
Revano tersentak, kedua matanya sempat melebar ketika sepupunya mengatakan satu hal yang dia sendiri coba tutup-tutupi dari orang terdekatnya.
Bahkan Mikel yang merupakan sahabatnya sendiri saja awalnya tidak akan dia beritahu jika bukan karena kepepet dan mentok gara-gara dia membutuhkan pertolongan Mikel. Meskipun Revano terkejut, dia mencoba tetap tenang.
“Siapa yang bilang?”
Dengan mengelaknya, agar Cheryl menaruh percaya dahulu kepadanya bahwa Revano tidak ikutan hal seperti yang sepupunya sebutkan barusan.
“Kekel yang ember atau Nunu? Apa mungkin si Adit karena dia nggak terima Vano deket lagi sama Aya?” gumamnya risau di dalam hati.
“Temen Kaka. Em, namanya … Bas?” jawabnya.
Kalimat selanjutnya hanya pertanyaan yang dia sebutkan untuk dirinya sendiri.
“Bastian kali, ya? Dia nyebut Bas apa Bambang sih waktu itu?”
“Bams,” kata Revano meralat dengan wajah yang menggelap.
Chey melepas rangkulannya dari lengan Revano, lalu menjentukkan jarinya. “Nah, itu dia! Namanya susah diinget padahal pendek banget. Lagian dengan wajah dia yang kalem, ganteng, dan polos kayak bayi kek gitu, apalagi nih, Ka … senyumannya imut banget, dia sekolah di SMP mana? Kenalin dong!”
“Nggak ada, ya! Kamu nggak boleh deket atau kenalan sama dia, dia itu … dia itu udah punya doi! Iya, udah punya doi.”
Cheryl mencebik kesal. “Daripada Bams, dia cocok pake nama Bastian. Aku bakalan bikin nama panggilan kang Babas kalo semisal nama dia Bastian.”
Kemudian, gadis sendu ini terkekeh senang begitu perandaiannya ini memang sebuah kebenaran.
Ah, dasar penghalu!
“Nggak ada! Nggak boleh! Kaka nggak izinin, begitu juga Kak Sean. Nggak bakalan kami biarin Chey deket sama sembarangan cowok!” peringat Revano dengan kemarahan menyelimuti wajahnya.
Cheryl, untuk kesekian kalinya, mendengus kesal lantaran selalu dilarang ini atau itu oleh kakak sepupunya, padahal keduanya hanya terpaut beberapa bulan saja.
“Kalo gitu Kaka juga nggak boleh deket sama cewek manapun! Walaupun itu temen masa kecil Kaka sekali pun. Dia itu cewek juga, jadi nggak boleh deket sama dia juga, itu baru adil!”
“Eh, nggak gitu konsepnya!” bantah Revano.
“Kalo deketin Aya sih Kaka harus deket lagi sama dia. Kalo nggak, bisa hancur harga diri Kaka yang baik di hadapan dia cuman karena larangan kamu ini. Nggak. Kaka harus tetep jalani pendekatan sama Aya lagi karena ini menyangkut impian Kaka, Chey.”
“Dia udah tau?” tanya Cheryl membuat Revano bungkam.
“Chey tanya. Apa dia udah tau? Si Aya-Aya itu udah tau kalau Kaka deketin dia karena taruhan?”
“Kamu tau dari mana kalo Kaka deketin Aya lagi karena taruhan?”
__ADS_1
Cheryl menghentikkan langkahnya. Mereka ada di tangga saat ini. “Chey udah tau, Ka!” ungkapnya.
“Awalnya, Chey kira emang benar Kaka deketin si Aya itu buat berbaikan karena Kaka ninggalin dia tanpa kabar selama tiga tahun ini, tapi setelah Bams bilang kalau Kaka ikut taruhan itu dengan tantangan deketin cewek … Chey nggak nyangka kalau Kaka ….”
Dia tidak mau melanjutkan ucapannya. Hanya menghela napas keras penuh kekesalan.
“Jadi, Chey tanya, apa dia tau kalau Kaka deketin dia lagi karena taruhan?”
