
Mungkin kita tidak menginginkannya.
Menolak untuk menerima atas kejadian yang baru saja terjadi.
Membuat lara hati atas segala kasih yang sudah tercurahkan.
Akan tetapi, jangan berputus asa, karena kita sudah berusaha untuk tidak gelisah.
Tidak apa untuk merasa gelisah.
Walaupun tidak bermaksud untuk gelisah, tetapi kita masih berhak untuk meluapkannya. Dengan gelisah kita utuh menjadi manusia, walau gelisah membawa keburukan, tetapi tidak seburuk itu.
Manusia adalah makhluk perasa yang Tuhan ciptakan lebih unggul dari makhluk ciptaan lainnya. Namun, manusia tetap memiliki kelemahannya. Ada banyak sekali kelemahannya, bahkan mungkin melebihi ciptaan-Nya yang lain.
Namun, seberusaha apa pun dia untuk tidak gelisah, pada akhirnya dia malah canggung. Fanya canggung dengan situasinya saat ini setelah insiden yang sudah berlalu.
Walau bagian luarnya baik-baik saja, tetapi jauh di dalam dirinya, Fanya selalu gelisah. Namun, Fanya selalu teringat satu lirik: it’s been meant to be, it’ll be.
“Mama!” sebut anak perempuan ini, menghamburkan dirinya ke pelukan wanita yang menjadi segala dalam hidupnya. “Aya pulang. Maaf udah bikin gaduh ….”
Ana terkejut bukan kaleng-kaleng ketika pihak kepolisian wanita mengantarkan seorang anak perempuan yang sudah tidak berada di rumah selama hampir lima hari penuh.
Dugaan pertama dia percayai ketika dua laki-laki dewasa di rumah mengatakan jika anak ini sedang pergi ke Padalarang. Namun, Ana mengusutnya sendiri. Anak perempuan ini tidak ada di sana, tetapi Ana tetap berusaha baik-baik saja di depan suami dan sulungnya.
Fanya Fransiska yang dinyatakan hilang kini telah kembali ke pelukan keluarganya setelah satu malam diinapkan di rumah sakit karena kondisi lemahnya, di bawah binaan polisi wanita.
Remaja perempuan yang menjadi korban sekap itu telah kembali, tentunya setelah menjalani tes dan interogasi yang disepakati oleh Fanya sendiri. Akhirnya, Fanya diantar pulang.
Setelah menjelaskan beberapa hal mengenai keberadaan korban dan terduga, kondisi korban, dan tindakan pihak mereka terhadap terduga, petugas polisi pria dan dua petugas polisi wanita pun pamit undur diri.
Seperti hidup yang penuh tanda tanya yang kadang memaksa kita untuk keluar, walau sedang tak baik-baik saja.
Kita boleh saja tercipta dengan jiwa dan raga yang berbeda namun teruslah berharap jika hatimu dikuatkkan, teruslah mendoakan hal yang sama.
...----------------...
__ADS_1
Terbangun di pagi hari yang berbeda. Membuka jendela dan mulai menyapa.
Terlihat sang mentari tidak tampak di sana.
Kosong.
Ruangan ini kosong, padahal pemiliknya sudah pulang dengan selamat. Apa yang salah?
Ke mana si pemilik kamar dengan papan gantung bertuliskan ‘Aya’s Room’ ini pergi?
Tiap kali, tiap pagi, selalu melakukan hal yang sama. Menghampiri kamar itu dan selalu mendapati keadaan yang serupa. Kosong. Apakah yang kemarin itu hanya sebuah halusinasi atau hanya sekadar bunga tidur belaka?
Fanya mengerutkan dahinya ketika baru saja kembali dari dapur.
“Ngapain di situ?”
Juga mendapati Kamaliel yang berdiri termenung di ambang pintu kamar.
Kamaliel menoleh dengan pelan. Dia bergeming sesaat sebelum menghela napas lega. “Habis dari mana aja?”
Kamaliel berkacak pinggang. “Heh! Apa normal tanggapan kamu biasa-biasa aja setelah berhari-hari ngilang dan nggak ada kabar, tau-taunya diculik orang gila!” Dia sedang menyembunyikan gengsinya dengan kalimat bersungut-sungut.
Sudut bibirnya tertarik membuat seulas senyum, lalu dia meloloskan tawa pelan. Padahal jauh di dalam hatinya sedang gundah dan berperang dengan rasa takut pasca diancam penggunakan pisau itu. Namun, dia harus tenang agar membuat orang tersayangnya tidak khawatir.
Walaupun sudah bercerita kepada penyidik, dia belum menceritakan kepada Ana atau Dimas, bahkan Kamaliel juga belum. Mungkin suatu hari dia akan menceritakan semuanya.
