Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #97


__ADS_3

Setelah meletakan keranjang di dalam aliran sungai, permaisuri An berjalan menghampiri pangeran Rong.


"Apa kau sudah selesai meletakan keranjang-keranjang itu?" Ucap pangeran Rong.


"Iya, kita hanya tinggal menunggu ikannya masuk ke dalam kerannjang saja."


"Itu bagus, karena aku telah mendapatkan beberapa udang besar disini."


Pangeran Rong menunjukan 6 udang yang dia dapatkan dari balik bebatuan yang ada di dalam sungai itu.


"Lebih baik kita ke atas, saya harus mencari daun Yim." Ucap permaisuri An.


"Apa kau akan mencampurkan daun Yim itu dengan ikan yang kita dapatkan?"


"Itu benar, daun Yim bisa menghilangkan bau yang tidak enak dari ikan, dan juga akan membuat daging ikan teeasa lebih lembut."


"Baiklah, aku akan ikut mencari daun Yim itu."


"Apa tidak apa-apa? Kau sedang mencari udang."


"Tidak apa-apa, biarkan udangnya berkumpul dulu. Setelah iru aku bisa menangkap mereka lagi nanti."


"Baiklah, lagi pula sepertinya udang yang kau dapat sudah cukup."


"Benarkah? Bukankah kau harus makan lebih banyak? Karena itu aku mencarikan udahngyang banyak untuk mu."


"Tidak, saya tidak bisa makan terlalu banyak."


"Tetapi kau harus, karena aku ingin setelah kita kembali dari sini. Kau memiliki seorang bayi di dalam perut mu ini."


Kedua mata permaisuri An membulat seketika.


"Kau.... Apa.. Apa yang kau katakan?" Ucap permaisuri An dengan gugup.


Pangeran Rong tersenyum, "Kita telah menikah. Tentu saja kita harus memiliki seorang anak."


"Tetapi, bukankah ini..... Terlalu cepat?"


"Tidak, ini tidak terlalu cepat. Karena aku ingin seseorang memanggil ku dengan sebutan ayah."


Permaisuri An tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat ini pangeran Rong sangat menantikan dirinya hamil. Dan sebagai istri, dia tentu ingin mengabulkan permintaan suaminya.


Pangeran Rong berjalan menghampiri permaisuri An, "Dimana kita akan mencari daun yim itu?"


"Mari kita pergi kesana, dan mencari disana."


"Baiklah."

__ADS_1


Permaisuri An dan pangeran Rong pergi ke arah yang di tunjuk oleh permaisuri An.


"Lihat, itu daun yim yang kita cari." Ucap pangeran Rong.


"Benar, dan kita cukup beruntung karena di samping pohon daun yim, ada pohon buah persik liar. Kita bisa memetik beberapa persik liar itu."


"Kau benar, ada beberapa buah yang sudah terlihat matang di atas sana. Akubakan mengambilkannya untuk mu."


"Kau tidak perlu memanjat pohon itu, cukup menggunakan batang kayu saja."


"Tidak, buah persiknya pasti akan rusak jika jatuh di atas tanah, karena kita memetiknya dengan sebatang kayu."


"Hanya akan rusak sedikit. Pohon persik liar ini cukup kecil, jika kau memanjatnya, aku khawatir kau akan terjatuh."


Pangeran Rong menatap permaisuri An, "Apa kau begitu mengkhawatirkan ku?"


Permaisuri An tersadar dengan apa yang telah dia ucapkan, lalu mengangguk dengan pelan.


Pangeran Rong tersenyum melihat itu, dia tentu merasa sangat bahagia karena di khawatirkan oleh permaisurinya.


"Baiklah, kita akan memetiknya dengan kayu. Aku tidak ingin permaisuriku ini akan menangis jika aku terjatuh."


"Li."


"Baiklah, baiklah. Mari kita cari batang kayunya terlebih dulu untuk memetik buah persik itu."


"Iya."


Setelah mendapatkan batang kayu, pangeran Rong mencoba memetik buah persik yang tidak begitu tinggi yang ada di atasnya.


