
Di kursi yang lain, seorang laki-laki menatap permaisuri An dengan seksama. Meskipun dia tahu jika saat ini pangeran Rong tengah duduk di samping permaisuri An, namun dia merasa tidak takut.
"Wanita yang cukup tegas dan berani, benar-benar berbeda dari wanita yang lainnya."
Saat ini meskipun penampilan permaisuri An terlihat lebih sederhana di bandingkan dengan putri atau permaisuri yang datang ke pesta itu, namun pesonanya tetap terlihat sangat jelas, sehingga meski dia tengah hamil, dia masih bisa membuat beberapa orang laki-laki terpesona.
"Jika saja dia bukanlah menantu dari anggota kerajaan ini, aku pasti akan merebutnya." Gumam laki-laki itu.
Pangeran Rong yang merasa jika seseorang tengah mengamatinya dan permaisuri An, segera menoleh. Tetapi dia tidak melihat seseorang yang melihat ke arah mereka.
" Sepertinya ada seseorang yang mencoba mencari perhatianku dengan menatap permaisuri An."
Laki-laki yang menatap permaisuri An segera berpura-pura minum, karena dia tidak mau jika berurusan dengan pangeran Rong yang terkenal dingin dan kejam itu.
Ya, meskipun laki-laki itu tertarik pada permaisuri An. Namun dia juga tidak ingin jika mati di tangan pangeran Rong dengan sia-sia, terlebih dia merupakan putra mahkota yang akan menggantikan posisi ayahnya kelak.
Permaisuri An memperhatikan pangeran Rong yang menatap sekeliling, "Apakah terjadi sesuatu, yang mulia?"
"Tidak ada, aku hanya merasa seseorang sedang mengawasi kita berdua."
"Benarkah?"
"Iya, tetapi sekarang tidak lagi. Kau tidak perlu memikirkannya."
"Baiklah jika begitu."
Pangeran Rong mengangguk lalu mengambil buah anggur dan memberikannya pada permaisuri An.
"Sebentar lagi Feng Ying akan datang, kau makanlah anggur ini terlebih dulu." Ucap pangeran Rong.
"Baik, yang mulia."
Permaisuri An mengambil buah anggur dari tangan pangeran Rong, lalu memakannya.
Seorang pangeran tiba-tiba berdiri dengan membawa gelas di tangannya.
"Yang mulia pangeran Rong dan yang mulia permaisuri, saya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan yang mulia permaisuri, semoga kalian akan selalu berbahagia dan kerajaan ini semakin sejahtera." Ucap pangeran itu.
Pangeran Rong lalu berdiri, "Terima kasih yang mulia, saya juga berharap kerajaan yang mulia semakin sejahtera."
Pangeran itu mengangguk, lalu keduanya meminum angur yang ada di dalam gelas mereka.
Permaisuri An melihat pangeran itu lalu menganggukan kepalanya, untuk menghargai apa yang dia katakan.
__ADS_1
"Yang mulia, saya membawakan kacang almond yang anda inginkan." Ucap Feng Ying yang baru saja tiba pada permaisuri An.
"Terima kasih."
Pangeran Rong yang telah kembali duduk menatap permaisurinya, "Kau hanya boleh memakannya 5."
"Yang mulia, kenapa sangat sedikit?"
"Kau sudah memakannya pagi dan siang ini, permaisuri. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita."
Permaisuri An diam, lalu mengangguk dengan pelan.
"Menurutlah, besok aku akan meminta pelayan untuk membuatkan mu sup kacang merah." Ucap pangeran Rong.
"Saya akan memakan sup kacang merah besok?"
Pangeran Rong mengangguk, "Iya, bukankah pagi ini kau ingin memakan itu?"
"Iya, yang mulia."
"Jadi menurutlah padaku, dan kau akan mendapatkannya besok."
"Baik, saya mengerti yang mulia."
Ratu dan putri Xiu Ying yang melihat interaksi pangeran Rong dan permaisuri An tersenyum dengan bahagia, seorang dewa perang yang dulu tak tersentuh, saat ini telah berubah dengan begitu pesat di depan wanita yang dia cintai.
