Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
55. Ada Apa Ini?


__ADS_3

...R14+...


...----------------...


Setelah kedatangan Jayden, dia memerintahkan semua orang keluar dari gedung bekas bengkel ini, kecuali Jehan.


Diketahui, Jayden adalah ketua pertama Medali. Dia pengagas nama Medali. Namun, Jayden tidak pernah bertitah atau menjalankan Medali sebagai geng berandalan seperti yang Jehan lakukan selama beberapa tahun terakhir. Sejak mundurnya ketua ketiga, lalu digantikan Jehan, Medali kacau balau.


“Kayaknya kakak lo curiga sejak lama nggak sih? Dan lagi, lo nggak masuk kelas tambahan dia, kan, Zi?” celetuk Filo.


“Tau apa lo emangnya?” sahut Mikel.


Filo bersungut-sungut. “Aing udah temenan sama Zizi sejak lama, dan mau balikin citra Medali sesungguhnya. Gua cuman main peran aja di depan Jehan sok patuh, manut begitu!”


...----------------...


Sekarang sudah pukul lima lewat lima belas menit, sore. Area ini semakin menggelap ketika langit menarik selimut kegelapannya.


Bams berjalan di sekitar dua gedung yang berada di serambi kanan dekat jalanan, dua gedung yang tertutupi semak-semak.


Dia mencari ruangan yang pernah Jehan sebut sebagai tempat rahasia ketika berhasil membawa pergi seorang anak SMP. Bams mencari sudut ruangan yang persis seperti dalam foto yang Jehan kirimkan kepadanya kapan hari.


Namun, sebelum dia mencari ruangan tersebut, Bams mengirimkannya kepada Revano. Sengaja, karena hanya Revano yang bernyali besar dibandingkan Tara Aditya. Sepengamatannya sih begitu.


Bams sengaja mengirimkan foto hasil jepretan Jehan kepada Revano agar laki-laki yang bermimpi menjadi musikus itu datang kemari dengan bala bantuan.


Demi apa pun Bams takut dikeroyok pasukan lawan. Dia datang kemari karena nekat dan bermodalkan ajakan Jehan yang menjamin keselamatan.


Medali yang dia kenal adalah geng yang tidak kenal ampun setahu Bams, tetapi ucapan laki-laki yang sedang berbincang dengan Jehan di dalam membuatnya berpikir jika Jehan telah memprovokasi atau semacamnya yang membuat nama Medali menjadi buruk di mata masyarakat.


Bams berjalan di atas teras sebuah bangunan mirip rumah, dengan papan bertuliskan ‘Kantor’. Di sini juga gelap. Apalagi pepohonan rimbun membuatnya seperti diawasi seseorang dari atas dan segala arah.


“Duh, sebenernya Jehan sekap si cewek kulkas di mana, sih?”


BRAK!


Bams terperanjat. Baru saja dia mendengar sebuah benda jatuh, atau mungkin sebuah gebrakan di sekitar sini. Suaranya seperti tidak jauh. Di mana?


Bams menatap pantulan dirinya pada kaca bangunan rumah ini. Dia menatap lurus. Suaranya berasal dari dalam rumah ini. Bams bergeser ke arah pintu dan mencoba menarik kenopnya. Terbuka!


Di dalam sini gelap. Bams segera menyalakan ponselnya dan mengaktifkan mode senter.


“Apa ada orang di sini selain gua?" tanyanya. "Kalo ada coba bersuara atau bikin bunyi-bunyian!”


...----------------...


Ribut.


Di area parkiran terjadi keributan. Medali sedang beradu mulut dengan tamu tidak diundang di hadapannya saat ini.


Formasi Medali berjajar dengan Zico dan pentolan lain sebagai garis terdepan, kecuali Mikel yang berdiri di tengah. Dia mencoba melerai Medali agar tidak menyerang tamu tidak diundang, yang tengah menatap sengit di sisi lain.


Revano angkat bicara dengan tenang. “Di mana Bams?”

__ADS_1


Namun, Hendra selalu bersungut-sungut. “Lo pada jadiin ketua kami sandera, yakan?”


