
Praaaaang!
"Beraninya wanita itu, dia hanyalah seorang anak mantan perdana menteri. Tetapi sangat berani sekali mengatakan hal itu padaku." Ucap wanita itu dengan kesal.
Selama ini dia sudah sangat menyukai pangeran Rong dan berharap ketika dia kembali dari perbatasan, pangeran Rong yang telah membantunya dulu, akan melihat dan tertarik padanya.
Namun ketika tiba di ibu kota, dia justru mendengar jika istana kerajaan akan mengadakan pesta untuk kehamilan permaisuri dari pangeran Rong.
"Yang mulia, bagaimana bisa anda memilih wanita yang lemah seperti itu, dan tidak melihatku yang selalu berada di garis depan setiap peperangan?" Ucap wanita itu lagi.
Kedua tangannya mengepal dengan kuat, mengingat bagaimana perlakuan pangeran Rong yang begitu lembut terhadap permaisuri An beberapa bulan yang lalu.
Braaaaaak!
"Aku harus bisa menarik perhatian pangeran Rong, dan segera menyingkirkan permaisuri An itu dari sisi pangeran Rong." Ucap wanita itu lagi.
Begitu sangat terlihat sorot kedua mata wanita itu yang penuh dengan aura kebencian pada permaisuri An.
...----------------...
Sore harinya, secara diam-diam Feng Ying menemui pangeran Rong di dalam ruang baca, untuk memberitahu tentang kejadian siang tadi, sebab Feng Ying yakin permaisuri An tidak akan memberitahu pada pangeran Rong, jika ada seorang wanita datang dan memarahinya.
"Dia berkata jika permaisuri An telah mengg0da ku saat dia belum kembali?" Ucap pangeran Rong.
"Benar, yang mulia. Saya mendengar dengan jelas apa yang wanita itu katakan, sebab dia berkata dengan cukup keras kepada permaisuri An."
Pangeran Rong terdiam, jika apa yang di katakan oleh Feng Ying benar. Maka hanya ada satu wanita yang berani mengatakan hal itu kepada permaisuri An karena telah menjadi istrinya.
"Baiklah, aku akan mengurus wanita itu. Kau tetap berada di samping permaisuri." Ucap pangeran Rong.
"Baik, yang mulia."
Feng Ying membungkukkan badannya lalu berjalan keluar dari ruang baca pangeran Rong.
Sementara itu pangeran Rong menatap keluar jendela, dan terlihat dia mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Sudah sangat jelas aku berkata, jika aku tidak menyukainya. Dan aku juga tidak akan peduli dengan apa yang akan di lakukan olehnya. Tetapi, sepertinya dia mulai berani terhadapku dengan mengganggu permaisuri An." Ucap pangeran Rong.
Pangeran Rong berdiri dan melemparkan batu kecil keluar jendela, dan seketika Xiao Li muncul di depan pangeran Rong.
"Yang mulia."Ucap Xiao Li seraya memberi hormat.
"Kau awasi Mei Huang. Jangan biarkan dia kembali mendekati istanaku."
"Apakah maksud yang mulia adalah, Mei Huang kepala pasukan di perbatasan utara?"
"Benar, beberapa bulan yang lalu dia kembali untuk beberapa hari, dan sekarang dia telah kembali lagi. Siang ini dia menemui permaisuri An dan mengatakan hal yang di luar batasnya kepada permaisuri."
"Hamba mendengar jika dia telah lama menyukai yang mulia. Mungkin karena yang mulia tidak peduli kepadanya dan dia menganggap kebaikan yang mulia sebagai hal yang lain, dia semakin menyukai yang mulia dan ingin mengetahui lebih banyak tentang yang mulia."
" Aku tidak peduli, apakah dia sudah menyukai ku sangat lama atau tidak. Aku hanya tidak ingin ada seseorang yang mengganggu kehidupan ku dan permaisuri An."
"Baik, yang mulia. Hamba akan melakukan apa yang telah yang mulia perintahkan kepada hamba."
Pangeran Rong mengangguk.
Xiao Li lalu memberi hormat pada pangeran Rong dan pergi untuk melakukan tugasnga itu.
"Aku tidak pernah menyangka jika dia akan berani menemui Lin'er, dan mengatakan hal yang akan membuat Lin'er salah paham padaku." Ucap pangeran Rong.
Pangeran Rong keluar dari ruang bacanya lalu berjalan menuju kamarnya, dia ingin melihat apa yang tengah permaisurinya lakukan saat ini.
Setelah tiba di dalam kamar, pangeran Rong merasa jika kamarnya itu sangat sejuk. Lalu dia melihat sebuah wadah dengan air di dalamnya, karena es batu yang semula besar telah mencair.
"Sepertinya dia kepanasan, haruskah aku membuat beberapa jendela lagi di dalam kamar ini?" Ucap pangeran Rong dengan pelan.
__ADS_1
Pangeran Rong berjalan memutari sebuah penutup tempat tidur, dan melihat permaisurinya yang masih tidur dengan nyenyak.
"Dia tidur sangat baik, seperti tidak pernah di datangi seseorang yang meneriakinya." Ucap pangeran Rong lagi.
Dengan pelan pangeran Rong mengusap wajah permaisuri An yang tampak begitu tenang, lalu mengusap perut permaisuri An yang sudah cukup besar.
"Semoga kau dan anak kita selalu baik-baik saja. Aku akan menghukum siapapun yang telah membuat mu tidak nyaman, karena aku akan membuat mereka juga merasa tidak nyaman hidup di dunia ini."
Pangeran Rong berdiri dan berjalan ke ruangan samping untuk membersihkan dirinya.
Dan tepat setelah pangeran Rong masuk ke ruangan samping, kedua mata permaisuri An terbuka lalu menatap ruangan itu.