Tetapi di tempat lain, seorang wanita menatap permaisuri An dengan tajam. Kedua tangannya mengepal dengan kuat, karena telah membuat pangeran Rong begitu mudah tersenyum padanya.
"Aku tidak rela, aku sudah lama menyukai pangeran Rong. Dan kenapa saat aku kembali, justru wanita itu telah memiliki pangeran Rong, dan saat ini dia sedang hamil."
Aura iri dan benci dari wanita itu kepada permaisuri An begitu terlihat, namun tidak ada yang peduli kepadanya. Dan meskipun ada yang melihatnya, mereka tidak ingin tahu kepada siapa tatapan wanita itu tujukan.
Pesta semakin meriah, karena beberapa putri dari beberapa kerajaan menampilkan bakat mereka untuk memeriahkan pesta itu. Dan tidak tertinggal dengan putri yang merasa tidak senang kepada permaisuri An.
"Lihatlah, aku akan menari di depan pangeran Rong. Dan dia pasti akan melihat juga tertarik padaku, karena aku adalah wanita yang sangat cantik dan berbakat." Ucap wanita itu dengan pelan.
Tak lama wanita itu menari dengan lincah di depan para tamu undangan, namun semakin lama langkahnya semakin mendekati meja pangeran Rong dan permaisuri An.
Dia sengaja menari di depan pangeran Rong untuk menarik perhatiannya, tetapi sayangnya pangeran Rong tidak peduli, dia lebih memilih menyuapi permaisuri An dengan anggur atau kacang almond. Sehingga membuat wanita itu kesal, dan tariannya dia hentikan.
"Sepertinya wanita tadi menari di depan yang mulia dengan sengaja." Ucap permaisuri An.
"Biarkan saja, aku tidak memperdulikannya. Makanlah kue bulan ini."
"Saya tidak ingin memakannya, rasanya begitu manis."
__ADS_1
"Apa kau ingin kue bulan berisi buah jeruk atau persik?"
"Apakah ada, yang mulia?"
"Jika kau menginginkannya, aku akan meminta koki di dapur istana untuk membuatnya."
"Saya....."
"Ada apa?"
"Saya mau memakannya, tetapi.... Saya tidak ingin tubuh saya semakin bulat, dan pakaian yang saya kenakan tidak akan lagi bisa di pakai."
Pangeran Rong tersenyum mendengar perkataan permaisuri An.
"Kau tidak perlu merasa takut, aku sudah meminta seseorang untuk membuat beberapa pakaian untuk mu. Lagi pula aku bahagia jika tubuhmu semakin bulat."
"Yang mulia."
Pangeran Rong meraih tangan permaisuri An, "Kau adalah permaisuriku, dan saat ini kau sedang hamil. Orang-orang akan mengerti itu, dan tidak akan ada yang mengatakan hal yang tidak-tidak terhadap mu."
"Tetapi tetap saja, saya akan merasa sangat berat."
"Jika begitu maka aku akan menggendongmu."
"Tidak, tidak. Itu tidak perlu yang mulia."
Pangeran Rong mengangguk seraya tersenyum, mereka berdua berinteraksi seolah tidak ada orang lain yang melihat kebahagian mereka berdua. Bahkan seorang kaisar yang duduk di tidak jauh dari mereka tersenyum, mendengar setiap perkataan dewa perang yang terkenal kejam kepada permaisurinya.
"Seberapa kejamnya seseorang di medan perang dalam menghadapi setiap musuhnya, dia pasti akan bersikap sangat lembut terhadap istrinya sendiri." Ucap kaisar itu seraya menoleh kepada pangeran Rong.
Pangeran Rong yang mendengar hal itu tersenyum, "Saya hanya ingin permaisuri saya merasa nyaman dan bahagia selama bersama dengan saya, karena itu akan membuat saya tenang."
"Kau benar, aku berharap kalian akan selalu seperti itu."
"Terima kasih, yang mulia."
Kaisar itu mengangguk.
...----------------...
Xia Lin
Karya baru saya yang berjudul "Hidup di Tubuh Wanita Lemah" sudah mulai up.
Kalian bisa melihatnya di profil saya. Semoga kalian suka dengan karya baru saya, dan terima kasih atas dukungan kalian semua π ππ.
__ADS_1