
Fanya sedang berbaring di atas kasurnya begitu dia berhasil pulang dengan selamat hari ini. Dia melarikan diri dari semua beban pikiran yang dia dapatkan hari ini dengan mengeluarkan sedikit emosi, keras kepala, dan diam.
Ada yang bilang kalau diam itu emas namun Fanya tidak menerapkan sikap tersebut kepada Zico, melainkan dia hanya diam ketika Bu Ida memberikan pertanyaan yang mana sebuah paksaan terselubung. Ingatannya tentang kegiatan di sekolah menjadi topik utama di dalam kepalanya.
...----------------...
“Lebih baik kita berhenti aja untuk saling peduliin satu sama lain, Zi. Percuma juga sih kayaknya.” Dia agak menyesal. Meskipun begitu, Fanya tidak bisa berbohong jika berada dalam tekanan seperti ini.
Langkahnya terhenti. Lantas dia berbalik untuk melihat kebenaran dari ucapan yang dia pikir adalah dari setan perpustakaan namun ternyata salah.
“Percuma?” Zico terkekeh sinis. Langkahnya kembali berjalan untuk menghampiri lagi gadis itu. “Gua nggak salah denger, kan?” Zico berusaha bersabar, tetapi tidak untuk ucapan sarkas yang terakhir.
Fanya benar-benar berada dalam emosi yang kurang stabil untuk beradu argumen dengan orang lain. Bahkan dengan kakaknya sendiri saja belum tuntas. Argumen dengan dirinya sendiri pun demikian. Apa lagi ini?
“Lo tau, kita nggak pernah ada apa-apa walaupun gosip mengatakan kita ada apa-apanya, Zi.”
BRAK!
Zico tidak bisa untuk tidak marah dengan kalimat selanjutnya. Dia hendak mengatakan pembelaan namun kedatangan Hanalya membuat kondisinya tersudutkan di sini.
Nggak boleh ada yang curiga ataupun tau, itu perjanjiannya. Merapalkan kalimat perjanjian di dalam hatinya sambil menatap penuh kilatan emosi dari binar matanya.
“Zico? Ngapain lo di sini? Nyamperin Ratu Paralel di saat belom ada lomba atau kabar olim? Kok mencurigakan, ya?”
Zico sedikit menarik sudut mulutnya sebelum akhirnya dia terlihat mengeraskan rahangnya dan berbalik meninggalkan dua gadis sejoli itu di ruangan penuh rak buku ini.
“Gua baru mau pergi kok. Gua kira di sini nggak ada siapa-siapa. Padahal mau ngadem di perpus tadinya. Nggak jadi karena Ratu.yang.butuh.ketenangan.”
“Sialan!”
Hanalya terperangah dengan apa yang barusan dia dengarkan.
Kata itu keluar dari mulut gadis yang dia kenal baik-baik dan mampu menjaga ucapannya, tetapi apa ini?
Dia berjalan di lorong menuju ruangan penuh rak buku untuk menghampiri seorang murid yang katanya mendekam di sana. Dia melangkah dengan wajah teduhnya, kacamata dan hijab menghiasi wajah serta kepalanya.
“Fanya—loh, kamu juga ada di sini, Zi?” Bu Ida datang bersama raut terkejutnya ketika dua orang yang dia cari ada di ruangan yang sama. Jackpot!
Bel masuk sudah berkumandang. Semua anggota kelas setiap angkatan sudah memasuki ruang kelas kembali, begitu juga dengan guru-guru.
Namun, tidak dengan tiga manusia ini. Fanya Fransiska memainkan ujung sepatunya gugup. Di samping kanannya tengah berdiri laki-laki yang lebih tinggi sepuluh sentimeter darinya. Dan, mereka tengah berhadapan dengan Bu Ida, guru matematika mereka, di ruangan konseling.
Bu Ida menatap dua anak didiknya yang masih berdiri di depan mejanya. “Fanya, ibu tau kamu itu berpotensi di sains. Cuman, akhir-akhir ini ibu lihat penurunan yang dramatis di nilai-nilai kamu yang sengaja ibu rekap dan mintai dari guru lain.”
“Kamu sengaja membuat penurunan semacam itu, ya?”
Kepalanya yang tertunduk itu perlahan mendongak untuk berhadapan dengan Bu Ida. Apa kata beliau barusan?
