
Hari pernikahan putri Xiu Ying dengan pangeran He Xuan Li semakin dekat, para pelayan dan pengawal di dalam istana mulai membersihkan halaman istana, dan membereskan barang-barang yang di perlukan nanti.
Bukan hanya para pelayan dan pengawal istana saja yang sibuk, para pangeran pun ikut sibuk di dalam istana.
Seperti pangeran Rong dan pangeran ke 3 yang sedang membuat tulisan di beberapa kertas panjang, yang akan mereka lentangkan di depan pintu gerbang istana kerajaan.
"Yang mulia! Yang mulia!" Seru seorang pengawal istana.
Pangeran Rong dan pangeran ke 3 yang mendengar seruan itu segera mengehantikan apa yang sedang mereka lakukan.
"Yang mulia, yang mulia." Ucap pengawal istana itu lagi.
"Ada apa, kenapa kau berlarian seperti itu?" Ucap pangeran ke 3.
"Ampuni hamba yang mulia, hamba mendapat kabar jika... Jika pasukan dari negara Yu datang ke perbatasan selatan."
"Apa? Pasukan dari negara Yu." Ucap pangeran Rong.
"Benar yang mulia, bahkan salah satu pangeran negara Yu juga berada di barisan terdepan pasukan itu."
Kedua tangan pangeran Rong mengepal. Dia tidak menyangka demi membuat dirinya menikahi putri Yu, negara itu sampai memutuskan bermusuhan dengan negara Chao.
"Kau pergi dan temui panglima perang juga kepala pasukan, katakan pada mereka untuk membawa 2000 pasukan naga merah. Kita akan segera ke perbatasan selatan." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia."
Pengawal istana itu lalu segera pergi untuk mengatakan perintah dari pangeran Rong itu.
"Li, kau akan menghadapi mereka dengan pasukan naga merah milik mu?" Ucap pangeran ke 3.
"Benar, aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal yang membuat rencanaku menikahi Liu Lin Yao tidak bisa terpenuhi. Aku harus memusnahkan mereka semua, agar negara lain bisa melihat jika negara kita tidak bisa dengan mudah untuk di lawan."
Pangeran ke 3 mengangguk, ini adalah kali pertama dia melihat pangeran Rong melakukan peperangan demi seorang wanita.
Dengan aura yang penuh hawa membunuh, pangeran Rong berjalan keluar dari istana. Sementara pangeran ke 3 akan pergi ke istana raja untuk memberitahu kepada kaisar dan ratu perihal peperangan itu.
Di depan gerbang istana, pasukan naga merah telah berbaris dan bersiap dengan pedang dan tombak mereka. Tidak lupa juga bendera negara Chao mereka bawa.
"Apa semuanya telah siap?" Ucap pangeran Rong pada keoala pasukan naga merahnya.
"Sudah yang mulia, panglima perang juga telah berangkat ke perbatasan selatan dengan membawa 500 pasukan."
"Bagus, kalau begitu kita juga harus segera berangkat."
"Baik yang mulia."
Kepala pasukan segera pergi untuk mengambil kuda perang milik pangeran Rong dan pangeran ke 3.
__ADS_1
"Yang mulia."
Pangeran Rong yang mendengar suara wanita memanggilnya menoleh.
"Lin'er." Ucap pangeran Rong yang melihat Lin Yao berdiri tidak jauh darinya.
"Apa yang kau lakukan, dan kenapa kau memakai pakaian itu?" Ucap pangeran Rong lagi seraya berjalan dengan cepat ke arah Lin Yao.
Lin Yao tersenyum, "Saya ingin ikut bersama dengan yang mulia."
"Tidak! Aku tidak akan mengizinkan mu untuk ikut kesana."
"Yang mulia, kami semua tahu peperangan ini terjadi karena yang mulia memilih saya sebagai calon permaisuri. Jadi ini merupakan....."
"Tidak! Aku berkata tidak, Lin'er medan perang sangat berbahaya, kau adalah seorang wanita, dan kau juga calon permaisuri ku. Jika terjadi apa-apa terhadap mu, aku...."
"Yang mulia juga calon suami saya, jika terjadi sesuatu pada yang mulia disana. Bukankah itu sama saja akan membuat saya merasakan hal yang sama seperti yang mulia rasakan?"
Pangeran Rong menatap Lin Yao dengan lekat, dia memang pernah melihat bagaimana Lin Yao menghadapi harimau di dalam hutan. Tetapi ini adalah sebuah peperangan.
Lin Yao berjalan lebih dekat pada pangeran Rong, lalu meraih tangannya.
