Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #69


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua ritual pernikahan, Lin Yao di bantu oleh Feng Ying berjalan menuju istana pangeran Rong yang telah di hias berbagai hiasan warna merah.


Feng Ying dengan hati-hati membantu Lin Yao duduk di atas tempat tidur, dan kemudian Feng Ying keluar untuk menunggu pangeran Rong datang, di depan pintu kamar.


Lin Yao yang menunggu di dalam kamar pangeran Rong, terus menunduk sambil memainkan jari-jarinya.


"Aku belum siap untuk malam ini, ini merupakan hal yang pertama bagiku."


Lin Yao terus merasa khawatir dan gugup, sebagai seorang wanita yang sebelumnya tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain dalam dua kehidupan. Tentu dia akan merasa sangat gugup dan juga takut.


Terlebih laki-laki yang telah menjadi suaminya itu adalah seorang yang sangat berpengaruh di negara, juga mereka belum begitu mengenal dan dekat satu sama lain.


Kraaaaaak


Pintu kamar terbuka, dan suara langkah kaki terdengar. Saat ini jantung Lin Yao begitu berdetak dengan cepat dan juga tangannya sedikit gemetar.


Sepasang sepatu berhenti tepat di depan Lin Yao, dan dengan sebuah tongkat kecil seseorang membuka kain yang sejak tadi menutupi wajah Lin Yao itu.



Kedua mata pangeran Rong menatap wajah Lin Yao yang telah menjadi istrinya itu, wajah yang telah begitu membuat pangeran Rong terpana.


"Ternyata kau memang cantik, dan apa yang aku bayangkan saat kau masih memakai kain penutup ini, tidak lebih cantik darimu yang sesungguhnya." Ucap pangeran Rong.


Lin Yao hanya diam, karena dia masih merasa gugup.


Pangeran Rong yang mengerti hal itu mengulurkan tangannya, "Kemarilah, kita nikmati siang ini sambil melihat keluar jendela kamar ku."


Lin Yao mendongakkan kepalanya, dan kedua mata mereja bertemu.



Pangeran Rong tersenyum lalu mengangguk, "Lin'er."


Lin Yao mengangguk, dan dengan sedikit ragu Lin Yao meletakan tangannya di atas tangan pangeran Rong lalu berdiri dari tempat tidur.


Pangeran Rong membawa Lin Yao ke arah jendela kamarnya yang cukup besar.


"Aku telah berjanji pada ibumu, jika aku akan mengikuti kemanapun kau ingin tinggal. Jadi, aku ingin kita menikmati waktu kita beberapa hari di dalam istana ini." Ucap pangeran Rong.


"Ya... Yang mulia, jika anda...."


"Panggil saja aku Li, seperti anggota kerajaan lainnya memanggil ku." Ucap pangeran Rong dengan cepat, saat mendengar Lin Yao memanggilnya yang mulia.

__ADS_1


"Tetapi..."


Pangeran Rong menggenggam tangan Lin Yao dan menatapnya, "Lin'er, kau telah menjadi istriku. Aku tidak ingin kita memiliki jarak yang begitu jauh, terlebih kita akan tinggal di luar istana."


Lin Yao terdiam, mungkin apa yang pangeran Rong katakan benar. Hanya saja dia tidak mungkin melakukan itu, meskipun mereka telah menikah, karena itu tidak bisa menghapus jika pangeran Rong adalah seorang pangeran yang harus di hormati.


"Yang mulia, saat ini anda memang telah menjadi suami saya. Tetapi anda merupakan salah satu pangeran dari negara ini, saya tentu tidak ingin mendengar orang lain berkata, jika yang mulia membiarkan saya berlaku tidak hormat kepada yang mulia, dengan memanggil nama anda secara langsung."


Pangeran Rong tersenyum mendengar jawaban Lin Yao yang memuaskan baginya, karena hanya wanita yang rendah hati dan tidak sombong, yang akan terus memikirkan kebaikan bagi dirinya, suami dan keluarga kedua belah pihak.


"Baiklah. Tetapi jika hanya ada kita berdua seperti ini, kau harus memanggil namaku, aku tidak ingin mendengar kau memanggil ku dengan sebutan yang mulia lagi."Ucap pangeran Rong.


"Baik yang mulia."


Pangeran mengerutkan keningnya mendengar Lin Yao masih memanggilnya yang mulia.


"Ba.... Baik,.... Li." Ucap Lin Yao mengulangi ucapannya.


Pangeran Rong menarik tubuh Lin Yao dan memeluknya dengan erat, setelah Lin Yao memanggil namanya secara langsung.


