus.
Zelline mengangguk. Gadis itu tersenyum malu hingga Gema dapat melihat kedua pipinya memerah.
"Gema jangan telat makan lagi ya? Aku mau ke kelas."
Dan setelah mengatakan hal itu Zelline langsung berlari kembali kekelasnya. Dia meninggalkan Gema yang tertawa melihat tingkahnya.
Dasar Zelline.
__ADS_1
••••
Hai haiiiiii🙆♀️