Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
11. Kok Dia Berubah?


__ADS_3

Lega. Dia lega setelah mengatakannya. Tara mengatakan hal barusan, meski hanya di dalam imajinasi dia saja.


“Gua butuh udara segar aja,” balas Tara. Setelah berhasil mengatakan kalimat sesungguhnya dalam imajinasi, Tara memilih untuk memendamnya sendiri, untuk saat ini. Kapan-kapan dia bakalan lebih berani mengatakannya.


Revano mengangguk. “Lo jadi vokalis utama buat manggung malam ini dan untuk sebulan ke depan. Gua ambil posisi Kaisar. Itu kesepakatan yang baru aja lo lewatkan.”


Tara yang kalap memikirkan tentang upaya menggagalkan taruhan konyol mereka itu terusik untuk berterus terang kepada Revano. “Van, lo yakin dengan taruhannya Bang Bams?”


“Kenapa emangnya? Kenapa lu tanya begitu, Dit?”


Tara menghela napas. Matanya bergerak gelisah, tapi dia memberanikan diri untuk menatap lurus ke arah mata Revano. “Dia temen lo sendiri. Lo lupa pesan Tante Frisly tentang jagain Fanya? Lo lupa apa yang pernah terjadi kepada cewek itu gegara kekonyolan kita waktu itu?”


Revano mengangguk. “Gua ingat, tapi itu udah berlalu, Dit. Aya juga nggak bakalan pernah ungkit hal itu lagi. Gua tau kejadian waktu itu fatal banget.” Helaan napasnya terdengar getir.


“Lu makin aneh. Eh, tau nggak sih? Rencana pertama gua berhasil, sayangnya dia ganti nomor buat ngehindarin gua.” Terkekeh.


Tara mendengus. “Bukan gua yang aneh, tapi lu, Van. Semenjak kejadian yang berujung fatal waktu itu lu jadi aneh. Yang terluka itu Fanya, tapi kenapa yang gesrek malah lu, sih?”


Merotasikan matanya karena enggan membahas hal yang udah berlalu. “Intinya, gua tetep lanjutin taruhan ini. Gua nggak mau dia kenapa-kenapa di tangan geng TXT. Lu pikir gua nggak ada maksud lain apa? Ada, dong. Gua emang setuju dengan taruhan edan ini, tapi gua juga berusaha untuk nggak nyakitin targetnya,” ungkapnya tiba-tiba. Revano melirik ke arah Tara.


“Bams bersikap aneh semenjak tau sesuatu tentang gua.”


Tara terdiam. “Bukan tentang lu anjir, tapi tentang gua yang suka sama Fanya.” Sayangnya, Tara hanya bisa membalas seberani ini di dalam pikirannya sendiri.


“Bams nggak aneh. Dia emang edan anaknya,” timpal Tara.


Revano bangkit dari duduknya. “Gua cabut duluan, ya. Hari ini disuruh balik sama Bunda. Senin kemarin nggak sempet balik gegara lu ngajak main PS, sih.” Tiba-tiba merekahkan senyuman. “Sekalian bisa lancarin rencana untuk bikin primadona PGRI Margayu itu luluh sama pesona seorang Revano,” lanjutnya penuh percaya diri.


Siang ini dia udah ada di daerah sepi dan dikelilingi pepohonan rindang. Terasa berada dalam adegan film horor, tempat yang memiliki banyak misteri. Siang begini bukannya ramai malah sepi. Ya, tidak salah sih. Hari ini Selasa, hari kerja dan pastinya anak sekolahan juga sudah membubarkan diri sejak dua jam lalu. Sekarang jam dua siang. Matahari terang benderang banget hari ini, padahal kemarin sedikit mendung dan hujan rintik-rintik tuh.

__ADS_1


Revano kembali ke daerah yang mana sempat menjadi tempat bermain semasa kecilnya. Dia kembali lagi ke lokasi masa kecilnya bersemi ketika dia udah beranjak dewasa. Tiga tahun dia telah meninggalkan tempat penuh memori masa kecilnya ini. Ketika dia kembali, ternyata tidak ada perubahan yang sempat dia bayangkan. Masih sama, jalanannya, pepohonannya, struktur rumah, dan dia harap para penghuni juga tetap sama.


