Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #94


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa?" Ucap pangeran Rong dengan cemas.


"Saya tidak apa-apa, yang mulia."


Pangeran Rong tersenyum, lalu mencium pipi permaisuri An. Dan seketika membuat wajah permaisuri An menjadi berwarna merah muda.


"Yang mulia."


Pangeran Rong memeluk permaisuri An lagi, "Aku benar-benar tidak ingin melepaskan mu. Bahkan jika aku harus melepaskan pasukan naga merah ku, maka aku akan melakukannya selama itu membuatmu terus denganku."


"Yang mulia, apa yang anda katakan? Yang mulia adalah dewa perang negara ini. Dan sangat berpengaruh bagi negara Chao kami."


"Mereka juga mengetahui hal itu, tetapi mereka masih berani mendesak ku dan juga ayah kaisar. Seolah mereka tidak takut jika aku akan menghukum mereka semua."


"Tetapi negara ini sangat membutuhkan yang mulia."


"Dan aku membutuhkan mu."


Permaisuri An terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada pangeran Rong saat ini. Sebab detak jantungnya sudah berbunyi begitu keras.


Kereta kuda yang mereka naiki berhenti di sebuah rumah yang terbuat dari kayu.


"Sepertinya kita telah sampai, kau tetaplah disini dulu. Aku akan membantumu untuk turun dari kereta ini." Ucap pangeran Rong.


"Baik."


Pangeran Rong tersenyum melihat wajah permaisurinya yang merona akibat perkataannya itu. Dia lalu turun dari kereta kuda lebih dulu.


"Kemarilah, aku akan membantu mu turun." Ucap pangeran Rong yang sudah berada di luar kereta.


Permaisuri An lalu keluar dari dalam kereta, dan di bantu oleh pangeran Rong, dia turun dari kereta kuda itu.


"Apakah ini paviliun milik mu, yang mulia?" Ucap permaisuri An seraya menatap sebuah paviliun yang terbuat dari kayu itu.


"Benar, aku membuatnya dari kayu terbaik dan di atas tanah terbaik di dalam hutan ini."


"Paviliun ini cukup luas, dan anda membangunnya dengan sangat bagus."


"Kemari, kita lihat bagian dalam paviliun ini."


Pangeran Rong menggandeng tangan permaisuri An, lalu mereka berjalan memasuki paviliun kayu itu.


Kraaaaak


Pangeran Rong membuka pintu utama paviliun, dan mereka bisa melihat aula yang tidak begitu besar, di sebelah kanan terlihat ada dua kamar, sementara di sebelah kiri ada sebuah dapur dan juga ruangan yang menembus ke arah luar.


"Kita akan berada disini selama beberapa hari, dan aku ingin selama kita disini kau tidak memikirkan apa yang mereka lakukan di dalam istana." Ucap pangeran Rong.


Permaisuri An menoleh, lalu mengangguk.

__ADS_1


Pangeran Rong memeluk permaisuri An, tidak pernah satu kali pun dia merasakan hal seperti ini terhadap wanita lain. Jadi dia benar-benar ingin membuat permaisuri An selalu bahagia berada di sampingnya.


"Malam ini aku akan membuatkan mu sup daging kelinci, dan beberapa tanaman yang cukup enak di makan dalam hutan ini." Ucap pangeran Rong lagi.


"Anda akan memasak, yang mulia?"


"Tentu saja, selama kita berada disini. Aku akan membuat makanan untukmu."


Permaisuri An tersenyum, karena tidak menyangka jika seorang pangeran dan juga dewa perang akan membuatkan makanan untuknya.


Semua barang-barang telah selesai di bereskan, dan mereka yang membawa kereta pun kembali ke ibu kota. Mer akan datang untuk menjemput pangeran Rong juga permaisuri An beberapa hari lagi.


"Sekarang bergantilah, aku akan mengajak mu untuk menangkap kelinci." Ucap pangeran Rong.


"Menangkap kelinci?"


"Benar, kita harus menangkap kelinci terlebih dulu. Setelah itu, aku akan memasaknya untuk makan malam kita."


Permaisuri An sekarang mengerti, kenapa selain ingin bersama dengannya saja, pangeran Rong juga ingin menikmati kehidupan di alam bebas bersama dengan dirinya, tanpa ada orang yang mengganggu dan melihat mereka.