Revano bergeming. Dia menatap lantai dengan perasaan gamang. “Tau. Aya tau. Dan, awalnya Kaka nggak mau hal itu terjadi karena ….”
Dia juga serupa, tidak mau melanjutkan ucapannya.
Namun, dia teringat reaksi gadis yang tengah mereka bicarakan saat ini ketika mereka bertemu beberapa jam sebelum berada di sekolah masing-masing, sehingga membuat Revano tersenyum getir.
“Dia nggak kelihatan marah, nggak juga kesel. Dia lebih pengertian dari yang biasanya Kaka terima. Bahkan, Kaka nggak nyangka kalo dia nggak marah. Dia ngertiin alasan kenapa Kaka balik lagi kepada dia. Dia tau tantangan ini karena taruhannya adalah posisi sebagai vokalis utama, Chey.”
Cheryl mendengus, mata sipitnya merotasi sinis, dan dagunya diangkat congkak. “Apa dia tau juga soal berapa tarif dia yang kalian pasang?”
DEG!
“Apa dia tau kalau selain posisi sialan itu, dia dihargai sejutaan? Gelo maneh!” bentaknya di akhir kalimat.
Revano protes, “Chey!”
Cheryl mengerutkan wajah, lalu meninggalkan Revano pada undakan tangga menuju lantai dasar gedung kelas delapan ini. Gadis bermata sipit dan memiliki tahi lalat pada wajah sebelah kirinya ini menggelapkan wajahnya ketika yang dia dengar dari teman band sepupunya dan dari mulut sepupunya sendiri adalah kebenaran.
Meski satu juta, tetapi apakah seorang perempuan memang serendah itu di mata laki-laki?
Sebab kemarahannya ini, Cheryl teringat pertengkaran di antara kedua orang tuanya yang terjadi pada hari yang sama ketika Revano tidak ada di manapun, di tempat biasa laki-laki jangkung itu berada pada siang atau malam hari.
Cheryl menyimpulkan jika sepupunya tidak mungkin akan seberengsek itu kepada perempuan ketika caranya menyayangi dirinya, sang mama, bahkan bunda Frisly begitu lembut.
Bahkan Cheryl mendengar sendiri cerita Revano mengenai seorang Aya yang laki-laki ini tinggalkan untuk mengejar mimpinya yang diberikan fasilitas lengkap oleh Sean, kakak Cheryl.
“Dengan dia jawab setenang itu setelah tau harga seorang cewek di hadapan laki-laki serendah itu … bahkan cara dia ungkapin taruhan berengsek, gila, edan yang mereka jalani itu dengan setenang barusan …,” gumamnya di dalam hati, “gimana bisa aku percaya adanya laki-laki baik dan tulus?”
Mengingat yang telah dilakukan sang ayah kepada mamanya. Mengingat perlakuan kasar yang dilayangkan kepada mamanya. Cheryl takut.
Membuatnya takut akan diperlakukan serupa, meski bukan oleh ayahnya sendiri, tetapi dia tetap takut.
Langkahnya yang memburu ini membawanya meninggalkan area sekolah. Dia segera melambaikan tangan, berusaha menghentikan angkot atau kendaraan umum lain yang sedang melaju di sekitar sini.
Meskipun bukan jalanan besar, tetapi ada beberapa mobil angkutan umum yang lewat di sekitar sini.
__ADS_1
Ketika dia telah berhasil, segeralah dia naik ke dalam angkot itu dengan wajah mengerut. Dia sempat melihat keberadaan sepupunya yang ternyata mengejar walau terlambat.
Mata sipitnya makin sinis ketika laki-laki jangkung yang berada pada radius lima ratus meter di sana itu menemukan keberadaannya.
Angkot yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah ini ngetem cukup lama, padahal bubaran sekolah sudah berlalu sejak sepuluh menit yang lalu, tetapi tidak ada pelajar yang berniat pulang lebih cepat, sehingga Cheryl meminta supir angkot untuk segera melaju saja.
“CHEY.”
