Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
22. Aku Nggak Benci Dia


__ADS_3

Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari suatu hal yang menyenangkan hati, seperti sudah dibuat nyaman sampai timbul rasa sayang yang terdalam, yang intinya tertuju kepada sebuah kebersamaan. Kau tahu?


Seperti halnya setiap pertemuan yang tak terduga, kebersamaan yang menyenangkan, hingga banyaknya hal yang sama di antara kau dan dia, atau mereka. Semuanya berjalan mulus dan baik-baik saja sejak pertemuan pertama, layaknya takdir semesta yang mempertemukanmu dengan dia. Rasanya tuh seperti … kau sangat bersyukur dipertemukan dengan dia, sehingga pada akhirnya kau dibuat nyaman, kau jatuh hati, dan kau mulai menyayanginya. Namun ternyata, kalian tak akan bersama lebih lama.


Ya, itu yang akan dimaksudkan dalam kisah ini. Hal menyakitkan dari kalimat pembuka pertama itu merujuk pada hal ini. Hal menyakitkan itu adalah perpisahan; permisi akan pergi; minta diri; bahkan direnggut paksa oleh Yang Maha Kuasa. Menyakitkan bukan?


Setiap kali berhadapan dengan kakaknya, Fanya tidak pernah merasa secanggung ini. Alasannya mudah, sebab Kamaliel tidak pernah mengatakan hal-hal serius secara gamblang begitu saja, pastinya laki-laki itu akan mengutarakannya dengan sebuah candaan atau bahkan membuat kesal adiknya duluan.


Namun, Fanya kepikiran ucapan Kamaliel kapan hari itu, tidak mungkin itu sebuah keseriusan, kan?


Setelah pulang dari pesta, perempuan ini memberanikan diri untuk berbicara dengan kakaknya.


Fanya mati kutu ketika kakaknya ini menatap lurus tanpa mau berpaling sedikit pun darinya. Kini keduanya tengah berhadap-hadapan, Kamaliel duduk di kursi belajarnya, sedangkan Fanya duduk di tepi ranjang milik laki-laki yang memiliki bentuk mata kucing itu.


Kamaliel berdeham. “Emangnya kenapa gitu kalo ucapan Kama kapan hari tentang anaknya tetangga itu sebuah kenyataannya?”


Diam-diam perempuan ini merutuki maksud tujuannya kemari. “Mastiin aja,” jawabnya asal.


Matanya menyipit. “Emang beneran kok. Adiknya si Fasya bilang ke Kama kalo dia suka sama kamu. Kenapa? Mau terima dia balik?”


“N–Nggak!” Lantas dia berdiri. Ada gemuruh aneh di dalam dirinya ketika Kamaliel melontarkan kalimat seperti itu, seperti merasa tersinggung dan atau perasaan bersalah.


“Dia aneh banget akhir-akhir ini. Kenapa dia balik lagi setelah tiga tahun coba? Ngerepotin tau!”


Sudut mulutnya terangkat miring. Menatap jenaka ke arah adik perempuannya yang kentara sekali salah tingkah. “Bener, kenapa dia harus balik lagi setelah bikin seorang Aya yang manja berubah drastis menjadi Aya yang mandiri-mandiri, haha.”


“Nggak usah pake ngatain juga dong!” Gadis ini terdengar marah dengan wajah yang merona tersipu.


Kamaliel penasaran dengan satu hal. “Kenapa tiba-tiba tanyain hal itu? Kalau emang Kama bercanda, ya, anggap aja bercandaan.” Helaan napas keluar dari mulutnya sambil menyeringai jenaka.


“Dia ada ngegombal lagi atau ada hal yang bikin kamu terganggu?”


Kerutan pada dahinya tampak dalam menandakan bahwa dia tidak paham betul dengan apa yang barusan diucapkan kakak sulungnya.


“Udah jelas dengan kembalinya dia tuh ganggu Aya banget, Kang. Berasa dihantui orang yang udah mati gitu rasanya.”


Kamaliel mendesis keras saat adiknya yang kelewat anggun itu mengatakan hal-hal frontal seperti itu untuk mengibaratkan teman masa kecilnya sendiri.


