Prince Mafia Obsession

Prince Mafia Obsession
Memulai Rencana


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di udara akhirnya Adelio sampai di New York dengan pengaman yang ketat. Supaya musuh tidak mengetahui kedatangannya.


Adelio melihat Javier yang sedang menunggunya di mobil. Tanpa berlama-lama lagi dia masuk ke dalam.


" Bagaimana kakak ipar apa dia baik-baik saja?" tanya Javier sambil mengendarai mobil dengan pelan.


" Dia baik-baik saja, untungnya saat aku pergi dia sedang tidur. Itu lebih baik daripada dia menangisi kepergian ku." ucap Adelio acuh sambil menyandarkan kepalanya di kaca.


Javier yang mendengarnya tidak bertanya lagi dirinya tahu bahwa kakaknya cukup sulit meninggalkan isterinya sendirian. Meskipun Layla berada bersama orang tua mereka. Tetapi tidak serta menghilangkan perasaan khawatir apalagi sekarang kakak iparnya sedang mengandung.


" Kemarin Mashimo menyerang Mansion dan untungnya kami bisa menghabisi mereka semuanya. Tetapi sayangnya Mashimo tidak akan menyerah sebelum membuat kakak hancur." ucap Javier yang mengalihkan pembicaraan.


Adelio yang mendengarnya tertawa pelan sambil menatap jalanan yang terlihat ramai. Mengingat kota New York adalah kota sibuk membuat semakin malam malah lebih ramai.


" Javier hubungi Akira aku akan membicarakan sesuatu terkait penyerangan semalam. Sepertinya kita yang harus maju terlebih dahulu dan cari tahu juga mengenai keluarga Mashimo." ucap Adelio yang memberikan perintah kepada Javier.


Javier menyeringai mendengar tugas yang diberikan oleh kakaknya.

__ADS_1


" Baiklah, Kakak ini akan menjadi permainan yang menyenangkan." ucap Javier sambil tersenyum miring.


Dibalas oleh Adelio dengan senyuman yang sama. Jika musuh mereka licik mereka bisa lebih licik untuk menyingkirkan musuhnya.


Sampai di Mansion suasana terlihat sepi mengingat semua pekerja kecuali para bodyguard di liburkan. Demi menghindari korban jiwa. Di dalam sudah banyak orang yang menunggu kedatangannya.


" Silahkan duduk, kita akan mulai rencananya." ucap Adelio yang duduk di kursi depan pemimpin.


...****************...


Membuat nya murung tidak bersemangat untuk berada di sini. Sampai seseorang memanggil namanya yang menghentikan Layla berjalan.


" Sudah lama kakak ipar tidak datang ke sini, aku senang akhirnya ada seseorang yang menemaniku selain Mom." ucap seorang perempuan yang tersenyum kepada Layla.


Layla yang mengetahui siapa perempuan tersebut langsung membungkuk hormat.


" Selamat pagi Puteri Aurora." ucap Layla formal yang terkesan gugup.

__ADS_1


Aurora yang memiringkan kepalanya sebelum berjalan menghampiri Layla dan menepuk bahunya dengan pelan.


" Sudah berapa kali bilang jangan mengatakan bahasa formal kepadaku, Kakak ipar. Bagaimana kalau kita berjalan bersama menuju ruang makan pastinya di sana Dad dan Mom sudah menunggu." ucap Aurora dengan ramah.


Layla yang mendengar ajakan tersebut langsung menerimanya. Mereka berjalan saling bersampingan dengan suasana hening sampai Aurora tiba-tiba saja membuka suaranya.


" Sudah lama sekali setelah kejadian tersebut. Apa kau tahu bahwa kehidupan kami tidak seperti orang duga." ucap Aurora tersenyum sendu mengingat masa kecilnya.


Layla yang mendengarnya tidak tahu harus menanggapi apa. Karena dirinya sendiri tidak tahu tentang keluarga kerajaan sebelum kedatangan dulu sebagai anak seorang penjahat.


" Saya tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tetapi yang pasti setiap kenangan akan ada selalu ada menyenangkan maupun tidak kita hanya harus menjadikan sebagai pelajaran." ucap Layla yang mengutarakan pendapatnya.


Aurora yang mendengarnya tersenyum puas melihat Layla yang berusaha memberikan jawaban.


" Sepertinya aku tahu mengapa kakak sangat terobsesi kepadanya...


Countine...

__ADS_1


__ADS_2