
"Ayo cepetannnnnn"
Zelline melipat kedua tangannya di dada sambil menatap kedua Kakaknya dengan sebal karena kedua orang itu tidak kunjung selesai. Supaya tidak mengadu kedua Kakaknya itu membujuk Zelline dengan pergi ke toko buku dan membebaskan gadis itu memilih buku yang ingin dibeli.
Jelas saja Zelline tidak akan membuang kesempatan seperti itu, jadi dia langsung berhenti ngambek.
"Sabar Tuan Puteri." Kata Arthan dan Ardhan bersamaan.
Zelline masih setia dengan wajah cemberutnya hingga kedua Kakaknya itu mendekat dan menggandeng kedua tangannya.
"Ayo ayo lo borong dah tuh novel kalau perlu sekalian sama toko bukunya juga dibeli." Kata Arthan.
Hanya senyuman yang bisa Zelline berikan ketika mendengar perkataan Kakaknya itu.
"Eh mau kemana?" Tanya Devina ketika melihat ketiga anaknya itu ingin pergi bersama.
"Mengantar Tuan Puteri pergi jalan-jalan Mamiku sayang." Kata Arthan yang membuat Devina tertawa mendengarnya.
"Mau ke toko buku Mami nganterin Zelline daripada dia minta anterin Gema, jadi mendingan kita berdua yang anterin." Kata Ardhan yang semakin mengundang tawa Devina.
Ada saja kelakuan kedua anak itu.
"Mami pamit dulu ya? Mau anter Tuan Puteri Zelline." Kata Arthan lagi.
Devina hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah kedua anak itu.
"Udah izin Papi?" Tanya Devina memastikan.
"Udah Mami sayang." Kata Ardhan.
"Yaudah hati-hati adeknya dijagain." Kata Devina yang langsung diacungi jempol oleh kedua anaknya.
Setelah itu ketiganya pergi keluar rumah. Mereka pergi dengan mobil milik Ziko yang akan dibawa oleh Ardhan.
Begitu masuk ke dalam mobil Arthan langsung merangkul adik perempuannya itu dengan sayang.
"Jangan ngambek lagi ya? Enggak usah ngadu sama Mami kalo pipinya abis gue cubitin sama Ardhan kemarin." Kata Arthan.
Dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya Zelline mengangguk patuh.
"Kakak kenapa deh enggak bolehin aku deket sama cowok? Padahal aku enggak pernah ikut campur kalau Kakak deket sama cewek kecuali kalo ceweknya si Tania aku kesel." Ungkap Zelline.
Arthan tertawa pelan mendengarnya, "Alasannya karena gue enggak mau lo sakit hati Zelline."
"Kenapa sakit hati?" Tanya Zelline tidak mengerti.
"Ya karena cinta-cintaan." Kata Arthan cepat.
"Tapi, temenan doang tetep dimarah." Sindir Zelline yang membuat Ardhan tertawa.
"Zel jujur aja nih ya gue sama Arthan tuh enggak mau ada yang nyakitin lo entah itu temen atau pacar karena gue sama Arthan tau lo gimana Zelline." Kata Ardhan tanpa menghilangkan fokusnya pada jalanan dihadapannya.
"Memang aku gimana?" Tanya Zelline penasaran.
"Lo tuh enggak tegaan! Pasti kalo ada yang nyakitin atau berbuat buruk lo enggak akan bilang dan pasti lo bakal dengan mudah maafin orang itu." Kata Arthan menjawab.
"Ya kan kita enggak boleh..."
__ADS_1
"Tuh kan! Gue sama Ardhan tuh enggak mau lo kesulitan Zelline! Intinya mah gue sama Ardhan ngejaga lo dari orang-orang jahat." Jelas Arthan.
"Tapi, enggak semua orang itu jahat Kak." Cicit Zelline.
Arthan menghela nafasnya pelan. Dia benar-benar berusaha untuk tidak mencubit lagu pipi adiknya itu karena gemas.
"Terserah deh Zelline gue enggak mau ngomong sama lo ya nanti gue cubit lagi pipi lo karena gemes." Kata Arthan sebal.
Wajah Zelline langsung berubah cemberut, tapi dia langsung diam dan tidak mau bertanya lagi.
Aneh karena Zelline masih tidak mengerti dengan kedua Kakaknya yang terlalu posesif padanya. Sampai ada yang pernah mengira kalau mereka terlibat hubungan terlarang antara Kakak dan adik padahal mah Arthan saja sudah punya pacar.
Memang dasarnya Arthan dan Ardhan yang terlalu berlebihan padanya.
Tapi, sudahlah Zelline tidak mau banyak membantah karena dia yakin semua yang kedua Kakaknya juga orang tuanya lakukan itu demi kebaikannya.
Untuk Zelline anak perempuan satu-satunya di keluarga kecil Ziko.
••••
Arthan dan Ardhan benar-benar terlihat seperti bodyguard yang tengah menjaga tuan mereka. Sudah lima belas menit sejak mereka sampai di toko buku dan keduanya memposisikan diri di belakang Zelline yang tengah melihat-lihat buku.