"Yang mulia, alasan peperangan ini terjadi karena saya. Saya tidak mau orang-orang menyalahkan yang mulia, karena yang mulia telah memilih saya sebagai calon permaisuri, dan membuat negara kita menjadi kacau dan memiliki banyak musuh." Ucap Lin Yao dengan pelan.
"Tetapi itu adalah sebuah medan perang, bukan....."
Kedua mata pangeran Rong terbuka lebar mendengar ucapan Lin Yao.
"Itu tidak akan terjadi, aku bersumpah akan melindungimu." Ucap pangeran Rong.
Lin Yao mengangguk "Maka, saya mohon kepada yang mulia untuk membawa saya ikut dalam peperangan ini."
Pangeran Rong terdiam, dia sungguh tidak ingin mengizinkan Lin Yao pergi. Tetapi semua yang Lin Yao katakan tidak bisa dia elakan.
"Baiklah, tetapi kau harus berjanji padaku. Kau tidak akan terluka dan akan melindungi dirimu disana." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia. Saya akan melindungi diri saya sekuat tenaga saya."
Pangeran Rong mengangguk, dia akhirnya terpaksa mengizinkan Lin Yao.
Lin Yao tersenyum "Yang mulia, selama beberapa hari ini aku telah melatih diriku. Dan dengan tubuhku yang jauh lebih ringan juga ilmu beladiri yang telah aku pelajari lagi. Aku berjanji akan membawa kemenangan bagi negara ini, dan semua orang yang menentang pernikahan kita, akan terdiam. Dan lagi, aku memiliki sebuah rencana untuk mereka, jika kondisi medan perang mendukung."
Tak tak tak
Suara langkah kaki kuda yang di bawa oleh kepala pengawal istana terdengar mendekati mereka.
"Yang mulia, kuda perang anda dan pangeran ke 3 telah siap." Ucap kepala pasukan pada pangeran Rong.
__ADS_1
"Kau siapkan kuda perang satu lagi untuk ku."
"Satu lagi yang mulia?"
"Benar."
"Baik yang mulia."
Kepala pasukan itu pergi untuk menyiapkan kuda perang pangeran Rong yang lainnya.
"Kau akan naik kuda perang milik ku ini, aku akan menaiki kuda perang ku yang lain." Ucap pangeran Rong pada Lin Yao.
"Baik, terima kasih yang mulia."
Pangeran Rong hanya mengangguk.
"Li, kenapa kau......"
Pangeran ke 3 tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat Lin Yao berdiri di samping pangeran Rong.
"Salam kepada pangeran ke 3." Ucap Lin Yao seraya memberi hormat.
"Kau.... Kau adalah nona muda pertama Liu. Calon permaisuri pangeran Rong, apa yang kau lakukan disini?"
"Benar yang mulia, saya akan ikut berperang dengan yang mulia di perbatasan selatan."
"Apa? Kau.... Kau, bagaimana bisa? Li, apa kau membiarkan calon permaisuri mu ikut?"
Pangeran Rong mengangguk.
"Nona muda Liu, ini adalah sebuah peperangan. Kau adalah seorang wanita, bagaimana bisa...."
"Yang mulia, saya memang seorang wanita. Tetapi.... Saya adalah calon permaisuri dari seorang laki-laki yang mendapatkan julukan Dewa perang. Saya tidak mungkin akan berdiam melihat peperangan yang akan terjadi, terlebih peperangan ini muncul karena alasan pangeran Rong memilih saya sebagai calok permaisurinya."
Pangeran ke 3 sedikit tersentak, hal yang begitu berbahaya bagi kerajaan ini bisa di ketahui oleh calon permaisuri dari pangeran Rong. Dan itu membuat pangeran ke 3 terdiam.
"Kakak ke 3, aku akan melindunginya." Ucap pangeran Rong.
Pangeran ke 3 diam sejenak lalu mengangguk, dia tahu jika pangeran Rong sudah memutuskan, maka tidak ada yang bisa untuk membantahnya.
"Baiklah, aku harap kau bisa menjaga dirimu disana. Sehingga adik ku ini tidak akan merasa menyesal karena membiarkan mu ikut." Ucap pangeran ke 3.
"Baik, terima kasih yang mulia."
Setelah kuda perang pangeran Rong datang, mereka segera pergi ke medan perang yang berada di perbatasan selatan negara Chao.
Pangeran Rong, Lin Yao dan pangeran ke 3 menaiki kuda mereka di barisan terdepan, dan dengan membawa 2000 pasukan naga merah, mereka pergi.
__ADS_1