
Jia berdeham, wajahnya memerah, kepalan tangannya dia letakkan di depan bibirnya seakan-akan berusaha menutupi aibnya sendiri.
“Girls!” katanya. Terdengar ada getaran dalam nada panggilnya kepada dua perempuan yang tengah duduk di kursi seberang.
Mereka bertiga tengah nongkrong di kafe langganan Jia setelah mereka selesai mengikuti les hari ini. Tempat les mereka di gedung yang sama, meskipun kelas yang mereka ambil berbeda. Mereka memutuskan untuk hangout setelah lebih dari sembilan belas hari tidak saling bertemu dan mengobrol bertiga seperti saat ini. Soalnya Jumat ini mereka baru bisa berkumpul bertiga kembali.
Hanalya menangkap gelagat aneh dari Jia. Namun, Hanalya tidak mau menegurnya sebab dia masih berada dalam kondisi hati yang tidak baik-baik saja. Hari ini hari merah pertamanya, Hanalya juga makin dibuat kesal ketika balasan pesannya terkait pertanyaan mengenai suatu hal belum Kyla balas, padahal sudah ada notifikasi dibaca.
“CK! Udah nggak usah pake kode-kodean segala deh, Jia.”
Jia yang masih terbawa suasana itu tetap mempertahankan dirinya untuk tidak tertawa, sehingga dia mati-matian menahan senyumnya sampai kedua pipinya merah merona bak sebuah tomat masak.
“Aduh, hahaha … aku nggak bisa nahan lebih lama lagi deh, hahaha!”
Hanalya mencebikkan bibirnya. “Nih, anak pasti kerasukan setannya si Bule. Kemaren juga pas kita dihukum sama Bu Ida untuk nongkrong di perpus selama seminggu penuh, si Bule puas banget ngetawain kita, Neng.”
Jia makin terbahak dengan cerita penuh penderitaan dari sahabatnya. “Hahaha … pantesan kalian nggak ada di kelas pun di kantin setiap kali aku samperin ke sana.”
“Jia udah!” peringat Hanalya. Jelas sekali kalau dia kesal.
Jia kembali berdeham setelah puas mengeluarkan tawanya. “Jadi, aku cuman mau bilang kalo beberapa hari lagi si kembar ini bakalan adain pesta sweet, kalian wajib datang, loh!” ungkap Jia, dia tersipu malu.
“Hm, udah tau,” balas Fanya sambil mengocek minumannya.
Bagaimana bisa dia melupakannya?
Oh, tentu tidak semudah itu melupakan hari istimewa dari seseorang yang pernah membuat hatinya berbunga-bunga, meskipun saat ini sudah tidak lagi sebab hati Fanya hanya berbunga terhadap idolanya saja.
Hanalya menghela napas panjang. “Jia mau aku bawain apa? Nanti pas Hari-H bakalan dibawain deh,” tanyanya sambil memasang wajah cemberut, “tapi sebelum itu aku mau ngirim surat keterangan tidak mampu dulu ke kantor desa, soalnya Hana udah tau apa maunya Jia, dan Hana nggak mampu soalnya lagi kanker.”
Fanya yang lebih tahu semua kemalangan Hanalya itu langsung menambahkan. “Maksudnya kantong kering, karena ayah sama ibunya udah tau kalo Hana kena hukuman gegara bawa henpon ke sekolah. Alhasil, henponnya adalah uang jajan dia, tapi dia nggak bisa jual henponnya gitu aja. Bukannya minta maaf, dia malah a—“
“UDAH, YA. AKU NGGAK SUKA DIUNGKIT-UNGKIT HAL YANG BIKIN AKU KESEL. NANGIS NIH,” selanya.
Sudah dibuat kesal karena banyak hal, Fanya dan penjelasannya yang menyudutkan Hanalya itu makin dibuat kesal.
...----------------...
Fanya Fransiska : Han, kayaknya aku nggak bisa temenin kamu
Fanya Fransiska : Mama suruh aku belanja bulanan
Fanya Fransiska : Kata Mama, aku beli kado buat si Kembar barengan aja pas belanja
Fanya Fransiska : Gimana dong?
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Yah :(
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Yaudah, aku aja yang ngikut kamu
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Mall mana?
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Nanti aku suruh ayah anterin ke sana
Fanya sudah berada di dalam mobil bersama kakaknya yang menyebalkan itu. Meskipun menyebalkan, Fanya tetap bersyukur jika kakaknya benar-benar bermurah hati ketika dimintai diri untuk mengantarkan dan menjemput adiknya ke tempat manapun tanpa banyak protes. Asalkan ditraktir jajan.
Fanya menoleh ke arah kakaknya yang tengah fokus mengendarai mobil. “Kang, bisa nggak belok dulu ke rumah Hanalya. Dia mau pergi belanja bareng.”
“Nggak bakal keburu atuh. Nanti keburu penuh di tokonya. Tau sendiri kalo sore menjelang malam tuh bakalan banyak pengunjungnya,” jawab Kamaliel.
__ADS_1
Fanya menggigit pipi bagian dalam. “Besok ulang tahunnya Jia sama kembarannya, Hana sama aku udah janjian bakalan belanja bareng.”
“Yaudah, kamu sekalian belanjain aja barang pilihan Hana. Pakai uang kamu dulu entar dibayar sama dia.”
“Nggak bisa gitu!”
“Bisain dong!”
“Kang, ih!”
“Udah diem ajalah. Lagi kesel aing tuh!”
