
"Kita kembali ke ibu kota sekarang, dan bawa mereka semua." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia." Ucap panglima perang.
Peperangan di menangkan oleh pangeran Rong, hampir semua pasukan negara Yu mati. Bahkan panglima perang mereka mati oleh pedang pangeran Rong.
Pangeran Rong beserta semua yang ikut berperang kembali ke ibu kota, dengan membawa pasukan negara Yu yang tersisa, dan juga pangeran ke 2 negara Yu yang terluka.
Kepulangan pangeran Rong dan pangeran ke 3 di sambut sorak bahagia dari rakyat negara Chao, tetapi tatapan mereka terpaku pada seorang wanita yang menaiki kuda di samping pangeran Rong dan pangeran ke 3.
"Lihat wanita yang berada di samping pangeran Rong dan pangeran ke 3, apakah dia adalah calon permaisuri pangeran Rong yang di katakan wanita tidak berbakat dan lemah dari keluarga Liu itu?" Bisik salah satu orang yang melihat Lin Yao di atas kudanya.
"Sepertinya benar, tetapi jika dia wanita yang lemah dan tidak berbakat. Tidak mungkin dia akan ikut berperang dengan yang mulia, dan kembali dengan selamat tanpa terluka sedikitpun." Bisik yang lainnya.
"Mungkin itu hanya kabar tidak benar, dia terlihat sangat hebat dan memiliki aura yang kuat. Tidak mungkin dia wanita lemah."
"Benar-benar."
Rombongan pangeran Rong dan pasukannya terus berjalan melewati dua kota sebelum akhirnya mereka tiba di depan istana kerajaan.
"Lin'er!" Ucap nyonya Xia dengan sedikit keras.
Lin Yao yang mendengar namanya di panggil menoleh, dan melihat ibunya tengah menyeka air matanya di samping ratu Zhinping.
"Ibu." Gumam Lin Yao.
Lin Yao segera berjalan dengan ceoat menghampiri ibunya, lalu memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu." Ucap Lin Yao.
"Lin'er, kau membuat ibu sangat khawatir."
Nyonya Xia memeluk putrinya dengan erat, dia merasa lega dan bahagia melihat Lin Yao kembali dengan selamat.
"Maafkan Lin'er karena sudah membuat ibu khawatir."
Nyonya Xia hanya mengangguk, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Melihat Lin Yao kembali, dia sudah merasa begitu lega dan bersyukur.
"Ibu ratu, nyonya Xia." Ucap pangeran Rong seraya memberi hormat.
__ADS_1
"Kau melakukannya dengan baik." Ucap ratu.
"Terima kasih ibu ratu, tetapi sebagian besar keberhasilan kami karena Lin'er. Rencana yang dia buat, berhasil melumpuhkan sebagian besar pasukan negara Yu."
"Benarkah? Kau memang calon permaisuri yang hebat." Ucap ratu memuji Lin Yao.
"Ini semua karena saya ingin melindungi rakyat negara Chao, dan jika bukan karena yang mulia pangeran Rong yang menolong saya. Mungkin saya tidak akan kembali dengan selamat."
Ratu sangat bahagia melihat putra dan calon menantunya saling membantu dan melindungi.
"Aku akan mengatakan hal ini pada yang mulia kaisar, kau pantas mendapatkan hadiah untuk rencana yang sudah kau buat itu. Dan membuat negara kita memenangkan peperangan." Ucap ratu.
"Ibu ratu, biarkan saya yang berbicara dengan ayah kaisar."
Ratu menatap pangeran Rong dengan bingung.
"Yang mulia, apakah yang mulia sungguh akan meminta hal itu kepada yang mulia kaisar?" Ucap Lin Yao pada pangeran Rong.
"Tentu saja, ini menyangkut masa depan dan kebahagian kita. Aku tidak mau hal seperti ini terulang. Lagi pula berita tentang mu yang ikut berperang dan membantu pasukan istana memenangkan peperangan akan tersebar, dan mereka yang menentang pernikahan kita akan diam dan tidak lagi berani menentang."
"Tetapi yang mulia...."
Lin Yao terdiam mendengar ucapan pangeran Rong.
