
Di dalam istana kerajaan Chao, kaisar dan ratu tengah menunggu kepulangan pangeran Rong dan juga para pasukannya yang telah berperang di perbatasan timur.
"Yang mulia, saya mendengar jika permaisuri An juga pergi ke perbatasan timur, pelayan setianya berkata jika permaisuri An pergi untuk membalas kematian Wei Yi." Ucap ratu.
"Membalas kematian nyonya Xia?"
"Benar yang mulia. Pelayan permaisuri An berkata, jika orang yang telah menyebabkan kematian Wei Yi adalah putri dari tuan Liu dan selirnya yang telah di asingkan."
"Jika dia yang melakukannya, maka saat di asingkan dia melarikan diri."
"Itu benar, yang mulia."
Kaisar mengangguk, dia tidak menyangka jika ada yang berani melarikan diri ketika di asingkan oleh kerajaan.
Ratu melihat pasukan naga merah milik pangeran Rong, dan tepat di depan pasukan itu, pangeran Rong dan permaisuri An menaiki kuda mereka, berjalan menuju istana kerajaan dengan kemenangan di tangan mereka.
"Itu adalah pangeran Rong dan permaisuri An." Ucap ratu yang melihat putra dan menantunya berada di atas kuda mereka.
"Sepertinya orang yang ingin permaisuri An balas adalah orang yang membuat peperangan ini."
"Maksud yang mulia, seseorang dari negara lain yang telah membunuh Wei Yi?"
Kaisar mengangguk, "Kemungkinan besar seperti itu, tetapi kita perlu memastikannya lagi setelah mereka datang."
"Baik, yang mulia."
Kaisar dan ratu masih melihat pangeran Rong dan permaisuri An yang memasuki istana bersama dengan pasukan yang mereka bawa. Sementara pangeran ke 5 berada di belakangnya bersama panglima perang mereka.
Setelah mereka tiba di depan istana, pangeran Rong dan permaisuri An turun dari kuda mereka, lalu bersama dengan pangeran ke 5 berjalan menghampiri kaisar dan ratu.
"Salam kepada ayah kaisar dan ibu ratu." Ucap pangeran Rong, permaisuri An dan juga pangeran ke 5 bersamaan.
"Berdirilah kalian, kalian telah berhasil memenangkan peperangan besar ini. Dan aku berharap keberhasilan ini akan membawa negara kita semakin sejahtera."
"Terima kasih atas kebijaksanaan ayah kaisar." Ucap pangeran Rong.
Ratu berjalan mendekati permaisuri An, "Aku begitu mengkhawatirkan mu, permaisuri An."
"Mohon ampuni saya, ibu ratu. Anda bisa memberikan hukuman apapun terhadap saya." Ucap permaisuri An.
Ratu menggelengkan kepalanya, "Aku sangat tahu bagaimana perasaan mu, Wei Yi pasti sangat bahagia karena memiliki putri yang begitu berani seperti mu."
Permaisuri An hanya diam, karena tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
"Ibu ratu, aku akan membawa permaisuri An untuk beristirahat terlebih dulu." Ucap pangeran Rong.
"Baik, baik. Kau beristirahatlah dengan baik."
"Terima kasih ibu ratu." Ucap permaisuri An.
Pangeran Rong dan permaisuri An pergi setelah mereka memberi hormat pada kaisar dan ratu.
Ratu menatap punggung permaisuri An yang berjalan menuju istana pangeran Rong.
"Dia masih terlalu muda untuk menerima semua ini, jika saya yang berada pada posisinya, saya pasti tidak akan bisa bertahan." Ucap ratu yang merasa simpati pada permaisuri An.
"Ibu ratu, ibu mungkin tidak mengerti. Ketika dalam peperangan, permaisuri An adalah orang yang telah membunuh pangeran dari negara itu, dan juga saya mendengar jika permaisuri An juga telah menghukum seorang wanita, hingga wanita itu mati." Ucap pangeran ke 5.
Kaisar dan ratu tentu saja sangat terkejut mendengar apa yang di katakan oleh pangeran ke 5, mereka tidak menyangka jika permaisuri An memiliki kehebatan yang luar biasa.
"Wei Yi, kau begitu beruntung memiliki putri yang sangat kuat dan berbakat." Ucap ratu.
Keluarga kerajaan tentu merasa sangat bahagia karena mereka memiliki menantu yang begitu tangguh, bahkan berani menghadapi pangeran negara lain yang telah membantu musuhnya.