Sengaja, ya?
Fanya ingin sekali mengeluarkan suara lantang dengan kalimat seperti ini: “Ibu nggak tau apa-apa. Beberapa waktu terakhir tuh saya berada dalam kesulitan. Ibu nggak tau apa-apa!” Namun sayang, kalimat itu hanya angan belaka.
Bibirnya terbuka, dia hendak mengatakan sesuatu namun baru saja dia menarik napas, Bu Ida menyelanya dengan satu kalimat pertanyaan yang mana tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Dalam artian, seperti menegaskan bahwa tidak boleh memberikan penolakan.
“Itu nggak masalah sih sebenarnya,” katanya santai, “Fanya, kamu ikut OSN untuk tingkat kelas sembilan bareng Zico, ya?”
Dari sekian banyaknya persoalan, hanya berhadapan dengan Bu Ida saja dia tidak keras kepala atau ngotot dengan emosinya yang labil.
Fanya terdiam, diam, dan tetap diam walaupun Bu Ida bertanya kenapa gadis ini tiba-tiba mengalami penurunan nilai yang menurutnya dramatis. Membuat emosinya tersulut namun Fanya hanya diam.
...----------------...
__ADS_1
“Kalau nolak, Bu Ida bakalan kasih seratus cara supaya Aya bisa ikut. Kalau maksain diri ikut … tau, ah! Aya mumet.” Membatin penuh keluhan.
Fanya memejamkan kedua matanya dan menikmati pijatan pada pelipis matanya. Pusing. Belum lagi Bu Ida memberikannya lembaran soal-soal yang akan dijadikan tolak ukur sejauh mana gadis ini mampu mengerjakan soal-soal yang diprediksi menjadi contoh soal pada olimpiade mendatang.
Fanya dan Zico kembali ditunjuk sebagai perwakilan Margayu untuk mengikuti olimpiade sains nasional di Jakarta, November mendatang. Sekarang akhir September, besok juga sudah masuk Oktober, sedangkan Fanya frustrasi.
TRING!
Fanya menyadari getaran di balik jas almamaternya, sehingga dia segera merogoh ke dalam saku dan membuka akses ponselnya. Sebelah alisnya tertarik naik. Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal (lagi). Isinya begini :
Nomor Tidak Dikenal
[Ya, ini gua. Revano, temen lo semasa kecil.
Sori gua kirim sms begini, soalnya lo sama sekali nggak pernah nanggepin chat gua di whatsapp sih.
Lo masih inget nggak dengan lagu kesukaan kita?
Gua kirim audio di whatsapp, semoga aja lo buka dan dengerin audio itu.
Sori soal kejadian gua maksa lo berangkat bareng gua waktu itu.
Sori gua datang ke kehidupan baru lo, Ya.]
Biasanya Fanya akan mengabaikan pesan iseng yang selalu saja menerornya tanpa henti itu dengan menghapus dan membiarkannya saja. Akan tetapi, entah kenapa kali ini dia ingin menanggapinya.
Tidak, bukannya ingin, melainkan sudah menanggapinya. Fanya menurut dengan isi pesan itu. Dia membuka WhatsApp dan membuka ruang obrolan dari nomor yang ternyata sudah menyepam dengan puluhan gelembung pesan.
Fanya menggulir pesan yang dia terima dari nomor asing itu. Kebanyakan hanya spam ‘p’ sampai puluhan, yang mana terkirim selama satu menit penuh, tetapi pada keterangan waktu yang berbeda ada pesan cukup panjang isinya.
Fanya membacanya dengan mulut tertutup dan mata yang sayu. Diketahui Fanya mendapatkan puluhan pesan itu ketika pagi hari, sekitar pukul enam lewat lima belas menit.
Niat banget, tapi kenapa dia kirim sms juga?
Apa dia baru pegang henpon lagi?