Buuukh


Buuukh


Buuukh


Buah persik liar berjatuham di atas tanah, dan setelah merasa cukup. Pangeran Rong dan permaisuri mengambil buah persik liar dan daun yim itu.


"Baik, kita sudah mendapatkan daun yim dan juga buah persik liar. Sekarang kita harus kembali ke sungai untuk melihat keranjang yang kau pasang tadi." Ucap pangeran Rong.


"Iya."


Permaisuri An dan pangeran Rong berjalan menuju sungai, untuk melihat hasil dari apa yang permaisuri An lakukan sebelum mereka pergi.


"Lihat! Kita mendapatkan 2 ekor ikan yang cukup besar, dan juga beberapa udang." Ucap pangeran Rong setelah mengambil keranjang dari sungai itu.


Permaisuri An tersenyum, "Itu bagus, kita bisa memakannya siang dan malam ini."

__ADS_1


Pangeran Rong berjalan menghampiri permaisuri An, "Benar, dan kita masih mempunyai daging kelinci asap juga tanaman yang kita petik kemarin."


"Iya, jika begitu kita kembali sekarang. Dan segera meletakan ikan itu dalam wadah berisi air, agar tetap hidup."


"Iya."


Sepasang pangeran dan permaisuri itu pun berjalan menuju paviliun yang berjarak tidak jauh dari mereka berada.


"Kau duduk dan beristirahatlah, aku yang akan mengurus semuanya." Ucap pangeran Rong.


"Tidak perlu, aku juga akan melakukannya. Daun yim ini akan terasa pahit jika tidak di rendam dalam air garam terlebih dulu."


"Benarkah?"


Permaisuri An mengangguk, "Iya, kau tidak begitu banyak mengetahui hal ini. Jadi biarkan saya membantu."


"Aku tidak ingin kau kelelahan."


"Jangan khawatir, saya tidak akan kelelahan. Saya sudah melewati banyak hal, hanya mengurus ini. Itu tidak akan menjadi hal yang lelah untuk saya."


Pangeran Rong mengangguk, "Baiklah jika begitu."


Permaisuri An lalu memetik daun yim yang masih ada pada rantingnya, kemudian mencuci bersih daun yim itu dan merendamnya di dalam sebuah wadah dengan garam.


Sementara itu pangeran Rong tengah mengurus salah satu ikan dan beberapa udang yang mereka dapatkan dari sungai.


Keduanya terlihat sibuk di dalam dapur yang tidak begitu besar itu. Permaisuri An yang dulu sudah terbiasa hidup sendirian di perguruan, dan telah melakukan banyak tentu saja tanpa kesulitan dia mengolah bahan-bahan makanana itu.


"Apakah ikan dan udangnya telah selesai?" Ucap permaisuri An.


"Iya, aku telah membersihkan semuanya."


"Baik, saya akan memberikan garam dan juga yang lainnya."


Pangeran Rong hanya bisa melihat bagaimana permaisuri An melakukan semuanya dengan begitu cepat dan sangat ahli. Dia seolah sedang melihat seorang koki yang tengah memasak saat ini.


"Lebih baik sekarang kau mandi, pakaian yang kau kenakan cukup basah." Ucap permaisuri An seraya menatap pangeran Rong.


"Seharusnya aku yang melakukan semuanya, karena aku telah berjanji jika aku akan membuat makanan untuk mu."


"Kau adalah seorang pangeran, dan juga laki-laki. Kau sudah memberi saya bahan makanan yang banyak, jadi saya hanya melakukan sisa pekerjaan yang lainnya."


"Terima kasih, kau memang wanita yang pintar dan berbakat. Aku benar-benar begitu beruntung memiliki mu."


"Baik, berhentilah sekarang. Kau harus mengganti pakaian mu."


Pangeran Rong mengangguk, dan dengan menurut dia pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Entah sejak kapan permaisuri An menjadi sedikit lebih berani kepada pangeran Rong, tetapi itu tidak membuat pangeran Rong marah. Namun sebaliknya, dia sangat bahagia karena permaisurinya begitu perhatian terdahapnya.


__ADS_2