
Mendengar kabar Lin Yao yang tertusuk pisau oleh selir Qian, pangeran Rong segera pergi ke paviliun. Tidak lupa dia juga membawa tabib istana untuk memeriksa kondisi calon permaisurinya itu.
"Bagaimana keadaan Lin'er?" Uca pangeran Rong setelah dia berdiri di depan kamar Lin Yao.
Semua orang yang ada di dalam kamar Lin Yao menoleh dan terkejut saat melihat pangeran Rong berdiri di depan pintu kamar dengan wajah khawatir.
"Yang mulia pangeran." Ucap nyonya Liu.
Pangeran Rong berjalan dengan cepat dan berhenti di depan tempat tidur, dimana Lin Yao tengah terbaring dengan lemah.
"Tabib istana, cepat obati Lin'er." Ucap pangeran Rong tanpa menoleh.
Tabib istana mengangguk dan segera melakukan tugasnya.
Kedua tangan pangeran Rong mengepal melihat kondisi Lin Yao saat ini.
"Keluarga Liu, kalian benar-benar sudah tidak bisa di biarkan." Gumam pangeran Rong.
Pangeran Rong berbalik dan akan keluar dari kamar Lin Yao.
"Yang mulia, mohon berhenti. Saat ini mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa, saya telah berpisah dengan tuan perdana menteri Liu dan telah mengusir mereka keluar dari kediaman itu. Anda tidak perlu...."
Pangeran Rong menatap nyonya Liu.
"Keluarga itu keluar karena itu urusan mereka dengan anda, nyonya Liu. Tetapi.... Selir perdana menteri Liu telah melukai calon permaisuri ku! Bagaimana bisa aku tinggal diam, membiarkan dia hidup di luar sana tanpa menghukumnya?"
Semua orang terkejut dengan apa yang di katakan oleh pangeran Rong, terlihat jelas rasa khawatir pada Lin Yao dan kebencian untuk keluarga Liu itu.
Nyonya Liu tidak bisa lagi berkata apa-apa, karena saat ini Lin Yao memanglah akan menjadi permaisuri pangeran Rong, dan apa yang telah selir Qian lakukan pada Lin Yao tentu membuat pangeran Rong sangat marah.
Pangeran Rong berjalan keluar dari kamar Lin Yao, dia akan membuat perhitungan pada keluarga Liu, terutama pada selir Qian yang telah melukai Lin Yao dan membuatnya sekarat.
"Xiao Bo, seret selir dan putri perdana menteri Liu. Bawa dia ke penjara bawah tanah." Ucap pangeran Rong saat tengah berjalan keluar dari paviliun.
"Baik yang mulia."
Xiao Bo menatap pangeran Rong yang mengeluarkan aura menbunuhnya yang begitu pekat.
"Keluarga Liu itu pasti akan hancur di tangan yang mulia pangeran, juga selir dan putrinya itu tentu pasti akan merasakan rasa sakit yang tidak pernah mereka bayangkan, dari dewa perang kita yang kejam ini."
__ADS_1
Kabar tertusuknya Lin Yao juga telah terdengar oleh kaisar dan ratu di dalam istana, bahkan para pangeran yang lain dan putri Xiu Ying pun telah mendengarnya.
"Perdana menteri Liu dan selirnya sudah sangat keterlaluan! Mereka sudah membuat malu." Ucap kaisar.
"Yang mulia, saya akan pergi untuk melihat keadaan Li Wei dan putrinya. Bagaimana pun dia merupakan calon permaisuri pangeran Rong kelak." Ucap ratu meminta izin pada kaisar.
"Iya, pergilah. Bawa obat-obatan terbaik dari istana untuknya."
"Baik yang mulia."
"Ibu ratu, saya akan ikut dengan ibu." Ucap putri Xiu Ying.
Ratu mengangguk.
Ya, saat ini bukan hanya ratu dan putri Xiu Ying saja yang telah mengetahui jika pangeran Rong ingin menikahi Lin Yao, tetapi semua anggota kerajaan juga telah mengetahuinya.
Bahkan sebagian besar rakyat di ibu kota juga sudah tahu, karena pangeran Rong sendiri pernah berkata jika Lin Yao adalah calon permaisurinya, saat mereka berada di dalam toko obat milik Lin Yao.