Medali kesal, tetapi ketua mereka, Zico, masih diam. Dia menatap lamat laki-laki yang pernah dia lihat di rumah gadisnya—mantannya—dari jarak dekat. Dia mengakui jika dirinya lebih unggul kemana-mana. Narsis.


Band TXT memutuskan ikut Revano. Tidak membawa pasukan lain, karena hanya mereka pasukannya. Misi mereka adalah menyelamatkan Bams, seperti ucapan Tara tentang keberadaan Bams yang disangka berada dalam bahaya.


Mereka akan menyelamatkan Bams terlepas dari rencana Bams yang memalukan dengan aksi merendah untuk meninggi.


“Bams ada, tadi ada. Sekarang nggak ada. Nggak tau ke mana,” balas Mikel.


Tara angkat bicara. “Pasti kalian udah lumpuhkan Bams, kan?”


“Bams itu yang mana?” celetuk Nathan.


“Ketua TXT, yang tadi kita sinisin.”


Hening. Suara adzan yang tidak jauh dari sini berkumandang. Suasana kian menggelap jika seseorang entah dari mana menyalakan pencahayaan area ini secara serentak. Mereka semua terperanjat, tetapi dibuat lega seketika.


“Bams. Di mana dia? Nggak perlu sembunyiin dia, karena gua yang mau hajar dia!”


Awalnya, Revano kaget mendapati Mikel berada di tempat ini, dan lagi laki-laki yang pernah dia lihat mengantarkan Fanya sampai depan rumah, juga berada di markas musuh TXT.


Revano kesal, dia yang lesu akhir-akhir menjadi berapi-api ketika Bams mengirimkan foto dan pesan demikian. Dia ingin segera menemui Bams untuk bertanya alasan laki-laki itu menunjukkannya foto Fanya dalam keadaan tidak berdaya.


Hendra, Surya, dan Kaisar melongo tidak percaya. “Van?”


“Lo bisa lihat! Dia nggak ada di sini,” sahut Zico. “Di dalam juga nggak ada karena cuman ada Jehan sama Bang Jayden.”


“Dit!”


Dia akan menghajar laki-laki itu atas apa yang sudah dia perbuat kepada Fanya yang mana dia tunjukkan sendiri dari foto kiriman Bams.


Melihat raut Bams membuat Surya dan Hendra bersitatap, mereka segera berancang-ancang, lalu mengartikan sebuah tindakan berdasarkan kode dari mata.


Hendra maju lebih dulu dan segera menyerbu garis terdepan barisan anggota Medali, diikuti Surya dan Kaisar yang berlarian ke arah lawan mereka.


Tara awalnya diam saja, ketika matanya bersibobrok dengan Mikel. Dia lebih memilih untuk menghampiri Revano dan Bams, sementara Mikel juga mengikuti Tara dari belakang, dan Zico yang mengekori Mikel yang sudah cukup jauh di depannya.


TXT yang memulai, tetapi mereka merasa diprovokasi oleh Medali, sehingga mereka menyerang lebih dulu karena sadar jumlah mereka tidaklah banyak.


Mereka menggunakan tangan kosong. Saling memberi tinjuan dan tendangan sampai lawan tumbang. Terkadang teknik yang sering dipelajarinya pada klub judo sekolah.


Revano masih berhadapan dengan Bams, ketika Mikel dan Tara menghampiri. Revano sedang bersitegang dengan Bams.


Masih dengan pertanyaan yang sama. Revano bertanya mengenai maksud dari pesan yang Bams kirimkan kepadanya. Namun, Bams bergeming.


“Sekarang gua tau. Pasti lo yang udah kirimin pesan itu ke Aya, kan, Bang?” tuduh Revano.


“Siapa? Siapa yang temuin Aya di Gasibu?" tanya Revano lagi. "Elo? Kalo gitu Aya ada sama lo, kan?”


“Bukan gua … tapi ini demi TXT, lo tau?”


“Nggak mau tau!” kata Revano penuh penekanan. “Di mana Aya, Bang?”

__ADS_1


Bams melirik ke belakang, tetapi satu pukulan mengenai rahangnya. Dia baru saja berpaling sedikit sudah mendapatkan bogem mentah begini?


Mana sudut bibirnya terasa perih dan basah. Sial, dia berdarah!


