
Di dalam relung hatiku, entah di mana, aku membencinya karena sudah meninggalkanku, Fanya Fransiska mengutip dialog Shimizu Anya.
...----------------...
Rasanya waktu berjalan begitu lambat dari biasanya, sehingga pikiran yang berkecamuk hebat itu tak hentinya mengulang ucapan yang dia lontarkan kepada laki-laki bermata sipit yang dia juluki si Menyebalkan.
Fanya menggeram tertahan. “Kenapa juga aku harus marah? Kenapa aku harus kesel cuman karena lihat cowok nyebelin itu bisa baik-baik aja tanpa kurang sedikit pun? Kenapa?”
Dia melemparkan bantal dan guling yang ada di kasurnya ke lantai. Membuat kamar dan kasurnya berantakan akibat melampiaskan amarah.
Malam makin larut, katanya kalau tidak segera tidur dan memaksakan diri untuk tetap terjaga dalam kondisi psikis tidak stabil akan berpengaruh dengan siklus kerja otak. Katanya lagi, tengah malam adalah waktunya otak untuk menyesali, meratapi, dan merutuki pemiliknya sendiri.
Hal seperti itu nyata terjadi kepada Fanya setelah dia berhadapan dengan laki-laki menyebalkan yang enggan dia temui lagi, tetapi mereka masih saja saling bertemu. Entah kebetulan atau ada unsur kesengajaan, yang pastinya Fanya sangat tidak menyukainya.
Flashdisk. Perempuan berambut sepunggung itu teringat akan sebuah benda yang pernah menjadi awal mula kekesalan, kesedihan, dan rasa benci yang kini sudah menjadi benteng untuk tidak membuat siapa saja mudah dekat dengan dirinya.
Fanya beranjak dari kasurnya dan segera berjalan menuju laci, lemari, dan tempat penyimpanan barang miliknya yang bersifat pribadi di kamarnya. Di laci meja belajar tidak ada, di laci dalam kabinet tidak ada, di dalam lemari kaca tempat piagam dan piala juga tidak ada.
Seingatnya, dulu dia simpan dalam sebuah kotak barang yang—“Sial! Aku udah buang kotak itu ke tong sampah untuk dibakar waktu itu.”
Bukan tanpa alasan Fanya kembali teringat benda transfer data itu selepas merutuki kebodohannya yang terbawa perasaan ketika berhadapan lagi dengan laki-laki menyebalkan itu. Setelah beradu argumen dengan laki-laki itu di depan Mamang tukang dagang, adu argumen yang begitu kental dengan aksi tuduh-menuduh yang Fanya lontarkan, dengan tanpa merasa tersinggung sama sekali laki-laki itu membuat Fanya terbungkam.
Revano dengan sorot matanya yang sekelam lautan itu menatap tepat ke manik mata gadis yang tengah dia dekati kembali, menatapnya dengan lamat dengan tanpa campuran emosi apa pun yang terbaca pada wajahnya.
Kemudian, laki-laki itu segera angkat bicara. “Terserah mau tuduh Vano dengan apa, entah sebagai teman yang tega ninggalin temannya tanpa kabar dan perpisahan yang kurang layak, atau sebagai seorang teman yang mulai kamu benci sehingga nyalahin aku atas hal itu. Nggak apa, Ay,” ungkapnya, “Vano nggak apa. Kayaknya kamu belum lihat isi file yang ada di flashdisk itu, ya?”
Fanya terdiam. “Mana ada, aku udah lihat semuanya. Aku udah melihatnya pada hari yang sama ketika kamu kasih benda itu, Van.” Berteriak di dalam batinnya.
Mamang tukang martabak memanggil Fanya untuk pesanan yang sudah tersaji. Kabarnya, Mamang tukang martabak itu sengaja memanggil Fanya lantaran melihat situasi dan kondisi gadis itu yang kelihatan tidak nyaman ketika berhadapan dengan laki-laki yang beradu argumen dengan pelanggannya.
