
"Baik, yang mulia. Kami mohon diri." Ucap tuan Min.
Ketiga orang kepala keluarga bangsawan itu memberi hormat pada pangeran Rong. Pangeran Rong hanya mengangguk melihat mereka.
Setelah memberi hormat, mereka kemudian pergi meninggalkan pangeran Rong, di dalam ruang VIP salah satu restoran di ibu kota.
"Xiao Bo." Ucap pangeran Rong.
"Hamba disini, yang mulia."
"Kau awasi ketiga orang itu, jangan sampai mereka mengetahui toko obat milik permaisuri An. Dan jangan biarkan mereka tahu paviliun juga wajah permaisuri An."
"Baik yang mulia."
Xiao Bo segera pergi untuk melakukan tugasnya, setelah memberi hormat pada pangeran Rong.
"Aku tidak akan membiarkan kalian lepas begitu saja, mata seharusnya di bayar dengan mata. Tetapi kalian hanya membayarnya dengan kaki, dan itu merupakan sebuah kebaikan." Ucap pangeran Rong.
Pangeran Rong mungkin tidak akan pernah melakukan hal seperti itu terhadap ketiga keluarga bangsawan tersebut, namun keluarga Xiao telah menganggap permaisuri An dan ibunya sebagai keluarga mereka sendiri, jadi pangeran Rong memberi sedikit peringatan terhadap mereka yang selalu menggunakan latar belakang keluarga mereka untuk melakukan hal yang keterlaluan.
"Saat ini Lin'er pasti berada di dalam tokonya, semoga saja mereka tidak menemukan dimana permaisuri ku."
Walaupun permaisuri An telah mengetahui rencana pangeran Rong dan juga tuan Xiao terhadap ketiga keluarga bangsawan itu, tetapi permaisuri An yang bergitu baik hati pasti tidak akan tega membiarkan orang lain terus kesakitan akibat racun yang telah mereka minum.
Pangeran Rong kemudian keluar dari restoran itu, untuk kembali ke paviliun menggunakan kuda miliknya. Dia sengaja meminta pertemuan itu di lakukan agak jauh dari paviliun maupun toko obat milik permaisuri An, karena itu juga demi kebaikan permainan An.
Tiba di paviliun, pangeran Rong masuk dan mendapati jika permaisurinya tengah mengambil beberapa bahan obat yang telah kering di depan aula.
"Lin'er, bukankah kau sedang berada di toko obat?" Ucap pangeran Rong seraya berjalan mendekati permaisuri An.
"Saya baru saja kembali, karena teringat jika ingin membuatkan teh untuk ibu."
"Baguslah jika seperti itu."
"Apakah telah terjadi sesuatu?"
Pangeran Rong diam namun tetap menatap permaisurinya dengan lekat.
__ADS_1
"Li. Apa yang telah terjadi?" Ucap permaisuri An lagi.
"Aku akan memberitahu mu nanti, sekarang kau buatkan dulu teh untuk ibu."
Permaisuri An menatap pangeran dengan penuh tanya. Namun dia menuruti apa yang pangeran Rong katakan padanya.
Melihat permaisurinya kembali mengambil kembali bahan-bahan obat yang akan dia jadikan minuman bersama dengan teh untuk nyonya Xia, pangeran Rong menatapnya seraua tersenyum.
"Apa kau ingin mencoba teh yang saya buat?" Ucap permaisuri An.
"Baik, aku akan merasa sangat bahagia bisa menikmati teh yang kau buat."
Permaisuri An mengangguk, lalu berjalan menuju dapur paviliun.
Meskipun saat ini dia telah menjadi seorang permaisuri, namun pangeran Rong tidak pernah melarang permaisuri An untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan, selama itu adalah hal yang baik dan tidak berbahaya untuknya.
Pangeran Rong berjalan masuk ke dalam aula, dan disana sudah ada nyonya Xia.
"Aku mendengar Lin'er berbicara dengan seseorang, ternyata kau sudah kembali." Ucap nyonya Xia pada pangeran Rong.
"Benar ibu, Lin'er berkata jika dia akan membuatkan teh untuk kita berdua."
"Ibu, anda jangan terlalu banyak berpikir. Ibu harus selalu menjaga kesehatan ibu."
