Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #102


__ADS_3

"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" Ucap putra mahkota.


Pangeran Rong menatap permaisuri An yang terbaring di ata tempat tidur.


"Pada awalnya aku melawan mereka bersama dengan salah satu pengawal pribadi ku, dan aku meminta pengawal yang lain untuk melindungi permaisuri An. Namun tidak berselang lama, aku mendengar suara pedang tidak jauh di belakang ku. Ketika aku menoleh, itu adalah suara pedang salah satu orang yang menghadang kami dan pedang permaisuri An yang dia pinjam dari pengawal pribadi ku, saat permaisuri An mencoba menghalau pedang yang akan mengenaiku."


"Jadi itu artinya, kalian bertarung dengan mereka?" Ucap putra mahkota.


Pangeran Rong mengangguk, "Benar. Kami berhasil membunuh mereka semua, tetapi setelah itu permaisuri An jatuh dan tidak sadarjan diri."


"Kami sungguh merasa khawatir pada permaisuri An." Ucap ratu.


"Terima kasih ibu ratu, saya berharap dia akan baik-baik saja."


Pangeran Rong menatap semua orang yang ada di depannya, dia tentu tidak bisa mengatakan hal yang telah dia lakukan pada permaisuri An pada malam terakhir mereka di paviliun itu.


"Tabib berkata, jika permaisuri An hanya kelelahan. Jadi kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya." Ucap putri Xiu Ying.


"Kakak kedua benar, setelah dia bertarung dengan tenaga dalam yang cukup besar. Bagi seorang wanita pasti sangat melelahkan. Jadi kakak ke 4, mohon untuk tenang." Ucap pangeran ke 5.


"Aku mengerti, hanya saja aku tetap mengkhawatirkannya." Ucap pangeran Rong.


Ratu dan yang lainnya mengerti bagaimana perasaan pangeran Rong saat ini, dan mereka pun tahu jika pangeran Rong benar-benar sangat mencintai permaisuri An.


"Bagaimana dengan para perdana menteri itu, apakah mereka masih berulah?" Ucap pangeran Rong.


"Kemarin aku masih melihat beberapa masih berlutut dsn memohon kepada ayah kaisar di depan istana." Ucap putra mahkota.


"Beberapa?"


"Benar. Hanya beberapa, karena aku mendengar jika sebagian dari mereka kehilangan buku keuangan dan buku lain yang sangat penting."


Pangeran Rong mengangguk.


"Li, apakah itu kau yang melakukannya?" Ucap ratu.


"Benar. Aku yang telah melakukannya, aku ingin tahu bagaimana mereka akan bertindak nanti."


"Jika buku keuangan mereka ada padamu, itu artinya mereka tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk menyerang permaisuri An." Ucap putri Xiu Ying.

__ADS_1


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, mereka itu adalah orang yang haus akan kekayaan dan posisi di dalam istana, dan tentu mereka akan melakukan banyak hal."


"Benar, bahkan mereka tidak segan-segan mendorong putri mereka sendiri kesini. Walaupun hanya sebagai pelayan, dan berharap salah satu di antara kita akan tertarik padanya. Atau bahkan mereka akan melakukan hal menjijiikan demi naik ke posisi yang lebih baik."


Ratu dan putra mahkota mengangguk.


"Saya pernah melihat, seorang pelayan yang baru saja masuk ke dalam istana kakak pertama. Dia terlihat cukup cantik, dan berbeda dari pelayan yang lainnya. Mungkinkah dia salah satu anak dari para perdana menteri itu?" Ucap pangeran ke 5.


"Pelayan baru? Aku tidak pernah mencari seorang pelayan baru untuk istana ku, dan juga tidak ada yang berkata jika seorang pelayan baru telah masuk kesana." Ucap putra mahkota.


"Jika begitu, kemungkinan dia masuk ke dalam istanamu oleh orang yang bertanggung jawab dalam urusan pelayan." Ucap ratu.


"Ibu ratu benar, saya akan menyelidiki ini."


