Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #91


__ADS_3

Dua hari kemudian, kaisar dari musuh negara Chao tidak kunjung datang. Namun mayaat putranya sudah mulai mengeluarkan bau tidak enak.


"Sepertinya dia tidak akan datang, untuk mengambil putranya." Ucap pangeran Rong.


"Benar, yang mulia."


"Jika begitu, kau bawa mayaat itu ke negaranya. Dan gantung mayaat itu di depan aula terbuka di negara itu malam ini. Aku yakin jika rakyat yang melihat mayaat pangerannya di pagi hari, akan terkejut dan menimbulkan banyak berita yang menarik."


"Baik, yang mulia. Hamba akan melakukannya."


Pangeran Rong mengangguk.


Xiao Bo memberi hormat lalu keluar dari ruang baca pangeran Rong.


"Kalian telah berani melakukan hal yang sangat bagus, jadi aku tentu harus memberikan hadiah kepada kalian." Ucap pangeran Rong.


Selama ini hanya negara itu yang berani melawan negara Chao, bahkan setelah kekalahan yang mereka dapatkan pun, mereka masih berani. Sehingga membuat pangeran Rong menjadi sedikit geram.


"Lebih baik sekarang aku menemui permaisuri, sejak kemarin aku melihat dia pergi ke ruangan yang dulu sangat jarang aku datangi." Ucap pangeran Rong seraya berjalan keluar dari ruang bacanya.


Di luar ruang baca, pangeran Rong melihat putra mahkota berjalan ke arah dirinya.


"Kakak putra mahkota, apa yang sudah membuat mu datang kemari?" Ucap pangeran Rong setelah putra mahkota berdiri di depannya.


"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan mu."


Pangeran Rong mengangguk, "Jika begitu, kita berbicara di dalam saja. Silahkan kakak."


Putra mahkota mengangguk, lalu mengikuti pangeran Rong masuk ke dalam ruang baca.


"Apa yang ingin kakak putra mahkota bicarakan denganku?" Ucap pangeran Rong.


"Kau pasti sudah mendengar tentang berita permaisuri An yang telah ikut berperang dan membunuh dua orang di perbatasan timur."


Pangeran Rong mengangguk, "Benar, saat ini berita itu telah menyebar di ibu kota dan di beberapa kota lainnya."


"Pagi ini, beberapa perdana menteri juga telah meminta kepada ayah kaisar agar menurun posisi permaisuri."


"Lalu, mereka ingin membuat anak mereka menggantikan posisi permaisuri ku itu?"


Putra mahkota mengangguk, "Benar."


"Jika begitu, maka aku memilih untuk melepaskan posisi dewa perang kerjaan ini, dan memilih hidup bersama dengan permaisuri An di paviliun."


Putra mahkota terkejut mendengar ucapan pangeran Rong, walaupun dia tahu jika pangeran Rong akan memilih jalan itu, namun tetap saja itu membuat putra mahkota terkejut.

__ADS_1


"Kakak, besok aku akan berkata kepada mereka semua pada pengadilan pagi, setelah memberi salam pada ayah kaisar dan ibu ratu." Ucap pangeran Rong.


"Baiklah, aku akan mendukung semua yang telah kau putuskan. Dan aku yakin ayah kaisar juga ibu ratu akan melakukan hal yang sama."


"Iya, terima kasih kakak."


"Bagaimana dengan permaisuri An?"


"Sudah dua hari ini dia berada di ruangan selatan."


"Bukankah itu adalah ruangan yang jarang kau datangi?"


Pangeran Rong mengangguk, "Benar, dia selalu datang kesana bersama pelayan setianya."


"Dia pasti masih merasa terpukul atas kematian nyonya Xia, dan kabar ini juga pasti sudah dia dengar."


"Kakak benar."


"Kau memiliki paviliun, kau tidak membawanya kesana."


"Dia tidak menginginkannya, meskipun aku telah memaksanya."


Putra mahkota mengangguk, berada pada posisi seperti permaisuri An memanglah sangat sulit, dan juga sangat menyedihkan. Tetapi dia juga tidak bisa melakukan apapun.


"Iya."