Tanpa memencet bel, dia langsung membuka gerbang menjulang dari besi dengan ornamen singa berwarna emas itu. Toh, dia emang anak pemilik rumah bertingkat itu. Sebelum dia memasukkan motornya, dia mencuri pandang ke sebuah rumah yang berada di samping kiri rumah bundanya. Revano menatap ke sebuah jendela yang ada di lantai atas. Dia udah tahu jendela yang dia pandangi itu milik siapa. Tanpa sadar, Revano tersenyum.


Diketahui pintu depan rumah terbuka. Muncullah seorang wanita, dia adalah Nyonya Pratama. Bundanya Revano yang suruh cowok itu pulang sesegera mungkin.


“Kaka!” Nada bicaranya terdengar senang, tapi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Lebih tepatnya Nyonya Pratama ini terkejut sih.


Revano tersenyum lebar sambil memarkirkan motornya di depan teras rumah. “Kaka pulang nih, Bun.”


“Ngapain pulang?”


“Lah? Katanya Bunda suruh Kaka pulang, ini Kaka udah pulang. Kok Bunda kayak yang nggak seneng gitu sih?”


“Emang!”


“Ish!”


Revano terdiam di samping motornya. “Kaka ikut, ya, ke rumah sebelah. Mau salam sama mamanya Aya. Kangen deh, udah lama nggak jumpa.”


“Hilih!”


Meski kesal, nyonya Pratama tetap membawa putranya itu pergi bersamanya. Si ibu dengan wajah tertahan sebab dia merasa bahagia sekaligus kesal juga ini hanya terdiam di setiap langkahnya menuju rumah sebelah.


“Apa kabar, Mama?” Revano kikuk ketika berhadapan dengan pemilik rumah sebelah yang notabene kerabat bundanya.


Ana tersenyum penuh. “Baik, syukurlah masih baik. Kalau nggak baik nggak mungkin ada di rumah, pasti udah dirawat di rumah sakit.”


Revano tersenyum kikuk. Dia mengusap tengkuknya. “Aya ada di rumah, kan, Ma?”

__ADS_1


Nyonya Pratama menarik alisnya naik. “Oh, mau ketemu Aya. Katanya cuman kangen sama mamanya Aya, doang? Bundanya sendiri aja nggak pernah dikangenin, ish, ish, ish!”


Ana terkekeh, lalu segera menanggapi. “Aya lagi nggak ada di rumah sejak pagi. Dia main sama temennya. Bilangnya sih bakalan pulang bareng kakangnya siang ini. Nggak tau ngador ke mana dulu itu anaknya bapak Ferdiansyah teh.”


...----------------...


Fanya menyipitkan matanya. Raut wajahnya juga udah menunjukkan ketidaksukaan lagi. Hilang minat. “Apa lagi?”


Revano canggung. Padahal beberapa saat yang lalu dia bersemangat betul mengusili targetnya. Mulai dari Fanya baru tiba di depan gerbang, turun dari mobil dan bergeming di tempat saja sudah Revano sambut hangat. Revano menyambut hangat kepulangan Fanya sambil menggendong si bungsu Ferdiansyah yang katanya sumber kelemahan terbaru Fanya. Selain gampang dibujuk rayu, Fanya juga mudah terusik kalau udah bawa-bawa Rey, adiknya Fanya, sebagai amunisi agar membuat perempuan ini cepat luluh.


“Apa kabar?”


Fanya merotasikan matanya. Nggak suka ditanyai hal semacam itu, apalagi yang bertanya adalah orang yang menyebalkan. “Awalnya sih baik, tapi semenjak lu nampakin diri lagi, kabar gue jadi nggak baik.”


“Kok bahasanya jadi kayak gitu?”


“Terserah gue!” Kesal, Fanya segera bangkit dari sofa yang ada di ruang tengah. Meninggalkan cowok nyebelin itu bersama adik tersayangnya secara terpaksa sebab udah nggak bisa sabar lagi berhadapan sama manusia menyebalkan kedua setelah kakaknya.


“Kok dia … berubah?”


“Padahal dulu Vano udah kasih flashdisk-nya langsung ke dia. Udah tulus pamitan, kok sekarang pas balik lagi malah menjauh sih si doinya? Nggak mungkinkan kalo dia nggak buka isi flashdisk itu? Tolong kasih jawaban dong, Fanya menghindar karena apaan sih?”



A/n:


Nanas merasa di sini ada kesalahpahaman deh.


Kasihan Revano :v

__ADS_1



__ADS_2