Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
45. Menghilangnya Zero Person


__ADS_3

Satu pekan terakhir pada Desember, Fanya mengisi kekosongan kegiatan dengan ikut kelas tambahan di luar sekolah pada instansi akademi yang ada di dekat area sekolahnya. Terdapat bermacam nama namun yang dia tempati bernama Tut Wuri Akademi.


Tidak hanya Fanya, melainkan Hanalya sampai si juara pararel nomor satu juga mengikuti kelas tambahan di sana.


Namun, pada liburan kali ini ada yang berbeda. Fanya hanya sendirian tanpa ditemani Hanalya yang sebenarnya tidak satu kelas dengan dia di instansi ini.


Hanalya dikabarkan tengah meliburkan dirinya pada kelas seni karena gadis cerewet ini mendapatkan tugas dari ayah Brigadir untuk mengikuti kelas tambahan di instansi dengan logo tersenyum.


Sedangkan itu, teman-teman satu kelasnya di Tut Wuri ini tidak begitu dekat dengan Fanya. Namun, mereka menangkap sesuatu yang aneh pada pertemuan kelas selama liburan ini. Salah satunya Kartika dan Cathreena.


“Katanya Fanya gagal ikut olimpiade kemarin, padahal dia belajar giat banget waktu itu, ya? Bahkan sampai mentor tingkat SMA aja bantuin dia buat pecahin soal-soalnya,” bisik Priyanka.


“Kemarin  Zico libur les karena harus ikut olimpiade dan ini wajar, tapi ada kabar kalau dia nggak akan ikut kelas ini lagi. Dia mau ganti mentor dan nggak sekelas sama kita lagi!” lanjut Priyanka.


Cathreena menyahut, “Aku ngerti perasaan kamu, Pri.” Dia tersenyum lembut. “Kurangnya populasi cowok ganteng di kelasnya mentor Irene ini bikin aku kekurangan vitamin C. Vitamin cowok cakep.”


Membuat Kartika dan Priyanka berseru. Cathreena hanya terkekeh geli.


Namun, Kartika segera undur diri dari perbincangan mereka dan menghampiri Fanya yang berada di luar kelas.


Dia sedang menatap pemandangan gedung dan permukiman di bawah sana sambil menikmati embusan angin dingin menerpa epidermis tubuhnya.


“Fanya, ayo masuk dan kita ngobrol bareng. Kita udah sekelas selama tiga tahun di sini, tapi kamu nggak pernah nimbrung sama kita. Ayo, masuk karena di luar dingin. Kita harus jaga kesehatan demi kelancaran memahami materi ajar.”


Bukan tanpa alasan Kartika mengatakan hal demikian, dia merasa iba dengan Fanya yang selalu mendapatkan gosip tidak baik, padahal Fanya orangnya baik menurut Kartika.


Fanya tersenyum samar. “Makasih, Kartika. Aku lagi nunggu Zico.”


“Jadi, kamu belom dengar, ya?”


Melihat tanggapan Fanya yang kebingungan, Katika sedikit terkejut.


“Aku pikir kamu adalah orang yang dia kasih tau duluan karena kalian sering pulang bareng kalau nggak ada Hanalya. Kalian ada hubungan, kan? Selain sebagai temen sekolah.”

__ADS_1


“Nggak ada.”


Kartika tidak bergeming, dia berjalan selangkah dan bersandar pada tembok pembatas, seperti halnya yang dilakukan Fanya.


“Terserah. Katanya, Zico ganti mentor. Dia juga pindah jadwal kelas. Aku yang ada di kelasnya mentor Jayden aja kaget ketika dia ada di sana. Katanya, dia disuruh ganti mentor karena mentor Irene itu kakak sepupunya.”


Fanya tertegun. Bukan karena baru mengetahui jika mentor bernama Irene adalah kakak sepupu laki-laki cerdas itu, melaikan karena pilihan mentor lain yang membuatnya terperangah.


“Mentor Jayden itu kakaknya Zico. Dia nggak suka diajarin sama kakaknya sendiri, padahal mereka akur. Tapi, Zico juga nggak pernah mau kalau harus ada di kelas kakaknya sendiri dan lebih milih ambil kelas kakak sepupunya,” gumam Fanya di dalam hati.


“Dan, katanya kita kedatangan anggota baru di kelasnya mentor Irene. Nggak tau siapa, tapi dia jadi ngambil dua program kelas di Tut Wuri,” ungkap Kartika.


Mentor Irene mengajar kelas bilangan dan angka untuk tingkat SD sampai SMP mulai dari matematika, fisika, dan kimia. Selain mengajar bilangan untuk dua tingkat tersebut, mentor Irene juga mengajar kelas bahasa asing salah satunya bahasa Mandarin, dan salah duanya adalah bahasa Jepang.


Mentor Irene adalah mahasiswi pascasarjana untuk bidang studi pendidikan. Dia dikenal bersahabat meskipun tidak seperti mentor Jayden.


Sedangkan mentor Jayden, dia mengajar matematika tiga tingkat. Mentor Jayden dikenal cekatan, meskipun selama kelas berlangsung dia tidak membuat suasana menegangkan, melainkan membuat suasana rileks dan penuh canda tawa karena kuis atau tebakan seru supaya murid tidak mudah muak belajar angka.


