
Hujan deras mengguyur Kebon Hejo semalaman penuh. Padahal sore harinya begitu indah dengan menampilkan langit berseri berwarna jingga. Langit yang menemani kegugupan insan merana kala itu ketika berada di Taman Danau.
Seminggu setelah itu, Fanya menjadi lebih pendiam dari biasanya. Fanya juga mulai membiasakan diri untuk tidak membawa ponselnya ke sekolah, dan pulang tanpa dijemput Kamaliel.
Dua minggu selanjutnya, ada kabar yang berembus jika perwakilan Margayu lolos babak penyisihan, sehingga Margayu masih dapat ikut serta dalam babak berikutnya.
Katanya, pesaing Margayu berasal dari berbagai daerah yang mana jauh lebih kompeten. Meskipun begitu, Margayu memiliki dua kandidat yang memang kompetitif.
Pertengahan November, hujan deras selalu menemani pagi hari sebelum berangkat ke tempat aktivitas. Sudah satu minggu cuaca pagi hari selalu berderai air hujan.
Sudah tiga minggu berlalu sejak Revano mengungkapkan semuanya sore hari itu, sementara Fanya selalu begini selama tiga minggu. Lebih pendiam, sering melamun, dan benar-benar berubah menjadi lebih disiplin dari biasanya di sekolah, sehingga mendatangkan berbagai macam rumor picisan mengenai seorang Fanya Fransiska.
Fanya dan Hanalya, sedang bercumbu dengan cerita-cerita jenaka dari Jia. Mereka bertiga mulai memamerkan kedekatan satu sama lain di sekolah sejak dua minggu lalu, menghapus jejak rahasia tentang sisi lain dari seorang Fanya: sang ratu pararel mereka yang dikenal berdarah dingin, si kulkas tujuh pintu.
Ketiga sekawan ini duduk di meja kantin paling pojok, sehingga membuat siapa saja dapat melihat sekaligus mendengar gelak tawa tiga gadis kelas sembilan.
Fanya si jutek duduk bersama Hanalya si sok populer sudah biasa dilihat penghuni Margayu, sementara Jia si primadona atau girl crush dari Margayu ini sungguh tidak biasa.
Ada apa gerangan dengan Jia si primadona yang mau-mau saja duduk bersama dua orang menyebalkan se-Margayu itu?
Selain Jia si primadona, para PPCM (Paguyuban Penggemar Cowok Margayu) juga dibuat geram ketika salah satu cowok favorit mereka tiba-tiba duduk di tempat dua cewek menyebalkan itu.
Mikel, dia berseri-seri ketika berhasil menjahili Hanalya yang dikepang dua hari ini. Dia menarik sebelah rambutnya sampai perempuan itu mengaduh kesakitan.
Semakin dibuat panas ketika Mikel mengambil posisi duduk di samping Fanya, tepat di hadapan Hanalya.
Di antara pengunjung kantin yang dibuat geram dengan interaksi mereka, ada salah satu perempuan yang baru saja datang dan langsung menghampiri meja keempat orang anggota kelas sembilan itu.
Sebelum menatap Fanya dengan sengit, Starla menatap Mikel penuh minat, dia terkesima dapat melihat visual cowok favoritnya sedekat ini. “Permisi akang, teteh, saya Starla dan saya disuruh Bu Zayidah untuk panggil teh Fanya.”
Bukan Fanya yang menyahut, bukan juga Mikel, apalagi Hanalya, melainkan Jia. “Ada apa, Starla? Kenapa nggak Bu Zayidah aja yang kemari?”
Hanalya dan Mikel terkekeh sambil mengganggu Jia dengan berbagai cara. Mikel melemparkan cangkang kacang ke wajah Jia, sedangkan Hanalya mencubit pinggang ramping Jia yang seperti pinggang model ini cukup keras.