Ketiganya menjadi pusat perhatian orang-orang yang tanpa sengaja melihat. Mungkin merasa bingung dan bertanya-tanya kenapa Zelline harus diikuti oleh dua orang yang tubuhnya lebih besar dari gadis itu.
Tinggi badan Zelline yang hanya sebatas dada kedua Kakaknya itu membuat dia terlihat cukup kecil.
"Udah belum Zel? Lama amat milih buku doang." Ucap Arthan yang sudah pegal duluan.
Perkataan itu langsung mendapatkan lirikan tajam dari Zelline.
Arthan langsung diam dengan wajah kesal. Sedangkan Ardhan tidak banyak protes dan terus menemani Zelline mencari buku.
Karena Ardhan juga suka membaca buku, jadi dia tau ketika akan membeli buku pasti memakan waktu yang lama.
Waktu berlalu hingga nyaris satu jam bahkan Arthan sudah sibuk menggerutu sedari tadi, tapi Zelline tak kunjung selesai. Gadis itu baru mendapatkan lima buah buku dan meminta kedua Kakaknya itu untuk membawakannya.
Sedangkan Zelline masih asik memilih dua buku lainnya.
"Sumpah Zelline lama banget." Gerutu Arthan yang berada di jarak cukup jauh dari adiknya.
Ini beneran deh kakinya pegel banget rasanya kayak mau putus.
"Zel masih berapa jam lagi?" Sindir Arthan yang sudah berjalan mendekat ke arah adiknya.
"Kak Arthan dari tadi ngomel terus pulang aja sana." Kesal Zelline.
"Padahal lo tinggal ambil aja Zel ini malah bolak balik baca bagian belakang buku." Omel Arthan lagi.
"Kak Ardhan mending kembaran Kakak suruh pulang aja deh." Kata Zelline yang membuat Ardhan tertawa pelan.
"Sabar Tan bentar lagi juga selesai." Kata Ardhan dengan sabar.
Arthan menghela nafasnya pelan.
"Nemenin Tania belanja berjam-jam aja enggak pernah tuh ngomel ini nemenin adiknya baru sebentar enggak bisa diem banget, awas aja aku aduin Papi." Omel Zelline yang membuat Arthan langsung bungkam.
Sedangkan Ardhan hanya bisa tersenyum sambil menahan tawanya. Zelline memang yang terbaik kalau untuk menyindir Arthan dan kekasihnya itu.
__ADS_1
Kasih bintang lima untuk Zelline.
••••
"Kamu bilang sibuk hari ini, tapi ternyata kamu malah ke mall sama adik kamu!"
Arthan menghela nafasnya pelan ketika tiba-tiba mereka berpapasan dengan Tania dan kedua temannya. Dibalik itu ada Zelline dengan wajah sebalnya menatap ke arah wanita yang sudah membuat Arthan berubah cukup banyak.
Wanita yang sering kali menjadi alasan Arthan dan Ardhan bertengkar. Dari wajahnya saja sudah sangat menyebalkan.
"Ya memang gue sibuk lagian kan lo udah sama Chika sama Mila." Kata Arthan yang masih berusaha menahan kekesalannya.
Tania mendengus kesal. Benar-benar deh wanita itu bukannya memberikan kesan yang baik pada Zelline malah semakin membuat kesal saja.
"Adek kamu kayak masih umur berapa aja kemana-mana sama Kakaknya." Kata Tania dengan wajah kesalnya.
Wajah Zelline langsung berubah kesal ketika mendengarnya. Untung saja mereka sudah berada diparkiran, jadi tidak ramai orang.
"Sirik aja." Kata Zelline ketus.
"Gue rasa bukan urusan lo Tania dan dia keluarga gue sama Arthan, jadi wajar kalau Arthan lebih prioritaskan dia." Kata Ardhan.
Tania malah mendengus kesal membuat Zelline menatapnya dengan penuh emosi.
"Terserah."
"Kak Arthan lain kali nyari pacar yang bener." Kata Zelline yang membuat Tania langsung menatapnya dengan tajam.
"Maksud lo apa??" Tanya Tania.
Raut wajah Zelline semakin tak bersahabat saja ketika mendengar pertanyaan yang gadis itu ajukan dengan ketus.
"Kak Arthan kayaknya dipelet." Kata Zelline yang membuat Ardhan tertawa mendengarnya.
"LO!"
"Tania! Jangan kasar sama adek gue ya!?" Kata Arthan sambil menepis tangan kekasihnya yang menunjuk wajah adiknya.
Zelline langsung tersenyum puas dan menggandeng tangan kedua Kakaknya lalu mengajak mereka pergi.
Eh ini beneran ya kata Zelline mah Kakaknya pasti kena pelet.
"Kata aku ya Kak Arthan mending putusin tuh Tania enggak bener banget jadi cewek masih pacaran masa udah ngatur-ngatur." Kata Zelline.
"Setuju." Sahut Ardhan.
Ardhan mengangkat satu tangannya yang langsung ditepuk oleh Zelline lalu keduanya tertawa dan membiarkan Ardhan dengan wajah masamnya.
Kalo Arthan putus kita pesta!
••••
Heyooo updateeee❣️
Maafin yaa kemarin enggak jadi update huhuuuu nanti aku update lagi okeeee🤗
Tim Arthan putus siapaa???
__ADS_1