
Hari berikutnya, permaisuri An bersama dengan pangeran Rong ke makam nyonya Xia, karena hari ini merupakan hari ke 7 kematiannya.
Di temani oleh Feng Ying, bibi Hong juga keluarga Xia dan keluarga Xiao, mereka membawa buah-buahan, kue dan makanan kesukaan nyinya Xia, mereka juga araak beras.
Tiba di depan makam nyonya Xia, permaisuri An dan pangeran Rong memberikan hormat di depan batu nisaan nyonya Xia.
Permaisuri An menuangkan araak beras ke dalam gelas kecil, lalu meletakannya di depan batu nisan ibunya.
"Ibu, setelah ini Lin'er tidak akan lagi menjadi seorang wanita yang lemah. Semoga di kehidupan berikutnya kita bisa kembali menjadi ibu dan anak. Dan Lin'er berjanji, kelak Lin'er akan menjaga ibu dengan lebih baik lagi. Agar Lin'er tidak akan merasa kehilangan ibu untuk ketiga kalinya."
Bagi permaisuri An, kehilangan seorang ibu dua kali sudah cukup. Dan dia tidak ingin merasakannya lagi. Tubuhnya mungkin kuat menahan semua itu, tetapi jiwanya tidak.
"Saat ini, ibu pasti sudah hidup dengan bahagia. Kau juga harus hidup dengan bahagia disini." Ucap pangeran Rong pada permaisuri An.
"Baik, saya mengerti."
Setelah permaisuri An dan pangeran Rong melakukan penghormatan terakhir pada nyonya Xia, mereka kembali ke istana kerajaan.
"Yang mulia, bisakah saya melakukan sesuatu di dalam istana?" Ucap permaisuri An.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Melatih ilmu beladiri. Saya merasa jika ilmu beladiri yang saya miliki tidak begitu baik."
"Permaisuri An, kau......"
"Yang mulia, saat ini telah banyak orang yang menginginkan nyawa saya. Dan saya tahu, jika yang mulia tidak akan selalu ada untuk melindungi saya. Jadi saya harus berlatih untuk melindungi diri saya dan orang-orang yang dekat dengan saya."
Pangeran Rong menatap permaisurinya, keinginan permaisurinya An memang di dasari oleh alasan yang sangat bagus. Tetapi saat ini dia merupakan seorang permaisuri.
"Yang mulia, bisakah saya melakukan itu?" Ucap permaisuri An lagi.
"Baiklah, tetapi kau tidak di perbolehkan berlatih setiap hari."
"Baik, saya mengerti. Terima kasih, yang mulia."
Pangeran Rong mengangguk, alasan pangeran Rong menyetujui keinginan permaisuri An juga agar permaisuri An bisa melindungi dirinya sendiri, di saat dia maupun kedua pengawal pribadinya tengah sibuk, dan tidak ada yang mengawasi permaisuri An.
Sesampainya di depan istana, permaisuri An turun dari dalam kereta kuda dan bersama dengan pangeran Rong, mereka berjalan masuk ke dalam kamar mereka.
"Kau belum memakan sesuatu sebelum kita berangkat tadi, apa kau ingin memakan sesuatu?" Ucap pangeran Rong.
"Tidak, saya haya ingin di dalam kamar untuk hari ini."
Pangeran Rong mengangguk, "Baiklah jika seperti itu. Aku akan ke ruang baca, jika kau memerlukan sesuatu , kau bisa kesana."
"Baik, saya mengerti."
Pangeran Rong tersenyum, lalu berjalan meninggalkan permaisuri An di dalam kamar bersama Feng Ying.
__ADS_1
"Yang mulia, apakah ada sesuatu yang ingin anda inginkan?" Ucap Feng Ying.
"Benar, kotak yang aku inginkan kemarin. Tolong bawa itu kesini."
"Baik, akan saya ambilkan."
Permaisuri An mengangguk.
Feng Ying dengan cepat pergi ke ruangan samping, untuk mengambil kotak yang kemarin permaisuri An inginkan.
"Yang mulia, ini kotak yang anda inginkan." Ucap Feng Ying seraya memberikan kotak itu.
"Terima kasih, Feng Ying."
Permaisuri An menerima kotak itu lalu membukanya, di dalam kotak itu terdapat satu botol obat yang telah dia buat dari bahan-bahan khusus.
"Aku berharap dengan bantuan obat inii, tubuh ku akan semakin baik."
Permaisuri An mengambil botol itu, "Feng Ying, kau berjagalah di luar."
"Baik yang mulia."
Feng Ying kemudian berbalik dan keluar dari kamar permaisuri An.
Setelah Feng Ying keluar, permaisuri An membuka botol itu dan menelan satu pil yang ada di dalam botol tadi.