Fanya sudah bangkit dari kursinya, tetapi suara Hanalya dan Jia menahan langkahnya. Kemudian, Fanya menatap adik kelasnya yang bernama Starla ini dengan tatapan penuh pertimbangan. Namun, selain suara dua temannya, cekalan tangan Mikel juga menahan Fanya di tempatnya.
“Nah, Starla,” kata Mikel, “kira-kira Bu Zayidah bilang apa sama kamu? Kenapa dia panggil Fanya? Bu Zayidah, kan, lagi cuti hari ini.”
“Wah, Dek!” seru Hanalya. “Kamu bohongin kakak kelas? Wah!”
“Jangan sabar, Han. Ngamuk aja.” Jia menyulutkan api emosi kepada Hanalya.
__ADS_1
Starla melebarkan matanya, dia menunduk sesaat, lalu kembali menatap lurus ke arah Mikel dengan sorot tajam. “Wah, sayang sekali saya ketahuan, Kang Mikel,” katanya, “oke, alasan saya datangi kalian bukan untuk bawa teh Fanya ke Bu Zayidah, tapi saya mau berbicara empat mata dengan dia.” Menghunuskan tatapan tajam ke arah Fanya yang kini sudah berhadap-hadapan dengannya.
Fanya mengerutkan dahinya, tidak pernah ada kasus seperti ini selama dia berada di Margayu. Biasanya mereka akan berbicara lantang menggunkan teror surat atau pesan spam di SMS.
“Ada apa? Apa yang mau bicarakan?”
Starla berdeham. “Teh Fanya Fransiska, betulkan namanya itu?”
Melihat Fanya mengangguk, Starla tersenyum miring.
“Saya salah satu anggota pe-pe-ce-em, saya juga ketua klub mading yang selalu pajang semua informasi terbarukan se-Margayu, sekolah kita. Saya mewakili teman-teman klub mading dan pe-pe-ce-em ingin mengimbau teteh supaya nggak usah kegatelan dengan deketin orang-orang paling favorit temen-temen se-Margayu.
"Teteh itu seharusnya tahu diri aslinya siapa di hadapan temen-temen se-Margayu. Teteh itu salah satu orang yang paling nggak disukai sama temen-temen se-Margayu, dimohon tahu diri, ya, teh Fanya.”
Suasana kantin mulai riuh dengan bisik-bisik halus di belakang sana.
Ucapan panjang dari Starla membuat Jia dan Hanalya tertegun, sedangkan Mikel hanya diam sambil memperhatikan gerak-gerik Starla di seberangnya.
Sementara Fanya, dia tidak merubah ekspresinya sama sekali sejak kedatangan Starla di awal tadi.
Starla tersenyum manis. “Mohon pengertiannya, ya, teh Fanya. Kursi teteh bukan di sini bersama tiga orang yang masih dikenal baik-baik se-Margayu. Melihat catatan kedisiplinan, teteh ini tidak sebanding kalau harus bersama mereka bertiga. Dan lagi, kapan sih teteh berhenti cari perhatian kami dengan selalu bikin ulah sampai kami harus peduli dengan semua rumor teteh yang picisan itu?
“Saya mengerti kalau teteh ini juara dua pararel di sekolah kita. Bahkan rangking saya aja jauh dari rangking teteh, bahkan teman saya yang jenius aja dikalahkan sama teteh yang kebiasannya nyari ketenaran melalui rumor picisan, nggak adil!”
Mikel tidak terkejut sama sekali, sebenarnya dia secara tidak sengaja menguping perbincangan anak-anak mading yang sedang menggunjingkan Fanya, sehingga dia bisa tahu niatan Starla datang kemari, tetapi Mikel pura-pura tidak tahu.
Alasan Mikel menghampiri tiga perempuan terdekatnya juga untuk menahan Fanya agar tidak pergi diajak Starla.
“Mikel, gapapa. Biarin aja dia sampaikan apa yang mau dia katakan,” sela Fanya tanpa berekspresi.
