
"Nona! Nona! Nona tabib!" Seru seseorang yang masuk kedalam toko obat milik Lin Yao.
"Tuan, kenapa anda berteriak-teriak seperti itu di toko kami?" Ucap Feng Ying yang keluar dari ruang penyimpanan obat.
"Nona, nona. Tolong ibu saya, nona."
"Tolong tenanglah tuan, apa yang terjadi dengan ibu anda?"
"Saya tidak tahu nona, tetapi saat saya pulang ke rumah setelah dari ladang. Saya melihat ibu saya sudah terbaring di atas lantai, dan tidak sadarkan diri. Saya mohon tolong ibu saya nona."
Feng Ying tidak tahu harus bagaimana.
"Baiklah, tolong tunggu disini. Aku akan memanggil nona muda untuk memeriksa ibu anda." Ucap Feng Ying.
"Baik, baik. Terima kasih nona."
Feng Ying segera berjalan dengan cepat ubtuk menemui Lin Yao yang berada di dalam ruangannya, di lantai dua toko obat itu.
"Nona, ini saya." Ucap Feng Ying saat berada di depan pintu ruangan Lin Yao.
Kraak
Pintu terbuka, "Ada apa Feng Ying?" Ucap Lin Yao yang berdiri di depan pintu.
"Nona, seorang laki-laki datang kesini. Dia berkata jika ibunya tidak sadarkan diri, dan meminta bantuan kita untuk memeriksanya."
Lin Yao sedikit terkejut, "Baik, kau siapkan semuanya. Kita pergi untuk menolong orang itu."
"Baik nona."
Lin Yao kembali masuk untuk mengambil sebuah kotak dari dalam lemarinya, lalu keluar untuk menemui orang itu.
"Nona, nona tabib. Tolong selamatkan ibu saya, nona." Ucap laki-laki itu saat bertemu dengan Lin Yao.
"Tuan, mohon tenang. Saya harus memeriksa ibu anda terlebih dulu."
"Baik nona."
"Mari kita ke rumah anda sekarang."
Laki-laki itu mengangguk, dan mereka pun berjalan menuju rumah laki-laki itu.
Feng Ying yang membawa sebuah kotak mengikuti Lin Yao dan laki-laki itu di belakang.
Setelah melewati beberapa rumah dan gang kecil, mereka akhirnya sampai di rumah laki-laki itu.
__ADS_1
"Nona, ini ibu saya. Tolong selamatkan dia, nona." Ucap laki-laki itu setelah mereka berada di dalam sebuah kamar.
Tanpa menunggu lagi, Lin Yao segera memeriksa denyut nadi wanita yang terbaring lemah di atas tempar tidurnya.
"Feng Ying, berikan aku jarum akupuntur." Ucap Lin Yao.
"Baik nona."
Dengan cepat Feng Ying membuka kotak yang dia bawa, lalu mengambil satu set jarum akupuntur yang ada di dalam kotak itu.
"Ini nona." Ucap Feng Ying seraya memberikan jarum akupuntur itu pada Lin Yao.
Lin Yao mengambil jarum itu, dan mulai menusukan beberapa jarum pada tubuh wanita itu.
Beberapa saat kemudian, Lin Yao mencabut jarum-jarum itu.
"Tuan, rebuslah air dan tambahkan madu saat air itu mulai hangat." Ucap Lin Yao pada laki-laki itu.
"Baik nona, tetapi apa yang terjadi pada ibu saya?"
"Ibu anda memiliki perut yang lemah, kemungkinan dia selalu makan tidak tepat waktu. Jadi perutnya mengalami masalah yang cukup serius."
(Jika disini mengalami asam lambung, susah mau jelasin penyakit itu lebih detail di cerita, karena ini cerita jaman kerajaan π€)
Laki-laki itu mengangguk.
"Baik nona."
"Saya akan memberikan resep obat kepada tuan, dan berikan obat ini sebelum ibu anda tidur, obat ini akan membuat perut ibu anda membaik, dan rasa sakitnya berkurang."
"Baik saya mengerti. Terima kasih nona tabib."
Lin Yao mengangguk.
Setelah memberikan resep kepada laki-laki itu, Lin Yao dan Feng Ying keluar dari kamar.
