
...R14+...
...----------------...
Setelah puas memperlihatkan sebuah berita besar se-Bandung kepada perempuan yang duduk memeluk lututnya di atas kasur, pada suatu ruangan rahasia, tangannya terulur untuk merampas kertas lecek dengan menampilkan orang yang hilang tengah masuk ke dalam tahap pencarian.
“Sebenernya, rencana buruk gua jadiin lo sandera hanya karena masalah dua tahun yang lalu, padahal gua maunya lo hancur aja sih.
Lo masih anak esempe, tapi nyali lo udah kayak pahlawan bangsa melawan para penjajah." Dia terkekeh dengan tatapan meremehkan.
"Mungkin, next time gua bakalan bikin lo hancur luar dalam, Fanya Fransiska.”
Seulas senyum miring tercipta ketika melihat foto yang tersebar terlalu mencirikan citra polos, sedangkan aslinya jauh dari kata itu sendiri. Perempuan yang tengah dicari adalah titisan bencana baginya.
“Gua nggak nyangka keluarga lo sepeduli ini sama lo, padahal dulu nggak ada yang mau datang supaya lo bebas dari BK, haha," ungkapnya sampai berdecak kagum.
"Kayaknya emang benar kata gosip, kedekatan lo sama anak dari oknum polisi pangkat brigadir itu bikin lancar proses pencarian manusia bermulut sampah kayak lo! Lo tau?
Kedua matanya menatap tajam ke arah perempuan yang terikat itu. "Gara-gara jalani rehab, gua harus tersiksa. Gua mau gila. Tanpa obat gua makin gila!”
“Lo nggak nggak bakan tau, tapi, gapapa. Lo bisa gua jadiin obatnya dengan cara bikin lo hancur dan ikut rasakan betapa tersiksanya gua!” ucapnya penuh penekanan.
Namun, dia belum puas juga, sehingga menambahkan ucapannya. “Oh, iya sampe lupa. Gua mau keluar beli makan, sementara lo harus tetep anteng di sini selama gua beli sesuatu buat kita makan. Kali ini lo harus mau makan, gua kasian liat lo kayak begini. Lo mau makan apa? Gua beliin, deh.”
Bersikap munafik bagai sang dermawan. Berhati baik bagai sang penguasa alam bawah.
Sematan demikian cocok sekali untuk laki-laki ini. Fanya ingin sekali berontak. Namun, demi memastikan semuanya akan baik-baik saja jika dia tetap diam dan patuh, bukan?
Semoga saja benar.
“Nanti sore Medali bakalan kumpul di sini. Gua harap lo nggak ribut!" perintahnya. "Jangan sampe mereka tau gua simpen lo di sini.”
...----------------...
Di tempat lain, dia duduk termenung tanpa perubahan ekspresi sejak sepuluh menit—bahkan mungkin lebih dari sepuluh menit, karena kabar yang telah beredar, mengenai gadis SMP yang dinyatakan hilang itu, walaupun telah dirilis resmi oleh pihak yang berwajib juga—tidak utuh mengembalikan seri di wajahnya.
Bahkan ketika tampil dengan nada yang mengharuskan vokalis tampil berenergi, tetapi suaranya malah sebaliknya dan sengau.
Hendra merotasikan matanya. “Bams nggak bisa ikut tampil … oke, gapapa … tapi itu pembodohan publik!”
Setelah Tara memberitakan urung kehadiran si ketua TXT dalam agenda kali ini, pada hari penting seseorang yang sudah pemilik kafe wantikan supaya TXT tampil lengkap, berenergi, dan penuh citra baik.
Tidak seperti sebelumnya, yang merusak adalah Revano, tetapi yang disalahkan adalah lima orang lainnya. Hendra bersungut-sungut.
“Pergi ke mana orang yang harusnya menjadi panutan TXT?” Surya bertanya seperti halnya seorang mamak mencari keberadaan bapak yang tidak pulang semalaman kepada anaknya yang semalam tertidur lelap.
Tara menunduk semakin dalam. “Gua nggak tau, dia nggak pernah mau kasih juga.”
__ADS_1
“Persetan sama kalimat meragukan seolah-olah kalo lo nggak tau apa-apa itu!”
Hendra membentak, menggebrak meja sampai minuman di depan Revano nyaris tumpah, tetapi segera dicekal pemiliknya.
Hendra dan yang lainnya memperhatikan, mereka nyaris berteriak panik namun tingkah polos cowok nomor enam itu membuat mereka berubah frustrasi.
Revano memang mencegah gelas minumannya tumpah, dia telah berhasil, dan kebetulan merenungkan sesuatu juga butuh energi.
Jadi, dia menyeruputnya sampai tandas, lalu menatap keempat rekannya dengan ekspresi yang sama, dan sorot matanya yang menuntut berbelaskasihan, dan Revano ingat jika mereka benci sorot matanya akhir-akhir ini.
Katanya seperti sorot mata orang yang divonis meninggal oleh dokter atau oleh hakim agung.
“Siapa yang mau isi posisi Bamzing kalo dia nggak ada?” tanya Revano sok peduli.
Masih orang yang sama, Hendra dan jiwa bersungut-sungutnya. “Oh, gosh. Bisa nggak sih yang urung hadir tuh dia aja!”
Menunjuk Revano yang masih berekspresi sama bahkan setelah dicerca habis-habisan.
14.30. Pihak kafe tidak bisa memberikan toleransi lebih banyak lagi karena dalam kurun sebulan saja band anak sekolahan yang dibayar picisan ini. Mereka sudah melakukan pelanggaran secara berulang, dan pihak kafe memberikan kesempatan terakhir sebelum mereka benar-benar dipecat.
