
Beberapa hari kemudian, pangeran Rong memerintahkan panglima perang untuk membawa kedua pangeran dan putri dari negara Yu, kembali ke negaranya.
Ya, selama beberapa hari itu mereka telah mendapatkan hukuman dari pangeran Rong. Dan karena beberapa hari lagi pangeran Rong akan sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Lin Yao, dia tentu tidak akan ada waktu mengurusi 3 orang itu.
"Kau, katakan pada kaisar Yu. Mengembalikan mereka bertiga merupakan kebaikan datiku. Jadi jangan biarkan mereka melakukan hal yang membuatku marah lagi." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia."
Panglima perang pergi darinistana pangeran Rong setelah mendengar perintahnya dan berjalan menuju penj4ra istana dimana ketiga anak kaisar Yu berada.
Di dalam penj4ra itu, panglima perang yang melihat kondisi mereka bertiga merinding. Begitu banyak bekas luka pada tubuh mereka dan pasti sangat sulit di hilangkan, dan saat melihat pangeran ke 2 Yu, panglima perang bisa menyimpulkan jika salah satu kakinya telah patah.
"Yang mulia sungguh luar biasa dalam hal seperti ini, dan sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi untuk ke depannya dalam melakukan semua perintahnya." Ucap panglima perang.
Dengan membawa 200 pasukan, panglima perang membawa 3 orang itu kembali ke negara Yu.
...----------------...
"Yang mulia, saat ini panglima perang telah bergerak membawa kedua pangeran dan putri negara Yu. Hamba khawatir setelah ini, kaisar Yu akan membalas dengan menyerang negara kita ini." Ucap Xiao Bo.
"Dia tidak akan berani melakukan hal itu. Karena aku telah memegang token 5000 pasukan perang negara Yu."
Xiao Bo terkejut mendengar perkataan pangeran Rong.
"Yang mulia, anda memiliki token pasukan perang kerajaan Yu?"
"Iya, satu hari setelah memasukan pangeran pertama dan putri Yu ke dalam penjara. Aku menemui kaisar Yu secara pribadi, karena dia meminta ku datang. Dia memberikan token 5000 pasukan dan satu desa yang berada di pinggiran megara Yu padaku. Agar aku mengembalikan ketiga anaknya dengan keadaan hidup."
"Apa hanya satu desa itu, yang mulia?"
"Itu cukup, aku meminta Xiao Li memeriksa desa dan pasukan yang di berikan padaku oleh kaisar Yu. Desa itu cukup luas dan subur, dan Xiao Li berkata jika selama 2 tahun ini para pasukan itu tidak di perhatikan oleh pangeran ke 2 dan pangeran pertama."
"Pasukan yang tidak mendapat perhatian dari pemimpinnya, akan menjadi pasukan yang memberontak kelak. Kedua pangeran ini tidak takut jika tiba-tiba kerajaan mereka di serang oleh pasukannya sendiri."
"Itu juga tidak akan terjadi, karena mereka memiliki token pasukan. Tetapi saat ini token ada di tanganku, dan mereka tidak akan berani melakukan apa-apa pada negara Chao."
__ADS_1
Xiao Bo mengangguk.
"Kau pergi dan urus desa itu dengan baik, lalu pindahkan semua pasukan itu ke desa itu. Setelah aku menikah, aku akan kesana untuk mengurusnya." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia, hamba akan melakukan perintah yang mulia."
Pangeran Rong mengangguk.
Xiao Bo keluar dari kamar pangeran Rong dan pergi ke desa pinggiran negara Yu itu.
Pangeran Rong menatap token 5000 pasukan itu, "Kaisar Yu, hanya untuk 3 orang tidak berguna kau memberi ku hadiah yang cukup besar."
...----------------...
"Lin'er, bagaimana toko obatmu?" Tanya nyonya Xia setelah meminum teh nya.
"Semuanya baik, apakah kesehatan ibu sudah membaik?"
