
Permaisuri An diam, entah kenapa beberapa hari ini dia merasa selalu membuat pangeran Rong sedikit kesal padanya. Namun dengan baik pangeran Rong menutupi rasa kesalnya itu.
"Baik, jika itu keputusan yang mulia. Saya akan menurutinya." Ucap permaisuri An.
"Aku mengerti saat ini kau tidak ingin pergi kemanapun, bahkan kita belum kembali ke paviliun setelah pulang dari perbatasan timur. Tetapi aku tidak ingin kau terus seperti ini, karena ibu pasti juga tidak akan menyukainya."
"Saya mengerti, yang mulia."
Pangeran Rong memeluk permaisuri An, rasanya dia ingin sekali menghilangkan perasaan sedih yang saat ini permaisurinya rasakan.
"Bukankah wajahku sangat tampan?" Ucap pangeran Rong yang tengah melihat lagi tulisan dirinya di atas meja.
"Yang mulia."
Pangeran Rong tersenyum, lalu memper-erat pelukannya.
"Permaisuri ku, apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, kau tidak perlu memikirkan apa yang mereka katakan terhadap mu." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An mengangguk, "Baik."
Pangeran Rong tersenyum, dia sungguh tidak ingin hal yang buruk terjadi pada permaisuri An, terlebih jika itu di lakukan oleh para perdana menteri yang terus mendesaknya dan kaisar.
"Sekarang kau bisa melanjutkan apa yang kau lakukan, karena aku ingin melihat lukisan wajahku yang sudah sempurna." Ucap pangeran Rong seraya melepaskan pelukannya.
"Bolehkah saya melukis wajah yang mulia tanpa topeng ini?"
"Kau bisa melukisnya, tetapi aku tidak ingin orang lain melihatnya."
Permaisuri An terdiam, jawaban pangeran Rong sama persis seperti yang sudah dia pikirkan.
"Aku hanya ingin kau yang melihat ku tanpa mengenakan topeng ini." Ucap pangeran Rong lagi.
"Baik, saya tidak akan memperlihatkan lukisan itu kepada orang lain. Dan akan menyimpannya dengan baik."
Pangeran Rong mengangguk dan tersenyum.
"Aku akan meminta koki istana menyiapkan makanan ringan untuk mu." Ucap pangeran Rong.
"Iya, terima kasih yang mulia."
Pangeran Rong tersenyum melihat permaisurinya begitu menurut. Dia lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
"Yang mulia, apakah saya harus keluar dari ruangan ini?" Ucap Feng Ying.
"Kau bantu aku menghaluskan tintanya, setelah itu kau bisa keluar. Dan tunggulah di depan pintu."
"Baik, yang mulia."
Feng Ying lalu kembali membantu permaisuri An menghaluskan tinta, untuk melanjutkan lukisan wajah pangeran Rong yang belum sempurna itu.
Permaisuri An mencoba menggoreskan kembali kuasnya di atas kertas, "Di kehidupan ku dulu, aku mungkin tidak lagi memiliki siapapun setelah ibu meninggalkan ku, namun di kehidupan ini, aku masih memiliki pangeran Rong, Feng Ying dan yang lainnya. Seharusnya aku merasa bahagia dan tenang, tetapi aku justru membuat mereka merasa khawatir dan juga kebingungan."
__ADS_1
Feng menghentikan apa yang tengah dia lakukan, "Yang mulia, saya sudah menghaluskan lebih banyak tinta. Anda bisa memakainya."
"Terima kasih, kau bisa keluar sekarang."
"Baik yang mulia."
Feng Ying berjalan keluar dari ruangan itu, dan menunggu di depan pintu agar tidak ada seorang pun masuk ke dalam.
Setelah Feng Ying keluar, permaisuri An mulai menyempurnakan lukisan wajah pangeran Rong yang tanpa memakai topeng.
Meski hanya setiap malam saja permaisuri An bisa melihat wajah pangeran tanpa topeng, tetapi dia sangat hafal wajah yang selalu menemani tidurnya itu.
"Dia memiliki luka yang cukup dalam dan panjang, bahkan saat aku ingin memberinya obat untuk bekas luka itu, dia menolaknya. Dan aku tidak memiliki keberanian untuk memberikan obat itu lagi padanya." Ucap permaisuri An sambil melanjutkan lukisannya.
Setelah peperangan itu, permaisuri sengaja datang ke ruangan itu dan melukis beberapa lukisan, karena hanya dengan itu dia bisa mengurangi sedikit rasa sedih dan kehilangannya terhadap nyonya Xia.