__ADS_1
Mamang tukang martabak sempat berpesan: ”Pulangnya hati-hati, ya, Neng. Lewat jalan gede aja jangan lewat gang.”
Sejak malam itu sampai besok pagi, diketahui Fanya tidak keluar dari ruangannya dan baru keluar jika disusul Ana atau Kamaliel. Besoknya lagi, Fanya mulai bersiap untuk kembali masuk sekolah. Tidak ada senyum dan sapa pagi ini di meja makan keluarga Ferdiansyah. Terlebih mereka kedatangan tamu yang katanya memiliki urusan dengan anak gadis mereka. Di meja makan Ferdiansyah senyap meskipun berulang kali, baik Dimas maupun Ana membuka suara untuk memancing topik pembicaraan pagi ini.
“Aya, Papa sama Kakang nggak anterin kamu hari ini. Kamu bareng sama Revano, ya. Papa nggak bakalan sempet kalo anterin kamu dulu.” Papa Dimas dan alasannya.
Sedangkan Kamaliel, dia hanya terdiam ketika dijadikan kambing conge di sini. Padahal Kamaliel siap siaga kalau urusan antar-jemput tuan putrinya. “Aya lagi bisu, Pa,” celetuknya.
Denting sendok dengan piring itu memekakan telinga, pelakunya adalah Fanya. Dia agak membanting sendok ke piring makan miliknya. Kesal dan tidak terima putusan semacam itu diberitahukan mendadak begini, mana sebentar lagi sudah waktunya berangkat. Diam-diam Fanya merutuki ucapan papanya di dalam hati. Tak lupa juga merutuki laki-laki itu yang duduk di seberangnya.
Entah hanya sebuah kebetulan jika hari ini langit tampak berawan, langit murung ketika gadis jutek itu mulai melancarkan aksi diam seribu bahasanya. Apakah gadis itu diam-diam melakukan ritual atau telah bekerja sama dengan langit, ya?
Fanya tidak memiliki pilihan lain ketika laki-laki itu datang ke rumahnya dan ternyata sudah meminta izin kepada papa Dimas untuk mengajaknya berangkat sekolah bareng. Sebenarnya, jarak dan jalur tempuh tujuan Fanya dengan laki-laki itu satu arah, sedangkan jika bersama Kamaliel atau Dimas akan membuat dua laki-laki kandung Fanya itu hanya mengantarkan gadisnya sampai halte bus saja.
Hal itu dikarenakan akses jalan menuju ke area sekolahan memasuki jalan khusus sehingga apabila dua laki-laki kandung Fanya mengatarkan gadis itu ke depan gerbang, pastinya akan merepotkan.
Oleh karena itu, ketika laki-laki itu bertamu dan meminta izin kepada Dimas, Fanya agak sentimental. Dia belum bisa berpaling dari kebodohannya malam itu, Fanya menyebutnya sebagai insiden. Entah apa yang telah laki-laki itu pikirkan setelah Fanya secara habis-habisan menuduhkan argumen yang dia miliki kepada laki-laki itu.
Fanya mendelik kesal lalu menoleh ke belakangnya yang terdapat Kamaliel tengah berdiri di teras rumah sambil memicingkan kedua matanya ke arah Fanya. Begitu juga Fanya ketika mendapati kakaknya yang dia yakini tengah melayangkan tatapan pertarungan maut di antara keduanya.
Fanya menunjuk Kamaliel dengan tatapan tak kalah sengit. “Jangan lupa jemput kayak biasanya. Hari ini Kamis, jam dua belas harus ada di depan gerbang, ya!” katanya. Dia mengatakannya sebab tidak mau menyanggupi kesediaan laki-laki itu untuk menjemputnya juga. Cukup mengantarkan Fanya saja sudah bikin gadis ini kesal bukan kepalang.
Kamaliel menarik ujung bibirnya naik. “Udah sana pergi ajalah!” usirnya secara terang-terangan.
