Prince Mafia Obsession

Prince Mafia Obsession
Minta Bantuan


__ADS_3

Akhirnya setelah berpikir Adelio menyetujui keinginan Dominic dan sekarang mereka sedang berada di ruang kerja Dominic.


Memang sekarang Dominic memiliki sebuah ruang kerjanya sendiri. Mengingat status nya sebagai Putera Mahkota di dua kerajaan sekaligus membuatnya harus membagi waktu.


" Jadi apa yang ingin kamu bicarakan Dominic? Sepertinya kau seperti banyak masalah." ucap Adelio dengan datar.


Adelio sangat mengenal baik Dominic mengingat mereka memiliki sifat dan hobi yang sedikit sama. Membuatnya memiliki hubungan yang erat daripada saudara mereka yang lain.


" Huh...aku tidak tahu harus berbicara darimana, tapi aku meminta sesuatu untukku Kak." ucap Dominic dengan tatapan serius.


Adelio langsung menegakkan tubuhnya saat melihat ekspresi Dominic yang sepertinya sedikit frustasi.


" Apa kau menyuruhku untuk mencarinya." ucap Adelio yang tebakannya tepat sasaran.


Membuat Dominic yang mendengarnya sedikit terkejut. Tetapi ia mengerti bahwa Kakaknya lebih mengenal dirinya daripada Daddy dan Mommy nya.

__ADS_1


...****************...


Setelah berbincang dengan Dominic, Adelio memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai Pangeran sebelum kembali ke Amerika. Memang sudah menjadi keputusannya untuk tetap tinggal di Amerika daripada di Grace.


Tapi yang menjadi masalahnya sekarang Adelio sama sekali tidak habis pikir mengapa Dominic melakukan hal itu terhadap seseorang. Memang dia mengerti bahwa Dominic melakukannya demi kerajaan. Tetapi tidak salahnya dia berbicara terlebih dahulu terhadap Daddy dan Mommy nya.


" Huh.... sepertinya masalahnya akan semakin panjang, jika orang itu datang kemari." ucap Adelio sambil melihat ke arah Layla yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang penting.


Adelio menyandarkan tubuhnya di pilar sambil mendengarkan pembicaraan mereka dari jauh. Adelio memang memiliki pendengaran tajam mengingat saat kecil dirinya sudah di latih oleh mendiang Grand Dad nya supaya menjadi mewarisi Mafianya.


Sedangkan di sisi lain Layla merasa tidak nyaman mendengar para wanita kaya di depannya ini membicarakan nya.


Lamina merupakan salah satu wanita bangsawan yang mengincar perhatian dari Pangeran Adelio tapi sayangnya beliau sama sekali tidak mempedulikannya. Bahkan untuk melihatnya saja beliau tidak mau.


Mendengar ucapan Lamina semua orang langsung membicarakan hal buruk kepada Layla.

__ADS_1


Membuat Layla ingin sekali menjambak rambutnya yang berwarna merah itu. Tapi sepertinya dia harus menahannya karena dirinya bisa melihat Adelio yang berjalan menuju ke arahnya.


" Syukurlah, setidaknya aku tidak perlu membuang tenaga ku untuk menghadapi wanita jelek itu." batin Layla yang bernafas lega.


Mereka semua menertawakan Layla karena menurutnya dia sama sekali tidak pantas menjadi pendamping Pangeran Adelio. Bahkan Lamina yang mendengarnya tersenyum miring karena berhasil membuat semua orang disini membenci Layla.


" Hahahaha...rasakan itu suruh siapa kau beraninya mengambil Pangeran Adelio dariku. Karena sudah seharusnya aku yang mendapatkannya." batin Lamina sambil tertawa licik.


" Ternyata ada seseorang yang berani menghina isteriku." ucap seseorang dari belakang.


Membuat Lamina yang mendengarnya terkejut dan gerakan perlahan ia membalikkan badannya. Seketika badannya gemetar melihat tatapan Pangeran Adelio yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.


" Pan...geran...." ucap Lamina dengan tergagap.


Melihat wajah ketakutan dari Lamina membuat Layla tertawa terbahak-bahak dalam hatinya.

__ADS_1


" Rasakan." batin Layla.


Countine...


__ADS_2