“Maaf, Ka. Kali ini Chey kecewa sama orang yang Chey kira memandang perempuan sebagai makhluk istimewa, tapi ternyata cowok sama aja. Memandang rendah perempuan dan selalu memandangnya sebagai objek mainan yang bisa kalian kasih tarif, berengsek!” gumamnya di dalam hati.
Di rumah, setelah selesai melarikan diri ke pusat kota untuk menghindari pertemuan dengan sepupunya, atau mungkin ayahnya yang kembali pulang itu seperti kapan hari.
Setelah puas dan merasa lelah, sehingga dia rindu rumah dan mamanya, dia melihat sang mama tengah menatapnya penuh senyuman.
Siang ini, Cheryl pulang pukul dua. Ketika sedang membereskan sepatunya, sang mama menghampiri keberadaanya di pintu masuk rumah.
Awalnya, sang mama memeluk dia dari samping yang tengah menyimpankan sepatu. Aksi sang mama membuatnya bergeming, dia merasa dirangkul setelah kemarahan yang habis. Setelah kesedihan sepekan lalu. Setelah sepekan lalu, mamanya baru kembali berhadapan lagi, dan memeluk hangat dirinya.
“Dek, Mama mau bilang sesuatu sama kamu,” lontarnya. Kemudian melepas pagutan di antara keduanya, menuntun Cheryl ke ruang makan. Menyajikan segelas air putih untuk putri satu-satunya.
“Ada apa, Ma?”
Nadia tersenyum hangat. Menatap lekat putri kecilnya yang kini mulai beranjak dewasa. Dia menyematkan helai rambut putrinya ke belakang daun telinga.
“Seperti yang sudah kamu dengar malam itu, keputusan akhir dari Papa dan Mama tentang kelakuan bejat Papa di belakang Mama …,” ungkapnya dengan suara helaan napas di setiap kata, “maafkan kalau kami sebagai orang dewasa memilih langkah egois, Sayang.”
Seberkas teror menyalip di wajahnya. “Mama ….” Isakan lolos dari bibir tipis merona miliknya. Ikut merasakan kesedihan yang mamanya alami malam itu.
Nadia mengangguk, dia juga menangkup punggung tangan putrinya yang dia letakkan di atas meja. Mereka saling bertumpu tangan dengan sorot mata yang mulai digenangi bulir kesedihan.
“Maafin Mama sama Papa karena harus memutuskan hal ini, tapi Mama … jujur Mama udah nggak sanggup bertahan sama Papa lagi, Dek.”
Cheryl tidak bisa berpikir jernih. Sebagai seorang anak. Sebagai seorang perempuan. Sebagai seorang yang mengalami trauma. Pikirannya berkecamuk namun hanya bungkam yang dia aksikan.
“Mama udah hubungi Sean, dia bakalan kembali ke Indonesia, tapi dia menetap sama Papa dan harus selesaikan kuliah di Jakarta. Sean yang memutuskan untuk pindah, padahal dia tinggal beberapa langkah lagi untuk dapetin gelar dari universitas bergengsi di Singapura.”
Namun, entah keberanian dari mana, dia menyimpulkan ucapan sang mama dengan satu kalimat tanya. “Kalian pisah rumah aja, kan?”
Wajah Nadia mengerutkan wajah sendu. “Maafin Mama, Dek,” ucap Nadia.
“Mama sama Papa memutuskan untuk bercerai, kami sepakat, Sean juga setuju. Mama takut, Dek … Papa minta hak asuh kalian sepenuhnya diberikan kepada dia, sedangkan Mama … Mama takut, tapi Sean ancam Papa pakai alasan studi dia yang langsung dia batalkan dari universitas di sana, sehingga Papa setuju cuman Sean yang jadi hak asuh dia, tapi kamu tetap tanggung jawab papamu. Jadi, kamu di sini sama Mama, ya, Sayang?”
Air mata yang membendung itu mengalir pada permukaan wajahnya. “Kenapa harus Jakarta?” tanyanya begitu lemah. “Kenapa mereka harus ke Jakarta?”
__ADS_1
“Papa dipindahtugaskan ke Jakarta. Kakek Mizwar tau kelakuan papamu, jadi dia pindah ke Jakarta.”