Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
33. Hal Yang Tidak Diketahui


__ADS_3

Mikel tersenyum lembut. Dia mencomot kentang goreng pesanan Fanya. “Nggak ada yang nggak mungkin di dunia yang memiliki banyak perspektif ini, Aya,” katanya sambil menarik seulas senyum.


“Jadi, gimana perasaan lo terhadap Revano?”


Waktu berjalan begitu pelan ketika pertanyaan itu terlontar untuknya. Dia sedikit terkejut, tetapi dia dengan cepat bergeming. Begitu lama membisu sampai cairan susu campuran pesanannya tersisa setengah dari gelas ukuran 800 mililiter, karena berusaha mengalihkan fokusnya dari pertanyaan Mikel. Namun, untuk apa juga dia harus menghindar?


“Muak. Aku muak sama dia.”


Mikel tersenyum penuh arti. “Omong-omong, lo jadian sama Zizi sejak kapan?”


“Apa? Mau ngeledekin? Udah jelas rumor itu nggak bener.”


“Haha, gua denger percakapan lo sama Zizi waktu di perpustakaan pas hari penyuluhan. Live, gua ada di sana waktu kalian tengkar. Bukan dari rumor.”


“Apa?”


Walau sebenarnya Fanya tidak benar-benar terkejut sebab dia sudah mengetahuinya. Ketika Revano mengirim pesan pertanyaan tentang kandasnya hubungan rahasia Fanya dengan Zico. Akan tetapi, Fanya berusaha untuk bersikap normal agar tidak beredar lagi rumor sialan lainnya.


“Aku bakal kasih tau, tapi jangan sampai bocor.”


Mikel mengangkat bahunya dengan senyuman miring kemenangan. Sementara Fanya, dia mendelik kesal.


Kelakuan Zico yang nekat beberapa minggu terakhir memang meresahkan karena selalu memaksakan diri untuk bertemu di sela waktu yang katanya sudah dia kondisikan, tetapi tetap saja, ada ungkapan jika kita menyembunyikan bangkai sebaik mungkin, suatu hari pasti akan tercium juga baunya.


Ah, menyebalkan.


“Nggak, alih-alih bertanya sejak kapan kalian mulai, gua lebih penasaran alasan kenapa kalian putus? Biasanya yang backstreet itu aman, lancar, dan tenteram jaya. Ada apa dengan kalian?”


“Tentu aja karena si Vano!” kata Fanya tersulut.


“Zico itu gampang rendah diri. Walaupun dia udah tau tentang semua hal yang berkaitan tentang aku, Vano, dan kita sewaktu kecil. Kalau si Vano balik, Zico nggak bakalan jadi dirinya sendiri karena dia bakalan merasa rendah diri dan berakhir kacau. Dan, kesempatan selama dia pergi karantina olimpiade adalah tiket instan. Supaya aku bisa leluasa selesaikan masalah ini tanpa harus bikin Zico terlibat.”

__ADS_1


“Jujur gua nggak paham.”


“Aya juga nggak tau dengan ucapan barusan itu maksudnya apa, tapi tujuan putusin Zico itu tulus demi bikin dia fokus sama olimpiade dan sabet medali, itu impian dia buat sekolah. Jadi, apa salahnya merelakan hubungan demi terlaksananya sebuah tujuan yang lebih baik?”


“Terus sekarang apa?”


“Rencana selanjutnya adalah selesaikan masalah dengan si nyebelin anaknya tante Frisly, kali ini Aya nggak mau diusik dia lagi. Bahkan papasan secara nggak sengaja sama dia aja bikin males ngapa-ngapain seharian,” jawab Fanya.


“Putus dari Zico udah, sekarang aman kalau semisal kepergok jalan sama cowok lain. Nggak perlu ada yang larang dan sok-sokan ngambek lagi. Walaupun harus mengorbankan kepercayaan Zico, gapapa. Aya lega dia mulai terima diputusin dengan alasan yang bukan sesungguhnya. Selanjutnya, tanggapin si nyebelin Revano dan mari kita lihat apa tujuan dia.”


Mikel terdiam. Dia tidak menyangka, jika sahabat dari Hanalya cewek paling cerewet yang pernah dia kenal ini memiliki rencana dan tujuannya sendiri. Alih-alih menjadi jembatan antara Revano dan Fanya, Mikel masih bersikap sebagai sinyal dari sambungan telepon yang menghubungkan dua insan itu.


Analogi yang kurang mengesankan, tetapi dengan cara seperti ini membuat Mikel tahu jika renggangnya Fanya dengan Revano beberapa tahun belakangan membuat Fanya berubah dari segi kepribadian.


Mikel tahu Fanya tidak benar-benar sadis seperti kata rumor. Mikel juga tahu jika Fanya mulai bersikap menyebalkan ketika dia tahu jika Revano dinyatakan pindah rumah ke Arcamanik.


Awalnya Mikel penasaran kenapa Revano mau pindah ke Arcamanik, sedangkan Mikel tahu jika Revano tidak pernah mau berpisah dari bundanya. Namun, perlahan-lahan Mikel mengerti. Revano memiliki alasan yang dia gunakan untuk menggapai impiannya, sedangkan Fanya menganggapnya lain, sampai membangun benteng pertahanannya.


