
Beberapa bulan kemudian, suasana di istana pangeran Rong dan permaisuri An sangat ribut dan juga cukup menegangkan. Sebab hari ini permaisuri An akan melahirkan.
Dan tentu saja itu membuat semua anggota kerajaan panik, sebab itu adalah kali pertama seorang bayi lahir setelah sekian lama, dan saat ini keluarga Xiao juga telah berada disana.
"Apakah permaisuri An akan baik-baik saja?" Ucap nyonya Xiao.
"Nyonya Xiao, tenangkan diri anda. Dua tabib istana telah masuk ke dalam kamar permaisuri An saat ini." Ucap putri Xiu Ying.
Nyonya Xiao yang telah benar-benar menjadikan permaisuri An sebagai putrinya, tentu sangat khawatir. Sebab sebelumnya permaisuri An mengeluarkan cairan dari dalam pakaian yang dia kenakan.
(Pecah ketuban).
Semua orang menunggu di luar kamar dengan perasaan cemas, begitu juga dengan pangeran Rong yang sejak tadi terdiam karena merasa takut, dan juga khawatir akan keselamatan permaisuri An juga anak mereka.
"Tenanglah, aku yakin jika permaisuri An dan anak kalian akan baik-baik saja." Ucap pangeran ke 3 pada pangeran Rong.
"Katakan padaku, bagaimana aku bisa tenang? Ini kali pertama aku merasakan ketakutan seperti ini, bahkan puluhan kali berperang aku sama sekali tidak pernah mengalaminya."
"Aku bisa mengerti itu, tetapi dua tabib istana terbaik sedang membantu permaisuri An. Terlebih sebelumnya permaisuri An selalu menjaga kondisi tubuh dan kehamilannya dengan baik."
Pangeran Rong hanya bisa diam seraya menatap pintu kamarnya yang masih tertutup dengan erat. Sementara di dalam hanya ada Feng Ying dan bibi Hong yang membantu kedua tabib istana.
Kraaaaak
Pintu kamar terbuka, Feng Ying keluar dari dalam.
"Nyonya Xiao, bisakah anda membantu saya untuk melakukan sesuatu?" Ucap Feng Ying.
Nyonya Xiao mengangguk beberapa kali dengan cepat, "Tentu, tentu saja. Aku bisa melakukan apapun untuk permaisuri An dan anaknya."
"Tolong buatkan sup ini, dan tambahkan bahan ini di dalamnya. Anda pernah melahirkan, pasti anda mengerti bahan ini."
Feng Ying memberikan selembar kertas pada nyonya Xiao, yang langsung di ambil dan di baca olehnya.
"Tentu aku tahu, aku akan segera melakukannya." Ucap nyonya Xiao.
"Baik, terima kasih nyonya Xiao."
Nyonya Xiao mengangguk, setelah itu Feng Ying segera kembali masuk ke dalam kamar.
"Ming Yu, ikut dengan ku. Dan bantu aku untuk membuat dan menjaga apinya nanti." Ucap nyonya Xiao.
"Baik ibu."
Nyonya Xiao dan tuan muda Xiao bergegas meninggalkan istana pangeran Rong dan pergi ke toko obat milik permaisuri An untuk menyiapkan semua bahan sup itu.
Melihat itu, pangeran Rong merasa semakin khawatir. Tubuhnya gemetar melihat interaksi mereka bertiga yang menunjukan wajah yang sulit di artikan.
"Bagaimana keadaan permaisuri An, apakah dia sudah melahirkan?" Ucap ratu yang baru saja tiba dengan kaisar.
"Belum ibu ratu, dua tabib istana masih membantu permaisuri An." Ucap putri Xiu Ying.
Ratu melihat pangeran Rong yang berdiri dengan wajah khawatirnya, dan baru kali ini ratu melihat wajah pangeran Rong yang seperti itu.
"Pangeran Rong." Ucap ratu.
"Ibu ratu."
"Tenangkan dirimu, permaisuri An adalah wanita yang kuat. Aku yakin dia dan anak kalian akan baik-baik saja."
"Terima kasih, ibu ratu."
Ratu mengangguk lalu menatap pintu kamar yang berada di depannya.
Semua orang berusaha menutupi rasa khawatir mereka, karena mereka tidak ingin pangeran Rong semakin menjadi khawatir pada permaisuri An.
Kraaaaak
Pintu kembali terbuka, dan Feng Ying kembali keluar. Dia berjalan dengan cepat seolah tidak peduli jika dia telah melewati semua anggota kerajaan yang seharusnya dia hormati, sebab saat ini permaisuri An dan anaknya menjadi hal yang paling penting baginya.
Feng Ying berjalan dengan cepat ke arah dapur untuk mengambil beberapa barang, lalu kembali dengan barang-barang yang ada di tangannya.
"Kenapa dia membutuhkan semua itu?" Ucap putri Xiu Ying.