Di perjalanan, Revano melirik ke spion untuk memastikan gadis di belakangnya. “Ternyata emang bener apa kata gosip, ya?” celetuknya.
Fanya sempat mendongak dari menatap layar ponselnya, tetapi ia kembali menunduk lagi karena tidak mau menanggapi ucapan laki-laki yang memboncengnya. Ingat, Fanya masih tidak baik-baik saja semenjak beradu argumen dengan Revano malam lalu. Fanya dan kebodohannya malam itu malah melontarkan perasaannya sendiri, semoga saja laki-laki itu tidak peka saja sih.
Revano menipiskan bibirnya. “Vano pikir itu cuman gosip biar nggak ada yang ngerepotin kamu kayak yang lalu-lalu. Ternyata emang bener kalo kamu itu emang nggak disiplin, bawa henpon ke sekolah, padahal udah ada larangan. Meski begitu, aku salut sama kamu yang konsisten ada di posisi juara terus.”
__ADS_1
“Kayak ada yang ngomong, tapi kok gemanya doang, ya?” gumam Fanya.
Singkat cerita, mereka tiba di tepi jalan yang Fanya inginkan. Berjarak sepuluh meter dari gerbang masuk SMP PGRI Margayu. Revano menerima uluran helm yang sempat digunakan Fanya dengan senyuman tipis, sedangkan Fanya hanya mendelik tajam.
“Ay, apa perlu aku tanya ke Google?”
Fanya yang hendak melenggang pergi seketika tertahan. Menatap kembali ke arah laki-laki yang masih duduk di atas motornya. Fanya terheran, mau tanya ke Google kok laporan dan bertanya kepada dia duluan sih?
Revano menelan salivanya. “Apa perlu aku tanya ke Google untuk bisa tau kenapa kamu bersikap kayak gini? Bahkan sama semua orang, apa sefatal itu kepergian Vano, Ay?”
Dadanya terasa bergemuruh. Fanya mati-matian menahan diri untuk tidak emosional kali ini. Dia memejamkan matanya sambil mengatur napasnya yang entah kenapa memburu secara tiba-tiba. “Gini, ya, Van,” katanya, “sejak dulu hubungan kita cuman sebatas teman main aja nggak lebih. Lo pikir manusia itu kayak robot yang dikasih sistem harus begini-begitu apa?
“Udah pasti manusia, apalagi remaja seusia kita yang sedang dalam masa pertumbuhan. Mulai dari perubahan sikap, sifat, dan fisik itu hal yang wajar setau gue.” Intonasi bicaranya juga tidak seperti yang Fanya coba atur di dalam kepalanya, nada bicaranya malah melonjak naik ketika dia benar-benar merasa tersinggung dengan ucapan Revano. Bukan yang barusan, tetapi malah teringat ucapan Revano semalam.
Revano bilang seperti ini semalam: “Kamu berubah karena berusaha untuk menyamai pergaulan Vano atau karena sebegitu kecewanya kamu dengan aku, Ay?”
“Van, gue nggak ada alasan lagi buat berurusan sama lo. Jadi, gue harap lo nggak usah sok berbaik hati dengan kembali usik gue deh!” tegasnya. Selepas mengatakan hal ini, Fanya benar-benar meninggalkan laki-laki itu.
Revano menatap nanar kepergian Fanya. Dia merogoh ponselnya di balik jaket, tepatnya di saku dalam jaket miliknya. “Oke, Google! Kenapa bisa anak remaja mengubah kepribadiannya?” katanya namun dia urungkan. “Eh, nggak! Bukan begitu.”
“Oke, Google! Kenapa Aya berubah?”
**Revano : "Ok, Netizen! Kenapa Aya berubah?"
Netizen : (silakan jawab di kolom komentar!)
__ADS_1
Revano : "Jangan lupa like dan kasih rating, ya. Hadiah dan dukungannya juga. Makasih**!"