[WhatsApp]
+62 839-xxxx-0143
Blokir | Tambah
Hari Ini
|P
|Sebenernya gua mulai terbiasa tanpa lo, Ya.
|Andai lo nggak semarah ini, Ya. Gua bakalan ceritain ke lo apa yang sebenernya terjadi, tapi kyknya lo gak bakalan peduli sih
|Gua gak tau kalo lo semarah ini cuman karena gua pindah rumah. Padahal gua sering bikin lo kesel. Bukankah seharunya lo bahagia ya dan bukannya marah?
|Gua harap lo dengerin audio ini deh
|mengirim audio
|Apa lo masih suka sama lagu dia atas, Ya?
|Oh, iya gua bakalan kirimin lagu yang ngingetin gue kepada lo terus
|mengirim audio
__ADS_1
Begitu dia memutar audio kedua yang nomor asing itu kirimkan, petikan akustik terdengar begitu lihai. Katanya chord lagu satu ini begitu rumit mengingat kecepatan petikan suara yang dihasilkan harus merdu dan pas dengan nada aslinya, tetapi pada audio ini Fanya tidak mendengar itu.
Petikan suaranya lamban namun tetap merdu dan selaras, harmoni iringan musik latar juga turut andil dalam perpaduan musik yang membawakan kesan melo di dalamnya.
Kayaknya hasil cover.
Teringat di saat kita tertawa bersama~
Ceritakan semua tentang kita~
Ada cerita tentang aku dan dia~
Dan kita bersama saat dulu kala~
Ada cerita tentang masa yang indah~
Saat kita berduka, saat kita tertawa~
Fanya mendapati pesan lanjutan. Dikirim ketika jam istirahat namun Fanya sama sekali tidak membuka ponselnya kala itu.
Apakah laki-laki itu juga membawa ponsel ke sekolahnya?
Bukannya ada larangan?
10.59
|Gua udah denger lo buang semua barang-barang kita. Gua seneng sih dengan keputusan lo, sebab itukan barang nggak berguna, tapi gimana sama flashdisk?
|Apa lo langsung buang dia? Beneran? Tanpa lihat isinya dulu, Ya?
Fanya Fransiska : Iya gue buang semua barang itu, tapi kakang sembunyiin kotaknya. Bahkan flashdisk punya lo juga ada di kotak itu. Semuanya ada di sana dan gue kehilangan itu. Gue udah lihat semuanya kecuali satu, itu video lo. Gue belom sempet buka file itu, Van|
Akan tetapi, Fanya urungkan semua kata yang sudah dia ketik sebegitu panjang, yang mana dia mencoba untuk mengutarakan perasaan tulus dari hatinya, meskipun dia membenci laki-laki itu sekarang, meskipun dia sudah sangat muak akan semua hal tentang laki-laki itu.
Meskipun begitu, Fanya dibuat menyesal. Menyesal sudah berbuat sejauh ini hanya karena—ya, kata-kata dari pesan yang dikirimkan laki-laki itu benar, Fanya akui hal itu.
Jadi, bisakah dia dapatkan apa yang dia butuhkan sekarang?
Dia menatap nanar pada layar ponselnya. Suara audio dari lagu berjudul ‘Semua Tentang Kita’ masih terputar.
Fanya sudah menduga jika suara berat dan merdu itu bukanlah berasal dari penyanyi aslinya, melainkan suara orang lain yang menyanyikan lagu tersebut. Memejamkan matanya.
Membela dirinya atas segala hal yang sudah dia lakukan hari itu, walaupun tidak ada salahnya mencoba berpaling setelah diterpa kesedihan hebat. Hitam. Satu alasan yang membuatnya sedikit tenang walau hatinya tidak. Dia senang dengan ketenangan dalam satu warna itu.
Kalau kata Rintik Sedu: Hitam. Satu warna yang menipu. Yang maknanya seribu.
Oleh karena hitam, satu warna gelap itu menghadirkan sebuah wajah cilik menggemaskan seseorang yang kini sudah menampakkan perubahan pesat akibat masa pertumbuhan.
Kekehan lolos dari mulutnya yang semula tertutup rapat. Fanya menarik sudut mulunya membentuk senyuman geli. “Kenapa rasanya aneh, ya?” tanyanya kepada debu. “Aneh banget pakai sebutan gue-lo sama dia, sementara dulu hangat banget sebut nama panggilan. Kenapa semuanya bisa berubah sebanyak ini, Tuhan?”
Fanya membuka kelopak matanya. “Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu.” Menyenandungkan lagu kesukaannya, ralat: kesukaan mereka.
...a/n:...
...Kalau Nanas sih nangis pas chapter ini. Nggak tahu kenapa, rasanya kayak ... aku udah capek dengan semua ini....
...Kalau kamu bagaimana?...
...Apa tanggapan kamu pada chapter ini?...
__ADS_1