Lin Yao yang baru pertama kali di peluk oleh seorang laki-laki hanya bisa mematung, dan kedua matanya terbuka lebar.


"Aku sangat bahagia menikahi gadis kecil yang dulu selalu bermain denganku di dalam istana ini, aku sangat bahagia karena menikahi bayi kecil yang dulu begitu menggemaskan, dan aku sangat bahagia karena sejak kita masih kecil, langit telah menjodohkan kita berdua." Ucap pangeran Rong.


Pangeran Rong melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Lin Yao dengan lekat lalu tersenyum.


"Li, apakah.... Luka yang kau miliki begitu sakit, dulu?" Ucap Lin Yao tanpa sadar seraya tangannya menyentuh topeng yang pangeran Rong kenakan selama ini.


"Apa kau ingin melihatnya?"


Lin Yao menggelengkan kepalanya, "Tidak, saya yakin kau pasti tidak ingin orang lain tahu. Karena itu...."


"Aku bisa membukanya, tetapi hanya saat kita berdua saja."


"...... Li."


Pangeran Rong merasa sangat bahagia setiap Lin Yao memanggil namanya secara langsung seperti itu.


"Aku akan membukanya malam ini, tetapi aku harap kau tidak akan terkejut saat kau melihat wajah ku ini." Ucap pangeran Rong.


Mendengar kata 'malam ini' darah Lin Yao seolah berdesir, dan jantungnya kembali berdetak dengan cepat.


"Malam..... Malam ini...."

__ADS_1


Pangeran Rong menyentuh pipi Lin Yao dengan lembut.


"Aku tidak akan menyakiti mu, karena kau telah menjadi istriku."


Lin Yao hanya bisa mengangguk, dia tahu jika saat ini dia telah menjadi istri pangeran Rong. Dan kewajiban istri adalah membuat suaminya bahagia, terlebih malam ini merupakan malam pernikahan mereka.


"Kau beristirahatlah dulu, ayah kaisar mengadakan pesta pernikahan kita malam ini. Dan aku yakin kau akan merasa lelah nanti." Ucap pangeran Rong lagi.


"Iya, tetapi hiasan kepala ini...."


Pangeran Rong melihat hiasan kepala yang menutupi kepala lin Yao.


"Kemarilah, aku akan membantu mu melepaskannya." Ucap pangeran Rong.


"Tidak, tidak perlu. Saya akan meminta Feng Ying untuk membantu membukanya."


"Tidak apa-apa, aku akan melakukan dengan hati-hati dan tidak melukaimu."


"Tetapi...."


Pangeran Rong tidak mau mendengar perkataan Lin Yao lagi, dia menarik tangan Lin Yao dengan pelan menuju sebuah kursi dan mendudukan Lin Yao di atas kursi itu.


"Kau diamlah disini, aku akan membantu mu melepaskan hiasan kepala ini." Ucap pangeran Rong.


Lin Yao yang tidak memiliki pilihan hanya bisa mengangguk dan duduk di atas kursi dengan tenang.


Pangeran Rong tersenyum, lalu dia mulai menarik salah satu jepitan yang ada di atas kepala Lin Yao.


Satu persatu jepitan dan hiasan rambut itu pangeran Rong lepaskan dari kepala Lin Yao dengan pelan, dan saat pangeran Rong melepaskan jepitan terakhir, rambut Lin Yao jatuh dan terurai sepenuhnya.


"Kau tetap terlihat cantik meski tanpa hiasan-hiasa kepala itu." Ucap pangeran Rong yang melihat Lin Yao dengan rambut rambut terurai.


"Ya.... Em.. Li."


Pangeran Rong membelai rambut panjang Lin Yao, "Aku bahagia karena setiap hari, aku akan melihat istriku dengan rambut terurai seperti ini."


Panggilan istriku yang pangeran Rong ucapkan membuat wajah Lin Yao sedikit merona.


"Baiklah, kau bisa beristirahat sekarang. Aku akan meminta pelayan mu untuk mengingatkanmu dan membantu mu bersiap." Ucap pangeran Rong lagi.


"Ba.... Baik."


Pangeran Rong mengangguk, lalu berjalan keluar dari kamar. Dia tahu saat ini Lin Yao pasti masih sangat gugup dan takut terhadapnya, jadi pangeran Rong akan membiarkan Lin Yao seorang diri lebih dulu.

__ADS_1


Dan apa yang dia lakukan pada Lin Yao, semata-mata agar Lin Yao sedikit lebih tenang.


__ADS_2