
"Di luar telah tersebar tentang berita kekayaan beberapa perdana menteri di istana, dan mereka memiliki kekayaan itu secara diam-diam." Ucap pangeran He Xuan Li.
"Benar. Jika demikian,bukankah mereka ingin menghindari pajak yang seharusnya mereka berikan atas apa yang mereka miliki pada negara ini?" Ucap putra mahkota.
"Saya telah menerima beberapa lembar kertas yang tersebar di ibu kota mengenai hal ini, dan saya juga telah meminta beberapa orang untuk menyelidiki kebenaran itu."
Putra mahkota mengangguk, "Mereka pasti akan menerima hukumannya, jika memang terbukti melakukan hal itu."
"Ini terjadi pada beberapa perdana menteri yang menentang permaisuri An, apakah mungkin pangeran Rong yang melakukannya?"
"Benar, dia yang melakukan semua ini. Pangeran Rong berkata, jika ini merupakan peringatan bagi perdana menteri lain, yang mencoba menentangnya dan permaisurinya."
"Ini merupakan tindakan yang bagus, karena dengan begitu mereka yang tidak ikut menentang akan menjadi lebih berhati-hati dan tidak melakukan hal yang sama."
"Itu benar, dan aku harap tidak ada lagi orang yang melakukan itu."
"Pangeran Rong kali ini bertindak dengan cepat."
"Itu karena menyangkut nyawa permaisuri An, dan juga para perdana menteri itu sudah cukup menikmati kekayaan yang seharusnya tidak mereka nikmati itu."
Pangeran He Xuan Li mengangguk
"Bagaimana dengan para perdana menteri yang lainnya, apakah mereka membayarkan pajak rakyat dengan benar?" Ucap putra mahkota.
"Iya, mereka melakukannya dengan baik. Meskipun terkadang saya harus melihatnya beberapa kali, agar tidak terlewatkan."
"Sepertinya masih ada perdana menteri yang mencoba bermain-main."
"Benar, tetapi saya tidak akan membiarkan mereka bisa melakukannya."
"Iya, kau telah bekerja sangat bagus."
"Ini sudah menjadi tanggung jawab saya."
Putra mahkota mengangguk seraya tersenyum.
...----------------...
Sudah sejak pagi permaisuri An berada di halaman belakang untuk melatih dirinya, dan hal itu membuat para pelayan yang melihat menggelengkan kepala mereka karena melihat kehebatan permaisuri An.
Feng Ying yang menemani permaisuri An berlatih juga kagum melihat kehebatan permaisurinya, yang ternyata sangat pintar menggunakan pedang.
"Aku tidak menyangka, jika yang mulia permaisuri sangat pintar. Tetapi kenapa dulu aku tidak pernah mengetahuinya, bahkan sejak dulu yang mulia terlihat begitu lemah."
Syuuuuuuuut
Kraaaaaas!!
Sebuah apel yang tiba-tiba melesat ke arah permaisuri An, berhasil di belah menjadi dua dengan sempurna oleh pedang permaisuri An.
"Gerakan mu sangat cepat, dan kau juga memiliki kepekaan yang luar biasa." Ucap pangeran Rong seraya berjalan menghampiri permaisuri An.
"Saya masih harus berlatih, tetapi tubuh saya mudah lelah."
__ADS_1
Pangeran Rong menyeka keringat yang ada pada kening permaisuri An.
"Beristirahatlah dulu, sudah sejak pagi kau berlatih." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An mengangguk, "Baik, yang mulia."
Pangeran Rong membawa permaisuri An, lalu mereka duduk di tengah taman itu.
"Apakah aku harus meminta tabib istana untuk memberimu obat?" Ucap pangeran Rong setelah mereka duduk.
"Obat? Untuk apa yang mulia?"
"Kau berkata jika tubuhmu mudah lelah, mungkin saja tabib istana bisa memberimu obat."
"Tidak perlu, yang mulia. Saya hanya akan meminum sup kelinci muda dengan jahe. Itu lebih cepat mengembalikan tenaga saya saat berlatih."
"Benarkah?"
Permaisuri An mengangguk, "Iya, yang mulia."
"Jika begitu, aku akan menyediakan kelinci muda untuk mu. Tetapi kau harus ingat, kau bisa berlatih tetapi kau tidak boleh melampaui batas tenagamu."
"Baik, saya mengerti yang mulia."
"Sebenarnya aku sedikit keberatan saat kau berkata, jika kau ingin berlatih seperti ini. Tetapi, kau begitu menginginkannya."