Permaisuri An lalu duduk di atas tempat tidur dan mencoba merasakan tenaga dalamnya, memusatkan pikirannya seperti yang dia lakukan saat memperkuat tenaga dalamnya di kehidupan sebelumnya.
"Obat yang aku minum hanya bisa memulihkan tubuhku setengahnya. Aku akan meminta Feng Ying untuk membuat sup kelinci muda dengan jahe." Ucap permaisuri An.
Permaisuri An berjalan ke ruangan samping untuk berganti pakaian. Karena dia akan langsung melatih ilmu tenaga dalam yang dia miliki.
"Aku telah memiliki ilmu langkah 1000, meskipun belum sempurna. Sekarang aku akan mencoba keahlian pedang yang aku miliki dulu." Ucap permaisuri An setelah berganti pakaian.
Permaisuri An berjalan keluar dari dalam kamar dengan mengenakan pakaian pria.
"Yang mulia, apa yang anda lakukan? Mengapa anda memakai pakaian seperti ini?" Ucap Feng Ying dengan terkejut.
"Feng Ying, buatkan aku sup kelinci muda dengan dua jahe besar. Rebus sup itu selama 1 jam."
"Sup kelinci muda dengan jahe?"
"Benar, lakukan sekarang. Dan bawa sup itu ke halaman belakang."
"Baik yang mulia."
Permaisuri An mengangguk lalu berjalan menuju halaman belakang, sambil membawa sebuah pedang milik pangeran Rong yang di letakkan di dalam kamar mereka.
Feng Ying yang melihat perubahan pada permaisuri An, merasa terkejut namun juga bahagia. Karena akhirnya, permaisuri An kembali seperti sebelumnya.
__ADS_1
Para pelayan yang di lewati oleh permaisuri An saling berbisik, tetapi permaisuri An tidak menanggapi hal itu. Saat ini dia hanya ingin memperkuat dirinya terlebih dulu, agar kelak dia bisa membantu pangeran Rong.
...----------------...
Berita tentang perdana menteri yang memiliki begitu banyak ladang dan kekayaan yang di simpan secara diam-diam mulai menyebar di ibu kota.
Para rakyat tentu gempar akan berita ini, dan mereka menatap kediaman para perdana menteri itu dengan tatapan tidak suka juga saling berbisik.
Praaaaangg!
"Bagaimana bisa berita tentang kekayaan yang aku miliki tersebat di ibu kota! Siapa yang sudah berani melakukannya?" Ucap salah seorang perdana menteri dengan geram.
"Ampun tuan, berita itu menyebar dengan sangat cepat di pagi ini. Bahkan berita itu sudah terdengar hinggal kota lain di luar ibu kota."
"Apa!"
Perdana menteri itu mengepalkan kedua tangannya, jika berita ini terdengar dan bukti kepemilikan tanah juga kekayaan jatuh ke tangan kaisar, sudah di pastikan semua yang dia dapatkan selama ini akan hilang.
"Cepat, cari siapa dalang di balik semua ini!" Seru perdana menteri pada pengawalnya itu.
"Baik tuan."
Pengawal itu pergi untuk melakukan perintah perdana menteri.
"S*alan! Sebenarnya siapa yang telah melakukan hal ini. Mungkinkah... Ini semua perbuatan yang mulia pangeran Rong?" Ucap perdana menteri itu.
Tap tap tap
"Tuan, tuan!"
Perdana menteri menoleh dan melihat istrinya berjalan dengan cepat ke arahnya.
"Ada apa? Apa yang telah terjadi?" Ucap perdana menteri.
"Tuan, bagaimana ini? Saya tidak bisa keluar dari rumah. Orang-orang menatap rumah kita dan mereka juga membicarakan tentang keluarga kita."
"Apakah sudah sampai seperti itu? Hanya dalam waktu semalam saja, berita ini sudah menyebar ke seluruh ibu kota."
"Benar tuan, bukan hanya keluarga kita saja. Saya mendengar dari pelayan kita, jika keluarga perdana menteri yang menentang permaisuri An juga mendapatkan hal yang sama seperti kita."
"Apa yang kau katakan? Semua perdana menteri yang menentang permaisuri An juga mengalami hal yang sama seperti yang kita alami?"
Istri perdana menteri mengangguk, "Benar tuan, saat ini mereka juga tidak bisa keluar dari rumah mereka."
"Jika sudah seperti ini, kemungkinan terbesar adalah pangeran Rong yang telah melakukannya. Dia ingin semua orang yang menentang permaisurinya menerima hukuman darinya."
"Tuan, bagaimana sekarang?"
"Aku akan menemui beberapa perdana menteri itu, kau dan yang lain tetaplah di dalam rumah."
__ADS_1
"Baik tuan."
Perdana menteri itu lalu berjalan keluar dari kamarnya, rahangnya yang menguat menunjukan dia begitu geram pada kejadian ini.