Fanya Fransiska : Han, maap
Fanya Fransiska : Kakang lagi nggak bisa dibujuk
Fanya Fransiska : Kata dia, kamu titipin aja barang yang mau kamu beli
Fanya Fransiska : Nanti aku bayarin dulu, mau nggak?
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Ya, udahlah
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Nggak usah ke rumahku dulu
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Aku udah ada di depan mentarinya kok
| Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. mengirim foto
Fanya Fransiska : Lama-lama aku recycle bin kamu dari daftar temenku
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Emangnya aku temen kamu, ya?
Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. : Aku sahabat terbaik dari Fanya Fransiska, cewek jutek dan paling sombong se-Margayu
| Anaknya Om Polisi | Hanalya P. S. mengirim stiker tertawa
Kamaliel tiba-tiba membuka suara. “Gimana? Mending jemput Hana atau langsung ke toko?”
Pada akhirnya, Fanya tahu jika dua orang terdekatnya itu ternyata sudah bersekongkol untuk membuatnya terbungkam. Fanya tidak sanggup, kameranya, di mana kamera?
Singkat cerita, sesi berbelanja sudah usai dan kini Fanya tengah berada di dalam kamarnya. Sedang membaca komik dari aplikasi hijau, berlogo balon percakapan. Sudah pukul sepuluh malam, sekitar lima belas menit lalu sehingga sudah selama itu juga Fanya terhanyut dalam alur cerita pada chapter terbaru dari komik kesukaannya. Judulnya: Lara(S)Hati.
Tiba-tiba Fanya mendapatkan notifikasi pesan terbaru dari nomor asing (lagi). Namun, kali ini Fanya sudah tahu siapa pengirim pesan itu. Dengan senang hati dia menyambut pesan tersebut penuh senyum simpul. Fanya mendapatkan undangan resmi untuk menghadiri pesta ulang tahun Jia dan kakak kembarnya, Wisnu. Mereka genap berusia tujuh belas tahun besok. Namun, tak lama kemudian Fanya mendapatkan pesan baru lagi, dia langsung membalas.
Zero Person : Ya, udah dapet undangannya, kan?
Fanya Fransiska : Iya, udah
Zero Person : Mau berangkat bareng?
Fanya Fransiska : Gw udah janji mau bareng sama Hanalya
Fanya Fransiska : Dianter kakang kok
Fanya Fransiska : Maaf t___t
Zero Person : Okey, gapapa
Zero Person : Tidur gih, udah malam. Nggak baik buat kesehatan
__ADS_1
Fanya Fransiska : Mau ceramahin siapa ya?
Fanya Fransiska : Lo sendiri yang sering begadang cuman buat selesain game sialan itu
Fanya Fransiska : Mentingin game daripada ucapan gw hm?
Zero Person : Heh, harusnya aku yang marah ya
|Zero Person mengirim stiker marah
Zero Person : Soal gosip dari temen-temen tentang kamu yang dianter cowok, kata kamu itu nggak bener
Zero Person : Ternyata emang bener
Zero Person : Fix, kamu pendusta
Zero Person : Nggak mau baikan lagi!
Fanya menganga membaca pesan terakhir. “Dia kenapa sih? Bukannya dia yang mulai?” Fanya jengah. “Oke, mari tunggu seberapa lama kamu bertahan marah-marahan.”
Zero Person : Nggak jadi
Zero Person : Kalo dipikir-pikir, susah banget ngajak kamu baikan
Zero Person : Harus koar sana sini, nggak sanggup aku
Zero Person : Aku mau datang ke kantor desa untuk minta surat keterangan tidak mampu deh
Zero Person : Tidak mampu marah-marahan sama kamu, hehe
Zero Person : Maafin aku ya, sleep tight, sleep well, happy a nice dream
Tersenyum penuh kepuasan. “Sudah sepatutnya dia kayak gitu.” Mengangguk bangga.
Besoknya, Fanya sudah bersiap-siap pergi bersama Hanalya. Tinggal menunggu kedatangan gadis itu saja. Kamaliel juga sudah rapi, dia sedang mempersiapkan mobil. Tiba-tiba, Kamaliel berceletuk renyah sekali selepas kejadian diantar orang asing beberapa minggu lalu.
“Aya, anak tetangga tuh!” tunjuknya ke arah rumah di samping kiri. “Dia murung gegara kamu galakin. Yang lembut napa sama anak tetangga. Gitu-gitu juga kalian pernah mengukir masa kecil bersama, bareng-bareng sejak orok pula.”
“Diem, ya, Kamaliel!” balas Fanya.
“Apa salahnya sih terima orang yang mau pedekatean sama kamu? Dia … dia itu mulai suka sama kamu. Dia jujur ke Kama kalo dia tulus suka sama kamu!”
**Nanas : Idk how to react?! [duduk di pojokan ruangan sambil meratapi dosa]
Kamaliel : Ya, Yeorobun! Berikan dukungan kalian untuk Nanas. Dia sedang bersedih karena komputernya sakit dan harus mendapatkan perawatan, tapi dia tidak punya uang. Mari berikan dukungan kamu dengan like, rating, hadiah, subscribe, dan share juga ke sosial media yang kalian punya.
Caranya, screenshot bagian yang paling kalian suka dan tidak suka pada bab tertentu, lalu kirimkan ke sosial media kalian. Jangan lupa tag Nanas juga.
Instagram : @alterna.nas
WhatsApp : [Kama nggak punya nomor Nanas]
Facebook : Alter Nanas
Fanya : Dukung aku dan Zero Person sampai lulus, yaa!
__ADS_1
Jia : Jangan lupa pesta ulang tahunku dan Nunu juga! Kehadiran kalian sangat dinantikan**!