Ratu dan nyonya Xia yang melihat itu hanya bisa tersenyum, tetapi juga sedikit bingung dengan apa yang kedua anak mereka bicarakan.
"Pangeran Rong, jika boleh ibu tahu. Apa yang ingin kau katakan pada yang mulia kaisar?" Ucap ratu.
"Ibu ratu, saya ingin meminta pada ayah kaisar agar pernikahan saya dengan Lin'er di percepat."
Ratu dan nyonya Xia terkejut mendengar perkataan pangeran Rong. Mereka tentu tidak menyangka sama sekali dengan keputusan yang telah pangeran Rong ambil itu.
Seorang pangeran yang terkenal dengan julukan pangeran Rong, dewa perang yang dingin dan kejam, serta satu-satunya pangeran yang sangat sulit di dekati. Saat ini berkata jika dia ingin mempercepat hari pernikahannya dengan seorang wanita bernama Liu Lin Yao.
"Yang mulia, apakah anda bersungguh-sungguh dengan perkataan anda ini?" Ucap nyonya Xia dengan tidak percaya.
"Saya mengatakan dengan sungguh-sungguh, saya tidak ingin ada seorang wanita yang masih berusaha untuk mendekati saya dan melakukan hal seperti ini lagi, dan saya juga tidak mau ada seorang laki-laki yang mencoba mendekati Lin'er."
Ucapan pangeran Rong tidak pernah berbohong, dan apa yang dia katakan dan janjikan pasti akan dia lakukan.
__ADS_1
Nyonya Xia mengangguk "Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusan yang mulia."
Pangeran Rong menatap Lin Yao yang sejak tadi diam.
"Aku melakukan ini demi kebaikan kita." Ucap pangeran Rong dengan lembut pada Lin Yao.
Lin Yao mengangguk "Saya mengerti."
Pangeran Rong tidak bisa melakukan banyak hal kecuali itu demi kebaikan hubungannya dengan Lin Yao. Karena dia bukanlah laki-laki yang mudah mengatakan, dan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.
Dan hanya dengan cara menikahi wanita yang sangat dia sukai, pangeran Rong berpikir bisa melindungi wanita itu dengan lebih baik.
"Lin'er, apakah kau tidak menginginkan hal itu?" Ucap nyonya Xia pada Lin Yao.
Lin Yao menggeleng "Bukan seperti itu ibu, Lin'er hanya merasa ini terlalu cepat."
Nyonya Xia tersenyum "Kalian bisa saling mengenal setelah menikah, dan ibu yakin kalian akan cepat saling memahami setelah menikah nanti."
Lin Yao mengangguk "Dua kehidupan, dan ini merupakan pernikahan pertamaku. Bahkan sebelum aku berenkarnasi, aku tidak pernah dekat dengan seorang laki-laki. Ini sungguh membuatku tidak bisa berpikir dengan baik."
Pangeran Rong mengangguk "Baiklah, saya harus pergi sekarang. Lin'er, kau beristirahatlah, kau sudah mengeluarkan banyak tenaga saat disana."
Lin Yao mengangguk "Baik, terima kasih yang mulia."
Setelah memberi hormat pada ratu dan nyonya Xia, pangeran Rong berbalik dan pergi meninggalkan 3 wanita itu.
"Aku akan meminta pengawal untuk mengantar kalian kembali. Besok Lin'er bisa datang untuk menemani putri Xiu Ying di istananya." Ucap ratu.
"Baik yang mulia."
Ratu tersenyum, dia merasa sangat bahagia karena akan memiliki seorang menantu yang dulu pernah sangat dia inginkan.
"Li Wei, kau juga sering-seringlah ke istana." Ucap ratu pada nyonya Xia.
"Baik yang mulia. Jika begitu, kami akan kembali sekarang."
"Iya."
Nyonya Xia dan Lin Yao memberi bormat pada ratu, kemudian mereka pergi dari istana kerajaan.
__ADS_1
Di luar gerbang istana, kereta kuda yang di perintahkan ratu untuk mengantarkan nyonya Xia dan Lin Yao telah siap. Dan dengan kereta kuda itu nyonya Xia dan Lin Yao kembali ke paviliun mereka.