
Layla semakin gugup ketika melihat wajah mereka untuk kedua kalinya. Apalagi ia juga melihat wajah Ratu yang pernah memeluknya saat masih kecil dulu. Pelukan yang membuatnya hangat seperti seorang ibu.
Adelio yang melihat pun tersenyum tipis, Ia keluar dari Limosin dan berlari memutar membuka pintu Limosin sambil membantu Layla turun.
Semua gerak-geriknya di lihat oleh keluarga kerajaan. Terutama Javas dan Javier yang pertama kalinya melihat sifat lain dari Kakaknya.
Crystal yang melihat gadis di samping Puteranya tersenyum sambil merentakan tangannya untuk memeluk nya.
" Selamat datang kembali sayang." ucap Crystal dengan ramah.
Layla yang merasakan kembali pelukan itu matanya berkaca-kaca. Sudah lama sekali dirinya tidak mendapatkan hal yang membuat perasaan nya menghangat.
" Terima kasih Ratu." ucap Layla sambil tersenyum tipis.
Crystal yang mendengarnya membalas senyuman Layla.
" Kamu tidak perlu sungkan sayang, lagipula sebentar lagi kamu akan menjadi isteri Lio." ucap Crystal.
Layla yang mendengar ucapan Ratu merasa di terima membuat perasaan senang.
" Baiklah." ucap Layla.
" Oh ya karena aku sibuk mengajak mu berbicara sampai lupa mengajak mu untuk makan." ucap Crystal.
__ADS_1
Setelah itu mereka menuju ke ruang makan, Layla merasa canggung makan bersama dengan keluarga kerajaan. Sedangkan dia sendiri hanya seorang penjual bunga. Apalagi dirinya tidak memiliki hubungan apapun.
Aurora yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Layla. Mengerti pasti dia merasa canggung. Sampai selesai makan malam Aurora menghampirinya.
" Hallo." sapa Aurora kepada Layla.
" Oh, Tuan Puteri." ucap Layla ketika membalikan badannya.
" Apa kau punya waktu?" tanya Aurora sambil menatap Layla.
Layla memiringkan kepalanya dengan polos sebelum mengganggukan kepalanya.
...****************...
" Jadi bagaimana keadaan mu sebelumnya?" tanya Aurora sambil meminum kopi dengan anggun.
Sudah jadi kebiasaan Aurora setelah tinggal di London. Selalu meminum secangkir kopi sebelum tidur.
Layla yang mendengar pertanyaan Aurora merasa kikuk. Apa Puteri Aurora tidak menyukainya pikir negatif Layla.
" Setelah kejadian itu saya tinggal di sebuah pendesaan kecil bersama dengan Nenek. Saya bersekolah dengan menggunakan beasiswa sampai Nenek meninggal ketika saya berusia 15 tahu. Sejak hari itu saya harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan. Sampai akhirnya saya tertarik untuk membuka toko bunga, dan impian mu tercapai." ucap Layla sambil tersenyum teduh.
Aurora yang mendengar jawaban dari Layla menaruh rasa iba. Dia tahu bahwa Layla sudah tidak memiliki seorang ibu sejak pertama kali ia membuka matanya. Aurora bersyukur karena masih bisa memiliki seorang ibu. Andaikan Ibunya sudah tidak ada mungkin Aurora tidak akan kuat menjalani kehidupan seperti calon kakak iparnya.
__ADS_1
Tapi ada satu pertanyaan yang hinggap di otak Aurora sampai sekarang, dan ia memutuskan untuk bertanya.
" Apa kau membenci Keluarga kerajaan, Layla?" tanya Aurora dengan serius.
Deg....Deg...
Membuat Layla yang mendengarnya dibuat tersentak.
...****************...
" Kakak, aku sama sekali tidak percaya kau memiliki seorang kekasih?" tanya Javier kepada Adelio yang sedang duduk tenang sambil bermain catur dengan Javas.
" Memangnya aku tidak normal?" tanya Adelio sambil memandang tajam Javas.
Javier yang melihat tatapan tajam Adelio langsung menundukkan kepalanya takut. Membuat semua orang yang berada di ruangan tertawa.
Memang setiap malam keluarga Alex akan selalu berkumpul di ruang keluarga. Meskipun mereka memiliki kesibukan masing-masing.
Adelio yang saat ini bermain catur tiba-tiba saja di buat terkejut dengan ucapan Javas.
" Apa kau mencintainya....
Continue...
__ADS_1