"Mungkin semua itu di butuhkan oleh tabib istana." Ucap ratu.
__ADS_1
Putri Xiu Ying yang tidak pernah melahirkan hanya bisa mengangguk mendengar perkataan ratu.
20 menit kemudian, nyonya dan tuan muda Xiao kembali dengan membawa bahan-bahan sup dan langsung menuju dapur istana pangeran Rong.
"Apa yang akan nyonya dan tuan muda Xiao itu lakukan?" Ucap kaisar.
"Pelayan permaisuri An meminta nyonya Xiao menyiapkan sup, dan hanya nyonya Xiao yang sepertinya mengerti sup yang akan di buat." Ucap putri Xiu Ying.
"Sepertinya ini adalah kelahiran yang cukup sulit."
"Yang mulia, mohon jangan berkata demikian." Ucap ratu.
"Aku masih mengingat bagaimana dulu ketika kau dan juga para selir melahirkan."
"Saya mengerti, tetapi...."
Owe owe owe
Suara tangisan bayi terdengar sangat keras dari dalam kamar permaisuri An. Dan seketika semua orang yang berada di luar kamar merasa lega dan bahagia.
Pangeran Rong sendiri yang mendengar itu merasa tubuhnya merinding dan seolah ingin menangis.
"Sepertinya saat ini kau telah menjadi ayah sepenuhnya." Ucap putra mahkota.
Pangeran Rong hanya mengangguk, sebab saat ini dia tidak bisa mengatakan apapun.
Kraaaaaak
Pintu kamar terbuka, "Maaf, dimana nyonya Xiao. Saya membutuhkannya segera." Ucap Feng Ying.
"Apa yang terjadi pada permaisuri An?" Ucap pangeran Rong dengan cemas.
"Yang mulia.... Yang mulia permaisuri An tidak sadarkan diri setelah melahirkan."
"Apa?" Ucap semua orang secara bersamaan.
"Ini semua di luar kendali kami, yang mulia. Kondisi tubuh permaisuri An tidak cukup baik beberapa hari ini. Jadi.... Jadi....."
Pangeran Rong yang tidak bisa lagi mendengar ucapan Feng Ying, segera berjalan dan masuk ke dalan kamarnya.
"Melakukan yang terbaik? Tetapi kenapa permaisuri An tidak sadarkan diri? Apa kalian ingin aku memenggaal kepala kalian semua!" Seru pangeran Rong.
"Mohon ampuni kami, yang mulia."
Kedua tabib istana itu berlutut dengan cepat di depan pangeran Rong.
"Mohon ampuni kami, yang mulia." Ucap kedua tabib secara bersamaan.
"Li, hentikan! Biarkan tabib istana menolong permaisuri An terlebih dulu." Ucap putra mahkota yang masuk ke dalam kamar.
"Tetapi kakak pertama, saat ini permaisuri An tidak sadarkan diri."
"Aku mengerti, tetapi jika kau melakukan hal ini. Mereka tidak akan bisa menolong permaisuri An dengan baik."
Pangeran Rong menatap kedua tabib istana itu dengan tajam.
Nyonya Xiao yang baru saja masuk ke dalam kamar permaisuri An terkejut melihat dua tabib istana yang tengah berlutut.
"Ada apa? Apa yang telah terjadi? "Ucap nyonya Xiao.
"Yang mulia permaisuri An tiba-tiba tidak sadarkan diri, setelah melahirkan pangeran kecil." Ucap Feng Ying.
Mendengar itu, nyonya Xiao segera berjalan mendekati permaisuri An yang terbaring di atas tempat tidurnya.
"Bagaimana bisa kau seperti ibumu saat melahirkan mu dulu, permaisuri An?" Ucap nyonya Xiao.
"Bibi Xiao, apa maksud bibi?" Ucap pangeran Rong.
"Maafkan saya, yang mulia. Tetapi bisakah anda dan yang lain keluar terlebih dulu? Dan hanya Feng Ying juga bibi Hong yang berada di dalam."
"Nyonya Xiao, apa yang anda katakan? Kau...."
"Saya mohon, yang mulia."
Mendengar ucapan nyonya Xiao yang begitu serius, putra mahkota segera membawa pangeran Rong keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Lebih baik kita keluar terlebih dulu." Ucap putra mahkota.
Pangeran Rong hanya bisa menuruti putra mahkota, dan terpaksa keluar dsri kamarnya.
Kedua tabib istana juga ikut keluar, karena tidak di perbolehkan berada di dalam kamar itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada permaisuri An saat ini?" Ucap putri Xiu Ying.
"Sepertinya ini merupakan sesuatu yang hanya di ketahui oleh keturunan keluarga Xia, dan kebetulan ketika Wei Yi melahirkan permaisuri An, nyonya Xiao berada disana dan membantunya melahirkan, karena saat itu tabib terbaik tidak mereka temukan." Ucap ratu.