Ratu mengangguk.


Pangeran Rong menatap permaisuri An yang masih belum sadarkan diri.


"Biarkan dia beristirahat, setelah dia sadarkan diri. Kau baru memberinya sup gingseng, agar tubuhnya menjadi lebih baik." Ucap putri Xiu Ying pada pangeran Rong.


"Iya."


"Feng Ying." Ucap pangeran Rong.


"Hamba disini, yang mulia."


"Masuk dan jagalah permaisuri. Aku harus melakukan sesuatu."


"Baik yang mulia."


Feng Ying berjalan masuk ke dalam kamar, dan menundukan kepalanya.


"Jika terjadi sesuatu pada permaisuri, segera beritahu padaku." Ucap pangeran Rong.


"Baik, hamba mengerti yang mulia."


Pangeran Rong mengangguk lalu berjalan keluar dari kamarnya.


Kali ini pangeran Rong akan membuat para perdana menteri itu bungkam dan memilih pilihan yang sangat berat bagi mereka semua, karena telah berani menargetkan permaisurinya.

__ADS_1


Sementara itu Feng Ying menatap permaisuri An dengan khawatir, dia takut terjadi sesuatu pada permaisuri An. Terlebih ini belum genap 1 minggu nyonya Xia meninggal.


"Yang mulia, sebenarnya apa yang telah terjadi pada anda. Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, saya sungguh mengkhawatirkan anda, yang mulia." Ucap Feng Ying seraya menyeka air matanya.


Sudah cukup banyak yang telah di alami oleh permaisuri An, dan Feng Ying tidak ingin hal yang di luar pemikirannya terjadi.


...----------------...


Di dalam ruang bacanya, pangeran Rong bersama Xiao Li dan Xiao Bo sedang memeriksa buku keuangan beberapa perdana menteri yang mendesak kaisar juga dirinya, agar menurunkan permaisuri An dari posisinya.


Dan saat ini pangeran Rong tengah melihat buku keuangan yang ada di atas mejanya, dari Xiao Li dan Xiao Bo. Di setiap buku-buku itu juga terdapat nama para perdana menteri yang telah mendesak kaisar dan pangeran Rong.


"Apakah ini semua milik mereka?" Ucap pangeran Rong.


"Benar, yang mulia. Masing-masing dari mereka memiliki 3 buku keuangan." Ucap Xiao Bo.


"Mereka cukup pintar dalam membagi buku keuangan, pantas saja mereka bisa dengan mudah membod0hi petugas kekaisaran."


"Itu benar, yang mulia. Dua di antara para perdana menteri itu bahkan memiliki ladang yang cukup luas, dan beberapa binatang ternak." Ucap Xiao Li.


Pangeran Rong mengangguk, "Baiklah, kalian minta beberapa orang untuk menyebarkan berita tentang kekayaan yang mereka miliki. Aku yakin rakyat pasti akan sangat terkejut akan hal ini."


"Baik yang mulia."


Xiao Li segera pergi untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh pangeran Rong.


"Xiao Bo, kau awasi paviliun dan toko obat permaisuri An, jangan biarkan mereka melakukan sesuatu pada dua tempat itu."


"Baik, akan hamba laksanakan yang mulia."


Pangeran Rong mengangguk.


Xiao Bo keluar dari ruang baca pangeran Rong dan berjalan menuju sebuah tempat.


"Baik, sedikit peringatan bagi kalian dariku. Jika kalian masih berani bertindak. Maka aku tidak akan segan lagi pada kalian semua." Ucap pangeran Rong.


Memiliki sifat pendendam mungkin tidak selamanya tidak baik, karena itu bisa membuat para musuh berpikir dua kali jika ingin bertindak.


Namun para perdana menteri ini seolah tidak pernah takut, dan memiliki pikiran yang begitu tamak bagi dirinya dan juga keluarganya. Sehingga tidak memikirkan apa yang akan mereka terima dari akibat mengusik kehidupan pangeran Rong dan permaisurinya.

__ADS_1


__ADS_2