"Berita tentang permaisuri An yang telah membunuh pangeran dan seorang wanita, pasti akan menyebar di ibu kota dan kota-kota lainnya. Pada saat itu, para perdana menteri pasti akan menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk menurunkan permaisuri lalu meminta agar pangeran Rong memilih seorang wanita yang akan menggantikannya." Ucap kaisar.
"Apa yang di katakan oleh yang mulia benar, jadi kita harus memberikan perlindungan pada permaisuri An." Ucap ratu.
Ratu dan pangeran ke 5 mengangguk.
...----------------...
Di dalam kamar, pangeran Rong mendudukan permaisuri An di kursi lalu menatapnya.
"Aku akan meminta pelayan istana menyiapkan air hangat untuk mu." Ucap pangeran Rong.
"Tidak perlu, yang mulia. Saya akan membersihkan diri sekarang."
"Apa kau tidak ingin menggunakan air hangat untuk mandi mu?"
Permaisuri An menggelengkan kepalanya, "Tidak, saya ingin mandi dengan air yang sudah ada."
Pangeran Rong menatap permaisurinya, dia sangat tahu jika perasaan permaisuri An saat ini sangat tidak baik. Terlebih permaisuri An tidak di perbolehkan untuk datang ke makam nyonya Xia sebelum hari ke 7.
"Besok. Setelah menemui ayah kaisar, aku akan membawamu ke paviliun yang pernah aku katakan padamu. Kita akan tinggal disana untuk beberapa hari." Ucap pangeran Rong.
"Yang mulia, saya tidak ingin melarikan diri dari apa yang telah saya lakukan. Jadi....."
__ADS_1
Pangeran Rong memeluk permaisuri An, "Aku sedang tidak membawa mu melarikan diri, setelah peperangan ini aku merasa sedikit lelah. Dan aku ingin menikmati waktu ku dengan permaisuriku sendiri."
Permaisuri An diam, seolah tidak ada lagi perkataan yang ingin dia katakan.
"Saya akan membersihkan diri terlebih dulu." Ucap permaisuri An.
Pangeran Rong melepaskan pelukannya lalu mengangguk.
Dengan perasaan yang tidak tahu seperti apa, permaisuri An berjalan ke ruangan samping.
Pangeran Rong yang melihat hal itu segera keluar dari kamarnya, lalu meminta pelayan istana memanggil Feng Ying untuk segera datang ke istananya.
"Permaisuriku, aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Kau adalah satu-satunya wanita yang membuatku seperti ini." Gumam pangeran Rong seraya menatap ruangan yang ada di samping kamarnya itu.
Pangeran Rong yang baru pertama kali tertarik kepada seorang wanita yang tak lain adalah permaisurinya, merasa bingung harus bagaimana menghadapi sikap permaisuri An yang berubah setelah kematian ibunya.
Tak berselang lama, Feng Ying tiba di istana pangeran Rong.
"Salam kepada yang mulia pangeran." Ucap Feng Ying.
"Masuklah, dan bantu permaisuri di dalam."
"Baik yang mulia."
Feng Ying kemudian masuk ke dalam kamar pangeran Rong, sementara pangeran Rong pergi untuk membersihkan diri juga di ruangan yang lain.
"Yang mulia permaisuri." Ucap Feng Ying saat melihat permaisuri An berjalan dari ruangan samping.
"Kau sudah datang."
Feng Ying mengangguk, kedua matanya berkaca-kaca menatap permaisuri An.
"Berhentilah menatapku seperti itu, aku baik-baik saja." Ucap permaisuri An seraya duduk di depan sebuah meja rias.
"Yang mulia, saya sungguh mengkhawatirkan anda. Saya benar-benar merasa takut terjadi sesuatu terhadap anda."
Permaisuri An tersenyum, "Feng Ying, aku telah membuatnya mati."
"Apakah yang mulia telah membunuhnya?"
"Tidak, aku hanya beberapa kali memukulinya. Tetapi dia yang telah sekarat lebih memilih bunuh diri, dan pada akhirnya entah dia maupun selir Qian, tidak ada yang mau meminta maaf terhadap ibuku yang telah mereka tindas sejak dulu."
Feng Ying hanya bisa meneteskan air matanya, karena dia sendiri selalu melihat bagaimana perlakuan kedua wanita itu kepada nyonya Xia dan permaisuri An, ketika mereka masih tinggal di kediaman Liu.
__ADS_1