"Nona, nona tabib." Ucap laki-laki itu sambil berjalan cepat menghampiri Lin Yao.
"Ada apa tuan?"
"Nona, mohon terima ini. Anda telah menolong ibu saya, dan ini adalah tanda terima kasih saya kepada nona tabib."
Laki-laki itu memberikan satu kantong uang kepada Lin Yao.
"Terima kasih tuan. Jika saya tidak sibuk, saya akan kembali untuk memeriksa ibu anda lagi." Ucap Lin Yao.
__ADS_1
"Baik nona tabib, saya mengerti."
Lin Yao mengangguk, setelah Feng Ying mengambil uang dari laki-laki itu. Mereka pun pergi dari rumah itu dan kembali ke toko obat.
Ilmu pengobatan dan toko obat Lin Yao sudah tidak di ragukan lagi, bahkan saat ini orang-orang sudah terbiasa memanggil Lin Yao dengan sebutan nona tabib.
Walaupun Lin Yao selalu berkata jika dia bukanlah tabib, dan melarang merka memanggilnya dengan sebutan nona tabib. Namun mereka tetap memanggil Lin Yao seperti itu, dan itu membuat Lin Yao hanya bisa membiarkannya saja.
...----------------...
Praaaaaang!
Kaisar negara Yu membanting gelas keramik dengan keras, dia menatap kedua anaknya yang berdiri dengan ketakutan.
"Kalian sungguh lancang! Tanpa memberitahu ku, kalian mengerahkan pasukan dan berperang melawan negara Chao!" Seru kaisar Yu.
Putri Yu Meng dan pangeran pertama Yu tersentak mendengar suara ayah mereka yang begitu keras.
Ya, kedua pangeran Yu dan putri Yu Meng memerintahkan pasukan, untuk berperang dengan negara Chao beberapa hari yang lalu ternyata tidak di ketahui oleh kaisar Yu.
Itu karena token 7 ribu pasukan berada di tangan pangeran ke dua, sementara token 10 ribu pasukan ada di tangan pangeran pertama Yu, jadi tanpa harus menunggu izin dari kaisar. Mereka bisa menggerakan pasukan itu.
Dan tentu saja hal itu membuat kaisar Yu sangat geram dan marah kepada mereka.
"Serahkan token pasukan kalian pada ku! Dan ikut aku ke negara Chao untuk meminta maaf, dan membawa pulang pangeran ke dua!" Ucap kaisar Yu lagi.
"Tetapi ayah kaisar....."
"Kalian telah lancang melakukan peperangan dengan negara Chao tanpa ayah ketahui! dan kau sebagai pangeran pertama tidak mencegah atau melarang mereka. Kau sungguh membuat ayah kecewa!"
Pangeran pertama tertunduk, dia memang mengetahui rencana dua adiknya itu. Tetapi dia membiarkannya, karena semua itu demi membuat putri Yu Meng mendapatkan pangeran Rong.
Namun dia tidak menyangka, jika ayahnya yang terlihat sangat menyayangi putri Yu Meng akan marah karena peperangan itu.
"Berikan token pasukan itu!" Ucap kaisar Yu lagi pada pangeran pertama Yu.
"....... Baik ayah kaisar."
Pangeran pertama Yu mengambil token pasukan miliknya, dan dengan terpaksa memberikannya pada kaisar Yu.
"Kalian bersiaplah, kita akan pergi ke negara Chao. Dan setelah itu, aku akan memberikan kalian hukuman karena telah mengibarkan bendera perang dengan negara yang tidak seharusnya kita musuhi itu." Ucap kaisar Yu.
"Baik ayah kaisar." Ucap pangeran pertama Yu dan putri Yu Meng bersamaan.
Kaisar Yu sangat tahu bagaimana kekuatan negara Chao, terlebih mereka memiliki pasukan naga merah yang di latih dengan baik oleh pangeran Rong, sehingga menjadi pasukan yang paling di takuti.
__ADS_1
Itu yang membuat kerajaan lain tidak berani bermusuhan dengan negara Chao itu, termasuk negara Yu. Namun para pangeran dan putri negara Yu yang bod0h justru dengan berani dan sombong melawan mereka.