
Adelio membawa Layla untuk menaiki menara Eiffel dengan menggunakan lift. Layla dibuat kagum karena dirinya bisa melihat keindahan kota Paris dari atas sini.
Layla harus mengucapkan terima kasih kepada Adelio yang telah membawanya ke tempat impiannya. Ia mengadahkan kepalanya menatap Adelio yang sedang menatapnya juga.
" Terima kasih Lio, ini adalah hari terindah bagiku." ucap Layla sambil tersenyum tulus.
Membuat sekali lagi Adelio terpesona dengan senyuman Layla yang mirip sekali dengan Mommy nya ketika masih seusianya.
" HN." respon Adelio sambil memalingkan pandangannya.
Layla yang melihatnya hanya tertawa pelan meskipun pertemuannya dengan Adelio tidak baik. Tapi Layla yakin bahwa Adelio memiliki sifat yang baik di balik wajah dinginnya.
Adelio terus memperhatikan Layla yang terlihat bahagia. Dia sama sekali tidak menyesal telah membawa Layla ke tempat ini. Meskipun dirinya bertanya-tanya mengapa rata-rata perempuan suka dengan negara yang di juluki Negara Romantis. Padahal negara ini tidak ada apa-apa nya bagi Adelio yang dulunya pernah tinggal di sini selama 6 bulan karena ada urusan dalam pembangunan cabang baru perusahaan nya.
Tapi Adelio tidak masalah asalkan Layla bahagia membuat perasaan tenang.
Meskipun Adelio belum mengakui perasaannya kepada Layla.
" Lebih baik kita ke Mansion, Matahari sudah tenggelam kita harus segera beristirahat." ucap Adelio yang menyuruh Layla untuk pergi.
__ADS_1
Sedangkan Layla hanya memasang wajah cemberut karena sebenarnya dirinya tidak rela untuk meninggalkan menara Eiffel. Apalagi malam hari menara Eiffel akan lebih indah dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip yang terpasang di sana. Tapi Layla tidak bisa menolaknya karena ia tahu Adelio sudah terlihat lelah setelah perjalanan yang panjang.
" Baiklah." ucap Layla sambil tersenyum sendu karena merasa tidak rela meninggalkan Menara Eiffel.
" Kita akan mengunjungi nya lagi besok, sekarang kau butuh istirahat segera." ucap Adelio yang mengerti bahwa perasaan Layla.
Setelah itu mereka meninggalkan menara Eiffel dan memasuki mobil menuju Mansion.
...****************...
" Monsieur, nous sommes arrivés. Avez-vous besoin d'aide pour transporter Mme." ucap Sopir kepada Adelio dalam bahasa Perancis.
" Non, laisse-moi le faire." ucap Adelio yang menolak tawaran sopirnya.
( Tidak, biar aku saja yang melakukannya.)
Setelah mobil mereka berhenti tepat di depan Mansion. Para pelayan langsung membukakan pintu mobil untuk Tuan mereka. Tidak lama kemudian Adelio keluar sambil membawa Layla yang tertidur di dalam gendongannya. Mungkin karena kelelahan setelah perjalanan jauh di udara apalagi mengingat sebelum sampai di sini mereka melakukan itu untuk kedua kalinya.
Adelio berjalan memasuki Mansion sambil menggendong Layla ala bridal style. Walaupun saat ini Adelio sedang menggendong seseorang tetapi tetap saja aura yang di keluarkan tidak memudar.
__ADS_1
Apalagi para pelayan yang bekerja di dalam Mansion dibuat terpesona dengan ketampanan Tuan mereka yang sedang menggendong seorang perempuan.
Siapa perempuan yang berada di gendongan Tuan.
Hei dia itu adalah isteri Tuan.
Cantik sekali cocok dengan Tuan yang tampan.
Mendengar semua pelayan membicarakan Layla. Adelio hanya bersikap acuh dan terus berjalan menaiki tangga menuju kamar pribadinya.
Ceklek....
Kamar yang di dominasi berwarna hitam dan dark blue membawa kesan misterius seperti pemiliknya. Adelio memasuki kamarnya dan dengan perlahan menidurkan Layla dengan perlahan dan hati-hati.
Selesai menyelimuti Layla sampai batas leher Adelio kembali mencium keningnya dengan lembut.
" Aku tidak tahu seperti apa perasaan diriku saat ini. Mungkin ini aku sudah mulai menyukaimu Amore." bisik Adelio.
Countine...
__ADS_1