“Gimana, Dek? Masih mau lanjutin ucapan kamu yang udah di-setting itu? Kamu disuruh siapa? Pacarnya anggota Medali? Keysha si primadona? Oh, kamu tadi bilang anak mading, kan? Apa Natusha yang suruh kamu?”
“Bukan! Ini murni dari pikiran saya sendiri, teh!” sanggah Starla.
Fanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Lanjutkan di sini atau di ruang konseling?”
Warna terkuras dari wajah merona Starla. Dia sedikit menunduk untuk menutupi kegugupannya. Sungguhan, ucapan Fanya barusan membuat nyalinya menciut. Dia juga mendengar ucapan orang-orang di belakangnya yang mana sebagian dari mereka menyetujui beberapa patah kalimatnya.
Starla mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Suaranya mulai terbata-bata. “N--Nggak usah, teh Fanya. Di sini aja, kalimat terakhir yang mau saya sampaikan ... adalah ….”
Starla memberanikan diri untuk menatap sengit Fanya lagi seperti yang dia lakukan di awal. “Tolong jaga jarak dari orang-orang favorit kami. Teteh itu sama halnya dengan rumor teteh sendiri, picisan!” tekannya, lalu dia berbalik dan berlarian meninggalkan kantin.
__ADS_1
Ucapan Starla yang lantang barusan membuat kantin kembali riuh. Sedikitnya mereka mengolok-olok Starla sendiri, sedangkan kebanyakan dari mereka menyemangati aksi Starla yang mana memiliki keberanian sama rata dengan si Ratu jutek.
“Wah, nggak bisa dipercaya kalau barusan dia sarkas sama kita,” cibir Hanalya.
Dia mendapatkan senggolan dari Jia yang menyuruhnya untuk diam, sementara Mikel menatap datar padanya.
“Neng, udah biarin aja nggak usah dipeduliin! Mereka caper doang.”
Bukannya mendengarkan Hanalya, dengan tanpa berbicara dia pergi dari meja mereka dan meninggalkan kantin seorang diri.
Membuat mereka bertiga melongo kebingungan, tetapi Fanya mengesampingkan keberadaan tiga temannya dan terus berjalan menjauh. Tujuannya adalah ruang kelas. Lagipula jam istirahat hampir usai, Fanya ingin menenangkan dirinya dan tidur di kelas pada jam terakhir sebelum benar-benar pulang.
Sementara di kantin, Hanalya ditahan Mikel, begitu juga dengan Jia yang terpaksa mengikuti ucapan Mikel untuk tidak membiarkan Hanalya pergi menyusul Fanya duluan.
Namun, Hanalya berontak sekuat tenaga, walaupun pada akhirnya dia luluh juga karena Mikel benar-benar tidak akan membiarkan Hanalya menyusul Fanya duluan.
“Diem, Han. Fanya bisa atasi ini sendiri, jadi jangan dulu ganggu Fanya dengan perhatian lo. Kasih Fanya waktu untuk sendirian kali ini, dia bener-bener membutuhkan itu sekarang,” kata Mikel.
“Wah, kalian ini pada kenapa sih? Barusan Fanya direndahkan sebegitunya dan apa yang kita lakukan tadi? Kenapa kita cuman diem aja, ya?” Hanalya menjadi kesal.
Jia menghela napas dalam. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Jia terlalu terkejut dengan semua kata-kata yang Starla lontarkan untuk Fanya.
Picisan.
Orang paling tidak disukai.
Orang paling favorit.
PPCM.
“Pe-pe-ce-em itu paguyuban apaan sih?”
Hanalya menyahut, “Penyuka apa gitu. Antara Medali sama Margayu. Heh, Le, pe-pe-ce-em itu apa?”
“Dua-duanya,” balas Mikel.
Baik Hanalya maupun Jia sama-sama kebingungan.
“Gimana-gimana?”
Mikel mendelik. “Paguyuban penyuka cowok Medali se-Margayu.”
__ADS_1
“Pe-pe-ce-em-em dong kalo gitu?” tambah Jia.