
" Bagaimana kabar Ayah?" tanya Layla sambil tersenyum manis.
" Tentu saja Ayah sangat baik berada di sini, mereka memperlakukan Ayah dengan hangat." ucapnya sambil tersenyum.
Layla yang mendengarnya juga merasa lega karena sampai sekarang Ayahnya masih ada. Tapi ia tiba-tiba saja langsung membungkuk di hadapan Ayahnya sambil meninttikan air mata.
" Ayah...hiks...maafkan aku hiks...andaikan saat itu aku tidak meminta sepeda pasti Ayah hiks...tidak akan berada di sini hiks..." ucap Layla sambil terisak dan menaruh kepalanya di atas pangkuan sang Ayah.
Ayah Layla yang melihat keadaan Puterinya juga menangis sekaligus bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan anak satu-satunya peninggalan sang isteri. Ayah Layla mengelus rambut Puterinya dengan penuh kasih sayang.
" Ini bukan salahmu Layla ini sudah takdir Ayah berada di sini. Layla tidak perlu merasa bersalah karena memang seorang Ayah harus menuruti semua keinginan anaknya asalkan itu baik." ucap Ayah Layla yang memberikan nasihat nya.
Membuat Layla mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang dipenuhi jejak air mata. Dengan perlahan Ayah Layla menghapus sisa jejak air mata dengan ibu jarinya yang sudah tampak keriput termakan usia.
" Layla sayang Ayah." ucap Layla sambil tersenyum bahagia. Karena bisa merasakan dekapan dan helusan hangat dari Ayahnya.
Mereka berdua saling melemparkan senyuman masing-masing. Sebelum kembali memeluk satu sama lain mencurahkan rasa rindu. Tetapi tiba-tiba saja Adelio membuka pintu ruangan yang membuat mereka berdua melepaskan pelukannya.
" Kita harus pulang sekarang Layla." ucap Adelio yang menyuruh Layla untuk pulang.
__ADS_1
Layla yang mendengar ucapan Adelio langsung menundukkan kepalanya sedih. Padahal dia baru saja bertemu dengan Ayahnya setelah sekian tahun karena waktu terasa singkat.
Adelio yang mengerti kesedihan Layla langsung memegang bahunya dengan pelan.
" Kita akan berkunjung lagi besok bukannya sebentar lagi kita akan menikah. Kau bisa bertemu dengan Ayahmu nanti di sana." ucap Adelio dengan lembut.
Membuat Ayah Layla yang melihatnya dibuat terganga. Mengingat bagaimana pria itu melakukan kekerasan ketika berusia 6 tahun. Tapi sebagian hatinya merasa lega karena sekarang Layla sepertinya akan bahagia.
Layla yang mendengarnya hanya bisa menggangguk kepalanya sebelum. Kembali membalikan badannya dan memeluk Ayahnya lagi.
" Layla berjanji akan berkunjung lagi." ucap Layla sebelum keluar ruangan.
Setelah kepergian Layla dari ruangan suasana menjadi hening sampai akhirnya Adelio berdehem.
" Saya kurang yakin, Tapi saya dengar mereka akan berbuat ulah di acara pernikahan anda, Yang Mulia." ucapnya dengan formal.
Adelio yang mendengarnya bersmirk licik sebelum pandangannya kembali ke arah Ayah dari Wanitanya.
" Ingat saya memberikan tugas jaga Layla sampai di altar dan sisanya saya yang urus sendiri. Karena saya yakin mereka mengincar kelemahan ku." ucap Adelio.
__ADS_1
" Baiklah, Pangeran. Tapi saya mohon lindungi Puteri saya." ucapnya sambil membungkuk badannya.
" Tentu saja." ucap Adelio sebelum keluar ruangan.
Meninggalkan pria paruh baya itu seorang diri.
" Kamu menempati janjiku nak." ucapnya sambil tersenyum tipis.
...****************...
" Apa yang kau bicarakan kepada ayahku, Pangeran." ucap Layla yang sudah duduk nyaman di jok mobil.
Adelio yang ingin menyalakan mobilnya mengurungkan niatnya dan kembali memandang Layla dengan tatapan sulit.
Layla yang melihat tatapan Adelio salah tingkah dan berusaha mengalihkan pandangannya. Membuat Adelio yang melihatnya tersenyum sangat tipis sampai Layla sendiri tidak bisa melihatnya.
" Kamu akan mengetahuinya, Amore." ucap Adelio dengan nada suara misterius.
" HM.." respon Layla sambil memiringkan kepalanya dengan polosnya. Karena sama sekali tidak mengerti arti perkataan Adelio barusan.
__ADS_1
" Sebenarnya, apa yang dia katakan barusan?" batin Layla bertanya.
Continue...