
"Yang mulia, mohon pertimbangkan kembali keinginan kami. Kami hanya tidak ingin negara ini memiliki seorang permaisuri yang telah membunuh seseorang." Ucap salah seorang perdana menteri di dalam aula istana.
"Benar, yang mulia. Mohon pertimbangkan kembali keinginan kami." Ucap perdana menteri yang lain.
"Apa kalian tahu siapa yang telah di bunuh oleh permaisuri An?" Ucap kaisar kepada semua perdana menteri.
"Yang mulia...."
"Permaisuri An membunuh seorang pangeran dari negara musuh yang menyerang negara Chao, karena ingin melindungi negara ini seperti pangeran Rong, suaminya. Dan dia membunuh seorang wanita, karena wanita itu adalah orang yang melarikan diri dari pengasingan dan berkolusi dengan negara musuh."
Para perdana menteri itu terdiam, meskipun mereka telah mengerti siapa dua orang yang telah di bunuh oleh permaisuri An, namun mereka tetap melakukan pertentangan.
"Jadi katakan padaku, apakah aku harus menghukum orang yang telah mengorbankan nyawanya demi negara ini, demi memenangkan peperangan di perbatasan timur?" Ucap kaisar dengan suara lebih lantang.
Perkataan kaisar membuat para perdana menteri terkejut, mereka sangat mengerti hadiah apa yang harus di berikan pada orang yang telah membantu memenangkan peperangan, dan juga hukuman bagi orang yang berani berkolusi dengan musuh.
"Saat ini pangeran Rong sedang tidak berada di dalam istana, tetapi beberapa hari lagi dia akan memberikan keputusan. Aku berharap kalian tidak akan menyesal karena telah terus mendesak ku dan juga pangeran Rong." Ucap kaisar lagi.
Setelah mengatakan itu, kaisar turun dari singgasananya, dan berjalan meninggalkan aula istana dan para perdana menteri yang tengah kebingungan, dan khawatir akan keputusan pangeran Rong nanti.
Kaisar berjalan kembali ke istana dengan perasaan yang kesal terhadap para perdana menterinya.
"Beraninya mereka melakukan ini padaku dan pangeran Rong. Sepertinya mereka memang sudah seharusnya di ganti." Ucap kaisar.
...----------------...
Saat ini pangeran Rong dan permaisuri An tengah menikmati pagi hari mereka di samping paviliun pangeran Rong.
"Apa kau tidur dengan baik tadi malam?" Ucap pangeran Rong pada permaisuri An.
"Iya, saya tidur dengan baik."
"Baguslah jika seperti itu. Setelah ini, aku akan mengajak mu pergi ke sungai untuk mencari ikan."
Permaisuri An mengangguk, "Baik, tetapi saya harus membuat keranjang terlebih dulu."
"Bukankah kita sudah memilikinya?"
"Benarkah? Apakah kau membawanya dari istana?"
"Benar, aku meminta seorang pelayan untuk membawakannya. Karena aku ingin menikmati ikan segar dari sungai itu."
"Baguslah jika seperti itu."
Pangeran Rong meraih lalu menggenggam tangan permaisuri An, "Apakah kau tahu, aku sangat ingin menghentikan hari ini."
__ADS_1
Permaisuri An menatap pangeran Rong dengan penuh tanya.
Pangeran Rong tersenyum, "Aku ingin semuanya berhenti seperti ini, karena melihatmu yang seperti ini membuat ku sangat tenang dan bahagia."
Permaisuri An terdiam sejenak, "Saya minta maaf, karena telah membuat semua orang khawatir."
"Kau tidak bersalah, semua telah terjadi dan itu di luar perkiraan kita semua."
Permaisuri An diam, sudah cukup banyak rasa bersalah yang dia rasakan beberapa hari ini. Namun pangeran Rong selalu berkata jika dia tidak bersalah, seolah sedang menanggung semua kesalahannya.
"Lin'er, apakah kau tahu tugas seorang suami?" Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An menggelengkan kepalanya, "Saya tidak mengetahuinya."
"Selain menikahi dan memberikan kehidupan yang layak, seorang suami harus selalu membuat istrinya merasa aman dan bahagia. Dan aku ingin selalu melakukan hal itu kepada mu. Jadi, jika mereka tidak bisa menerima mu sebagai permaisuriku, maka aku yang akan ikut berjalan di sampingmu."