Kamaliel terkekeh sinis. “Aya, Kama sangat menyayangkan sekali keputusan kamu untuk membenci orang yang ninggalin kamu tanpa kabar gitu aja. Ketika kamu membenci dia, maka cuman ada penyakit yang bakalan bersarang di hati dan pikiran kamu,” katanya menasihati.


Fanya menggeleng. “Aya nggak benci dia sama sekali. Emangnya salah kalau Aya kecewa? Oke, mungkin jatohnya Aya benci sama dia gara-gara hal yang Kakang sebutkan barusan, tapi sebenernya nggak. Aya cuman ….” Matanya berkaca-kaca. Suaranya tercekat sehingga dia menahan ucapannya. Apa salahnya Aya berusaha mengimbangi dia?


“Cuman apa?” tukasnya.


“Kama nggak bakalan ngerti!” Fanya segera meninggalkan kamar kakak sulungnya dengan percakapan yang berakhir tidak pasti, belum tuntas sepenuhnya sebab gadis ini merasa tersudutkan.

__ADS_1


Namun, matanya menangkap sebuah potret yang terpajang pada salah satu dinding kamar kakaknya ini.


“Kama, ini ….” Dia berbalik menghadap ke arah Kamaliel sambil menunjuk ke arah dinding itu.


Benaknya penuh tanya seperti; bagaimana bisa masih ada?


Dari mana Kamaliel mendapatkan polaroid itu?


Apakah mungkin dia menemukan benda lain dari kotak yang sempat dibuangnya?


Dia bergeming sesaat sambil memikirkan kalimat apa yang akan dia lontarkan sebagai pembelaan.


“Oh, itu,” katanya gugup. “Kenapa? Nggak boleh, ya, Kama pajang di sana buat kenang-kenangan?”


Fanya menurunkan ketegangan yang ada pada wajahnya. “Kama dapetin polaroid itu dari mana? Apa dari kotak?”


Sontak dia mengangguk. “Kotaknya ada di gudang, waktu itu Kama lagi cari barang-barang yang Mama simpen di sana.”


Fanya bergeming sesaat. “Kotaknya masih ada?”


Kamaliel menggaruk kepalanya. “Cari aja di gudang.”


Sejujurnya ada di lemari miliknya, tetapi Kamaliel ingin tahu apa yang dicari oleh adiknya. Dia akan mengulur waktu sampai adiknya ini mendapatkan apa yang dia cari.


“Mau cari apa?”


Begitu Fanya pergi, Kamaliel bergegas menghampiri lemari pakaiannya yang mana tersimpan sebuah kotak barang berwarna cokelat yang dihiasi tali rami. Dia segera berjongkok untuk memeriksa barang-barang yang masih tersisa di dalamnya.


Tidak ada yang istimewa selain stok kertas foto, kamera polaroid, dan sebuah kotak berukuran kecil yang dihiasi pita putih cantik di atasnya. Tangannya terulur untuk meraih kotak kecil itu.


Fanya bersandar pada pintu kamarnya dengan wajah yang sudah kacau. Tak mendapati barang yang dia cari setelah berasumsi jika barang miliknya telah hangus terbakar sejak lama setelah dia memutuskan untuk membuangnya.


“Apa mungkin flashdisk itu nggak aku masukin ke kotak, ya? Terus aku simpen di mana benda itu?”


Setelah menuntaskan keberanian sampai menemukan benda kenangan miliknya yang terpajang rapi pada dinding kamar sang kakak.


Setelah menghalau pikiran penuh ketakukan akan makhluk yang tak kasat mata, dengan penuh keberanian yang dia miliki sebab tergesa kala itu, sehingga membuatnya masuk ke dalam ruangan gelap dan dipenuhi barang-barang usang dan persediaan barang rumah yang ditutupi kain putih yang mana memberikan kesan tersendiri.


Tak ingin ambil pusing lagi, Fanya segera menghampiri ranjang empuknya. Lagipula sekarang sudah larut malam. Dengan berani dia menghampiri kakaknya yang sedang beraktivitas malam membuatnya benar-benar kehabisan energi positif dalam kepalanya.


Meski sudah merebahkan tubuhnya dengan nyaman, tetapi pikirannya tak berlabuh sama sekali. Pikirannya berlayar ke mana saja yang tak dia ingin pikirkan. Bahkan penyesalan yang lalu juga sempat melintasi pikirannya. Tanpa sadar monolog dini hari pun sedang berlangsung.