Mentor Jayden adalah mahasiswa tingkat akhir yang masih mengerjakan penelitiannya mengenai matematika yang dibenci sebagian orang. Berada di ruang kelas dengan mayoritas murid yang mengeluh tidak menyukai matematika adalah motivasi dan referensi instan membuatnya menyetujui ajakan kakak sepupunya, mentor Irene.


“Kakak bawa teman baru yang akan bergabung dengan kita di kelas bilangan dan bahasa. Silakan masuk,” katanya juga mempersilakan. Begitu melihat seseorang masuk, mentor Irene langsung melanjutkan kalimatnya. “Silakan perkenalkan diri kamu.”


Dia tersenyum kaku, sebenarnya dia menahan rasa gugup yang bercampur dengan keinginan ingin tertawa keras.


Dia segera menarik napas dan berkata, “Hai, salam kenal, Hanalya Putri Suherman dari SMP PGRI Margayu. Aku ditransfer pihak Kimon untuk hadiri kelas mentor Irene. Di Tut Wuri juga aku ambil kelas seni, pasti kalian nggak asing sama aku. Salam kenal, dan mohon kerjasamanya selama kelas berlangsung.”


Sebelum kelas dimulai, mentor Irene bertanya, "Kakak boleh tanya, kenapa Hanalya ditransfer oleh pihak Kimon ke Tut Wuri?


Alasan yang dilontarkan Hanalya begitu jenaka sehingga membuat mereka tergelak. "Sebenernya, aku lolos seleksi masuk Kimon, tapi ada seseorang yang nilai seleksinya satu angka lebih tinggi dari aku, lalu pihak Kimon merekomendasikan aku ke Tut Wuri Akademi dalam kelas bilangan dan angka yang dipimpin mentor Irene."


Waktu pun berlalu setelah perkenalan jenaka dari gadis cerewet yang dikenal mahir bermain cat warna pada layar kanvas ini. Prestasinya dalam bidang seni patut diakui bapak Presiden, saking menawan dan menakjubkan, karena memiliki pesan tertentu yang terkandung di dalamnya, meski terkadang hasil lukisannya abstrak sekalipun.


“Whatta surprise banget tau nggak?” Fanya berceletuk. Dia berjalan beriringan dengan sahabatnya yang keluar bersama ketika kelas dari mentor Irene usai.

__ADS_1


“Tadinya mau kasih tau kamu, tapi aku mau kasih supres deh. Dan, tada!” Dia tetawa sambil memeragakan aksi seorang model dari acara kuis berhadiah ketika tirai dari nomor yang tidak dipilih menampakkan barang mewah.


“Lebay!” cibir Fanya. “Aku pengen main sama kamu, tapi Mama bilang nggak boleh keluyuran habis kelas tambahan. Jadi, habis ini aku harus pulang.”


“Gapapa. Aku juga mau langsung pulang, dan aku bisa main dulu. Jadi, aku bakalan main ke rumah kamu.”


“Emangnya dibolehin sama om Brigadir?”


“Kata Ayah, asalkan mainnya sama Fanya, boleh. Kalo mainnya sama si Bule, jangan. Bukan mahramnya!” Dia berkata demikian sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Si Zizi pindah kelas, ya? Semenjak pulang dari karantina, dia nggak pernah kelihatan. Nggak di sekolah, di tempat les juga.”


Hanalya menyadari kekosongan kelas yang berisi sepuluh anggota dengan dua pasang laki-laki seumurannya tadi, tetapi dia tidak mendapati seorang Zico di dalamnya.


Fanya meredupkan cerah di wajahnya. “Kata Kartika, Zico ganti mentor, dan ada di kelasnya mentor Jayden.”


“Dia emang cowok frik!”


“Gimana-gimana?”


“Dia cowok frik! Heran deh, padahal sebelumnya dia dengan sengaja selalu samperin kita sebelum karantina. Sekarang malah ngilang. He’s ten person, but his actions make he’s a zero person,” ujar Hanalya.


Fanya juga mendugakan hal serupa. Ada keanehan, tetapi entahlah. Fanya tidak pernah mendugakan pada hal-hal buruk, Fanya seperti sudah biasa padahal dia sendiri merasakan asing. Sontak, Fanya membuka ponselnya, lalu mengirimi seseorang pesan.


[Kenapa nggak ikut kelas mentor Irene dan memilih diajarin sama kakak sendiri yang kamu akui nggak cocok. Kamu ke mana?]


[Kelas mentor Irene tanpa kamu rasanya bukan belajar.]


[Kata Hana, semenjak kamu pergi karantina jadi makin aneh. Kamu sih pake samperin aku pas ada Hana, jadi dia anggap kamu freak.]


[Hana bilang kamu itu angka sepuluh, tapi kelakuan kamu bikin kamu keliatan sebagai angka nol.]


[Ngerti maksud Hana nggak?]

__ADS_1


Umumnya jika kita mengirimkan pesan kepada orang dengan nomor yang status akunnya sedang ‘online’ akan memunculkan dua centang abu-abu pertanda sudah terkirim. Namun, pesan yang dia kirimkan hanya centang satu dan kemudian tidak pernah berubah sampai berhari-hari kemudian. 


__ADS_2