
Kraaaaaak
Pintu kamar terbuka, pangeran Rong yang baru saja datang masuk ke dalam kamar.
"Yang mulia, anda sudah kembali." Ucap permaisuri An seraya berjalan mendekati pangeran Rong.
"Benar, aku akan membersihkan diri dulu."
"Baik, saya juga telah membuat sesuatu untuk yang mulia. Anda bisa menikmatinya setelah itu."
Pangeran Rong mengangguk, lalu berjalan ke ruangan samping.
Permaisuri An kembali duduk dan melanjutkan menyulamnya yang sebentar lagi akan selesai itu.
Feng Ying masuk ke dalam kamar permaisuri An yang terbuka.
"Yang mulia, koki istana berkata jika makanan yang anda buat telah siap." Ucap Feng Ying.
"Baik, minta pelayan untuk membawanya kesini. Kebetulan yang mulia juga telah kembali."
"Baik yang mulia."
Feng Ying lalu pergi dari hadapan permaisuri An, dan berjalan menuju dapur istana.
Tak berapa lama, dua orang pelayan masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah baki yang terdapat dua mangkuk berisi air dari rebusan kacang, madu dan gingseng. Satu lagi berisi kacang yang dari rebusan itu.
"Terima kasih." Ucap permaisuri An pada dua pelayan itu.
"Ini sudah menjadi tugas kami, yang mulia."
Permaisuri An tersenyum seraya mengangguk.
Dua pelayan itu dan Feng Ying keluar dari kamar permaisuri An, dan menutup pintu kamar, setelah mereka melihat bayangan pangeran Rong mendekat.
"Apakah ada seseorang yang datang?" Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An menoleh dan melihat pangeran Rong berjalan menghampirinya.
"Benar, dua pelayan datang membawakan makanan yang saya buat untuk yang mulia." Ucap permaisuri An.
"Makanan yang kau buat untuk ku?"
Permaisuri An mengangguk, "Duduklah."
Pangeran Rong duduk di kursi dan tepat di sampingnya ada dua mangkuk berisi air dan kacang.
Permaisuri An berjalan lalu duduk di kursi yang lainnya.
"Ini adalah air rebusan kacang, madu dan gingseng. Ini dapat membantu mu mengembalikan tenaga yang telah kau keluarkan seharian ini. Dan ini adalah kacang rebusan itu." Ucap permaisuri An.
"Apa kau yang membuatnya sendiri?"
"Benar, saya berpikir jika kau pasti telah mengeluarkan banyak tenaga selama ini, namun saya melihat kau hanya meminum sup gingseng untuk mengembalikan tenaga itu. Jadi saya membuatkan ini untuk mu."
Pangeran Rong mengangguk, "Aku tidak menyangka, jika permaisuri ku begitu sangat perhatian padaku."
"Saya adalah permaisurimu, dan sudah menjadi tugas saya untuk memberikan yang terbaik untuk mu."
"Terima kasih."
Permaisuri An mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Pangeran Rong mengambil mangkuk berisi air kacang, itu lalu meminumnya.
"Rasanya sedikit manis dan pedas, tetapi sangat hangat setelah di minum." Ucap pangeran Rong setelah meminum air itu.
"Benar, rasa manis itu dari madu yang saya campurkan. Dan rasa pedas juga hangat dari gingseng."
"Aku mengerti, kau adalah seorang permaisuri yang mengerti banyak hal."
"Bukankah kau juga seperti itu?"
Pangeran Rong mengangguk, "Benar."
(Jangan lupa. Kalau mereka hanya berdua, bahasa yang di pakai tidak begitu formal ya. Jadi tidak pakai sebutan yang mulia, saat memanggil pangeran Rong).
...----------------...
Dua bulan kemudian, istana putri Xiu Ying begitu ramai. Beberapa tabib istana mendatangi istananya, begitu pula dengan ratu dan permaisuri An.
"Ibu ratu, sebenarnya apa yang terjadi pada putri Xiu Ying?" Ucap permaisuri An.
"Pelayan putri berkata jika sudah beberapa hari ini perutnya terasa begitu sakit."
"Perut putri terasa sakit?"
"Benar, tetapi tabib istana belum bisa memastikan apa yang membuat putri seperti itu."
Mendengar hal itu, permaisuri An berjalan mendekati tempat tidur putri Xiu Ying lalu mengamati wajahnya.
"Tidak ada sedikitpun tanda keracunan, tetapi putri mengeluhkan sakit pada perutnya."
"Bisakah aku memeriksa putri Xiu Ying?" Ucap permaisuri An pada tabib istana yang tengah memeriksa putri Xiu Ying.
"Silahkan, yang mulia."
"Katakan padaku, apa yang telah yang mulia putri Xiu Ying makan beberapa hari yang lalu?" Ucap permaisuri An.
"Permaisuri An, apa yang terjadi?" Ucap ratu dengan khawatir.
"Saya akan memberitahu, setelah saya memastikannya ibu ratu."
Ratu mengangguk.
Pelayan putri Xiu Ying berjalan mendekat, "Hamba adalah pelayan yang mulia putri."
