Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab # 81


__ADS_3

Sudah dua minggu pangeran Rong dan permaisuri An keluar dari istana kerajaan, yang artinya sudah dua minggu juga mereka telah tinggal di dalam paviliun.


"Yang mulia, di depan ada seorang pengawal dari istana. Dia berkata ingin bertemu dengan yang mulia." Ucap Feng Ying yang ada di depan pintu kamar pangeran Rong dan permaisuri An.


Kraaaaak


Pintu kamar terbuka, permaisuri An keluar dari kamarnya.


"Dimana pengawal istana itu?" Ucap permaisuri An pada Feng Ying.


"Dia ada di depan, yang mulia. Saya akan mengantarkan anda pada pengawal istana itu."


Permaisuri An mengangguk.


Mereka berdua pun berjalan ke tempat dimana pengawal istana itu berada. Perasaan permaisuri An tidak nyaman, karena tidak biasanya pengawal istana datang ke paviliun.


"Salam kepada yang mulia permaisuri An." Ucap pengawal istana itu saat melihat permaisuri An berdiri tidak jauh darinya.


"Baik, katakan padaku. Apa yang telah terjadi?"


"Maafkan hamba, yang mulia permaisuri. Tetapi hamba harus menyampaikan hal ini kepada yang mulia pangeran Rong."


"Katakan saja, aku akan memberitahu yang mulia pangeran Rong."


"Tetapi....."


"Saat ini yang mulia sedang beristirahat, kau tentu tidak ingin menerima hukuman karena telah mengganggunya beristirahat."


Pengawal istana itu terdiam, dia sungguh tidak berani mengatakan apapun kepada permaisuri An.


"Apa yang membawa mu kesini?" Ucap pangeran Rong yang baru saja tiba.


"Salam kepada yang mulia pangeran Rong."Ucap pengawal istana.


"Kau sudah bangun." Ucap permaisuri An pada pangeran Rong.


"Aku tidak menemukan mu di dalam kamar, karena itu aku bergegas keluar."


Pengawal istana yang mendengar itu terkejut, dia sungguh tidak menyangka jika sang dewa perang yang terkenal kejam ternyata bisa mengatakan hal seperti itu kepada permaisuri An.


Pangeran Rong menatap pengawal istana itu, "Katakan, apa yang membawa mu kesini?"


Pengawal istana melirik ke arah permaisuri, dan tidak berani berkata apapun.


"Tidak apa-apa, kau bisa mengatakannya." Ucap pangeran Rong.

__ADS_1


"Tetapi yang mulia....."


Pangeran Rong menatap pengawal itu dengan tajam, karena dia berani membantah ucapannya.


"Ampuni hamba, yang mulia. Hamba hanya melakukan perintah dari yang mulia kaisar."


"Katakan saja, tidak apa-apa jika ada permaisuri An disini."


"Baik, yang mulia."


Pengawal istana itu kemudian mengatakan kepada pangeran Rong dan juga permaisuri An.


"Aku mengerti, kau bisa kembali sekarang dan sampaikan pada ayah kaisar, jika aku akan bersiap besok." Ucap pangeran Rong setelah mendengarkan apa yang pengawal istana itu katakan.


"Baik, yang mulia."


Pengawal istana itu pun pergi meninggalkan pangeran Rong dan juga permaisuri An.


"Apa yang akan kau lakukan?" Ucap permaisuri An.


"Kemari, kita bicarakan hal ini di dalam kamar."


Permaisuri An mengangguk, dan mereka pun berjalan menuju kamar mereka.


Pangeran Rong menatap permaisuri An, "Seperti yang telah aku katakan pada pengawal tadi, jika aku akan bersiap besok."


"Jadi kau akan pergi ke perbatasan timur?"


"Benar, sejak 3 tahun yang lalu negara itu ingin memerangi negara kita. Namun mereka selalu menahan diri, tetapi sepertinya kali ini mereka tidak bisa lagi menahannya."


"Aku mendengar negara itu cukup sulit di di taklukan."


Pangeran Rong mengangguk, "Benar, karena itu aku harus bisa menaklukan mereka. Agar mereka tidak lagi bisa melakukan apapun yang mereka inginkan."


"Jika begitu, maka aku akan ikut bersama dengan mu."


"Tidak, tempat itu sangat berbahaya."