"Aku mungkin terlihat tidak peduli, tetapi dia telah membuatku merasa tidak baik. Dan maafkan aku, karena sebelum anda melakukan sesuatu padanya, aku akan melakukan sedikit pukulan kepada wanita itu."
Permaisuri An berbaring lebih lama di atas tempat tidurnya, walaupun kedua matanya telah terbuka dengan lebar, tetapi dia masih enggan turun dari tempat tidurnya.
Kraaaak
Suara pintu terdengar, dan permaisuri An yakin jika itu adalah Feng Ying.
" Feng Ying." Ucap permaisuri An.
"Iya, yang mulia. Saya disini."
"Kemarilah dan bantu aku."
"Baik yang mulia."
Feng Ying berjalan mendekat lalu memindahkan penutup tempat tidur ke sisi kamar.
"Yang mulia, apakah anda tidur dengan baik?" Ucap Feng Ying.
"Iya, aku tidur cukup baik."
Feng Ying mengangguk, dia merasa lega mendengar itu. Dan setelah membantu permaisuri An duduk di sisi tempat tidur, Feng Ying membawakan teh hangat yang baru saja dia bawa dari dapur istana.
"Terima kasih."
Permaisuri An menerima teh itu lalu meminumnya dengan pelan.
"Apakah yang mulia pangeran Rong belum keluar?"
(Maksudnya keluar dari ruangan samping)
"Belum, yang mulia."
Permaisuri An mengangguk, "Baiklah, jika begitu kau buatkan teh dengan gingseng untuknya."
"Baik yang mulia."
Feng Ying segera keluar dari kamar permaisuri An untuk membuat teh gingseng yang permaisuri An inginkan. Sementara permaisuri An menunggu pangeran Rong selesai.
"Yang mulia, seseorang membawa makanan untuk anda." Ucap pelayan yang ada di luar kamar.
Permaisuri An yang mendengar itu merasa heran, "Bawa kemari."
"Baik yang mulia."
Kraaaaak
Pintu kamar terbuka dan pelayan tadi masuk ke dalam dengan membawa kotak yang di bungkus dengan kain berwna merah.
"Siapa yang mengirim makanan itu?" Ucap permaisuri An.
"Dia berkata jika makanan ini dari istana yang mulia putri."
__ADS_1
"Dari istana yang mulia putri?"
"Benar, yang mulia."
"Apakah dia memakai pakaian pelayan istana itu?"
"Maafkan hamba yang mulia, hamba tidak ingat pakaian yang dia kenakan."
Permaisuri An menatap kotak yang terbungkus kain merah itu, "Buka itu, aku ingin melihat makanan apa di dalamnya."
"Baik yang mulia."
Pelayan itu meletakkan kotak yang dia bawa di atas meja lalu membukanya. Setelah terbuka, pelayan itu mundur beberapa langkah.
Permaisuri An melihat makanan yang ada di atas meja, lalu mengambil makanan itu dengan sumpit.
"Ambilkan aku kotak berwarna coklak itu." Ucap permaisuri An seraya menunjuk sebuah kotak yang ada di atas meja yang lain.
Pelayan itu berjalan lalu mengambil kotak yang permaisuri An maksud, dan memberikannya pada permaisuri An.
Permaisuri An membuka kotak itu dan mengambil sebuah jarum perak sebesar sendok, lalu mengaduk makanan itu dengan jarum yang ada di tangannya.
Dan hanya hitungan detik, jarum itu berubah menjadi hitam pekat.
Pelayan yang berdiri tidak jauh dari permaisuri An terkejut saat melihat perubahan warna pada jarum yang ada di tangan permaisuri An.
Bruuuuk
"Yang mulia, ampuni hamba. Hamba sunggu tidak mengetahui siapa pelayan yang membawa kotak makanan itu untuk anda." Ucap pelayan itu seraya berlutut di depan permaisuri An.
"Aku bisa mengerti , jika kau pasti tidak tahu siapa dia. Tetapi sepertinya seseorang ingin sekali melihatku mati dengan cepat."
Pangeran Rong yang baru saja berjalan dari ruang samping terdiam melihat seorang pelayan tengah berlutut di depan permaisurinya.
"Apa yang terjadi?" Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An menatap pangeran Rong, "Seseorang menginginkan saya dan anak ini mati mengenaskan, yang mulia."
Kedua mata pangeran Rong membulat, "Apa! Siapa yang berani melakukannya padamu?"
"Saya tidak tahu, pelayan juga tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi jika di lihat, racun ini benar-benar sangat bagus."
Pangeran Rong melihat makanan yang ada di depan permaisuri An, lalu mengambil dan menciumnya.
"Aroma ini, sepertinya aku pernah mencium aroma seperti ini." Ucap pangeran Rong.
"Yang mulia pernah mencium aroma itu dimana?"
"Di perbatasan uta...."
Pangeran Rong terdiam, karena dia mengingat sesuatu.
"Yang mulia." Ucap permaisuri An.
"Xiao Bo!" Seru pangeran Rong.
Xiao Bo yang berada di luar kamar segera masuk ke dalam setelah mendengar suara keras pangeran Rong.
"Hamba disini, yang mulia."
"Bawa Mei Huang kemari. Jika dia tidak mau, seret dia."
"Mei Huang, maksud yang mulia adalah kepala pasukan di perbatasan utara?"
"Benar, kemungkinan saat ini dia belum pergi ke perbatasan lagi setelah beberapa hari yang lalu kembali. Jadi bawa dia kemari."
__ADS_1
"Baik, yang mulia."
Xiao Bo segera keluar dari kamar pangeran Rong, sementara permaisuri An yang tidak mengetahui apapun hanya diam melihat interaksi mereka berdua.