Ratu dan putri Xiu Ying berdiri lalu keluar dari istana raja. Mereka akan oergi ke paviliun dimana Lin Yao dan ibunya berada.
"Kakak Li pasti marah mendengar berita ini." Ucao pangeran ke 5.
Kaisar dan ketiga putranya diam. Mereka sangat menyayangkan dengan apa yang telah di lakukan oleh perdana menteri Liu dan keluarganya terhadap Lin Yao dan ibunya.
Jika saja mereka tidak menyakiti Lin Yao dan ibunya, mungkin mereka akan hidup dengan nyaman. Karena sebentar lagi Lin Yao akan menjadi permaisuri pangeran Rong, pangeran yang paling di takuti di negara itu.
...----------------...
Braaaak!
"Hentikan! Kalian tidak bisa melakukan ini pada kami! Semua ini adalah milik kami, kalian tidak bisa membuat kami keluar dari sini!" Teriak selir Qian saat pengawal dari keluarga Xia melemparkan barang-barang miliknya dari dalam kamar.
Begitu juga dengan Fang Yin yang berteriak bahkan menghina para pengawal saat membuang peralatan riasnya.
"Ibu! Ibu! Lihatlah mereka sudah membuang barang-barang kita." Ucap Fang Yin mengadu pada selir Qian.
"Lin Yao dan Li Wei sudah keterlaluan! Aku bersumpah akan membuat mereka menderita."
"Oh, benarakah? Kau hanyalah selir, tetapi kau bersikap seolah kau adalah nyonya sah di keluarga Liu. Kau yang sudah keterlaluan!"
__ADS_1
Selir Qian dan Fang Yin terkejut saat melihat pangeran Rong berada di dalam kediaman Liu itu.
"Ya.... Yang mulia pangeran Rong." Ucap selir Qian dengan tubuh gemetar.
"Seret kedua wanita itu!" Seru pangeran Rong kepada pengawal yang ada di belakangnya.
"Baik yang mulia."
Beberapa pengawal istana segera memegangi kedua tangan selir Qian dan juga Fang Yin. Dan bersiap membawa mereka ke penjara bawah tanah.
"Yang mulia, apa salah kami? Tolong lepaskan kami yang mulia." Ucap selir Qian seraya memberontak.
Perdana Menteri Liu yang mendengar keributan di depan kamarnya keluar, dan melihat jika selir Qian dan Fang Yin tengah di tahan oleh para pengawal istana, dan di depan mereka ada pangeran Rong.
Dengan tergesa-gesa perdana menteri Liu berjalan menghampiri pangeran Rong.
"Yang mulia pangeran Rong, kenapa yang mulia menahan istri dan putri saya? Apa kesalah mereka yang mulia, mohon lepaskan mereka yang mulia." Ucap perdana menteri Liu seraya membungkukkan badannya.
"Kalian sungguh tidak tahu apa yang kesalahan kalian? Kalian memang manusia yang tidak memiliki perasaan!"
Perdana Menteri Liu dan selir Qian tersentak mendengar ucapan pangeran yang penuh tekanan itu.
"Seret mereka!" Seru pangeran Rong.
"Yang mulia mohon jangan lakukan ini, mohon ampuni kami yang mulia. Kami tidak bersalah yang mulia." Teriak selir Qian.
"Kau berkata jika kau tidak bersalah?"
"Benar yang mulia, saya.... Saya tidak bersalah."
"Kau telah menusuk calon permaisuri ku! Dan kau masih berkata jika kau tidak bersalah?"
Selir Qian mundur beberapa langkah, dan terduduk lemas setelah mendengar jika dia telah menusuk calon permaisuri pangeran Rong, yang tidak lain adalah Lin Yao.
Begitu juga dengan perdana menteri Liu yang terpaku dan merutuki dirinya, karena telah melakukan yang hal yang paling bod0h di dunia ini.
"Segera bawa mereka, aku sendiri yang akan memberikan hukuman kepada mereka karena telah menyakiti calon permaisuri ku." Ucap pangeran Rong.
Para pengawal istana membawa selir Qian dan juga Fang Yin dengan paksa. Mereka tidak peduli jika kedua wanita itu terus berteriak selama di bawa menuju penjara bawah tanah.
__ADS_1
Sementara perdana menteri Liu hanya bisa menyaksikan selir dan putrinya di bawa keluar dari kediaman itu dengan pasrah.