"Kau benar, mungkin ini karena obat yang di berikan oleh selir Qian yang aku tidak ketahui, saat masih di kediaman tuan Liu dulu."
"Saat ini Lin'er selalu mencoba mencari obat bagi ibu, dan aku yakin dia pasti bisa melakukannya."
Nyonya Xia mengangguk.
Permaisuri An datang dengan seorang pelayan di belakangnya, yang membantu membawakan baki berisi dua gelas teh dan juga beberapa kue.
"Ibu, Li. Aku sudah membuatkan teh untuk kalian, ini adalah teh yang bisa membuang makanan atau minuman yang mengandung racun atau bahan berbahaya lainnya yang telah kita minum atau makan." Ucap permaisuri An.
"Apakah ini terbuat dari bahan-bahan yang tadi kau ambil?" Ucap pangeran Rong.
"Benar, akar Shilin bisa menjadi obat jika kita dapat mengolahkan dengan baik. Dengan akar Shilin yang di campurkan dengan daun teh dan juga sedikit cengkeh, maka akan membantu tubuh kita menjadi lebih baik setelah bangun tidur."
__ADS_1
"Apakah hanya akar Shilin dan cengkeh saja? Aku merasa ada bau yang lainnya."
Permaisuri An tersenyum lalu mengangguk, "Benar, saya memberikan sedikit jahe muda yang baru saja saya dapatkan."
"Pantas saja aku mencium bau yang aku kenali, namun samar."
"Jahe muda akan membuat tubuh kita tetap hangat. Dan saya memakai jahe itu karena rasanya tidak begitu pedas dan bau jahe itu tidak begitu menyengat."
"Lin'er, kau sangat pintar dalam membuat obat." Ucap nyonya Xia.
"Ibu, Lin'er bukan hanya pintar dalam membuat obat. Namun dia juga pintar dalam membuat strategi dalam berperang, dan memiliki kekuatan yang sulit di katakan."
Nyonya Xia mengangguk, "Saat ini, mereka yang pernah berkata jika kau hanyalah wanita yang tidak berguna, pasti merasa begitu malu."
"Ibu, seseorang tidak akan selama berada dalam kehidupannya yang dulu. Kita bisa menikmati kehidupan saat ini, karena kita telah berusaha untuk mengubah kehidupan yang seharusnya telah lama kita jalani."
"Kau benar, ibu yang tidak bisa seperti mu. Menjadi wanita yang kuat dan memiliki keyakinan yang sungguh."
Permaisuri An berdiri dan berjalan mendekati nyonya Xia.
"Ibu, ibu jangan pernah berbicara seperti itu. Ibu adalah wanita yang paling kuat di dunia ini, jika ibu tidak bisa bertahan sampai saat ini, aku mungkin juga tidak akan bisa bertahan." Ucap permaisuri An seraya meraih tangan ibunya.
Nyonya Xia mengangguk lalu menggenggam tangan permaisuri An.
"Kehidupan kita telah berubah, aku harap ibu tidak akan pernah lagi mengingat kehidupan kita yang dulu. Karena mungkin mereka pun sudah tidak lagi mengingat kita."
"Dan mungkin saja, mereka telah berada di depan pintu renkarnasi."
Nyonya Xia mengangguk, apa yang di katakan permaisuri An benar. Dia tidak seharusnya masih mengingat kehidupan mereka yang telah berlalu itu.
"Baiklah, ibu harus menghabiskan tehnya. Setelah itu, ibu harus beristirahat. Aku akan memberikan ibu obat lagi nanti malam." Ucap permaisuri An.
"Baik, ibu mengerti."
Benar, kondisi kesehatan nyonya Xia kembali menurun setelah beberapa hari pernikahan pangeran Rong dan permaisuri An selesai. Dan nyonya Xia telah menutupinya dari permaisuri An, agar putrinya itu tidak mengkhawatirkan keadaannya.
Namun setelah pangeran Rong dan permaisuri An datang ke paviliun, wajahnya yang nampak pucat tidak bisa membohonginya.
__ADS_1
Karena itu, tanpa mengatakan apapun. Permaisuri An selalu membuat teh dengan bahan-bahan obat untuknya, dan memberikan obat yang lain pada ibunya.