"Li...."


"Lin'er, aku sangat mengetahui bagaimana mereka. Mereka sungguh tidak akan memandang siapa dirimu."


Permaisuri An diam, dan terus menatap pangeran Rong.


"Aku akan membawamu, jika bukan mereka yang berulah. Aku akan kembali dengan selamat." Ucap pangeran Rong.

__ADS_1


Pangeran Rong yang merupakan dewa perang negara Chao, tentunya tidak akan membiarkan negaranya di serang oleh negara lain. Meskipun statusnya telah menjadi seorang suami.


"Baiklah, kau harus berhati-hati." Ucap permaisuri An.


Pangeran Rong mengangguk, "Baik, aku mengerti."


Pangeran Rong sungguh merasa sangat bahagia, karena permaisurinya dapat mengerti apa yang dia rasakan saat ini.


"Aku akan membantumu berkemas." Ucap permaisuri An.


Pangeran Rong hanya mengangguk, dia tahu saat ini permaisurinya tengah merasa sedikit kecewa.


Bukan karena akan di tinggal berperang olehnya, di minggu-minggu pertama pernikahan mereka. Namun karena pangeran Rong tidak mengizinkannya untuk ikut berperang ke perbatasan timur.


"Maafkan aku Lin'er, jika saja itu bukanlah mereka. Aku pasti akan membawamu. Karena aku sendiri pun tidak tahu kenapa mereka kembali menyerang negara kita."


...----------------...


"Bagaimana, apakah kau telah melakukan apa yang telah kau janjikan padaku?" Ucap seorang wanita pada putra mahkota kerajaan yang sedang menyerang perbatasan timur negara Chao.


"Kau telah memberitahu padaku tentang kelemahan pangeran Rong itu, tentu saja aku harus melakukan apa yang telah aku janjikan padamu, tetapi melihat lukisan permaisuri An, aku sedikit tertarik kepadanya."


"Kau bisa memilikinya, tetapi tentu saja jika kau telah berhasil menyingkirkan pangeran Rong itu."


"Kau benar, maka sekali menyerang dua orang dalam genggaman."


"Benar."


Wanita itu menatap dengan tatapan yang sulit di katakan, senyjmya memberikan arti yang memiliki dendam yang mendalam.


"Lin Yao, akhirnya aku akan melihatmu di permalukan. Kau telah membuat kehidupan ku seperti seorang pengemiis, dan membuat ibuku mati di jalanan tanpa pemakaman yang layak. Aku telah bersumpah kepada ibuku, jika kau akan merasakan hal sama."


Laki-laki itu berdiri, dan menatap wanita yang ada di depannya, "Besok aku akan pergi ke perbatasan negara itu, apa kau ingin ikut serta. Mungkin saja kau bisa membuat kedua kaki wanita itu tidak bisa lagi berjalan, dan aku bisa membawanya tanpa bersusah payah."


"Tentu, aku juga sudah lama tidak melihatnya. Aku berharap dia tidak akan terkejut saat melihat ku nanti."


Laki-laki itu hanya mengangguk, lalu pergu meninggalkan wanita itu.


"Dendam di antara dua wanita, benar-benar sangat merepotkan. Tetapi dengan menggunakan wanita itu, aku akan menyingkirkan pangeran Rong, yang terkenal sebagai dewa perang negara Chao."


Laki-laki itu tentu saja tidak akan pernah melakukan hal yang beresiko seperti ini, jika tidak ada keuntungan yang besar baginya. Dan dapat mengalahkan pangeran Rong merupakan salah satu keuntungan terbesar baginya dan juga negaranya. Jadi dia pun menyetujui melajukan dengan wanita yang dia temui di jalanan itu.


"Aku harus bersiap. Pangeran Rong, aku berharap kau sudah siap meberima serangan dariku, dan aku juga berharap kau membawa permaisuri mu itu. Agar aku bisa dengan mudah menumbangkanmu, dan memiliki permaisurimu." Ucap laki-laki dengan seringainya.


Negara itu sudah sejak lama mengincar kota yang berada di dekat perbatasan negara Chao bagian timur itu, namun mereka selalu tidak bisa mendobrak pertahanan yang di buat oleh pangeran Rong, jadi dengan sedikit cara liciiknya, negara mereka akab menyerang negara Chao.

__ADS_1


__ADS_2