"Baik, saya akan berganti pakaian terlebih dulu." Ucap permaisuri An.


"Iya. Kamar kita di sebelah sana."


Permaisuri An melihat kamar yang di tunjuk oleh pangeran Rong.


"Iya."


Setelah beberapa saat, permaisuri An yang telah berganti pakaian keluar.



Pangeran Rong yang melihat permaisuri An telah berganti pakaian tersenyum.


"Apakah semua pakaian yang Feng Ying siapkan, yang mulia yang memintanya?" Ucap permaisuri An.


"Benar, itu karena kita akan tinggal disini. Dan aku merasa kau akan sangat kesulitan jika memakai pakaian yang sebelumnya."


Permaisuri An tersenyum, "Terima kasih karena telah menyiapkannya."


"Kau adalah istriku, sudah seharusnya aku melakukan hal itu padamu."


Permaisuri An mengangguk.


"Baiklah, kita pergi sekarang sebelum hari semakin gelap." Ucap pangeran Rong.


"Baik."


Pangeran Rong dan permaisuri An berjalan keluar dari paviliun, lalu pergi ke dalam hutan untuk mencari kelinci dan juga tanaman liar yang di katakan oleh pangeran Rong tadi.

__ADS_1


Kedua orang itu seperti rakyat biasa yang tinggal di dalam hutan, mereka bahkan mencari bahan makanan untuk mereka makan sendiri disana. Karena barang-barang yang mereka bawa hanyalah pakaian, dan alat untuk memasak makanan saja.


"Kau tidak apa-apa, jika kita hidup seperti ini dalam beberapa hari ke depan?" Ucap pangeran Rong.


"Tidak apa-apa, saya merasa senang karena bisa tinggal di dalam hutan seperti ini. Sangat tenang."


"Baguslah jika seperti itu."


Pangeran Rong dan permaisuri An terus berjalan agak menjauh dari paviliun pangeran Rong.


"Yang mulia, mohon tunggu sebentar." Ucap permaisuri An.


"Ada apa?"


"Tunggu, saya melihat sesuatu disana."


Permaisuri An berjalan beberapa langkah meninggalkan pangeran Rong, da berjongkok di depan sebuah tumbuhan.


Pangeran Rong yang penasaran pun mendekati permaisuri An, " Ada apa Lin'er?"


"Saya menemukan tanaman yang bisa kita makan, dan ini bisa kita simpan dan makan juga besok, karena tanaman ini tidak akan layu selama 3 hari, meski kita telah memetiknya."


"Benarkah? Aku baru mengetahuinya."


Permaisuri An tersenyum, lalu mematahkan beberapa ranting tanaman itu.


"Apa kau bisa membuat sesuatu dari daun tanaman ini, Li?" Ucap permaisuri An pada pangeran Rong.


"Aku baru mengetahui tentang tanaman ini, tetapi sepertinya aku bisa."


"Tanaman ini cukup sulit di masak."


"Sungguh? Jika benar, sepertinya malam ini aku akan mencoba menikmati makanan yang permaisuri An masak."


Permaisuri An tersenyum lalu mengangguk, "Kita harus mencari bunga Pum lebih dulu, lalu memasaknya bersama agar rasa daun ini akan semakin enak saat di makan."


"Selain pintar dalam pengobatan, mengerti berbagai racun, juga pandai dalam berperang. Kau juga memiliki bakat memasak yang sangat baik. Aku benar-benar beruntung menikah dengan permaisuri yang sangat berbakat ini."


"Saya hanya tahu sedikit tentang semua hal itu, dan saya juga masih perlu mempelajari beberapa hal lainnya."


Pangeran Rong mengangguk, "Baik, kau bisa memperlajari apapun. Selama itu tidak berbahaya untukmu."


"Baik, terima kasih."


"Sekarang kita lebih baik kembali mencari kelinci dan bunga Pum yang kau maksud tadi, karena sepertinya hari ini akan hujan."


"Kelinci? Kau bisa menangkap kelinci yang ada disana."


Permaisuri An menunjuk kelinci yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Baiklah, kau tetap disini. Aku akan menangkap kelinci itu untuk nanti malam." Ucap pangeran Rong.


Permaisuri An mengangguk, "Baik."


__ADS_2