"Yang mulia, kita tidak pernah tahu kapan dan dimana orang-orang yang tidak menyukai saya akan menyerang. Jika saya memiliki sedikit kemampuan untuk melindungi diri, mereka pasti tidak akan berani melakukan apapun terhadap saya."
Pangeran Rong meminum teh yang ada di depannya, lalu menatap permaisuri An.
"Setelah kembali dari makam ibunya, permaisuri An seketika berubah. Seolah dia telah menjadi seorang wanita yang jauh lebih kuat dan berbeda. Tetapi ini cukup bagus baginya."
"Yang mulia, bagaimana dengan para perdana menteri itu? Saya mendengar ibu kota tengah ramai tentang berita mereka." Ucap permaisuri An.
"Benar, saat ini para perdana menteri itu pasti sedang merasa marah. Karena buku keuangan mereka hilang tanpa jejak."
"Lalu setelah ini, apa yang akan yang mulia lakukan terhadap mereka?"
"Tentu saja membawa mereka mendapatkan keadalian. Bagaimana pun, mereka telah banyak menggunakan uang rakyat demi kepentingan mereka sendiri."
Permaisuri An mengangguk, "Anda benar, sudsh sejak lama mereka melakukan hal itu. Dan mereka sudah sepantasnya mendapatkan hukuman."
"Iya, terlebih mereka menggunakan nyawamu untuk membuatku melakukan apa yang mereka inginkan. Tentu saja aku tidak akan melepaskan mereka."
"Terima kasih atas kebaikan yang mulia."
"Kau adalah permaisuri ku, sudah seharusnya aku melindungi mu."
Permaisuri An tersenyum seraya mengangguk.
"Baiklah, hari ini cukup untuk latihanmu. Kau bisa melakukannya lagi nanti." Ucap pangeran Rong.
"Baik, saya mengerti."
__ADS_1
Pangeran Rong merasa lega karena sekarang permaisuri An telah kembali, meskipun mungkin perasaannya belum membaik, tetapi setidaknya sekarang dia tidak lagi terlihat murung dan tidak bersemangat.
"Kita kembali ke kamar sekarang, kau harus mengganti pakaian mu. Karena aku akan membawamu keluar." Ucap pangeran Rong.
"Kemana yang mulia akan membawa saya pergi?"
"Kau akan mengetahuinya nanti."
"Baiklah, saya akan mandi dan berganti pakaian terlebih dulu."
Pangeran Rong mengangguk, "Iya."
Permaisuri An dan pangeran Rong berjalan bersama ke kamar mereka.
"Bagaimana latihan mu hari ini?" Ucap pangeran Rong.
"Sangat bagus, tetapi saya baru bisa menguasainya sedikit."
"Tidak apa-apa, kau hanya harus melindungi dirimu sendiri ketika aku tidak bersama dengan mu."
"Iya, yang mulia."
Setelah sampai di kamar, permaisuri An berjalan ke ruangan samping untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara pangeran Rong menunggunya di dalam kamar.
"Sangat banyak sekali perubahan yang terjadi padanya, apakah sungguh tidak apa-apa seperti ini?" Ucap pangeran Rong seraya menatap ruangan samping dimana permaisuri An berada.
Sebenarnya pangeran Rong sangat bahagia permaisurinya telah membaik dan kembali seperti semula, tetapi dia juga cukup khawatir. Karena permaisuri An berubah dengan begitu cepat.
"Yang mulia, saya kasim ketua. Yang mulia berkata, jika beliau ingin bertemu dengan anda." Ucap kasim ketua dari luar kamar.
Pangeran Rong yang mendengar suara kasim ketua berjalan, lalu membukakan pintu.
"Katakan pada ayah kaisar, aku akan kesana bersama dengan permaisuri An." Ucap pangeran Rong.
"Baik, yang mulia."
Kasim ketua memberi hormat pada pangeran Rong lalu pergi dari hadapan pangeran Rong untuk kembali ke istana kerajaan.
"Siapa yang baru saja datang?" Ucap permaisuri An yang telah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Kasim ketua, dia berkata jika ayah kaisar ingin berbicara denganku."
"Jika begitu, kau pergilah ke istana."
"Kita akan pergi bersama-sama, setelah menemui ayah kaisar, kita akan keluar."
Permaisuri An mengangguk, "Baiklah. Dimana Feng Ying?"
"Sepertinya dia berada di luar. Aku akan memanggilkannya untuk mu."
"Terima kasih, yang mulia."
Pangeran Rong mengangguk lalu keluar dari kamar untuk memanggil Feng Ying.
__ADS_1