Pangeran Rong yang tengah merasa sangat khawatir hanya bisa diam, dan terus menatap pintu kamarnya dengan cemas.
30 menit kemudian, Feng Ying keluar dengan membawa bayi laki-laki dalam gendongannya.
"Yang mulia, pangeran kecil telah lahir dengan selamat dan sempurna. Selamat untuk yang mulia." Ucap Feng Ying.
Pangeran Rong dan semua yang ada disana menatap bayi kecil yang sangat menggemaskan dan tampan itu dengan haru juga bahagia.
"Lihatlah, hidungnya sangat mirip seperti milik mu." Ucap ratu pada pangeran Rong.
Pangeran Rong mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi putranya dengan sangat hati-hati.
"Dia.... Dia ternyata seorang putra. Selama ini aku tidak pernah tahu, karena permaisuri An selalu merahasiakannya." Ucap pangeran Rong.
Semua orang sempat terkejut mendengar itu, namun setelah mereka ingat kejadian ketika keluarga Xia datang mengunjungi permaisuri An, mereka menjadi mengerti alasan permaisuri An merahasiakan hal itu dari semuanya, termasuk dari pangeran Rong.
"Lalu, bagaimana keadaan permaisuri An saat ini?" Ucap ratu pada Feng Ying.
"Saat ini nyonya Xiao masih membantu yang mulia permaisuri An."
"Apakah dia masih belum sadarkan diri?"
"Sudah, yang mulia. Bibi Hong dan nyonya Xiao telah berhasil membuat yang mulia permaisuri An kembali sadar."
"Baguslah jika begitu, aku sangat mengkhawatirkannya."
"Hamba juga sangat khawatir, karena setelah melahirkan tiba-tiba yang mulia permaisuri tidak sadarkan diri, begitu juga dengan tabib istana yang sedang membersihkan darah yang mulia."
Ratu dan putri Xiu Ying mengangguk.
Tak berselang lama, nyonya Xiao keluar dari dalam kamar permaisuri An.
"Nyonya Xiao, aku benar-benar berhutang budi padamu. Kau telah menyelamatkan permaisuri An kami." Ucap ratu seraya memeluk nyonya Xiao.
"Yang mulia, anda tidak perlu melakukan itu kepada saya. Permaisuri An adalah putri saya, jadi tentu saya akan melakukan apapun untuknya."
(Maksudnya telah di anggap anak oleh nyonya Xiao)
Ratu mengangguk lalu melepaskan pelukannya.
"Saat ini permaisuri An sedang beristirahat, saya dan bibi Hong telah membersihkan semuanya. Permaisuri An juga telah meminum sup yang saya buat." Ucap nyonya Xiao lagi.
"Bibi Xiao, terima kasih karena telah menyelamatkan permaisuri An." Ucap pangeran Rong seraya membungkukkan tubuhnya.
Nyonya Xiao yang melihat itu, menegakan kembali tubuh pangeran Rong lalu memeluknya.
"Jangan salahkan tabib istana, mereka tidak mengetahui rahasia keluarga Xia. Jadi, mohon ampuni mereka. Ini demi permaisuri An." Ucap nyonya Xiao.
Pangeran Rong hanya mengangguk, sebab dia memang sempat geram terhadap dua tabib istana yang tidak bisa berbuat apa-apa pada permaisuri An.
"Saya akan kembali setelah berganti pakaian, dan juga membuatkan sup lagi untuk permaisuri An minum nanti." Ucap nyonya Xiao setelah memeluk pangeran Rong.
"Baik, terima kasih nyonya Xiao." Ucap ratu.
Nyonya Xiao mengangguk seraya tersenyum, hari ini dia masih tidak menyangka jika dia akan melihat kembali kejadian lebih dari 15 tahun yang lalu, dan bahkan menolong anak yang dulu dia tolong, ketika dia lahir di dunia ini. Yakni permaisuri An.
Pangeran Rong dan yang lain masuk ke dalam kamar, dan melihat permaisuri An yang terbaring dengan tenang di atas tempat tidur, setelah berjuang melahirkan pangeran kecil yang sangat tampan.
Kelahiran pangeran di tengah-tengah kerajaan membuat suasana istana begitu bahagia, dan kaisar pun mengadakan pesta seperti ketika permaisuri An atau putri Xiu Ying hamil.
Permaisuri An dan pangeran Rong merasa kehidupan mereka sempurna, setelah mereka memiliki seorang pangeran kecil di tengah-tengah kebahagiaan mereka.
Dan setelah beberapa bulan, permaisuri An juga pangeran Rong memutuskan untuk kembali tinggal di paviliun milik permaisuri An yang berada di luar istana, seperti saat setelah meraka menikah dan menjalani kehidupan mereka seperti sebelumnya bersama dengan pangeran kecil mereka.
...____------- END -------____...
__ADS_1