Dengan serius permaisuri An terus melukis wajah pangeran Rong, dan setelah hampir 30 menit dia berhasil membuatnya.
"Dia memiliki alis yang bagus, dan bulu mata yang cukup panjang. Memang pantas jika banyak wanita yang menyukainya, meski dia memakai topeng karena luka itu." Ucap permaisuri An yang melihat hasil lukisannya.
Permaisuri An membiarkan lukisan itu di atas meja, dan setelah kering nanti dia baru akan menggulung dan membawanya ke kamar.
Untuk sesaat permaisuri An mengingat ketika hari dimana dia dan pangeran Rong menikah. Lalu permaisuri An menyentuh dan menatap cincin giok pemberian pangeran Rong.
"Bahkan dia memberikan cincin terbaik, dan rela melakukan apapun." Ucap permaisuri An.
Permaisuri An menggulung lukisan wajah pangeran Rong yang telah kering, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
"Terima kasih, minta koki untuk mengantarkannya ke kamar."
"Baik, yang mulia."
Permaisuri An mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya yang tidak jauh dari ruangan dimana dia melukis tadi.
Kraaaaaak
Pintu kamar terbuka, permaisuri An melihat jika pangeran Rong tidak ada di dalam kamar mereka.
"Apakah dia sedang berada di ruang bacanya?" Gumam permaisuri An.
Permaisuri An berjalan ke ruangan samping untuk menyimpan lukisan itu, dan tepat saat dia akan meletakan lukisan itu di dalam lemari. Pangeran Rong yang baru selesai mandi dan hanya memakai celana panjangnya datang karena ingin mengambil pakaiannya.
Kedua mata permaisuri An membulat saat melihat tubuh pangeran Rong yang berada tepat di depannya.
"Yang.... Yang mulia." Ucap permaisuri An.
Pangeran Rong tersenyum lalu berjalan mendekati permaisuri An. Dan seketika permaisuri An berbalik, karena saat ini pangeran Rong tidak memakai pakaian yang sempurna.
"Apa kau sudah selesai melukis wajahku?" Ucap pangeran Rong.
"Be.... Benar yang mulia, saya sudah selesai melukisnya."
__ADS_1
"Apakah itu lukisannya?"
Permaisuri An mengangguk, saat ini dia benar-benar merasa sangat gugup dan takut pada pangeran Rong. Meskipun mereka telah menikah, namun permaisuri An tidak pernah melihat tubuh orang lain seperti saat ini.
Pangeran Rong mengambil lukisan di tangan permaisuri An, lalu melihatnya. Dia terlihat senang karena permaisuri An melukis wajahnya dengan sangat bagus.
"Aku tidak tahu jika kau sangat pintar melukis." Ucap pangeran Rong seraya memeluk permaisuri An dari belakang.
Tubuh permaisuri An seketika kaku saat pangeran Rong tiba-tiba memeluknya.
"Yang.... Yang mulia."
"Bukankah aku pernah berkata padamu, jika hanya ada kita berdua, kau harus memanggil namaku?"
"Tetapi..."
"Dengarkan aku, kau adalah permaisuri ku. Kau bisa memanggil namaku secara langsung."
Permaisuri An diam.
"Apa kau mendengarkan ku, Lin'er?"
Permaisuri An mengangguk, "Saya dengar, yang mulia."
"Jika kau mendengar, maka kau harus melakukannya."
Permaisuri An terdiam, dia benar-benar merasa sangat gugup saat ini.
"Lin'er." Ucap pangeran Rong
"Iya.... Li."
Pangeran Rong tersenyum mendengar permaisuri An memanggil namanya secara langsung. Dia sungguh merindukan permaisurinya memanggil namanya seperti itu.
"Tetaplah memanggil ku dengan itu jika kita hanya berdua." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An hanya mengangguk menanggapi ucapan pangeran Rong.
"Li... Lebih baik kau memakai....."
Pangeran Rong yang tidak menyadari jika dirinya hanya memakai celana, segera melepaskan pelukannya.
"Ehem, kalau begitu, kau bantu aku memilih dan memakaikan pakaian."
Kedua mata permaisuri An terbuka lebar, "Yang mulia."
"Kau adalah permaisuriku, dan aku ingin kau membantu ku."
Permaisuri An memberanikan diri menatap pangeran, lalu dengan pelan mengangguk.
Pangeran Rong tersenyum, lalu membiarkan permaisuri An memilih pakaian untuknya.
__ADS_1