"Ibu sudah merasa jauh lebih baik, obat yang kau berikan pada ibu sudah membuat ibu pulih lebih cepat."
"Lin'er senang melihat ibu kembali pulih."
"Tidak ibu, bagi Lin'er satu toko obat saja sudah cukup. Lin'er tidak ingin membuat toko obat yang lain merasa tertekan karena tidak mendapatkan pengunjung."
"Baiklah jika begitu."
"Rakyat hanya akan mengatakan hal tidak baik jika Lin'er memiliki lebih dari satu toko obat. Dan tentu itu akan membuat pangeran Rong menjadi bahan berita di ibu kota. Tebru nama baik keluarga Xia pasti juga akan ikut tidak baik"
"Kau selalu memikirkan nama baik pangeran Rong dan keluarga. Tetapi orang-orang di luar sana belum tentu memikirkan dirimu."
Lin Yao meraih tangan ibunya, "Ibu, meskipun mereka tidak memikirkan bagaimana dengan kita. Bahkan mereka pernah menjelek-jelekan kita, tetapi kita tidak perlu membalas mereka. Karena mereka akan merasa tidak enak dan takut sendiri kepada kita."
"Kau semakin dewasa, ibu merasa tenang karena kau tumbuh menjadi wanita yang baik dan selalu rendah hati."
"Ibu, bukankah ini karena ibu yang telah mengajarkan Lin Yao banyak hal? Lin Yao sangat berterima kasih pada ibu karena selama ini ibu selalu mengajari Lin Yao hal-hal baik. Meskipun dulu kita tinggal di kediaman yang penuh dengan orang-orang jahat."
__ADS_1
Nyonya Xia mengangguk seraya tersenyum.
"Langit telah membuat kehidupan kita semakin membaik, dan ibu berharap kau akan selalu hidup dalam kebahagiaan."
"Ibu, sudah beberapa hari ini aku tidak melihat kak Ming Yu datang kemari." Ucap Lin Yao.
"Kakak mu sedang sibuk, beberapa toko miliknya yang berada di luar kota mendapat sedikit masalah. Tetapi dia berkata, jika dia pasti akan pulang sebelum hari pernikahan mu datang."
"Masalah pada toko kak Ming Yu? Apa ibu tahu apa itu?"
Nyonya Xia menggelengkan kepalanya, "Ibu tidak tahu. Karena dia juga tidak pernah memberitahukannya kepada ibu."
Lin Yao mengangguk.
"Kau jangan terlalu banyak berpikir, Ming Yu pasti bisa menangani masalah itu dengan baik. Dia adalah orang yang pintar, tidak mudah di tindas dan di bod0hi oleh orang lain." Ucap nyonya Xia.
"Iya ibu, Lin'er mengerti."
Nyonya Xia mengangguk seraya tersenyum, sebenarnya dia juga merasa khawatir pada anak dari teman dekatnya yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri itu. Namun nyonya Xia tentu tidak ingin Lin Yao melihat kekhawatirannya itu.
"Baiklah bu, Lin'er ingin membuat sesuatu." Ucap Lin Yao.
"Apa yang ingin kau buat?"
"Bubur dari biji teratai."
"Kau benar-benar bisa membuatnya?"
"Tentu saja ibu, aku akan membawakannya kesini agar ibu bisa mencobanya. Bubur biji teratai juga sangat baik untuk kesehatan ibu saat ini."
"Baiklah, ibu akan mencobanya setelah kau selesai membuatnya."
"Baik bu."
Lin Yao berdiri dan berjalan meninggalkan nyonya Xia untuk membuat bubur biji teratai di dapur.
__ADS_1
"Cukup lama aku tidak membuat dan memakan bubur biji teratai, aku harap kemampuan memasak ku tidak hilang juga setelah aku berenkarnasi."
Sampai di dapur, Lin Yao segera mengambil biji bunga teratai dan bahan-bahan yang lainnya. Setelah itu dia pun mukai membuat bubur biji teratai seperti yang dia buat dulu.