
"Hai Kak Ardhan."
Ardhan tersenyum tipis ketika mendapat sapaan dari beberapa orang yang berpapasan dengannya. Saat ini dia baru saja keluar dari kelas dan berniat untuk pergi ke cafe dekat kampus sembari menunggu jam selanjutnya.
Kalau kembarannya jangan ditanya deh tadi Arthan mengajaknya untuk pulang ke rumah dan beristirahat padahal jeda waktunya hanya dua jam saja.
Yang ada pria itu pasti malas kembali ke kampus dan berakhir menitipkan absen pada Ardhan.
Ardhan melangkahkan kakinya lurus ke depan hingga matanya menangkap sosok seseorang yang dia kenali berdiri tidak jauh di hadapannya.
Kalian tau siapa kan?
Benar, Natasha.
Tampa sadar Ardhan tersenyum sedikit lebih lebar. Dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Natasha yang terlihat tengah mengobrol bersama dengan temannya.
Gadis itu tidak menyadari kehadiran Ardhan yang sudah semakin mendekat ke arahnya. Sampai temannya yang sadar langsung menyenggol lengan Natasha sambil melirik ke arah Ardhan.
"Kenapa sih Kei... ehh."
Natasha langsung terdiam. Gadis itu terlihat gugup ketika Ardhan berdiri di hadapannya dan menatap ke arahnya.
"Mau kelas?" tanya Ardhan.
"Emm iya Kak," jawab Natasha yang berusaha mengalihkan pandangannya dari Ardhan.
"Oke, semangat kelasnya," kata Ardhan tiba-tiba.
Entah mendapat dorongan dari mana Ardhan mengatakannya bahkan Natasha terlihat sangat terkejut ketika mendengarnya. Wajahnya langsung memerah apalagi ketika Ardhan menepuk pelan kepalanya sebelum berlalu pergi.
Apa maksudnya itu?
Beberapa saat setelah Ardhan pergi Natasha menggigit kuat bibir bawahnya untuk menahan teriakan. Dia berpegangan pada Keira yang ada di sebelahnya.
"Ya ampun Kei lemes aku."
Ardhan enggak sadar ya sama apa yang baru saja dia lakukan?
••••
"Arthan ih kamu tuh sekarang enggak pernah punya waktu lagi buat aku!"
__ADS_1
Wajah Arthan terlihat menahan emosi ketika dia yang berniat untuk pulang malah bertemu dengan Tania yang membuat mood nya memburuk seketika. Mereka memang belum putus, tapi Ardhan sudah sangat jarang bertemu dengan wanita itu bahkan pesan yang sering kali Tania kirimkan pria itu abaikan.
Bukan tanpa alasan, tapi Arthan beberapa kali memergoki gadis itu jalan bersama dengan Bima dan setiap kali Ardhan bertanya untuk memastikan kekasihnya itu akan jujur atau tidak dia malah mendapatkan kebohongan.
"Berisik, gue mau pulang," kata Arthan dengan ketus.
"Kamu kenapa sih?!" seru Tania.
Arthan memejamkan matanya sejenak. Dia menghela nafasnya pelan lalu berbalik dan menatap Tania yang masih menjadi kekasihnya.
"Kalau kesepian telpon Bima aja jangan gue sekalian lo pacarin atau memang udah pacaran lo berdua?" tanya Arthan.
"Kamu ngomong apa sih?! Jangan nuduh aku kayak gitu ya Arthan!" kata Tania tidak terima.
"Siapa yang nuduh? Lo memang sering jalan sama dia kan? Setiap kali gue tanya lo selalu bohong dan jawab kalau lo lagi di rumah, kenapa? Kenapa harus bohong?" tanya Arthan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu salah lihat, aku enggak pernah jalan sama Bima," elak Tania yang membuat Arthan tertawa.
"Terserah lo deh," kata Arthan kesal.
Tadinya Arthan berniat untuk pergi, tapi dia kembali berbalik dan mengatakan hal yang selama ini dia tahan.
"Ayo putus, gue capek pacaran sama lo."
Arthan tidak peduli yang penting dia bebas dari hubungan ini.
••••
"Kak Arthan kenapa?"
Zelline bertanya dengan wajah cemberut ketika mendengar dari Maminya kalau sejak pulang kuliah Arthan mengurung diri di kamar. Baru saja Devina meminta Ardhan untuk naik dan memanggil kembarannya itu, tapi Arthan tidak mau keluar padahal pria itu belum makan siang.
Sebentar lagi sudah waktu makan malam, tapi Arthan masih belum keluar juga. Hal itu membuat Zelline bingung dan juga sedih.
"Lagi ada masalah kali sama pacarnya," kata Ardhan.
"Ish si nenek lampir itu kenapa sih jahat sama Kak Arthan!" kata Zelline kesal.
"Panggil gih Arthan ajak makan malam, dia dari tadi belum makan siang juga," kata Devina pada kedua anaknya.
Setelah mendengar itu Zelline langsung pergi ke atas. Dia berdiri di depan pintu kamar Kakaknya dan mengetuknya pelan.
__ADS_1
"Kak Arthan."
Tak ada sahutan. Zelline berniat membuka pintu kamar, tapi kamarnya terkunci.
"Ish Kak Arthan ayo makan!" kata Zelline sambil mengetuk pintunya dengan kuat.
"Duluan," sahut Arthan dari dalam kamar.
"Enggak mau duluan! Pokoknya kalau Kak Arthan enggak makan aku juga enggak mau makan!" seru Zelline.
Ardhan memperhatikan dari jarak yang sedikit jauh sambil tersenyum kalau Zelline sudah datang Arthan pasti akan keluar.
Dan benar dugaannya beberapa saat kemudian Arthan membuka pintu kamarnya.
Pria itu masih memakai pakaian yang dia kenakan tadi. Dari matanya sih sepertinya pria itu baru bangun tidur.
"Kak Arthan kenapa? Siapa yang jahatin Kakak aku??" tanya Zelline dengan wajah cemberut.
Raut wajah Arthan yang semula sedih langsung berubah. Senyumnya perlahan terbentuk lalu Arthan secara tiba-tiba memeluk adiknya itu.
"Zelzell."
Zelline yang awalnya bingung tetap membalas pelukan yang kakaknya itu berikan.
"Karena Tania nenek lampir itu ya?" tanya Zelline kesal.
Kali ini Arthan malah tertawa. adiknya ini memang selalu berhasil membuatnya tertawa ketika hatinya sedang tidak baik.
Arthan bukan sedih karena putus, tapi dia sedih karena merasa jika dirinya sangat bodoh selama ini.
Berbohong pada Papinya untuk meminta uang lebih agar bisa membelikan keinginan Tania.
Bertengkar berkali-kali dengan Ardhan karena menganggap jika kembarannya itu berniat merebut kekasihnya.
Dan mengurangi waktunya dengan keluarga hanya karena gadis itu.
Dia merasa sedih untuk kebodohannya itu.
"Kak Arthan jangan sedih nanti aku enggak ada yang gangguin."
•••••
__ADS_1
Haloooo❤