"Katakan padaku, beberapa hari yang lalu apa yang telah dia makan?"
"Saya ingat jika yang mulia memakan sup tulang belakang sapi, dan juga bebek yang di bakar dengan jahe dan jamur merah."
Kedua mata permaisuri An terbuka lebar, "Bagaimana bisa kalian memberikan jamur merah dengan sup yang mengandug sapi pada yang mulia putri?"
"Ampuni hamba, yang mulia. Hamba tidak mengetahui jika itu sangat berbahaya bagi yang mulia putri."
Permaisuri An menatap puytri Xiu Ying, lalu melihat ke arah tabib istana.
"Tabib istana, kau pasti mengetahui dengan baik jika sup sapi sangat tidak boleh di minum bersama dengan jamur merah." Ucap permaisuri An.
"Ampuni hamba, yang mulia. Hamba hanya pernah mendengar hal itu beberapa kali, namun kami belum memasrikan jika sakit yang putri derita setelah memakan jamur merah dan makanan yang mengandung sapi."
Permaisuri An mengangguk, lalu menatap Feng Ying yang berdiri di belakang ratu.
"Feng Ying, pergilah ke paviliun. Ambil jamur 100 tahun dan obat yang ada di dalam botol dengan tutup berwarna putih, di dalam lemari pakaian ku." Ucap permaisuri An.
__ADS_1
"Baik yang mulia."
Feng Ying dengan cepat berjalan keluar dari kamar putri Xiu Ying menuju paviliun milik nyonya Xia dulu.
"Tabib istana, apakah di dalam isatana ada daun sirih merah?" Ucap permaisuri An.
"Kami memilikinya, yang mulia. Tetapi itu tidak banyak."
"Tidak apa-apa, kau bantu aku merebus 5 daun silir merah, dan campurkan teh hijau kedalam rebusan daun sirih merah setelah 10 menit kau merebusnya."
"Baik yang mulia."
Tanpa bertanya apapun, tabib istana segera pergi untuk melakukan apa yang permaisuri An katakan.
Sementara itu, ratu dan pangeran He Xuan Li yang berada di dalam kamar hanya bisa terdiam melihat apa yang permaisuri An lakukan dan katakan.
"Katakan pada koki istana untuk membuat bubur dari biji bunga teratai dan madu." Ucap permaisuri An pada pelayan putri Xiu Ying.
"Baik yang mulia."
Setelah semua pelayan dan tabib istana pergi, ratu berjalan mendekati permaisuri An.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada putri Xiu Ying?" Ucap ratu pada permaisuri An.
"Benar, apa yang terjadi pada istriku?" Ucap pangeran He Xuan Li yang juga mengkhawatirkan putri Xiu Ying.
"Sepertinya kakak tidak mengerti jika sup atau makanan yang mengandung sapi, tidak bisa di makan bersama dengan jamur merah."
"Jadi apakah itu penyebab sakit perut yang dia rasakan saat ini?" Ucap ratu.
"Benar, ibu ratu."
"Aku sungguh tidak tahu jika sapi dan jamur merah sangat bertentangan."by pangeran He Xuan Li.
"Yang mulia, tidak banyak yang mengetahui hal itu. Hanya saja jamur merah memang sulit di dapatkan dan harganya cukup mahal bagi rakyat biasa, jadi kemungkinan tidak ada dari mereka yang memakan jamur merah dengan makanan yang terdapat daging maupun tulang sapi."
Pangeran He Xuan Li mengangguk, "Aku mengerti."
"Apakah yang mulia tidak memakan jamur merah dan sup tulang sapi itu?"
"Tidak, aku tidak memakannya. Karena pada hari itu mungkin aku masih bersama dengan yang mulia putra mahkota."
Permaisuri An mengangguk.
"Lalu, apakah putri Xiu Ying baik-baik saja?" Ucap ratu pada permaisuri An.
"Iya, ibu ratu. Kakak Xiu Ying akan baik-baik saja. Saya akan mencoba mengeluarkan racun yang ada di dalam perutnya dengan jamur 100 tahun dan obat yang saya miliki, lalu saya akan membuat perutnya kembali hangat dengan air daun sirih yang di campur dengan teh hijau. Karena itu juga bisa membersihkan perut putri Xiu Ying."
"Baguslah jika seperti itu, aku sungguh sangat khawatir sebab tabib istana tidak mengetahui apa yang terjadi pada putri Xiu Ying."
"Ibu ratu jangan khawatir, saya....."
Ucapan permaisuri An terhenti, ketika perutnya bergejolak seolah ingin mengeluarkan sesuatu.
"Permaisuri An, apa yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa?" Ucap ratu dengan khawatir.
"Saya tidak apa-apa, ibu ratu."
Ratu mengangguk, "Baguslah, aku sangat khawatir. Saat ini putri Xiu Ying sedang dalam keadaan seperti itu, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu juga."
"Terima kasih atas perhatian ibu ratu."
__ADS_1
Ratu mengangguk seraya menatap permaisuri An dengan cemas.