
Setelah menghabiskan perjalanan yang panjang akhirnya mereka berdua sampai di New York Amerika serikat. Ketika Adelio menuruni pesawat sambil menggendong Layla yang tertidur mengingat sekarang sudah pukul 3 dini hari.
Banyak Bodyguard yang berbaris di kiri kanan menyambut nya. Dengan langkah pelan Adelio berjalan sambil memandang para Bodyguard nya dengan datar.
Meskipun saat ini Adelio sedang menggendong isterinya tapi tetap saja aura yang di keluarkan nya membuat para Bodyguard ketakutan dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
" Apa semuanya sudah aman?" tanya Adelio kepada Aaron asisten nya.
" Tentu saja, Pangeran saya sudah menyuruh semua Bodyguard untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang berbahaya." ucap Aaron kepada Adelio.
" Kita kembali ke Mansion sekarang." ucap Adelio sambil melewati Aaron berjalan menuju ke dalam mobilnya.
Selama perjalanan Adelio hanya memandang Layla yang tertidur di atas pangkuannya dengan kepala menyender di dadanya yang terlapisi oleh kemeja putihnya. Ia menyingkap rambut yang menghalangi wajah Layla sambil mengelusnya dengan lembut.
" Cantik." ucap Adelio sambil memandang wajah Layla dengan penuh damba.
Sopir yang bertugas mengendarai mobil hanya melirik sekilas Tuannya yang tampaknya sedang bermesraan dengan isterinya. Diam-diam Sopir itu bernafas lega setidaknya dengan keberadaan Nona barunya Tuannya tidak akan bertindak yang anarkis di Mansionnya yaitu menembaki kepala orang.
__ADS_1
Adelio yang sempat mendengar isi hati Sopirnya hanya meliriknya sekilas. Ia bisa melihat Sopir itu ketakutan ketika dirinya memandangi nya. Memang sebelum kedatangan Layla hidup Adelio di penuhi suara tembakan dan teriakan pilu seseorang. Ia sering menghukum para pelayan dan Bodyguard yang tidak bekerja benar tanpa bersalah Adelio menembaki kepalanya. Mungkin karena sifatnya yang menurun kepada kakeknya Samuel Orlando.
Sampai di tempat tujuan Adelio langsung keluar dari mobil dengan di bantu oleh Bodyguard membuka pintu sambil menggendong Layla. Banyak para pelayan yang berbaris dan menundukkan kepalanya ketika mereka ingin berbicara Adelio menahannya dengan meletakkan jarinya di bibirnya.
" Jangan berisik saat ini isteriku sedang tidur lebih baik kalian siapkan keperluan untuk menyambut kedatangan Nona baru kalian." ucap Adelio kepada seluruh pelayan nya.
Mereka menggangguk kepalanya sebelum membubarkan diri untuk melaksanakan perintah Tuannya.
Melihat mereka sudah bubar Adelio langsung membawa Layla ke dalam lift. Ketika sampai di lantai 5 terlihat sebuah lorong gelap yang hanya di terangi oleh beberapa lampu yang terpasang di dinding kanan menuju ke arah sebuah pintu besar yang berada di ujungnya.
Trap....
Trap...
Ia keluar dengan bertelanjang dada dan bawahannya celana piyama berwarna hitam setelah itu ia berjalan ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Layla sebelum akhirnya terlelap sambil memeluknya.
...****************...
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain seorang pria sedang berada di sebuah apartemen kecil yang berada di wilayah Cambridge Inggris. Ia mengetuk pintu itu dengan pelan.
Tok...Tok...
Tidak berapa lama kemudian seseorang membuka pintunya dan terlihatlah seorang perempuan bersurai kuning tampak terkejut dengan kehadirannya.
" Xander mengapa kau berada di sini?" tanyanya yang berusaha menutup pintunya kembali.
Tapi sayangnya pria yang di panggil Xander menahan pintunya dengan kuat sehingga membuat perempuan itu terpental di dinding.
Perempuan itu ketakutan ketika tubuhnya ditahan oleh badan pria itu.
" Buat apa kau berada di sini? Hubungan kita sudah berakhir bukan?" tanyanya sambil menundukkan kepalanya.
Xander yang mendengarnya menahan dagu perempuan tersebut supaya menatap ke arahnya.
" Kamu tidak akan bisa lolos lagi dariku sayang atau aku bisa bilang simpanan ku." ucapnya sambil tersenyum miring
__ADS_1
Countine...