Fanya menghela napas sambil menatap langit kamarnya yang tampak sebuah bayangan dari corong lampu tidur yang dia simpan di samping ranjangnya.


“Aku keinget dialognya Shimizu Anya, "Di dalam relung hatiku, entah di mana, aku membencinya karena sudah meninggalkanku."

__ADS_1


"Sial … kenapa aku harus ngerasain sakit di sini?” Tangannya yang mengepal itu memukul-mukul permukaan dadanya yang mulai sesak dan terasa diremat kuat oleh sesuatu.


Shimizu Anya adalah karakter fiksi dalam komik jaringan yang dipublikasikan dalam sebuah aplikasi membaca. Karakter fiksi beranama Shimizu Anya berada dalam judul komik bertemakan olahraga yang menyorot seorang pemain tenis dan kisah percintaannya yang rumit. Bagi Fanya, penderitaan Anya dengan dirinya itu tak sedikit berbeda. Walaupun begitu, Fanya setuju dengan kalimat sendu dari Anya.


Fanya mengubah posisinya menjadi miring ke sebelah kanan.


“Sialnya, aku nggak bisa sungguhan untuk membenci dia karena …,” lanjutnya parau.


Di dalam dirinya, di kepalanya, dia berusaha mengingat-ingat semua isi file yang terdapat dalam benda transfer data itu. Masih bisa dia ingat sih, tetapi ada satu hal yang dia lewatkan dari semua file yang telah dia buka.


“Apa isi file terakhir? Sial, kenapa flashdisk itu harus masuk ke kotak itu sih?”


Salah sendiri mengapa nekat membuang barang-barang penuh kenangan tanpa sebuah pertimbangan dan mengutamakan emosional?


Ingatannya berlayar semakin jauh hingga bertemu dengan seberkas kenangan lalu. Di mana dia menemukan kenyamanan yang dulu selalu didapatkannya dari mereka.


Tanpa sadar, Fanya merindukan kenangan mereka dan mengharapkan kebahagiaan orang-orang yang masih dia sayangi, meskipun ada sedikit keinginan darinya agar orang-orang ini melupakannya saja.


Meski Fanya rindu, meski Fanya menangis mengingat kenangan indah bersamanya. Meskipun begitu, Fanya tetap berharap jika mereka melupakannya saja dan bersikap seolah semuanya tak pernah terjadi sekali pun, bahkan kenangan indah yang pernah mereka ukir bersama.


Fanya terlanjur membenci orang yang sudah meninggalkannya, walaupun dia terlanjur memberikan perasaan lebih dari biasanya.


Biasanya dia menyayangi orang ini karena ada timbal balik seperti ditraktir, sedangkan kala itu dia mulai menyayanginya segenap hati.


Namun sayang beribu sayang, dia pergi meninggalkan Fanya, sehingga membuat perempuan manja itu menjadikannya alasan untuk menyakiti dirinya. Fanya berasumsi jika kepergian orang ini adalah untuk menyakitinya.


Matanya memang terpejam, tetapi ada yang menerobos keluar dari balik kelopak mata yang terkulai menutup itu, serta bibir yang bergerak-gerak mengeluarkan kata demi kata yang berasal dari lubuk hatinya. “Kalau aja dia bisa rasain apa yang aku rasakan waktu itu … kalau aja ….”


Ketika kamu menyakiti seseorang, apakah kamu memikirkan perasaannya?


Ketika kamu mengucapkan namanya, apakah kamu benar-benar memikirkan dia?


Ketika kamu berkata, kamu menyayangi dia selamanya, apakah itu bukan kebohongan?


Ketika kamu menarik tangannya, bisakah kamu rasakan debaran kencang yang sedang dia alami?


Ketika kamu memeluknya, apakah kamu merasakan jiwanya?


Ketika kalian bersama dan berbicara tentang masa depan di halaman belakang rumahnya, apakah itu hanyalah khayalan?



A/n:


Well, akhirnya sampai juga pada bagian ini. Alasan mengapa kisah ini dituliskan dan sampai di layar kamu.

__ADS_1


Nanas harap kamu menyukainya dan bertahan bersama kami sampai akhir cerita ini.


__ADS_2