“Gimana Kebon Hejo? Rumah bekas keluarga gua masih kosongkah?”


“Sebenernya udah ada yang isi, tapi kata Kama pemiliknya lagi sekolah ke tempat yang jauh dan ninggalin rumah itu bertahun-tahun, tapi setiap beberapa kali sekali dia balik ke sana dan berkunjung sih.”


Begitu rupanya.


Mikel menatap lurus gadis yang semakin hari semakin bertingkah di hadapannya. Dia mencebik. “Kalo aja gua nggak pindah rumah, gua bakalan bocorin kebenaran dari skenario belegug maneh. Pura-pura nggak saling kenal di sekolah, jadi cewek jutek dan galak, dan sok-sokan menjadi yang terkucilkan.”


Mikel menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan skenario drama yang anehnya dia setujui juga kala itu.


“Kalau nggak gitu, mereka bakalan nyusahin aku terus supaya bisa deket dan caper sama geng kalian. Sayang sekali si Vano nggak amanah dan isengin Aya terus di hadapan temen-temen kalian dan temen sekolah lainnya.” Fanya melirik pada jam tangan digital miliknya. “Udah mau dua puluh menitan. Mau pulang dan sungkem sama Mama karena bolos les hari ini.”


“Oke. Inget pesan gua, jangan ditanggapi dulu, kecuali kalo lo mau lancarin rencana lo sendiri. Keputusan ada di tangan lo. Menurut gua, si Vano bakalan ungkapin sesuatu kalo lo terus diemin dia lebih lama karena ….”

__ADS_1


Lo adalah target taruhan edan gengnya dia yang baru, Ay. Kalo gua kasih tau, lo pasti bakalan rusakin rencana lo untuk berbaikan sama Revano. Kalau lo nggak segera berbaikan dengan luka lama, maka lebih lama lagi waktu buat lo sembuh dari semua trauma itu.


“Vano minta bantuan gua buat deketin kalian berdua. Padahal, dulu gua yang minta si Vano buat deketin lo dengan gua.”


“Teruslah kayak gitu. Inget, ya! Jangan sampe bocor. Jangan sampe ada yang tau kalau kita ini udah temenan sejak lama. Jangan sampe ada yang tau tentang hal ini deh pokoknya.”


“Terus Hanalya? Lo nggak mau jelasin sesuatu gitu ke dia?”


Fanya bergeming. Dia hendak bangkit dan meninggalkan Mikel, tetapi ucapan Mikel membuatnya tertahan lagi.


“Dia masih orang baru, dia belum boleh tau tentang semua cerita di masa lalu. Yang harus dia tau adalah cerita baru, sama kayak peran dia, orang baru di hidup kita, kecuali satu hal, yaitu kalau udah waktunya. Kalau udah waktunya, Aya bakalan kasih tau Hana kok. Tentang kita.”


Pada akhirnya Mikel tahu alasan di balik tertutupnya kehidupan seorang Fanya Fransiska. Gadis ini tidak membiarkan sembarangan orang masuk begitu saja ke dalam hidupnya jika bukan karena keinginan dirinya sendiri. Jika bukan karena kemauan Fanya sendiri, jika bukan atas persetujuan gadis ini sendiri.


Jadi, haruskah Mikel bersyukur karena dia ambil bagian dalam kehidupan seorang Fanya Fransiska yang tertutup ini?


Sepertinya tidak perlu, sebab Fanya tidak benar-benar seterbuka itu kepada Mikel.


Ada banyak hal yang masih Mikel tidak ketahui tentang mantan teman satu kompleksnya ini. Mikel masih dianggap orang asing oleh Fanya, walaupun tidak diperlakukan seasing itu oleh gadis peraih juara dua pararel di sekolah mereka.


Mikel hanya tahu secara garis besar masalah yang dihadapi dua temannya, sedangkan yang dia dengarkan baik dari Revano maupun Fanya tidak semacam itu. Tidak seperti yang dia dengarkan.


“Sebenarnya mereka ada masalah apa sih sampai harus musuhan begini? Gua yakin pas Fanya memutuskan sekolah ke Margayu bareng gua dan Nunu, dia baik-baik aja. Terus semenjak kapan cewek ini beneran berubah drastis. Bahkan dulu dia nggak pernah berani langgar peraturan sekolah, sekarang malah sebaliknya.”


“Fanya rela sekolah di swasta gini cuman karena si Nunu, tapi tiba-tiba aja dia pacaran sama salah satu anak Medali ….”


Mikel merenungkan setiap inci kejadian yang sempat membuat nama baik Fanya tercoreng.


“Bener juga! Semenjak dia bermasalah sama Bang Jehan! Sayangnya gua nggak tau apa-apa karena harus cuti sekolah waktu itu. Apa kalau gua tanyain ke anak Medali bakalan dikasih tau, ya? Nggak deh kayaknya. Bisa pecah lagi masalahnya.”


__ADS_1


__ADS_2