Putra mahkota berjalan keluar dari ruang baca pangeran Rong.


"Lihatlah permaisuriku, bahkan kakak putra mahkota juga mengkhawatirkan mu." Ucap pangeran Rong.


...----------------...


Di dalam sebuah kamar, permaisuri An yang di temani oleh Feng Ying duduk di depan sebuah meja yang cukup panjang.


"Yang mulia, hari ini anda telah membuat bunga yang nyonya sukai. Apakah anda ingin melukis yang lainnya?" Ucap Feng Ying yang berdiri di samping permaisuri An.


"Aku tidak tahu ingin membuat apa lagi, apakah ada yang ingin kau lukis, Feng Ying?"


"Yang mulia, saya tidak mengerti tentang melukis. Saya juga tidak mengerti bagaimana caranya membuat seperti apa yang telah yang mulia buat."


Permaisuri An mengangguk lalu menatap kertas kosong yang berada di depannya.


Sambil memikirkan sesuatu, tangan permaisuri An mulia menggoreskan kuas bertinta pada kertas itu. Dan Feng Ying yang melihatnya tersenyum, karena permaisuri An mulai melukis lagi.


Feng Ying yang berdiri di samping permaisuri An, membantu menghaluskan tinta agar permaisuri An bisa melukis sesuatu dengan mudah.

__ADS_1


"Yang mulia, apakah anda membuat lukisan yang mulia pangeran Rong?" Ucap Feng Ying yang melihat lukisan setengah jadi permaisuri An.


Permaisuri An terdiam, lalu menatap lukisan yang tadi dia buat di atas kertas.


"Kenapa aku melukis yang mulia pangeran Rong?" Ucap permaisuri An setelah melihat wajah pangeran Rong yang dia lukis.


Feng Ying tersenyum, dan dia tahu jika saat ini permaisurinya tengah memikirkan pangeran Rong.


"Permaisuri, apa yang sedang kau lakukan?" Ucap pangeran Rong yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


Feng Ying yang melihat pangeran Rong datang, mundur beberapa langkah agar pangeran Rong bisa berdiri di samping permaisuri An.


"Yang mulia, apa yang sedang yang mulia lakukan disini?" Ucap permaisuri An.


Pangeran Rong tersenyum, "Aku hanya ingin melihat apa yang sedang kau lakukan disini."


"Saya....."


Permaisuri An berhenti berkata ketika dia melihat pangeran Rong tengah melihat lukisan yang dia buat.


"Kau sungguh mengingat bagaimana pangeranmu ini, permaisuriku." Ucap pangeran Rong setelah melihat lukisan yang di buat permaisuri An.


"Yang mulia, saya....."


"Aku sangat bahagia melihatmu melakukan sesuatu. Apa kau tahu, aku begitu kesulitan bagaimana berhadapan denganmu, aku tidak bisa membuat mu tersenyum saat aku pertama kali melihat mu di pasar itu."


Permaisuri An tertegun dengan apa yang di katakan oleh pangeran Rong saat ini. Dia sungguh tidak menyangka jika pangeran Rong akan mengatakan hal itu padanya.


"Maafkan saya, yang mulia. Saya telah membuat anda begitu kebingungan karena saya." Ucap permaisuri An.


Pangeran Rong meraih tangan permaisuri An lalu meletakkannya di atas tangannya sendiri.


"Kau tidak perlu meminta maaf, karena kau tidak bersalah sama sekali." Ucap pangeran Rong.


"Saya tidak tahu harus melakukan apa, para perdana menteri itu pasti telah membuat anda begitu kesulitan. Tetapi saya justru...."


"Permaisuri ku, kau adalah istriku. Aku tidak peduli dengan para perdana menteri itu, karena aku hanya ingin memiliki satu istri. Dan itu adalah dirimu."


"Yang mulia."


"Hari ini aku akan bertemu lagi dengan ayah kaisar, dan setelah itu aku akan membawamu ke paviliun ku."


"Yang mulia, sudah saya katakan jika....."


"Berhenti membantahku, aku hanya ingin memiliki waktu bersama dengan mu." Ucap pangeran Rong memotong ucapan permaisuri An.

__ADS_1


__ADS_2