“Jangan parno gitu dong. Aya janji mulai sekarang akan lebih berhati-hati lagi kalau ada yang ajak. Aya juga salah karena nggak minta izin dulu sama Mama dan Papa. Ke depannya Aya bakalan minta izin, deh. Janji.”
Kamaliel menggelapkan wajahnya. “Apan sih, cringey banget! Urus tuh si kesayangan kamu!" cibir Kamaliel. "Rey belom dimandiin. Kama mau lanjut tidur.”
Alisnya terangkat naik. “Tumbenan nggak mau urus Rey? Biasanya juga suruh Aya diam dan nggak usah bertingkah sebelum Rey mandi.”
Fanya mengembangkan senyum. “Mama masak cah kangkung lagi loh! Kalo Kama tidur sekarang, nggak akan disisain.”
Fanya segera berbalik kembali menuruni tangga. Langkahnya setengah berlari.
__ADS_1
“Heh, jangan coba-coba korupsi, ya!”
“Aya denger minggu kemarin Kama nggak sisain buat Aya. Ngajak perang!”
Kamaliel beraksi. Dia menyusul adik perempuannya yang benar-benar bertingkah menyebalkan seperti tidak biasanya. Dia tidak akan tenang begitu saja.
Kamaliel menarik senyuman miring. “Siapa suruh perginya nyubuh!”
“Apalagi selama seminggu Mama selalu bikinin cah kangkung. Rasanya masih sama, tapi tetep aja ada yang kurang. Kalo belom perang dulu sama Aya rasanya nggak komplit,” lanjut Kamaliel berbicara fakta.
Kemudian, sebuah sandal khusus di dalam rumah berwarna biru mengenai wajahnya.
Perdebatan pagi hari membuat si bungsu tersentak, melirik dua orang tinggi yang saling berhadapan di depannya yang saling melemparkan ekspresi beragam ini membuatnya tersenyum, bahkan melontarkan tawa. Bahkan si bungsu saja menyukainya.
Si bungsu yang masih belum fasih berbicara, belum mengerti maksud dari perdebatan dua orang dewasa ini terlihat penuh syukur dari cara dia tersenyum. Ah, mana mungkin bayi seusia Reyhan dapat melakukan itu.
Namun, Reyhan tertawa-tawa memperhatikan kedua kakaknya yang berdebat hanya karena cah kangkung.
Setelah sarapan, mereka berkumpul di ruang tengah. Memperhatikan si bungsu tengah bermain bersama kakak perempuannya, sedangkan si sulung berperan merecoki keduanya.
Hari Minggu yang bising karena ulah bersaudara adalah salah satu dari alasan mengapa orang tua sangat bersyukur dan terus mengembangkan senyumannya. Menikmati momen seperti ini setelah insiden yang membuat gundah gulana pasti menjadi akhir yang bahagia.
Kata penyidik, pelaku utama yang telah menyekap putri mereka sudah ditetapkan. Mulanya ada dua, tetapi salah satu dari mereka dinyatakan sebagai saksi utama, sehingga pelaku utama telah ditetapkan.
Menurut kesaksian pemuda ini, terduga Jehan hendak membalaskan dendamnya kepada korban terhadap kejadian yang memicu konflik di antara keduanya, tetapi dia tidak mengetahuinya.
Lantas, dia segera mengaku bersalah atas keterlibatannya dengan mantan narapidana muda yang kini menjadi terduga kasus penyekapan seorang remaja perempuan.
Terlepas dari ketidaktahuannya terhadap rencana sesungguhnya dari pelaku, saksi utama tetap diberikan status bersalah atas keterlibatannya dalam rencana penyanderaan tersebut dan akan menjalani hukuman percobaan; tidak dilakukan di lembaga pemasyarakatan.
Sebab, saksi utama adalah pelajar dari sekolah yang cukup bergengsi, maka dia akan diawasi oleh pihak dari sekolah dan keluarganya juga.
Sementara pelaku, dia dijatuhi hukuman kurungan dalam waktu yang belum ditetapkan, karena dia kembali dinyatakan positif mengonsumsi obat terlarang setelah proses pemulihannya satu tahun lalu berhasil.
Tersangka dinyatakan alami sakau selama proses interogasi, sehingga tim penyidik juga melakukan tes yang menunjukan hasil positif telah mengonsumsi obat terlarang lagi. Oleh karena itu, dia diberikan hukuman kurungan dalam waktu yang belum ditentukan karena keterlibatannya lagi dengan obat-obatan terlarang.
__ADS_1
Kasus orang hilang pun selesai, pelaku juga sudah diamankan.