Permaisuri An tertegun mendengar perkataan pangeran Rong kepadanya, dia merasa begitu terharu. Karena meski dia tidak lagi memiliki keluarga, namun dia masih memiliki orang yang begitu mencintainya.
"Terima kasih." Ucap permaisuri An.
Air mata permaisuri An menetes karena bahagia.
Pangeran Rong menyeka air mata itu, lalu mencium kening permaisurinya.
Permaisuri An mengangguk, lalu membalas pelukan pangeran Rong. Hatinya merasa begitu hangat dan juga terharu akan ketulusan pangeran Rong.
"Maaf, karena sudah membuatmu khawatir." Ucap permaisuri An.
Pangeran Rong mengusap dengan pelan punggung permaisuri An lalu mengangguk.
"Berjanjilah, kau akan selalu bahagia dan tidak akan menangis lagi." Ucap pangeran Rong.
"Iya, saya berjanji."
Pangeran Rong tersenyum mendengar ucapan permaisuri An, lalu memper-erat pelukannya.
Pada saat ini pangeran Rong sangat bahagia, karena apa yang telah dia lakukan untuk permaisuri An, sedikit bisa membuat permaisurinya membaik dan kembali tersenyum.
Pangeran Rong melepaskan pelukannya, dan menatap kedua mata permaisuri An.
"Kau adalah satu-satunya permaisuriku, dan juga wanita yang telah membuatku tidak ingin melepaskanmu." Ucap pangeran Rong dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih, karena telah memilih saya."
Pangeran Rong mengusap dengan pelan pipi permaisuri An, lalu mendekati wajahnya pada permaisurinya dan mencium bibir yang telah mengatakan janji padanya itu.
__ADS_1
Dengan lembut pangeran Rong memberikan kasih sayangnya melalui bibirnya pada bibir permaisuri An.
"Kau merupakan wanita yang sangat berharga untukku." Ucap pangeran Rong setelah mencium bibir permaisuri An.
Pipi permaisuri An merona dan dia tersipu mendengar semua perkataan manis yang pangeran Rong katakan padanya.
"Mari, kita harus bersiap untuk menangkap ikan." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An mengangguk, "Iya."
Pangeran Rong menggandeng tangan permaisuri An, dan mereka masuk ke dalam paviliun untuk bersiap-siap.
"Apakah ikan yang ada di sungai itu besar-besar?" Ucap permaisuri An setelah dia siap dengan keranjang yang dia ambil dari dapur.
"Tentu saja, kemungkinan ada 2 sampai 3 jenis ikan yang ada di dalam sungai itu."
Permaisuri An mengangguk dan tersenyum.
"Kita pergi sekarang." Ucap pangeran Rong.
"Baik."
Dengan membawa keranjang dan sebuah jaring, pangeran Rong dan permaisuri An pergi ke sungai yang ada di belakang paviliun itu.
Tak berapa lama mereka telah berada di depan sungai yang airnya cukup jernih.
"Saya lihat ada seekor udang di balik batu itu." Ucap permaisuri An seraya menunjuk ke arah batu yang tidak begitu besar.
Pangeran Rong melihat batu yang di tunjuk permaisuri An, lalu turun ke dalam sungai.
"Berhati-hatilah." Ucap permaisuri An.
Mendapat perhatian dari permaisurinya, pangeran Rong tersenyum.
Dengan pelan, pangeran Rong memindahkan batu yang ada di depannya dan menangkap udang yang tadi bersembunyi dengan jaring yang dia bawa.
"Apa kau berhasil menangkapnya?" Ucap permaisuri An.
"Iya, aku telah menangkapanya."
Pangeran Rong mengangkat jaring yang di dalamnya ada udang yang cukup besar.
"Itu bagus, jika begitu saya akan memasang beberapa ranjang ini di sebelah sana." Ucap permaisuri An.
Dengan hati-hati permaisuri An masuk ke dalam sungai dan memasang beberapa keranjang yang dia bawa, lalu memasang keranjang itu pada aliran sungai yang cukup deras dan tidak begitu dalam itu.
__ADS_1