Tara berteriak. “Vano!”


Bams terprovokasi, menggelapkan wajahnya. Dia maju selangkah demi selangkah untuk berhadapan dengan Revano. Dia mengepalkan kedua tangannya sebelum benar-benar memberikan Revano pukulan mentah darinya.


“Pertama, gua tau di mana cewek kulkas itu!” Melayangkan pukulan pertamanya yang membuat Revano oleng.


“Kedua, bukan gua pelaku penyekapan cewek itu!” Kembali melayangkan pukulan kedua pada sisi berbeda, tetapi tertahan.


Revano mencekal tangan Bams. “Maling mana ada yang mau ngaku, Bams!” desisnya. Memberikan pukulan beruntun kepada Bams sebagai balasannya.


Setelah dialog singkat itu. Mereka saling memukul. Revano memukul habis Bams ketika laki-laki yang sama jangkung dengannya itu bergerak mundur selangkah demi selangkah. Sementara Bams, dia menoleh ke belakang untuk terus memastikan jika langkahnya benar.


Dia juga mencari sesuatu untuk dihempaskan kepada Revano yang terus-menerus memojokkan dirinya.


Tara dan Mikel tertahan. Mereka melirik ke belakang.


Ada Zico dan raut datarnya. “Barusan mereka bicarain apa? Kenapa gua denger nama-nama Fanya yang mereka sebut?” ujarnya.


Mikel juga tidak mendengar dengan jelas karena jaraknya semakin menjauh. “Kayaknya lo salah denger, deh!”


Sedangkan Tara, dia bergeming sambil mengingat sesuatu. “Revano datangin Bams buat foto itu!” serunya.


“Foto apa?”


“Revano bilang kalo itu foto orang penting dalam hidup dia. Mungkin itu beneran Fanya!”


“Apa?”


Pertarungan antara TXT dan Medali di dekat parkiran semakin panas. Medali benar-benar tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan karena mereka tidak pernah berniat melakukan penyerangan, tetapi ini mengenai harga diri. Mereka diserang dan mereka harus mempertahankan diri.


Maka dari itu, mereka melawan serangan Surya, Hendra, dan Kaisar secara satu lawan satu. Memberikan serangan teknik judo yang dibalas dengan teknik silat.


Tampaknya anggota TXT bukan sembarangan orang yang bisa Medali kalahkan. Buktinya, Filo dan Gio kalah di tangan Hendra dan Surya.


“Nggak sekap Bams, tapi dia kelihatan habis disekap,” ujar Surya dengan deru napas kelelahan.


Hendra berhenti dengan lawannya. “Kenapa kalian sekap Bams?”


“Kami nggak sekap siapa-siapa. Kami lagi adain pertemuan penyambutan atas kembalinya Bang Jehan, tapi ketua pertama Medali datang dan lagi interogasi Bang Jehan di dalam,” kata Gio sambil merapikan pakaiannya.


“Kalian atlet judo apa silat, sih?" tanya Gio secara spontan. "Tingkat berapa? Kayaknya gua perlu belajar dari kalian kalo urusan serangan.” Gio menatap lawannya, Surya.


“Salam kenal, gua Gio. Kelas sembilan di Margayu.” Mengulurkan tangannya.


Surya tersenyum miring. Membalas uluran itu, sehingga keduanya terlibat jabat tangan yang hangat. “Surya, SMA 15. Calon atlet judo, kyu lima, sabuk warna biru setrip dua.”


“Kalo Bams nggak kalian jadiin sandera, terus kenapa dia datang dengan wajah ketakutan tadi?” tanya Hendra, dia benar-benar bingung.


Per sekon kemudian, bunyi sirine terdengar semakin dekat kemari. Mereka membeku di tempat ketika sebuah mobil hitam berhenti di dekat motor mereka terparkir.

__ADS_1


Entah sebuah keberuntungan atau sebuah kesialan karena sepertinya yang datang adalah seorang pria mapan bersama pasukan polisinya. Belum lagi mobil bertuliskan ‘Bareskrim’ ikut memarkirkan diri di belakang dua mobil sedan berbeda jenis itu.


Ada apa ini?


__ADS_2