16.15. Band TXT, tanpa kehadiran Bams tetap melanjutkan pekerjaan mereka sampai jam istirahat pukul lima sore sampai pukul tujuh malam. Dan, sebuah ledakan pun terjadi—ledakan yang bukan dalam artian sesungguhnya. Hanya sebuah pesan.
Pesan perintah seperti berperang melawan orang-orang dari negara api, karena sepertinya negara bumi membuat kesepakatan yang salah.
Revano dan ponselnya, tentunya ekspresi datar yang berbelaskasihan menatap cemas pada layar datar benda pipihnya yang super canggih, yang tengah dia genggam.
“Bams suruh anak TXT datangi alamat ini, apa kalian mau pergi?”
Masih orang yang sama, Hendra dan mulut bersungut-sungutnya.
Laki-laki yang lebih unggul usia dari Revano ini hendak melayangkan pukulan mentah pada wajah datar si berlagu di hadapannya, tetapi Surya dan Kaisar terburu untuk menahan.
Sementara Aditya, dia merampas ponsel milik sahabat karibnya dengan ekspresi mengepul. Dia menjadi ketularan bersungut-sungut dari Hendra saat ini, ketika mendengar kejelasan kabar dari ketua TXT.
“Kita harus pergi! Si Bams bisa aja dalam bahaya!”
“Ogah!” Dengan entengnya, Revano cepat membalas dan merampas kembali ponselnya.
“Gua juga ogah! Nggak mau kena mental lanjutan kalo ketahuan kabur sama pihak kafe ini. Bisa rusak personal branding bagus yang udah gua bangun selama ini.”
Bukan Hendra dengan emosinya, maupun Surya si pemuja diri sendiri, melainkan Kaisar. Si kalem dan rada-rada dalam artian banyak hal yang tidak bisa disebutkan.
“Fokus ke hari terakhir kita aja!”
“Gua beneran ogah, tapi kenapa dia kirimin foto dia?” ucap Revano dengan pelan. Namun, rupanya masih didengar yang lain.
“Dia siapa dan foto siapa?” Surya mulai antusias.
__ADS_1
“Orang hilang. Bams kirimin foto orang yang hilang, dan dia kirim pesan selanjutnya, "Kalo mau dia selamat, lo harus datang bawa pasukan TXT. Lupain soal manggung, karena taruhannya nyawa".”
Hendra makin membara. “Nggak. Jangan pergi!" perintahnya. "Kalo lo pergi seperti perintah manusia nggak tau diri kayak si Bamzing itu … kalo lo pergi, Van. Artinya lo keluar dari band ini secara sukarela dan dinyatakan kalah taruhan walau taruhannya udah selesai sekalipun!”
“Bang, gua harus pergi karena dia yang dimaksud Bams penting. Walau nggak sepenting anak-cucu presiden, tapi dia penting di hidup gua … gua nggak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya, bahkan mungkin ketiga kalinya!”
“Persetan sama omong kosong lo barusan!”
Surya mendorong bahu Hendra. “Dra! Bisa tenang dikit nggak sih?” Surya juga punya batas kesabarannya dalam menghadapi Hendra. “Capek aing nahan-nahan elu, nyet!”
Revano mendapatkan satu pesan lain, bukan dari Bams, melanikan dari sahabat baiknya, si Kekel.
“Sekarang gua ngerti kenapa Bams nggak bisa hadir dan bikin kita pecah, dia ada di markas musuh kalian. Dia ada di markas Medali, anak Arcamanik!” ujarnya mengutip pesan dari Mikel.
“Bams juga diam-diam bersekutu sama ketua Medali,” lanjutnya.
Mereka memang masih pelajar SMP, tiga dan empat di antaranya seorang pelajar SMA yang terkadang dipandang sebelah mata dan dianggap masih bau kencur, bahkan anak kemarin sore. Akan tetapi, mereka berani bermimpi dan berusaha. Lihatlah kegigihan mereka untuk mewujudkan sebuah band kecil yang berasal dari kesempatan tak terduga.
TXT mungkin tidak akan resmi menjadi band jika bukan karena tawaran dari pihak kafe ini. Mungkin juga mereka akan tetap bernyanyi, meskipun bukan di area kafe atau tempat yang dibayar, melainkan di rumah Tara Aditya. Selalu seperti itu sampai undangan untuk manggung datang.
Tara yang gelisah mulai angkat bicara. “Vano bener. Bams mencoba untuk bersekutu sama anak Arcamanik demi bisa akses tempat-tempat potensial buat kita, band TXT. Dia bilang bisa bersekutu sama musuhnya sendiri supaya kita keluar dari tempat ini, karena Bams pengen tempat yang lebih dari kafe ini.”
Revano fokus dengan ponselnya. Dia sedang bertukar pesan dengan sepupunya. Berikut percakapannya.
Chey : Ka, mending jangan ke sana
Chey : Laporin ke om Aldo aja, biar orang dewasa yang urus
Chey : Atau laporin ke kakaknya si Aya itu
Chey : Kaka!
Revano Aji : Nggak
Revano Aji : Kaka bakalan pergi ke sana karena Bamzing udah keterlaluan banget, Chey
Revano Aji : Mumpung lagi jam istirahat nih
Revano Aji : Jadi, Chey
Revano Aji : Tolong jangan kasih tau siapa-siapa dulu
Revano Aji : Biar Kaka pastiin dulu dan kalo emang bener, Kaka bakalan bawa pulang Aya
Chey : Ka?
Chey : Kalo Kaka kenapa-kenapa gimana?
__ADS_1
Chey : Mending kasih tau orang dewasa, ya?
Chey : Atau Chey suruh Mama aja yang lapor polisi?